Tuesday, July 28, 2009

Menyusur Setasiun Klampok

Sore Setelah pemilihan presiden, mengajak anak istriku buat muter-muter sebentar ke Klampok Banjarnegara. Menyusuri sepanjang jalan kota Klampok sangat membuatku terkagum-kagum, peninggalan jaman Belanda yang sekarang segabian masih berdiri megah dan terawat. Bekas rel kereta api Serajoedal Stoomtram Maatschappij masih terlihat jelas berada di tepi jalan raya Klampok - Banjarnegara.

www.banjoemas.com


www.banjoemas.com

www.banjoemas.com

Bangunan Stasiun Klampok yang pada masa itu merupakan sarana transportasi utama menuju Wonosobo, Purwokerto dan Maos, sekarang telah beralih fungsi menjadi tempat berjualan keramik Mustika, memang sudah tidak terlihat lagi seperti bangunan Stasiun Klampok. Tapi kalau di teliti dengan jeli, sebuah penampung air masih terlihat kokoh dan kuat dengan keran melengkung kebawah masih terlihat bagus. di bandingkan dengan penampung air yang berada di Stasiun Sokaraja.

Kearah timur dari bangunan stasiun Klampok, sepanjang sisi kanan dan kiri masih terlihat bangunan Belanda yang masih terawat, diantaranya berada di BLK Pertanian Klampok, Kantor pos Klampok dan Kantor Kecamatan Klampok.

www.banjoemas.com

Sangat menarik berada di sana, serasa pengen motret terus. Tapi kami harus pulang ke Purwokerto, setelah bermain di Lapangan BLK Pertanian Klampok (arena pasar malam keliling).

Kami berniat menyusuri Bekas Rel dari Stasiun Klampok Hingga ke bekas Stasiun Banjarsari, tapi baru sampai Jembatan Rel yang melintasi Sungai Serayu, Matahari rupanya telah lebih dulu bersembunyi di belakang gunung Slamet, maka berahirlah perjalanan kami.

www.banjoemas.com

www.banjoemas.com

Jembatan rel sungai Serayu masih terlihat sangat kokoh dengan rangka besi baja, walau usianya sudah sangat tua. Sekarang jembatan ini di gunakan penduduk sekitar sebagai jembatan penghubung desa Wirasaba dan sekitarnya dengan kota Klampok.

14 comments:

nylekamin said...

Liat jembatan ini teringat masa kecilku dulu. Aku kecil sering ikut Bapaku naik sepeda kumbang tua untuk membeli sekarung singkong di daerah Wirasaba dan perjalanan harus melewati jembatan rel ini karena rumahku di sebuah desa di kecamatan Purworejo klampok. Aku duduk di besi rangka sepeda bagian depan di belakang setang beralaskan kain agar tidak sakit bokongku , sementara di belakang sekarung singkong terikat kuat di boncengan , sementara Bapaku menuntun sepeda menyusuri jembatan rel dengan langkah lompat lompat kecil, maklum jaman itu jembatannya masih bolong bolong belum serapat ini.
Jembatan ini saksi bisu perjuangan Bapaku menghidupiku dan keluargaku..... Terimakasih Bapaku.....Terimakasih jembatan kehidupanku.......

miko wicaksono said...

nylekamin, senang bisa mengingatkan anda kembali tentang masa kecil dan orang tua anda.

Semoga bermanfaat, salam buat keluarga anda.

halwi said...

mas miko, menunggu posting2 anda berikutnya ttg tempat2 bersejarah khusunya di banjarnegara..

miko wicaksono said...

Halwi, keterbatasan waktu saya walaupun keluarga saya tinggal di Bukateja, tapi Banjarnegara menjadi tempat yang tak terjangkau lagi untuk waktu dekat ini. Tapi saya terus mengupayakan untuk mendapatkan materi dan mengolahnya untuk posting selanjutnya.

Mungkin ada yang berminat dan mempunyai materi yang berhubungan dengan sejarah silahkan saja di kirimkan ke auteur_miko@banjoemas.co.cc terimakasih

waluyoeko40@yahoo.co.id said...

semasa aku SD tahun 80an,selagi warga kerja bakti RT ditepi rel SDS,warga menemukan beberapa batang rel lori yang terpendam didalam tanah.Tapi sekarang kemana ya...

miko wicaksono said...

Mas Eko Waluyo, Permintaan sebagai teman dari FB (Banjoemas.co.cc) sudah saya layangkan. Rel lori Suikerfabriek Klampok paling susah di cari karena data pada peta Belanda pun hanya terlihat di Susukan hingga Banyumas dan bekasnya hanya saya lihat di daerah kemangkon dan Kembangan.

Anonymous said...

mas miko orang hebat....alamat mas miko dmn ya mas???
konfir facebook saya ya mas...Bocil Emang Bikin Bangga (Bocil Jakmania)

ATSARIKU said...

Waktu aku kecil dulu, kakak-kakaku yang cewek-cewek sering ke Wirasaba buat ngambil pohon tebu, tapi setiap kali aku minta ikut gak pernah diajak. Suatu saat aku sama temenku yang waktu itu kira-kira masih sekolah kelas 2 SD, bertekad untuk ikutan mengambil pohon tebu ke Wirasaba. Dengan gagahnya aku sama temenku berangkat ke Wirasaba dengan masing-masing membawa pisau. Seelah sampai di jembatan rel, tenyata jembatannya sangat mengerikan buatku waktu itu, karena ditengahnya hanya ada dua papan yang memanjang sepanjang jembatan, sampingnya bolong-bolong, sehingga kali serayu kelihatan dari atas jembatan.
Dengan takut-takut kami nekat menyeberangi jembatan, pertama kaki jalan kaki biasa, belum lagi sampai setengah jalan kaki kami sudah tidak mampu lagi berdiri, akhirnya kami balik dengan merangkak.
semenjak itu aku baru tahu kenapa kakaku gak pernah ngajak aku buat ngambil pohon tebu. Selain jalannya susah, kalau ketahuan mandor tebu bisa ditangkap. Oaalaaah..... ternyata selama ini kakaku itu nyolong tebu to....???. Tapi aku tetep gak abis pikir sampai sekarang, bagaimana kakaku nyebrang jembatan sambil bawa sepeda dames, kalau dituntun jelas papan jembatannya gak muat, berarti sepedanya digoes donk, manteeep...... butuh keberanian yang luar biasa untuk menyeberangi jembatan dengan menaik sepeda.

Jatmiko W said...

Atsariku, pengalaman yang menarik mengalami jaman tebu, kalo sampai ketahuan bang mandor nggak jadi pesta tebunya. Saya pikir sang kakak nyebrang tetep nggak pake sepeda (terlalu berani) dia sembunyiin dulu sepeda di seberang lalu sembunyi2 menyebrang lalu 'nyolong tebu' ...

salam,

iha hibban said...

wah jembatanya, masih berdiri kokoh ya... walau agak berkarat

Jatmiko W said...

Iha hibban, terimakasih sudah mampir, iya jembatannya sekarang di pelihara oleh desa dan warga Klampok dan Wirasaba. Salam

ndhoel said...

Jembatan wirasaba itu nostalgic sekali. waktu saya SD masih aktif itu jalur ke wonosobo. Waktu itu pun jembatan sudah bisa dilalui sepeda ontel (diberi dua papan di atas bantalan), meski ada juga cerita orang jatuh di situ.

Sampai sekarang kakek-nenek saya masih tinggal di kemangkon.

wisnu said...

alhamdulilah ketemu web ini...semakin tertarik untuk menguak sejarah banyumas...kebetulan orang tua saya tinggal di dekat jembatan wirasaba..sy hidup disana dari jaman belum ada listrik..hehehe..bolak-balik menyusuri jembatan itu...hebatnya lagi sewaktu ada banjir besar jembatan itu tetep kuat menahan banjir.
sewaktu kecil saya pernah menyusuri saluran irigasi bikinan belanda dari wanadadi banjarnegara...eksotik juga..
btw. ada yang masih nyimpen stasiun kereta api Mandiraja ngga??
wisnu

Jatmiko W said...

Makasih mas Wisnu semoga membantu mengingatkan sejarah, saluran irigasi yang di maksud mungin Bandjar Tjahjana, pada bagian lain sudah saya ulas mas silahkan ke http://www.banjoemas.com/2010/10/proyek-irigasi-bandjar-tjahjana.html

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum