Senin, 22 Desember 2025

Nopia dan Mini Nopia, Jejak Akulturasi Budaya dan Diplomasi Lidah

Direktur Promosi Kebudayaan Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Kemenbud, Undri (kanan) bersama sejumlah mahasiswa internasional dari UMP mencicipi nopia yang disajikan pada ajang "Gastronomi Nopia, Jejak Rasa dan Jejak Karya" di Kedai Yammie 1001, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, baru-baru ini.


NOPIA, bagi warga Banyumas tidak sekadar menunaikan fungsinya sebagai jajanan khas daerah. Kuliner berukuran kurang lebih sekepalan tangan ini juga menjadi kekayaan khas sebuah daerah.

Bisa dibilang, makanan ini berstatus legendaris karena menjadi salah satu rujukan oleh-oleh bagi para pelancong, maupun orang Banyumas yang berada di perantauan. 

Pada dasarnya perkembangan Nopia dan Mini Nopia yang berukuran lebih kecil merupakan makanan yang hampir sama. Karakteristik tekstur makanan terasa keras di luar namun lembut di bagian dalam. 

Sejarah mini nopia yang kemudian disingkat Mino tidak akan terlepas dari Nopia. Berdasarkan penelusuran, nopia sebenarnya sudah diproduksi sekira tahun 1880 di Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas. 

Nopia pertama kali diproduksi oleh warga keturunan Tionghoa bernama Ting Sing Piang. Melihat sejarah tersebut dapat dikatakan Nopia adalah produk akulturasi budaya antara Jawa dengan Tionghoa. 

Terpaut puluhan tahun kemudian, di Purbalingga, marga Ting juga memproduksi Nopia. Produsen paling tua yakni Ting Lie Liang, generasi pertama yang merintis nopia sekira tahun 1940 hingga diteruskan sampai tiga generasi. 

Di Banyumas sendiri, nopia tidak hanya diproduksi oleh keturunan Tionghoa saja. Ada sosok perajin yang merupakan warga setempat bernama Sanwitana yang memproduksi nopia dan mino di Desa Pekunden sekitar tahun 1949 atau 1950-an yang berproduksi dalam skala kecil.

Sekira tahun 1970 usaha Sanwitana itu dilanjutkan oleh putranya, Sutadi. Namun Sutadi sempat mengalami kesulitan mendapatkan konsumen. 

Kemudian ditahun yang sama ia pergi bekerja dan membuat mino di rumah seorang keturunan Tionghoa yang bertempat tinggal di Purbalingga sembari melatih warga sekitar rumahnya untuk memproduksi mino. 

Baru pada tahun 1980, industri rumahan mino mulai berkembang lebih luas di Desa Pekunden bahkan mayoritas penduduknya merupakan produsen mino hingga saat ini. Tahun 2018 bukan hanya memproduksi tetapi juga berinovasi menjadi sentra pembuatan nopia-mino sebagai tempat wisata yang lebih dikenal dengan kampung wisata nopia-mino yang berlokasi di  Desa Pekunden RT 3/RW 4 Kabupaten Banyumas.

Kedai Yammie 1001, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, yang menjadi lokasi event "Gastronomi Nopia, Jejak Rasa dan Jejak Karya", 11-12 Desember 2025, merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan keluarga Tji. (Nugroho Pandhu Sukmono)


Sejarah rasa yang cukup panjang ini diangkat dalam ajang "Gastronomi Nopia, Jejak Rasa dan Jejak Karya" di Kedai Yammie 1001, di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, 12-13 Desember 2025. Lewat ajang itu, komunitas seni "Visi Visual" berusaha menyuarakan gastrodiplomasi dalam 10 karya eksebisi seni rupa, diskusi bersama para pengkarya, dialog bersama food antropologist Unpad Bandung, Hardian Eko Nurseto dan Chanifia Izza Millata (akademisi Fisip Unsoed), pemutaran film dokumenter serta suguhan berbagai macam oleh-oleh yang terinspirasi dari jajanan lokal tersebut. 


Pengunjung melintasi 10 karya perupa yang dipajang pada event "Gastronomi Nopia, Jejak Rasa dan Jejak Karya", 11-12 Desember 2025.


Koordinator Event, Aulia El Hakim menuturkan, Gastronomi Nopia ingin mengangkat arsip sejarah dalam bentuk makanan yaitu nopia. Di Banyumas sendiri, makanan yang kerap disebut dengan ndog bledheg ini menemukan bentukannya sendiri dan bertransformasi menjadi mini nopia yang ukurannya lebih kecil. Kendati demikian, para leluhur pembuatnya masih mempertahankan nopia yang berukuran sekepalan tangan sebagai makanan khas setempat. 

Camat Banyumas, Jakarta Tisam memberikan sambutan event "Gastronomi Nopia, Jejak Rasa dan Jejak Karya" di Kedai Yammie 1001, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, 12-13 Desember 2025.

 
Talkshow bersama Chanifia Izza Millata (akademisi Fisip Unsoed) dan Hardian Eko Nurseto (food antropologist Unpad Bandung)


Di sisi lain, nopia bisa dikatakan simbolisasi watak orang Banyumas yang cablaka atau apa adanya. Ada tekstur kasar di bagian luar, namun lembut di dalamnnya. Identitas inilah yang tergambar dalam bentuk nopia, dari luar kasar tapi dalam lembut. 

Direktur Promosi Kebudayaan Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Undri, mengatakan, Indonesia sejatinya kaya dengan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Karya budaya ini hadir dalam berbagai aspek kehidupan mulai dari kelahiran sampai meninggal. 

Pengunjung melihat-lihat karya dan mencicipi nopia yang disajikan pada ajang "Gastronomi Nopia, Jejak Rasa dan Jejak Karya" di Kedai Yammie 1001, Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, 12-13 Desember 2025


Menurut Undri, nopia merupakan warisan gastronomi yang mencerminkan kearifan lokal, teknik tradisional, serta nilai sejarah yang diwariskan lintas generasi dan patut terus dilestarikan di tengah arus modernisasi. Upaya pelestarian harus dilakukan dengan membuat ekosistem yang hidup dan melibatkan banyak elemen masyarakat termasuk dukungan dari Kementerian Kebudayaan. Dukungan dari pemerintah merupakan wujud komitmen negara untuk terlibat dalam menjaga, mempromosikan, dan menguatkan identitas budaya daerah melalui pangan tradisional. (Nugroho Pandhu Sukmono)

Sumber Pratama, 2022:2. 
(Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, 2024: 90). 
(Pratama, 2022; Rahayu, 2022: 41). 
(Rahayu, 2022:41).


Selasa, 23 September 2025

Berdirinya Universitas Jenderal Soedirman: Dari Reuni Sekolah menjadi Kampus Negeri

Gedung Perkuliahan Universitas Negeri Djendral Soedirman Poerwokerto
Sumber Foto: UPT Kearsipan Unsoed

Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) merupakan perguruan tinggi negeri tertua kedua di Jawa Tengah. Kampus berjaket almamater kuning ini berdiri tanggal 23 September 1963 yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Presiden nomor 195 tahun 1963. 

Perintisan kampus ini berawal dari reuni dan peringatan 10 tahun SMA Negeri Purwokerto tahun 1960. Pada kemudian hari sekolah tersebut terbagi menjadi SMAN 1 Purwokerto dan SMAN 2 Purwokerto.

 R. Soemardjito Residen Banjoemas dan Ketua Presidium Unsoed
Sumber Foto: UPT Kearsipan Unsoed

Residen Banyumas kala itu, R. Soemardjito didukung Direktur SMAN Purwokerto, M. Soemarmo, mencetuskan gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi dengan cakupan Karesidenan Banyumas.

Jalan menuju Desa Grendeng dengan ladang tebu di sebelah kiri
Sumber Foto: Tropen Museum

Ada empat alasan pendirian kampus tersebut yaitu, Purwokerto merupakan tanah yang subur di lereng Gunung Slamet, banyaknya perkebunan karet di Krumput, Cisaru, Carui dan kebun cengkeh di Baturraden, Cilongok dan perkebunan kelapa di Cilacap. Kemudian, pelabuhan Cilacap akan dijadikan Pelabuhan Samudera dengan kekayaan laut yang banyak. Selain itu, kawasan lereng selatan Gunung Slamet memiliki panorama alam dan flora yang heterogen.

Ide ini didukung Komandan Resort Militer (Danrem) 071 Banyumas Letkol A.J. Soedjono. Mereka kemudian menemui Pangdam VII/Diponegoro Brigjen TNI Sarbini serta Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Gatot Soebroto dan Brigjen TNI Aziz Saleh di Semarang. Pertemuan itu menghasilkan ide untuk mendirikan Fakultas Pertanian dengan mempertimbangkan empat alasan kuat untuk mendirikan sebuah kampus.

Pada 10 Februari 1961, R. Soemardjito, Letkol A.J. Soedjono, R Soetardjo Soemoatmodjo dan M. Soemarmo dan para bupati dari Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara membentuk Panitia Pendiri Fakultas Pertanian yang dipimpin R. Soemardjito (Ketua), Letkol A.J. Soedjono serta M. Soemarmo (sekretaris). 

Rektor UGM Prof. Dr. Sardjito
Sumber Foto: Wikimedia Commons

Mereka lantas menemui Rektor UGM Prof. Dr. Sardjito dan Dekan Fakultas Pertanian UGM Prof. Ir. Harjono Danoesastro. Dari hasil pertemuan itu, Rektor UGM menunjuk Prof. Ir. Gembong Tjitrosoepomo dan Ir. Djoko Isbandi untuk membantu proses pendirian fakultas. 

Panitia pendiri juga menemui Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP), Prof. Dr. Iwa Kusumasumantri dan Dirjen Perguruan tinggi Prof. Djuned Pusponegoro. Di sela lawatan ke Jakarta itu, mereka berkomunikasi dengan Menteri Keamanan Nasional, Jenderal A.H. Nasution serta Letjen Gatot Soebroto dan Letjen Ahmad Yani. Para petinggi militer ini mendukung pendirian kampus karena masyarakat Banyumas dinilai berjasa membantu perjuangan melawan pemberontakan DI/TII di tingkat lokal.

Saat Prof. Dr. Ir. Tojib Hadiwidjaja menjabat Menteri PTIP, beliau menyarankan agar Fakultas Pertanian yang akan didirikan menginduk ke Universitas Diponegoro Semarang. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya pada 20 September 1962, Fakultas Pertanian resmi berdiri di bawah Undip dengan Dekan pertama dijabat Dr. H.R Boenjamin. 

Surat Keputuran Menteri PTIP No. 121 Tahun 1960 
Sumber Arsip: UPT Kearsipan Unsoed

Seiring proses ini berjalan, sebuah tim khusus mendirikan Yayasan Pembina Universitas "Djendral Sudirman" pada 20 November 1961. Para pengurus diisi R. Soemardjito (Ketua Umum), Brigjen TNI A.J. Soedjono, Dr. H.R. Boenjamin, R. Soetardjo Soematmodjo dan R.Soebagjo. Penyematan nama Djendral Sudirman ini dicetuskan oleh Brigjen TNI A.J. Soedjono.

Gedung Aula Biologi (sekarang Aula FISIP)
Sumber Foto: UPT Kearsipan Unsoed

Yayasan ini mendirikan Fakultas Biologi dan Fakultas Ekonomi pada 1963. Pada 23 September 1963 ini, status Unsoed semakin jelas setelah keluar SK Presiden No. 195 yang menyebutkan pendirian universitas negeri di Purwokerto yang pertama kali terdiri dari Fakultas Biologi dan Ekonomi serta embrio Fakultas Pertanian yang sudah berusia 1 tahun hasil pemisahan dari Undip.

Sejumlah arsip mencatat, SK Presiden RI Soekarno menetapkan "terhitung 17 Agustus 1963 mendirikan perguruan tinggi negeri dengan nama Universitas Negeri Jenderal Soedirman". Beberapa bulan kemudian, terbit SK Menteri PTIP No. 153 tertanggal 12 November 1963 yang memperkuat SK Presiden tersebut. 

SK Menteri PTIP No. 153 Tahun 1963
Sumber Foto: UPT Kearsipan Unsoed

Pada masa awal berdirinya kampus ini, pimpinan Unsoed kala itu berbentuk Presidium (pimpinan kolektif). Namun di kemudian hari, sistem kepemimpianan ini diubah menjadi Rektor pada 3 Juli 1965. Brigjen TNI R.F. Soedardi, S.H. menjabat sebagai Rektor Unsoed yang pertama.

Rektor Pertama Brigjen TNI R.F. Soedardi, S.H.
Sumber Foto: UPT Kearsipan Unsoed

Sebagai kampus yang baru saja lahir, Unsoed juga belum memiliki fasilitas yang lengkap. Bahkan untuk kegiatan perkuliahan, para mahasiswa harus berpindah-pindah gedung. 

Gedung Pengadilan Lama (Timur Alun-Alun Purwokerto)
Sumber Foto: Rumah Arsip Banjoemas

Sebagian besar gedung yang digunakan untuk aktivitas kampus berada di sekitar Alun-alun Purwokerto. Misalnya, Kantor Pusat Administrasi menempati ruang kantor Pengadilan lama (belakang Bank BNI Purwokerto) sementara untuk kegiatan perkuliahan menempati bekas Gedung Hua Chiao Tse Yu She (sekarang kantor BNN Kabupaten Banyumas), kantor Pengadilan lama, SD Kranji, kantor Karesidenan Banyumas, hingga bioskop Garuda.

Gedung Kompleks Pengadilan Lama (belakang BNI Purwokerto)
Sumber Foto: UPT Kearsipan Unsoed

Fakultas Biologi dan Pertanian diperkirakan telah menempati bangunan di Kelurahan Grendeng tahun 1971-1972 (sekarang Fisip Unsoed). Berdasarkan penuturan putra Rektor pertama Unsoed, R.F Soedardi, Aula Fakultas Biologi (sekarang Aula Fisip) sudah digunakan untuk peringatan Dies Natalis pada tahun 1973. Adapun Fakultas Ekonomi menempati bangunan yang berada di Kalibakal, Purwokerto. Di masa depan, kampus Kalibakal seolah menjadi inkubator untuk program studi yang baru dibuka Unsoed.
Gedung Aula Biologi (sekarang Aula FISIP Unsoed)
Sumber Foto: Rumah Arsip Banjoemas

Gedung Fakultas Ekonomi Unsoed di Jalan Jenderal Soedirman (sekarang Klinik Pratama Unsoed)
Sumber Foto: Bidang Kearsipan Biro Keuangan dan Umum Unsoed


Gedung Hua Chiao Tse Yu She Kiri, Gedung Unsoed Kanan
Sumber Foto: Kiri Rumah Arsip Banjoemas,
Kanan Bidang Kearsipan Biro Keuangan dan Umum Unsoed

Upacara di Lapangan Karesidenan Banyumas di Purwokerto Tahun 1963
Sumber Foto: Bidang Kearsipan Biro Keuangan dan Umum Unsoed

Bioskop Garuda (eks. Capitol Theatre)
Sumber Foto: Rumah Arsip Banjoemas

Perkembangan selanjutnya, sejumlah fakultas baru muncul. Pada 10 Februari 1966, Fakultas Peternakan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Cabang Purwokerto, bergabung dengan Unsoed. Kemudian disusul Fakultas Hukum (1974), Fisip (1984) dan terus berkembang hingga mencapai 12 Fakultas pada tahun 2025 ini.

Upacara Pembukaan Pelatihan Resimen Mahasiswa Unsoed Tahun 1979
Sumber Foto: Bidang Kearsipan Biro Keuangan dan Umum Unsoed

Banyaknya tokoh militer yang terlibat dalam pendirian Unsoed, maka tidaklah heran apabila kampus ini identik dengan keprajuritan. Setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti Latihan Dasar Militer (Ladasmil) yang kemudian berubah nama menjadi Latihan Dasar Keprajuritan (LDK) untuk menanamkan spirit Jenderal Soedirman.  (Nugroho Pandhu Sukmono)

Sumber:
Unit Pelaksana Teknis Kearsipan Unsoed
Buku Memenuhi Panggilan Almamater: Biograf Rubiyanto Misman (Sutriyono, 2017)
Arsip-Arsip Rumah Arsip Banjoemas


Sabtu, 13 Mei 2023

Raden Aria Adipati Sudjiman Mertadiredja Gandasoebrata

Raden Adipati Aria Sudjiman Mertadiredja Gandasoebrata merupakan bupati Banyumas ke 19 yang lahir pada 10 Mei 1890 di desa Prigi Banjarnegara dan meninggal pada 10 Juni 1955 di Purwokerto. Beliau terkenal dengan sebutan bupati 3 jaman karena beliau mengawali menjadi bupati pada masa kolonial Belanda, kemudian masa Jepang berkuasa selama 3,5 tahun dan masuk pada jaman baru setelah kemerdekaan Indonesia. Beliau juga merupakan bupati terakhir yang diangkat secara turun-temurun. Pada masa kepemimpinannya juga kabupaten Banyumas dan kabupaten Purwokerto digabung menjadi satu dan memindahkan pendopo kabupaten Banyumas ke kota Purwokerto.

 


Lahir pada 10 Mei 1890 - Meninggal 17 Juni 1948
Koleksi Ndalem Kepangeranan

R Sudjiman Mertadiredja Gandasoebrata merupakan putra sulung dari RAA Gandasoebrata yang lahir di dusun Prigi kabupaten Banjarnegara pada 10 Mei tahun 1890 dari ibu Raden Pudjasari (Rara Sudjinem). Sejak kecil beliau dan adiknya R Soedirman Gandasoebrata diasuh langsung oleh neneknya, yaitu Raden Aju Pangeran Mertadiredja yang sangat patriarki dan feodal dengan budaya Jawa yang masih sangat kental pada saat itu.

Karir R Sudjiman

Sejak berumur 9 tahun (1899) bisa masuk sekolah dasar Belanda ELS (Europeesche Lagere School) selama 6  tahun di Banyumas, salah satu gurunya adalah C Huge yang mengajarkan bahasa Belanda dan bahasa Prancis. Kecakapannya menggunakan kedua bahasa itulah yang menyebabkan R Sudjiman dapat diterima di HBS Semarang dan kemudian pindah ke HBS Batavia (KW III School) pada usia 16 tahun (1906). Enam tahun kemudian beliau lulus dan kembali ke Banyumas untuk bekerja menjadi Pengereh Pradja di Karsidenan Banyumas (1912).

Setelah bekerja selama 6 tahun pada tahun 1918 R Sudjiman kembali bersekolah di Bestuur School di Batavia selama dua tahun. Sekolah 6 tahun ini diperuntukan bagi Pangereh Pradja (pegawai negeri) pribumi. Setelah lulus beliau kembali lagi menjadi Pangereh Pradja di Banyumas. 

Sebagai calon penerus bupati Banyumas, R Sudjiman harus mempunyai pendidikan yang tinggi dan juga harus belajar bekerja dari bawah, setelah kurang lebih selama 10 tahun menjadi pangereh pradja beliau diangkat menjadi Asisten Wedana di Banyumas, kemudian menjadi Wd. adspirant Controleur hingga tahun 1925. Di tahun 1926 beliau menjadi Wedana Ajibarang kemudian Wedana Purwokerto dan pada tahun 1930 beliau menjabat patih di kabupaten Kendal karsidenan Semarang. 

Ayahnya mengajukan pensiun pada tahun 1933, kemudian R Sudjiman diangkat bupati dengan gelar Tumenggung setelah turun besluit gouvernement tertanggal 25 April 1933 no 2, sehingga bisa di tulis sebagai Raden Toemenggung Sudjiman Mertadiredja Gandasoebrata

Pengangkatan dirinya betul-betul pada masa yang sangat sulit, karena wilayah karsidenan Banyumas sejak tahun 1923 telah mendapatkan peristiwa buruk secara berkepanjangan. Krisis ekonomi (Pageblug/mailese/jaman mleset) sudah menghadang di masa awal pemerintahannya Hingga puncak krisis jatuh pada tahun 1933 hingga 1955.

Tidak hanya itu saja bupati juga mengalami beberapa periode masa sulit dan revolusi diantaranya adalah masa kedatangan dan pendudukan balatentara Jepang, masa kemerdekaan, masa revolusi kemerdekaan, masa polisionil dan pemberontakan DI TII.

Pernikahan

R Sudjiman menikah dua kali, pertama dengan RA Siti Fatimah putri dari Bupati Cirebon R Ad Pandji Ariodinoto, yang kemudian melahirkan RA Tuti Sudjimah Mangundjojo lahir pada tahun 1915 dan Mr R Budiman Gandasoebrata yang lahir pada tahun 1917.

Pada tahun 1926 saat menjabat sebagai wedana Ajibarang menikah lagi dengan putri ketiga seorang dokter di Karawang yang berasal dari Banyumas dr. R Taroenamihardja, bernama Raden Ayu Siti Subindjai yang lahir pada 19 Maret 1904 di Bindjai Sumatra Utara. Raden Ayu Siti Subindjai berpendidikan tinggi, beliau merupakan mahasiswa dan lulusan wanita pribumi pertama di Rechts Hooge School di Batavia. Darinya R Sudjiman memperoleh 5 orang putra yaitu R Adjito (Lahir 1928), R Poerwoto Soehadi, RAdj Trimalijah, RAdj Wahdjudijati dan R Istidjab.

Penggabungan Dua Kabupaten

Pada tahun 1936 beberapa kabupaten dihapuskan dan digabungkan dengan kabupaten lain, diantaranya adalah kabupaten Banyumas yang harus digabungkan dengan kabupaten Purwokerto. Bupati yang menjabat pada waktu itu adalah bupati RAA Tjokroadisurjo. Sebelum betul-betul dileburkan ke dalam kabupaten Banyumas, bupati Purwokerto yang juga sudah berusia lanjut tersebut mengundurkan diri.

Penggabungan kabupaten Purwokerto ke dalam wilayah kabupaten Banyumas, adalah salah satu solusi untuk memperkecil pengeluaran pemerintah Hindia Belanda di Banyumas. Atas usulan ayahnya PA Gandasoebrata yang juga anggota Folkstraad pada saat itu, mengusulkan untuk memindahkan pusat pemerintahan kabupaten ke kota Purwokerto. Meskipun sebenarnya pemindahan ini sudah menjadi polemik tersendiri pada masa itu dan ini menjadi sebuah kesempatan untuk merealisasikannya.

Residen Banyumas yang pada waktu itu sedang menjabat HGF van Huls juga setuju ketika pendopo Sipanji yang berada di kota Banyumas dipindahkan ke Purwokerto menggantikan pendopo kabupaten Purwokerto yang kropos dan kecil. Pendopo Sipanji dianggap sangat bersejarah  dan merupakan pusaka yang sudah turun temurun semenjak didirikan oleh RT Judanegara III.

Setelah pembangunan kembali dan renovasi pendopo kabupaten Purwokerto selesai maka pada tanggal 5 Maret 1937 Keluarga Bupati RT Sudjiman pindah ke rumah bupati di Purwokerto, dengan iring iringan dan sambutan dari masyarakat luas. Sepanjang jalan antara Banyumas dan Purwokerto masyarakat berdiri di pinggir jalan, hingga puncaknya di sekitar alun-alun Purwokerto para pelajar menyanyikan lagu bersama-sama sambil mengibarkan bendera Belanda kecil-kecil. Di pendopo kabupaten sebuah panitia kecil yang dipimpin oleh R Djiwosewodjo menyambut kedatangan rombongan dengan upacara penyambutan. 

Alun-alun yang pada waktu itu masih terdapat jalan tengah dengan pohon beringin berusia seratus tahunan peninggalan Bupati pertama kabupaten Purwokerto, lapangan tenis dan bangunan gedung pertunjukan ini dianggap harus di perbaiki lagi. Sehingga pada keesokan harinya pohon beringin diganti dengan pohon beringin yang baru, lapangan tenis dipindah ke seberang sekolah tehnik (sekarang departemen perindustrian) dan gedung pertunjukan dipindah ke sebelah timur pasar Manis menjadi gedung Kesenian Purwokerto dan kemudian menjadi gedung kesenian Soetedja. 

Selanjutnya banyak sekali perubahan yang dilakukan oleh RT Sudjiman dalam memperbaiki penampilan kota Purwokerto, dari pelebaran jalan, pembuatan taman kota di ujung jalan SDS (jl Mereka sekarang jadi BI) hingga penataan warung-warung yang berada di emperan toko di jalan-jalan besar di dalam kota.

Penghargaan

Atas prestasi yang diberikan terhadap masyarakat dan dihadapan pemerintah kerajaan Belanda, Bupati hingga akhir jabatannya mendapat gelar Raden Aria Adipati Sudjiman Mertadiredja Gandasoebrata.  

Gelar Aria dari pemerintah Belanda (Besluit 15 Agustus 1936 no 14) yang diberikan oleh Residen HGF van Huls pada tanggal 31 Agustus 1936, sedangkan gelar Adipati dianugerahkan menggantikan gelar Tumenggung pada  tanggal 25 Agustus 1939 yang disematkan oleh residen baru Banyumas Mr J Ruys rumah jabatan Residen di Purwokerto. 

Pemikirannya dalam bidang Ekonomi di masyarakat Banyumas pada masyarakat bekas buruh pabrik gula menyebabkan bupati RAA Sudjiman ditunjuk sebagai anggota Suiker Commissie untuk memperbaiki aturan-aturan mengenai perburuhan, industri gula dan sewa-menyewa lahan di Banyumas. selain itu RAA Sudjiman juga diangkat sebagai anggota Komisi PTT (Post Telegraaf en Telefoondienst)


Masa Jepang

Sesuai dengan Geventie Genève (peraturan internasional yang disepakati di Jenewa) Bupati harus menghadapi tentara Jepang, sehingga dalam waktu singkat dibentuklah panitia penyambutan yang dipimpin oleh R Kabul Purwodiredjo (Patih Banyumas), sekertaris oleh Moehammad Muljo dan Mantri Kabupaten Moehammad Soedarmadi beserta Pangereh Praja di Kabupaten.

Dihadapan tentara Jepang, panitia penyambutan, bupati dan pejabat Belanda berdiri sambil memperkenalkan diri. Residen sebagai pejabat tertinggi Belanda di Banyumas mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar kekacauan di karsidenan Banyumas dan perlawanan militer Belanda. Dan setelahnya tentara Jepang menginap di Hotel Tram SDS.

13 Maret 1942 bertempat di pendopo sipanji terjadi serah terima kekuasaan wilayah Banyumas dari pemerintah Kerajaan Belanda kepada Kerajaan Jepang, antara Jendral Koks dan Jendral Sakaguci. Acara serah terima berlangsung dari jam 10 pagi hingga jam 12 siang ini masing-masing menggunakan penterjemah kedalam bahasa Inggris.


Masa Kemerdekaan

Di Banyumas tidak ada pengumuman resmi dari kantor Syutyo (Karsidenan) mengenai kekalahan Jepang, maka patih Banyumas Mr Iskak Tjokoroadisoerojo pergi ke Jakarta dan mendapatkan informasi bahwa balatentara Jepang sedang menunggu kedatangan Sekutu untuk diserahkan kembali wilayah Indonesia ini ke Sekutu.

Namun pemuda-pemuda di Jakarta bertindak cepat, pada tanggal 17 Agustus 1945 mendorong pemuda Soekarno dan pemuda Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun informasi berita kemerdekaan Indonesia terlambat diterima di Banyumas

Kamis, 23 Maret 2023

Sejarah Hotel Besar Purwokerto

Masa mailese tidak berarti keterpurukan bagi semua pihak, bagi perusahan perusahaan Belanda yang menggantungkan penjualannya ke Eropa mungkin banyak yang "goyang", bahkan gulung tikar, namun bagi usaha-usaha yang bersifat lokal jutru tidak begitu.

Hotel Besar dibangun pada tahun 1930 masa dimana awal terjadinya mailese, jadi belum begitu terasa bahwa krisis ekonomi itu akan berlangsung selama bertahun-tahun kedepan. Hotel ini satu-satunya yang berdiri di kota lama Purwokerto yang berpusat di pasar Wage, dimana hotel-hotel pendahulunya didirikan di kota baru Purwokerto yang berpusat di Paguwan (alun-alun sekarang) seperti hotel Tram milik SDS, Hotel Trio dan Grand hotel.


Tampak depan hotel Besar pada tahun 1940
Koleksi Rumah Arsip Banjoemas

Tampak depan hotel Besar pada 22 Maret 2023
Dokumentasi Yehezkiel Vide



Foto ny. The Sia dan cucunya The Han Key 
Dokumentasi Penulis koleksi Hotel Besar

The Shia awalnya berjualan jamu dengan istrinya di seberang hotel yang sekarang menjadi toko emas Sembada, namun karena kota Purwokerto yang berkembang pesat melihat peluang utuk mendirikan hotel satu-satunya di "China Kamp" (Peta Purwokerto tahun 1899) dengan nama Tjiang Tjoan Lie Kwan. The Shia berharap diusianya yang senja dapat lebih bersantai dengan mengelola hotel, namun sayangnya anak satu-satunya The Ting Hok tidak berminat mengelola hotel orang tuanya. Yang berminat belajar mengelola hotel miliknya justru cucunya The Han Key yang pada waktu itu baru berumur 21 tahun. Setelah 6 tahun bekerja pada kakeknya baru pada tahun 1939 dimana perekonomian Hindia Belanda sudah membaik The Han Key baru diberikan kepercayaan penuh untuk memegang Hotel Besar. 

Pada tahun yang sama The Han Key juga menikahi Cen Cu Cin dan memiliki 4 orang putra dan putri yaitu Dien Tjie, Che Sing, Sin Tjien dan Tjen Hauw. Istri The Han Key setelah kemerdekaan membuka sebuah toko kasur untuk pengantin dan kasur biasa di belakang hotel. 

Setelah The Han Key meninggal pada tahun 1971 hotel diteruskan pada putranya yang ke 3 yaitu The Sin Tjen, yang sejak kecil sudah diajarkan oleh nyonya The Han Key bagaimana mengurus hotel. Setelah mengurus hotel berjalan selama 3 tahun The Sin Tjen menikah dengan Liu Fang Lan pada tahun 1974. 

Pada tahun 2006 The Sin Tjen melakukan perubahan besar pada hotel Besar dengan membongkar bangunan-bangunan sebelah timur dan bekas toko kasur menjadi cafe dan tambahan kamar yang tadinya berjumlah 19 menjadi 33 kamar dan mengganti ubin dengan keramik. Dan juga mengganti nama menjadi hotel Mulia.

Iklan Hotel Besar di sebuah buku advertensi
Koleksi Rumah Arsip Banjoemas

Namun nama hotel Mulia hanya bertahan selama 9 tahun saja dan pada 1 Februari 2015 hotel kembali pada nama lama yaitu Hotel Besar. Hotel ini menjadi satu-satunya yang tertua di ko ta Purwokerto yang masih beroperasi dan terus menerus di kelola oleh keluarga The.

Tahun 1950 hotel no. 332 no Telepon 111
Tahun 1955 hotel no. 292 no Telepon 111

Dirangkum dari beberapa sumber
Terimakasih sebesar-besarnya kepada Isabela Riyanti dan keluarga besarnya.


Senin, 08 Agustus 2022

Pameran Foto & Arsip Sejarah Banyumas Raya

 


BHHC @banjoemas_com bekerjasama dengan @thevillagepurwokerto menggelar Pameran Foto dan Arsip Sejarah Banyumas Raya (eks. Karesidenan Banyumas)


Pameran akan berlangsung dari tanggal 17 - 31 Agustus 2022

dengan jam buka 08.00 - 17.00 wib


kami juga menyelenggarakan beberapa kegiatan didalamnya:


Bedah Buku #1 Purbalingga Berjuang 1942 - 1949

Narasumber Penulis Dwi Hatmoko

ModeratorNugroho Pandu Sukmono

MC Moy Amelia

Foodcourt The Village

Kamis, 18 Agustus 2022

15.00 - 17.00 wib


Talkshow Sejarah dan Warisan di Banyumas

Narasumber Jatmiko W dkk.

Moderator Gery Liem

MC Moy Amelia

Foodcourt The Village

Sabtu, 20 Agustus 2022

13.00 - 17.00 wib


Jelajah Banjoemas Kota Baru Purwokerto 

(ex PG Purwokerto, Stasiun Timur, GKJ Purwokerto, GKI Gatsu, Tugu Pembangunan, Gedung Residen Banyumas di Purwokerto, Laandkas)

Minggu, 21 Agustus 2022

08.00 - 12.00 wib

Pendaftaran online https://forms.gle/u96wQnEmrzqqWuEW9 & OTS

Narator Jatmiko W 


Bedah Buku #2 Melawan Lupa Fragmen-Fragmen Sejarah Cilacap

Narasumber Riyadh Ginanjar, Thomas Sutasman, Sindu Al Ghazali, Wawan Sumitro, Bangkit Setyo

Moderator Gery Liem

MC Moy Amelia

Foodcourt The Village

Sabtu, 27 Agustus 2022

15.00 - 17.00 wib


cp 1 https://wa.me/6285725659801

cp 2 https://wa.me/628135220689


Silahkan berkunjung !


Senin, 15 Februari 2021

Pabrik Gula Klampok


Setelah pabrik gula Kalibagor dioperasikan pada tahun 1839 dan selama 50 tahun telah berhasil menanam tebu dan mengolahnya menjadi gula di karsidenan Banyumas maka sindikat gula kembali memberikan peluang untuk dibangun pabrik gula kedua di timur kota Poerwaredja (kabupaten Banyumas). Sebuah desa kecil bernama Klampok di tepi sungai Serayu.

Pabrik gula Klampok dibangun tahun 1889 dipimpin oleh Administratur Jacobus Franciscus de Ruyter de Wildt (Lahir 25 mei 1851 di Utrecht dan meninggal di Klampok 7 juli 1904). Pabrik gula ini memiliki lahan perkebunan tebu yang sangat luas. Perkebunan tebu dari Purwonegoro, Mandiraja, Klampok, Susukan, Somagede hingga barat Banyumas. Bahkan perusahaan inipun membangun jembatan rel lori diatas sungai Serayu untuk mengambil tebu dari daerah Rakit, Penaruban, Bukateja, Kemangkon dan Tidu.
Jacobus Franciscus de Ruyter de Wildt merupakan anak dari Johan Willem de Ruijter de Wildt dan Catharina Maria Anna Koopman, Cicit dari Yakub (de Ruijter) de Wildt dan Jacoba Maria Parker, beristrikan Georgina Engelina Tielman dan memiliki 7 orang putra. Salah satunya adalah Franciscus de Ruijter de Wildt pendiri hotel dan kolam renang hotel Selecta Malang. (Silsilah keluarga de Ruijter de Wildt)
Rangkaian rel lori milik pabrik gula ini merupakan lori terpanjang diantara pabrik gula di karsidenan banyumas. Di daerah Kembangan Bukateja terdapat terowongan kereta lori dimana diatasnya melintas aliran air dari proyek Irigasi Bandjar-Tjahjana yang dibangun pada tahun 1910.
Pada tahun 1910 Perusahaan di pimpin oleh W.A. Kuipers (HET NIEUWS VAN DEN DAG, Voor Nederlandesch-Indie, Zaterdag, 22 October 1910). Pada tahun 1915 perusahaan di pimpin oleh W. van der Haar (Ondernemingen in Nederlandsch-India 1915)
Jalur Serajoedal Stoomtram Maatschappij pun dibangun hingga di depan bangunan pabrik Gula ini, ini membuktikan bahwa dibangunnya jalur rel SDS karena desakan para pengusaha Tebu. Sebuah jalur kereta SDS dan emplasemen khusus dibuat untuk langsir mengangkut gula sf. Klampok.

banjoemas heritage
Bangunan Suikerfabriek Klampok insert tulisan Klampok dan tahun 1889 pada cerobong asap

banjoemas heritage
Suikerfabriek Klampok pada peta Belanda tahun 1899

banjoemas heritage
Suikerfabriek Klampok pada peta Belanda tahun 1901

banjoemas heritage
Suikerfabriek Klampok pada peta Belanda tahun 1944

banjoemas heritage
Pipa-pipa untuk memompa dengan tenaga listrik

banjoemas heritage
Ketel pengolahan dan ketel pendingan

banjoemas heritage
Bagian penggilingan tebu

banjoemas heritage
Pengepakan dan pengangkutan ke dalam kereta SDS untuk di kirim ke Maos

banjoemas heritage
Depo lokomotif di pabrik gula Klampok

banjoemas heritage
Rangkaian lori membawa tebu diatas sebuah jembatan

banjoemas heritage
Truk pengangkut tebu untuk Suikerfabriek Klampok

Pada tahun 1929 setelah berhentinya Perang Dunia yang pertama (1914 - 1918) muncul dampak ekonomi yang sangat hebat di seluruh dunia terutama pada negara-negara jajahan yang di jadikan sebagai susu perah. Dimana produksi eksport mengalami over produksi sehingga komoditas menjadi sangat murah sehingga merugikan pengusaha-pengusaha, di Jawa khususnya adalah NHM. Sehingga pada tahun 1933 perusahaan berhenti beroperasi, dan dengan usulan dewan NHM pabrik gula Klampok pada tanggal 21 September 1936 resmi di likuidasi.

Bekas pabrik gula ini sebagian dikuasai oleh Balai Latihan Kerja Klampok dan sebagian yang lain telah dikuasai oleh perseorangan dan perusahaan.

Lokasi tepatnya berada di Bekas Pabrik Gula Klampok (google map)

Artikel ini ditulis pertama pada 29 Oktober 2010
Direvisi kedua pada 29 Desember 2012
Direvisi ketiga 15 Februari 2021

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License

Sumber lain.
Inventaris van het archief van de Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), (1784) 1824-1964 (1994)
HET NIEUWS VAN DEN DAG, Voor Nederlandesch-Indie, Zaterdag, 22 October 1910


Minggu, 14 Februari 2021

Pampangan Nama Kios Kota Purwokerto 1


Pertigaan Bakmi Tomang - Perempatan Pasar Wage

Pampangan nama toko merupakan bagian dari identitas dan penanda toko agar mudah ditemukan oleh masyarakat. Pada tahun 2010 ada banyak pampangan nama toko di kota Purwokerto yang masih terlihat jelas menggunakan semen permanen sehingga selama berpuluh-puluh tahun menjadi karya monumental sepanjang jalan Soedirman kota Purwokerto.

Pampangan toko berbahan semen merupakan tren setelah pada masa awal orde baru semua yang secara visual termasuk diantaranya adalah nama toko dan  arsitektur berbau Tionghoa harus diganti dengan tema ke Indonesiaan. 

Toko-toko yang telah berdiri disana sejak masa Hindia Belanda, dan rata-rata bernama toko Tionghoa dan berlanggam Tionghoa harus mengalah demi terciptanya keamanan, walaupun sebenarnya cara ini telah menghilangkan corak khusus ke Tionghoaan dan telah membunuh karakter mereka.

Foto-foto diambil pada saat sebelum dan sesudah jalan Jendral Soedirman dilebarkan antara tanggal 20 Maret 2009 dan 26 Agustus 2010. Pada pemotretan kedua sudah banyak pampangan dan toko yang sebelumnya didokumentasikan hilang atau berubah. Dan menjadi PR seperti apa keadaan tahun 2021 ini, karena belum ada pendokumentasian lagi setelahnya.

Seperti artikel sebelumnya, artikel dijadikan dua bagian 

Berikut foto-foto yang berhasil saya dokumentasikan; terbagi menjadi 2 bagian

Pampangan Nama Kios Kota Purwokerto 1
Pertigaan Bakmi Tomang - Perempatan Pasar Wage

Pampangan Nama Kios Kota Purwokerto 2

Ahli Gigi Wanteg

Toko Sumber Agung

Toko Tjita Sinar Timur

Toko Sidamulja
Toko Eko Buwono

Toko Mantep

Toko "Katjang"

Toko Darma

Toko Bangun

Toko Artomoro



Artikel untuk pertama kali di unggah pada tanggal 28 Agustus 2010