Tuesday, December 28, 2010

Babad II Wirasaba Majapahit - Pajang

banjoemas

Kerajaan Majapahit
XII – XV M
Kerajaan ini berdiri pada tahun 1293 – 1500 M, dan mencapai masa kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yaitu pada tahun 1350 hingga 1389. Pada masa itu kekuasaan Majapahit adalah Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Bagian Timur (masih di perdebatkan). Sehingga kota-kota yang berada di selatan gunung Slamet seperti Wirasaba, Kedjawar dan Pasirluhur merupakan termasuk kota-kota di wilayah kekuasaan Majapahit.
Pada masa berdirinya Majapahit, pedagang-pedagang Islam dari Kasultanan Malaka sudah mulai masuk ke perairan Nusantara bagian barat dan menyebarkan Islam di daratan Sumatra. Sehingga menyebabkan pengaruh kekuasaan Majapahit mulai berkurang dan satu-persatu mulai melepaskan diri.
Pada tahun 1468 Pangeran Kertabhumi memberontak terhadap Singhawikramawardhana (Brawijaya IV) dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit dengan gelar Brawijaya V. Sehingga sejumlah pembesar Majapahit yang tersisihkan dari istana termasuk saudara beda ibu Kerthabhumi yaitu Raden Harya Baribin Pandhita Putra melarikan diri ke arah barat, meminta suaka kepada penguasa Sunda - Galuh yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475 ) di Ciamis. 
Menurut saya melarikan diri bukan karena diserang oleh Kesultanan Demak/Keling, karena Kesultanan Demak menyerang Kerajaan Majapahit pada tahun 1527 M, dimana raja Majapahit adalah Ranawijaya dengan gelar Girindrawardhana (Brawijaya VI). Dimana Ranawijaya mengaku telah mengalahkan Kertabhumi dan telah memindahkan  ibukota kerajaan Majapahit ke Daha (Kediri), ini menyebabkan kemarahan Sultan Demak Pati Unus yang merupakan keturunan Kertabhumi dan Pendukung Ranawijaya mengungsi ke Pulau Bali
Raden Baribin dan rombongan kemudian diterima Prabu Niskala Wastu Kancana dan dijodohkan dengan putri bungsu Dyah Ayu Ratu Pamekas dari ibu Subanglarang. Dyah Ayu Ratu Pamekas adalah adik Raden Banyak Catra (Kamandaka) dari ibu Dewi Kumudaningsih yang merantau di Pasir Luhur.

Adapun keturunan Raden Baribin dan Dyah Ayu Ratu Pamekas adalah Raden Ketuhu, Banyaksasra, Raden Banyakkusuma yang kelak tinggal di Kaleng (Kebumen), dan yang keempat R. Rr Ngaisah. Raden Ketuhu dikisahkan mengembara ke daerah Jawa bagian tengah dan mengabdi kepada Ki Gede Buwara sebuah desa di kadipaten Wirasaba. Raden Ketuhu sangatlah rajin dan tekun. Pada suatu hari saat Raden Ketuhu sedang membakar  ranting dan daun dari membuka hutan di desa Buwara, sinar terang dari pembakaran membentuk Teja (Pelangi) yang terlihat dari kadipaten Wirasaba. Maka dipanggilah Ki Gede Buwara dan Pangeran Ketuhu oleh Adipati Wirahudaya menghadap di kadipaten. Singkat cerita akhirya Adipati Wirahudaya tau siapa sebenarnya Pangeran Ketuhu tersebut dan di jadikan anak oleh Adipati Paguwan/Wirahudaya  (Wirautama I).

Pada saat Pisowanan Ageng ke Kraton Majapahit,  Adipati Wirahudaya dalam keadaan sakit, sehingga diutuslah Raden Ketuhu dengan di dampingi oleh Patih Wirasaba dan Raden Bawang. Pada saat menghadap Raden Ketuhu mendapat pertanyaan tentang asal usul dirinya, karena yang bertanya adalah seorang raja maka Raden Ketuhu mengungkapkan sebenar-benarnya tentang asal-usulnya. Maka Kertabhumi (Brawijaya V) langsung terkejut dan merasa bersalah dengan keturunan dari Raden Harya Baribin Pandhita Putra. Maka Kertabhumi merasa harus mengangkat derajat kebangsawanan Keratonnya. Raden Ketuhu langsung di nobatkan menjadi Adipati Anom Wirasaba dengan gelar Adipati Anom Wirautama dan dihadiahi seorang istri yaitu Putrisari yang merupakan putri Mapatih Majapahit dan juga diijinkan untuk memperluas kekuasaan Wirasaba hingga Lereng Gunung Sindoro Sumbing bagian barat di wilayah Kedu.

Karena perjalanan jauh dari Keraton Majapahit ke Kadipaten Wirasaba, sehari sebelum tiba di Wirasaba rombongan beristirahat agar sampai tujuan pasukan yang mengiringnya tidak kelelahan. Dan ini dijadikan kesempatan oleh Pangeran Bawang untuk menghalangi Adipati Anom kembali ke Wirasaba, karena dialah yang sudah sekian lama mengincar kedudukan Adipati Wirahudaya (Wirautama I). Dengan berpura-pura pulang terlebih dahulu untuk memberitahu Adipati Wirahudaya agar tidak terkejut menghadapi kedatangan rombongan Adipati Anom. Tapi justru Radeng Bawang malah menghasut Adipati Wirahudaya dan mempersiapkan bala tentara Wirasaba dan kembali ketempat dimana Adipati Anom Beristirahat. Maka terjadilah pertempuran yang di menangkan oleh pasukan dari Majapahit dan bahkan Raden Bawang pun tewas dan di kebumikan di desa Bawang Banjarnegara.

Kerajaan Demak
1478 – 1568 M
Setelah Adipati Paguwan mangkat maka digantikan oleh anak angkatnya yaitu Raden Ketuhu (Adipati Anom Wirautama) dengan gelar Adipati Wirautama II.  Dan secara turun temurun di gantikan oleh Adipati Urang dengan gelar Wirautama III. Dipati Urang berputra Adipati Sutawinata/Surawin bergelar Wirautama IV. Adipati Sutawinata/Surawin digantikan Raden Tambangan diangkat menjadi adipati oleh Kesultanan Demak di beri gelar Sura Utama. Raden Tambangan  kemudian menjadin hubungan terlarang dengan Putri Banyak Geleng Pasirbatang (Pangeran Senapati Mangkubumi II) yaitu Dewi Lungge. Hubungan ini melahirkan tiga orang anak, yaitu Raden Warga (Warga Utama I), Jaka Gumingsir dan Ki Toyareka (Demang). Setelah Raden Tambangan meninggal lalu Raden Warga mengantikan ayahnya, dengan gelar Adipati Warga Utama I, dan mempunyai 4 keturunan yaitu Rara Kartimah, Ngabhei Wargawijaya, Ngabhei Wirakusuma dan Raden Rara Sukartiyah/Sukesi (istri anak dari Ki Demang Toyareka). 
Pada masa pemerintahan Adipati Wirautama II sampai dengan Adipati Warga Utama I terjadi pergantian masa kekuasaan dari Majapahit ke Kesultanan Demak yang di dirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478, Kesultanan Demak sebelumnya adalah kadipaten pada masa kekuasaan Majapahit yang menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Kesultanan Demak cepat sekali mengalami kemunduran karena adanya perebutan kekuasan diantara kerabat Kesultanan. Pewaris tahta terakhir adalah Joko Tingkir yang merupakan menantu Sultan Trenggana dan anak dari Ki Ageng Pengging yang di hukum mati karena di tuduh akan memberontak terhadap Kesultanan Demak. Joko Tingkir bergelar Sultan Adiwijaya (1546 – 1587). Sultan Adiwijaya memindahkan ibukota Kesultanan Demak ke Pajang (Solo). Kerajaan Pajang (1568–1586) hanya memiliki tiga Raja dan raja yang terakhir adalah Pangeran Benawa yang berkuasa sampai tahun 1587 M.
Kasultanan Pajang 
1568 - 1586
Saat Adipati Warga Utama I menjabat mempunyai banyak panakawan yang diambil dari para petinggi dan kadipaten Wirasaba. Para panakawan tidur di halaman. Pada suatu malam pada saat bulan purnama, Adipati Warga Utama melihat cahaya masuk ke dalam tubuh salah seorang panakawan yang tidak dikenali oleh Sang Adipati. Oleh karena itu, Sang Adipati merobek bebed panakawan tersebut untuk mengenalinya. Pada pagi harinya, panakawan yang di sobek bebednya dipanggil, ternyata punakawan tersebut adalah Jaka kaiman punakawan dari Kejawar dan setelah itu diberitahunya bahwa ia akan dijadikan menantu. Jaka Kaiman akan dinikahkan dengan puteri Adipati Warga Utama yang bernama Rara Kartimah dan uang lima riyal sebagai pitukon.
Jaka Kaiman disuruh pulang oleh Sang Adipati agar memberitahukan ayahnya dan diikuti oleh dua orang utusan dari Wirasaba. Karena tidak mampu, Kiai Mranggi Kejawar (ayah angkat Jaka Kaiman) meminta bantuan keuangan kepada Banyak Kumara di Kaleng. Sebenarnya Joko Kaiman adalah putera Raden Banyak Cotro dengan ibu adalah puteri Adipati Banyak Geleh (Wirakencana/Mangkubumi II) dari Pasir Luhur. Semenjak kecil Raden Joko Kaiman diasuh oleh Kyai Mranggi di Kejawar, yang terkenal dengan nama Kyai Sembarta dengan Nyi Ngaisah yaitu puteri Raden Baribin yang bungsu.

Di situ, Kiai Mranggi berjumpa dengan Ki Tolih. Ki Tolih adalah utusan Raja Negeri Keling untuk membunuh raja Majapahit Brawijaya. Namun usaha itu gagal, bahkan Ki Tolih dapat di tawan oleh Ki Gajah. Pada saat bersamaan Raja Brawijaya mengadakan sayembara untuk menangkap kudanya yang mengamuk di tengah kota Majapahit karena kerasukan roh Burung Endra yang mati dibunuh oleh Ki Gajah. Dengan hadiah Tanah dan Putrinya. Sebagai seorang tawanan Ki Tolih memberanikan diri untuk mengikuti sayembara tersebut, karena tak satupun orang  yang memenangkannya. Dengan mudah Ki Tolih menaklukan kuda yang kerasukan roh itu dan memenangkan sayembara tersebut. Namun Ki Tolih menolak semua hadiah yang di janjikan, tapi dia meminta keris gajah Endra yang dibawanya dari negeri Keling. Setelah itu, Ki Tolih mengembara sampai ke daerah Kaleng dan mengabdi kepada Adipati kaleng, hingga di ceritakan setelah pengabdiannya di Kaleng, rakyat hidup makmur.

Setelah mendengar cerita tentang Kadipaten Wirasaba dan tawaran dijadikan menantu oleh Adipati di Wirasaba, Ki Tolih menghadiahkan Keris Gajah Endra Ke pada Jaka Kaiman dan memesankan warangka kerisnya kepada Kiai Mranggi ayahnya. Namun Ki Tolih melarang membawa keris Gajah Endra ke medan pertempuran selama tujuh turunan, karena keris tersebut pernah dipake untuk usaha membunuh Brawijaya dan Penguasa Wirasaba ada kaitan erat dengan Brawijaya. Ki tolihpun meramalkan Jaka Kaiman akan menjadi Penguasa di Wirasaba dan akhirnya keris Gajah Endra di bawanya pulang ke Kejawar. Jaka kaiman kembali ke Wirasaba dan menikahi Rara Kartimah putri dari Adipati Warga Utama I.

Pada masa kekuasaan Sultan Adiwijaya (Sultan Pajang) memerintahkan kepada para Adipati di seluruh kadipaten kekuasaannya untuk menyerahkan seorang putri untuk dijadikan pelara-lara. Warga utama I memilih putrinya Raden Rara Sukartiyah/Sukesi (bekas menantu Ki Demang Toyareka) untuk di persembahkan, dan pada Sabtu Paing mereka berangkat ke Pajang. Kemudian anak Ki Demang Toyareka tahu dan marah-marah. Kemudian bersama-sama dengan pengawalnya pergi ke Pajang untuk meminta keadilan. Putra Ki Demang Toyareka menyatakan kepada gandek kesultanan Pajang bahwa istrinya di serahkan oleh Adipati Wirasaba untuk di jadikan pelara-lara. Maka sampailah berita ini kepada Sultan Adiwijaya tanpa menanyakan dulu kepada Raden Rara Sukartiyah.
Banjoemas Heritage
Banjoemas Heritage
Maka dengan angkara murka diutuslah tiga gandek untuk membunuh Adipati Warga Utama I yang dalam perjalanan pulang ke Wirasaba. Ditengah perjalanan Adipati Warga Utama I memutuskan untuk sekedar mampir di rumah Ki Ageng Bener di desa Bener, Ambal Kebumen. Disana Adipati Warga Utama I di terima di bale malang dan di jamu Pindang Banyak. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, ketiga gandek utusan sultan Pajang sampai di rumah Ki Ageng Bener saat Adipati sedang makan jamuan pindang banyak.
Banjoemas Heritage
Beberapa saat setelah Sultan Pajang mengirim gandek yang pertama, Sultan baru menanyai Raden Rara Sukartiyah. Dan ternyata Sultan salah besar, Raden Rara Sukartiyah sudah diceraikan oleh Adipati Warga Utama I dari Raden Mangun anak Ki Demang Toyareka, karena hubungan terlarang dalam Islam (menikah dengan sepupu). Maka dengan segera Sultan mengirim gandek untuk membatalkan pembunuhan terhadap Adipati Wirasaba.
Banjoemas Heritage
Gandek yang menyusul sampai di desa Bener melambai-lambai dari kejauhan setelah melihat gandek yang pertama berada di dekat Adipati Warga Utama I, dengan maksud jangan membunuh, tapi justru gandek yang pertama berfikir untuk segera membunuk Adipati Warga Utama I. Maka di tikamlah tepat di dadanya sang Adipati. Kedua kelompok gandek saling menyalahkan satu sama lain, namun Adipati sempat memberi pesan untuk jangan bertengkar dan melaporkan kepada sultan bahwa pembunuhan tidak dapat di cegah oleh gandek yang dating berikutnya. Adipati pun percaya bahwa ini adalah takdir untuk kematiannya.

Setelah kematian Adipati Warga Utama I, Sultan Pajang Adiwijaya kebingungan dan merasa sangat bersalah dan atas kejadian ini. Maka dengan segera Sultan Pajang memanggil putera Adipati Warga Utama I, namun tidak ada yang berani menghadap. Maka satu dari dua putra menantu Adipati yaitu Raden Joko Kaiman (suami R. Rara Kartimah) memberanikan diri untuk menghadap dengan menanggung apapun segala resikonya. Bukan amarah dan murka yang di dapat tetapi anugerah dijadikannya Adipati dengan gelar Adipati Warga Utama II. Karena Raden Joko Kaiman bukan keturunan kandung dari Adipati yang terbunuh maka teks pengangkatanpun harus dirubah. Dan atas kemurahan Sultan Pajang akhirnya Wirasaba dibagi menjadi empat yaitu;
1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.
3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.
4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dan kemudian dibangun dengan membuka hutan Mangli dibangun pusat pemerintahan dan diberi nama Kabupaten Banyumas.


Atas pembagian ini maka Adipati Warga Utama II juga bergelar sebagai Adipati Mrapat.
Kerajaan Pajang berahir pada tahun 1587 dan dijadikannya bawahan Kerajaan Mataram Islam yang dibangun pada tahun 1577 oleh Ki Ageng Pamanahan di “Bhumi Mentaok”, yaitu tanah hadiah dari Sultan Adiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan (Ayah Sutawijaya) atas jasanya membunuh Arya Penangsang (bupati Jipang tahun 1549) yang telah membunuh Sunan Prawoto (Sultan Demak). 

Banjoemas

Silsilah Adipati Wirasaba


Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber:
Priyadi, S. 1990. Tinjauan Awal tentang Serat Babad Banyumas sebagai Sumber Sejarah Makalah disampaikan pada Seminar Sejarah Nasional V. Semarang: Jarahnitra, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan & Kebudayaan.
Priyadi, S. 1998. Penelitian Terakhir Babad Banyumas . Makalah Simposium
Internasional Ilmu-ilmu Humaniora IV dalam rangka Purnabakti
Prof. Dr. Umar Kayam dan Prof. Dr. Djoko Soekiman. Yogyakarta: Fakultas
Sastra, Universitas Gadjah Mada.

Dan beberapa tulisan Sugeng Priyadi lainnya
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Majapahit
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pajajaran
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda_dan_Kerajaan_Galuh
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3666115
http://wongbanyumas.multiply.com/journal/item/1
http://www.oocities.com/gudril/babat1.html
http://students.ukdw.ac.id/~22022868/sejarah.htm

35 comments:

wahyana_giri said...

MOHON PENJELASAN: adakah yang mengetahui anak cucu Demang Toyareka? Info tolong di kirim ke facebook: Wahyana Giri Mc
~~~Terima kasih.

Anonymous said...

pembagian Wilayah Wirasaba salah satunya adalah MERDEN, mohon klarifikasi apakah MERDEN yang dimaksud adalah sebuah nama sebuah desa di wilayah kecamatan Purwonegoro, kabupaten Banjarnegara ? Karena dari cerita-cerita lama, meskipun kecil, desa ini mempunyai karakteristik sejarah yang tidak miliki desa2 lainnya. Ataukah MERDEN yang dimaksud, ada di wilayah kab. Banyumas. Suwun

miko wicaksono said...

Anonymous, menurut cerita dan ciri2 desanya memang mengarah kesana. Banyak kadipaten dan kota besar pada jaman dahulu yang tidak "ngetrend" pada jaman sekarang, di daerah Banjar misalnya ada daerah Gumingsir dan Gumelem yang sekarang hanya merupakan desa kecil. Kadipaten Merden pada masa Mataram Islam ketika masuknya Belanda atau setelah Wirasaba di pecah pernah masuk ke wilayah Kabupaten Banyumas. Babad selanjutnya saya pastikan akan menceritakan bagian ini. terimakasih

Anonymous said...

Kata orang-orang dulu, Merden adalah "kademangan" yang dipimpin seorang demang, tidak seperti desa2 lainnya yang dipimpin lurah atau kuwu. Berarti memang ada sesuatu yang "tidak biasa" di Merden ini, ada sesuatu yang istimewa.
Lagi-lagi kata orang-orang dulu (kalau ini dari embah saya langsung), wilayah Banjarnegara sebelah selatan, yang kondisi georafisnya bergunung gunung - termasuk Merden - adalah tempat tujuan hijrahnya laskar Diponegoro termasuk komandannya pasca perang Jawa. Tempat ini strategis untuk menghindari kejaran Belanda, dan laskar2 tersebut akhirnya tinggal menetap di situ. Kata embah, tidak heran kalau banyak keturunan "priyayi" yang bergelar raden di wilayah ini. Mohon diralat kalau keliru.
Saya tunggu posting lanjutannya mas.

miko wicaksono said...

Menurut sejarah memang begitu sepertinya, Merden dan Gumelem merupakan kademangan dan merupakan rute2 yang dilalui Diponegoro pada saat beperang melawan Belanda. Anda masih keturunan Ndalem Merden? kapan kapan saya pengen main ke Merden untuk napak tilas ... siapa tau dapet data dan gambar buat blog saya.

Kalau tidak keberatan kontak saya di auteur_miko@banjoemas.co.cc,
salam.

Anonymous said...

Out of topic mas, jalur jalan raya propinsi yg sekarang ( sejajar jalur kereta SDS ) apa memang sudah ada sejak jamannya Merden dulu ? Sekedar ingin tahu rute Banyumas - Merden tempo doeloe, apa ikut jalur itu, atau ada jalan lain. Sekedar info, jarak Merden dengan jalan raya propinsi kira2 3 kilo-an, lumayan dekat.
trims

miko wicaksono said...

Its OK, jalan tersebut sudah ada ini saya lihat dari peta tertua yang aku dapet sekitar tahun 1870han yang di buat Belanda. cuman kalau pada jaman kademangan atau kurun waktu posting diatas saya kurang paham yang pasti pada saat di bangun Merden di sana dibuatlah jalan dan perempatan di tengah kota. yang menandakan sebuah kota besar pada jaman dahulu. Rel SDS dibangun pada tahun 1893 - 1898 dan pada tahun tersebut jalan tersebut sudah merupakan jalan tanah besar tanpa aspal.

Anonymous said...

Ada tulisan di internet tentang sejarah merden, bagus kalau bisa dibukukan tersendiri mas, cabang dari babad Banjumas.
Ayuh padha mrana mas, napak tilas maring situs prapatan kota Merden, kali Sapi, Igir Cempaka, Watu Celeng dll.

Hari MLands said...

maturnuwun infonya pak...menyimak trus karena masih belajar

miko wicaksono said...

Anonymous, sejarah merden sedang dalam pencarian data dan uborampenya. Kalau bisa di bantu untuk pencarian data2nya saya sangat berterimakasih.

Hari MLands, saya juga masih belajar dan semampu saya semoga bermanfaat bagi semua.

adi yugasworo said...

mas miko say sangat menghargai blog anda... karena saya akan mengadakan penelitian tentang mitos pamali yang masih dipegang teguh oleh masyrakat desa Wirasaba sebagai bahan skripsi saya... kalo boleh apakah anda memiliki peta desa wirasaba dan data mengenai mitos tersebut terima kasih...

miko wicaksono said...
This comment has been removed by the author.
miko wicaksono said...

terimakasih mas adi yugasworo dari UNY yang ternyata adik kelas di SMU paket Bukateja. Kebetulan saya bukan sejarahwan atau sosiolog, jadi saya sama sekali tidak punya datanya, hanya merangkum dari sumber sumber yang telah saya cantumkan diatas dan sedikit folklore. Tapi saya bisa merekomendasikan beberapa orang ahli untuk anda silahkan mail saya di auteur_miko@banjoemas.co.cc, mungkin mereka bisa membantu skripsi anda. terimakasih

dofont said...

tanya ah
Kasultanan Pajang itu apakah sama dengan keraton pajang yaitu nama daerah dipinggir kota solo?
tapi peninggalan keraton disitu cm dikit bgt...dan gak ada bukti yg megah dari suatu kasultanan...

Jatmiko W said...

Kemungkinan iya mas, menurut beberapa sumber memang berdekatan dengan Solo/Surakarta

Anonymous said...

mas tolong ulas mengenai candi golek yang ada di desa peninis, kalisalak. cukup unik juga klo di lereng gunung slamet ada peninggalan prasejarah.
nuwun...

Jatmiko W said...

Anonymous, keterbatasan personil, waktu dan dana menyebabkan kita belum bisa mengeksplorasi daerah peninis. Terimakasih komentarnya ini sebuah masukan bagus terimakasih.

Anonymous said...

Mas aku muim
aku bangga dg adanya blog ini kami jdi lebih mengenal silsilah daerah kami
tanks

Krisna Catur Pamungkas said...

ana maning merden neng purbalingga, mlebu kalikajar kayane. Gumelem kuwe maksude sing sebelahe pasar perja ya? sing terkenal batik tulis gumeleme? nek daerah kono gemiyen maju, kok siki ndeso banget ya mas?

Jatmiko W said...

Muim, terimakasih semoga membantu.

Krisna Catur Pamungkas, betul mas ... makasih kunujungannya

Yudi said...

to mas miko...tolong dong di ulas sejarah kadipaten pasir luhur,saya sampe saat ini masih pnasaran ttg silsilah pasir luhur....krn kata moyang sy berasal dr pasir luhur..maturswun

Dildaar Ahmad Dartono said...

salam kenal...

Anonymous said...

di Gumelem 3 th yang lalu saya sholat di masjid TUA yg tidak terawat, padahal klihatannya bersejarah

Boedi Poernomo said...

salam sejarah

mas, kejawer itu bukanya desa baratnya banyumas, apa dulunya sebuah kadipaten apkah masih ada peninggalan2 sejarahnya...

burunglovebirds said...

kunjungan silaturahim Mas, jazakallah khairan infonya
hemmm
Baca kisah masalalu slalu menyesakkan dada skaligus menentramkan jiwa
#campursari

Anonymous said...

shellovera pw_wirasaba desaku,lahir pda tgl 1 january 1992 dg nama gatot budi raharjo kalo boleh q ikut menyimak sejarah babat wirasaba karena q ingin tau sejarah desaku dan pendahuluku.semoga pengampunan dlm doa menerangi mereka yg kmbali pda illahi

Jatmiko W said...

Yudi, Pasirluhur belum bisa saya posting sekarang karena masih daam penulisan;

Dildaar Ahmad Hartono, salam kenal juga;

Boedi Poernomo, betul mas sementara masih cerita belum penelusurannya;

burunglovebird, terimakasih pujiannya semoga bermanfaat;

Gatot Budi Raharjo, silahkan mas Gatot dengan senang hati, maaf apa mas Gatot putranya pak Heri Wirasaba mantan TNI ?

Salam lestari semua untuk lebih dekat dengan kami gabung di https://www.facebook.com/banjoemas ata @banjoemas

Anonymous said...

Wah.. terima kasih kang...
Salam saya, S Riyanto...
Saya ada beberapa catatan yang saya sempat salin dari beberapa sumber dalam keluarga saya yang masih perlu dijernihkan kebenarannya...

Kang mohon petunjuk tentang silsilah dari jalur Merden, jalur Parakan, dan jalur Gumiwang.
apakah ada yang namanya kyai Nurmadin ( Parakan )

Mohon info pencerahannya.. Nuwun...

madja kusuma said...

saya asli klampok, tapi bapak saya dan mbah-mbah saya asli kejawar, ada yang tau sejarah desa kejawar yang lengkap dan letak makamnya mbah chasanpura? matur nuwun

Anonymous said...

apa di sini ada yang punya naskah manuskrip beraksara jawa

Jatmiko W said...

S. Riyanto, perlu ketemu mas bukan hanya lewat OL, karena yang anda tanyakan sudah sangat jauh.

Madja Kusuma, kami belum mempelajari sampai detail itu mas

Anonymous, anda tidak meninggalkan identitas jadi pertanyaan tidak kami jawab, dalam waktu 3 x 24 jam komentar anda akan terhapus

all, terimakasih

erhambudi said...

saya membaca tulisan ini dua tahun lalu, tapi hari ini berkunjung lagi karena sedikit kebingungan. Di tulisan mas disebutkan bahwa Wirasaba dibagi menjadi empat (oleh Adipati Mrapat) yaitu: Banjar Pertambakan, Merden, Kejawar dan Wirasaba sendiri. Versinya Prof. Sugeng Priyadi (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013, hlm. 125) menyebut empat tersebut adalah Senon, Toyareka, Kejawar dan Wirasaba. Mohon penjelasan lebih lanjut mas. Trimakasih
Erham (erhambudi@gmail.com)

pak jamal said...
This comment has been removed by a blog administrator.
pak jamal said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Robert Hendrayana said...

Salam kenal Mas,
tulisan anda ttg silsilah Raden baribin kok ada kemiripan dgn silisalah dlm keluarga saya (Kel. Arya Wiriatmadja, pendiri BRI) mohon penjelasan atau referensi yg bisa menghubungkan 2 silsilah tersebut. Terima Kasih
Hendra
hendra49@outlook.com

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum