Monday, November 10, 2014

Pembangunan ANIEM Banjoemas


Proyek ini dibangun oleh N. V. A.N.I.E.M (Algemeene Nederlandsen-Indische Electriciteit Maatschappij) wilayah kerja Karsidenan Banyumas tahun 1940. Desain dan pengerjaan dipimpin oleh ir. G. S. GOEMANS yang merupakan Insinyur N. V. A.N.I.E.M dan setelahnya perawatan dan pendistribusian dilakukan oleh N. V. Electriciteit Maatschappij Banjoemas (E.M.B.)

banjoemas.com
Peta Proyek dan transportasi Klik disini untuk ukuran besarnya

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

Proyek Ketenger di bangun di desa Ketenger dengan memanfaatkan aliran air hulu sungai Banjaran. Dari proyek ini bertujuan mengaliri listrik untuk wilayah karsidenan Banyumas pada tahun 1927. Ijin diberikan pada 3 November 1927 kepada N. V. Electriciteitmaatschappij Banjoemas (E.M.B.) atau Perusahaan Listrik Banyumas dengan kekuatan daya 1000 pk.

Menurut Koran HET NIEUWS VAN DEN DAG yang terbit 24 Mei 1927 Mengatakan bahwa pembangunan pembangkit ini sudah dimulai dimana Gedung Transformator sudah didirikan hanya tinggal menunggu Mesin disel pertama yang didatangkan lewat Tandjung Priok. Namun karena alasan ekonomi melalui 1 Januari 1929 Proyek ini di tunda.

Tahun-tahun ini merupakan berawalnya jaman mailese, dimana perekonomian dunia mulai terpuruk karena perang terjadi di Eropa. Eropa adalah negara tujuan dari barang-barang komoditi eksport Jawa. Sehingga pemerintah Hindia-Belanda yang menguasai Jawa dan kepulauan lainnya tidak bisa dengan mudah eksport dan mendistribusikannya di Eropa.
Dan pada 1936 proyek inipun dikaji ulang dan akan di teruskan jika proyek besar karsidenan Banyumas ini juga bisa menghidupkan "Groote Krojaplan" (Proyek besar Kroya) yaitu berupa Pengairan irigasi dan pasokan listrik.

banjoemas.com
Saluran pembuangan endapan

banjoemas.com
Saluran pengendapan

banjoemas.com
Saluran air setelah proses pengendapan

banjoemas.com
Pembuatan rangka pipa beton

banjoemas.com
pembuatan beton pembelok air

Teknis Pembangunan Proyek
Proyek Ketengger menggunakan teknologi Hydro ini terletak pada ketinggian 365 - 665 m diatas permukaan air laut, air penggerak menggunakan air dari hulu Kali Banjaran dan beberapa mata air disekitarnya (ditas desa Kalipagu). Dan juga direncanakan bahwa nantinya akan ada penampungan air yang bangunannya bisa kita lihat sampai sekarang.

banjoemas.com
Pembuatan siphon diatas sungai Brajawringin

banjoemas.com
Pekerja pribumi sedang mempersiapkan kerangka beton

banjoemas.com

Katup hidrolik, sebagai tenaga air pertama, Pipa peluncur untuk tekananan air pertama
Air dialirkan melalui pipa cor dan pipa besi turun ke bawah hingga melewati sungai Pagu (Kali Pagu) dengan membangun Syphon, dan air dinaikan lagi dan kemudian turun di Sungai Brajawaringin. Diatas sungai ini dibangun Aquaduct (terowongan air dari beton) dan kemudian naik lagi hingga di terima oleh Buffer inrichtingkleppenhuis (Hydran) sehingga air tidak turun lagi ke Aquaduct. Dari sinilah Air meluncur ke bawah dengan menggunakan pipa besi bertekanan tinggi yang dipasang tunggal. Air meluncur dengan kecepatan tinggi hingga bisa memutar turbin pada pembangkit listrik di Centrale (bangunan pembangkit) dan kemudian air di buang ke Sungai Banjaran lagi.

banjoemas.com
Pusat penggerak pada 15 Januari 1938

banjoemas.com
Pusat penggerak pada 15 Maret 1938

banjoemas.com
Pusat pembangkit Ketenger

banjoemas.com
Pipa tekanan air kedua

Teknis tranportasi
Pembangunan proyek Ketenger berada jauh dari Pusat kota Purwokerto, kabupaten dimana Lokasi pembangunan berada. Baturraden sudah terkenal sebagai tempat wisata alam, dan "Soember Pitoe" sudah merupakan tempat pemujaan Tatas Angin oleh masyarakat Banyumas pada masa itu. Sehingga jalan ke Baturraden pada masa itu sudah ada, namun tidak cukup untuk kendaraan berat yang mengangkut peralatan dan bahan bangunan menuju lokasi.

banjoemas.com
Jalur Lori untuk mengangkut peralatan dan bahan bangunan

banjoemas.com
Pengerasan jalan raya

Melalui proses perencanaan yang matang akhirnya dipersiapkan infrastruktur untuk mendukung jalur transportasi yaitu pengerasan jalan dari Stasiun SS (Staats Spoorwagon) Purwokerto hingga desa Ketenger, kemudian pengerasan dan pelebaran jalan di desa Ketenger yang merupakan wilayah Perhutani dan juga dibangunlah jalur rel lori sepanjang 2.2 Km yang juga dibangun secara serius (permanen) dengan membangunnya diatas tanah yang solid dan membangun jembatan rel diatas sungai Gemawang, Sungai ketenger dan Sungai Banjaran. Sehingga dari kesemuanya alur masuknya peralatan berat yang dibutuhkan proyek menggunakan 3 kali transportasi yang berbeda. Peralatan di datangkan melalui kereta SS (Staats Spoorwagon) Purwokerto, kemudian diangkut menggunakan kendaraaan jalan raya ke Ketenger (Gudang peralatan), dan di teruskan menggunakan rel Lori (60cm) hingga ke lokasi proyek.

Seluruh pengerjaan konstruksi hanya berlangsung 15 Bulan (Oktober 1937 - Januari 1939) Pengerjaan Proyek rupanya menemui resiko yang sangat besar yaitu musim hujan, namun dari tahapan keseluruhan yang paling sulit adalah turunnya hujan pada masa pengeringan konstruksi selama tahun 1938.

banjoemas.com
Pengangkutan dengan cara tradisional

Proyek ini adalah pekerjaan yang sangat berat untuk pekerja pribumi dimana lima sampai enam ratus orang pribumi bekerja selama berbulan-bulan. Tidak semua barang-barang perlengkapan bisa di bawa dengan transportasi, pasir, batu, kerikil, semen atau bahkan gelondongan besi cor dan beton pun dibawa secara tradisional (dipikul sendiri atau bersama).

banjoemas.com
Turbin pembangkit listrik

banjoemas.com
Gardu listrik Purwokerto

banjoemas.com
Gardu listrik Gambarsari

banjoemas.com
Peta Sebaran jaringan Listrik ENIEM Banjoemas

Distribusi Listrik
Listrik yang dihasilkan proyek Ketenger adalah 100 Kw, yang kemudian ditarik ke Purwokerto untuk di distribusikan ke Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Trenggiling (Rumahsakit Zending), Banyumas, Maos, Cilacap, Kroya, Sumpyuh hingga Gombong, Kebumen dan Kutowinangun.

Setelah digabungnya Kabupaten Banyumas dengan kabupaten Purwokerto tahun 1936, kota kabupaten dan beberapa infrastruktur juga diperbaiki dan dibangun. Salah satunya adalah saluran irigasi yang mengairi air ke daerah Gambarsari, Kebasen, Kroya, Sumpyuh, Cilacap dan air di pompa keatas dari Sungai Serayu. Bangunan pompa ini di laksanakan oleh perusahaan listrik ENIEM Banjoemas yang bersumber di Ketenger

Pada  masa kekuasaan Jepang pembangkit ini pernah tidak berfungsi karena kekurangan air, hingga Jepang membangun DAM Jepang di bawah Curug Gede. Masa kemerdekaan pembangkit ini berada di tangan pemerintah Indonesia namun pada agresi militer pertama pada tahun 1946 pembangkit berhasil dikuasai oleh tentara NICA dan di kembalikan fungsinya seperti semula. (baca disini)

Sumber
Wikimedia Commons
Tropen Museum
DE INGENIEUR IN NEDERLANDSCH-INDIË, BOUW- EN WATERBOUWKUNDE. SEPTEMBER 1940 (Doc. BHHC)
HET NIEUWS VAN DEN DAG 24 Mei 1927
Buku Kenang-kenangan 1933-1950 bag.1

Tulisan ini di publikasikan peratama pada 9/19/12
di revisi pada 11/11/14

37 comments:

Yoyo said...

Mas Miko, bagus artikelnya, saya kagum.
Saat saya di PLTA Ketenger, saya diberitau oleh salah satu karyawan PLTA Ketenger, dia bilang ada jalur lori yang dipasang menurun disebelah pipa PLTA Ketenger dari Kolam penampungan sampai Pusat pembangkit Ketenger, dan itu ternyata ada dibeberapa foto diatas.

Jatmiko W said...

Yoyo, terimakasih sudah komentar untuk pertama kali, arsip ini saya dapatkan dengan susah payah, dan kontennya pun sudah membayarnya. salam

MAJALAH ANCAS said...

kayane nek tulisane de alih bahasakan ke bahasa Banyumas, terus de kirim maring majalah Ancas maen loh mas?

Anonymous said...

artikel yg sangat mengena dihati, jalur pipa ini sungguh berkesan saat saya suka tecking di baturaden, jadi tau sejarahnya. saya salut

Jatmiko W said...

Majalah ANCAS, tek jajale ndipit ya mengko, nuwun

Anonymous, sudah lama sekali saya mencari arsip tentang ENIEM Ketenger ini, seiring sering di tanyakan oleh pengunjung dan follower terkait bangunan ini, dan proses translate juga memakan waktu dikarenakan minimnya pengetahuan bahasa Belanda. Salam Lestari

mazbary said...

mantab nih mas miko artikelnya..

Anonymous said...

bagus sekali artikelnya mas, oh iya dulu di daearah kalipagu ada jembatan dengan rel lorinya, apakah itu termasuk dalam proyek ENIEM tersebut?


Ika Setyo/cap_smp@yahoo.com

Anonymous said...

wah berarti asal usul orang d tempat ku dulu bilang tiang listrik adalah tiang "ANIEM" adalah dari nama perusahaan listrik belanda ini toh, baru tau ak. good.good

herupendowo said...

artikelnya bagus mas....

herupendowo said...

artikelnya bagus mas....

zhiezha rihter said...

mantap kangbro artikelnya... ini yang waktu itu njenengan bilang ke saya ya waktu kita ketemu di baturraden...
saya pernah menulusuri ini dulu waktu pramukaan di sma n waktu diklat ldk di kuliahan... mantap kangbro... lanjutkan....

Jatmiko W said...

Majalah ANCAS, nggih insaalah nggih

Ika Setyo, Anonymous, herupendowo makasih sudah mampir betul sekali komentarnya.

Zhiezha rihter, iya mas sekalian liburan kemaren hehehe

salam lestari semuanya

Ari Mahmoud coent said...
This comment has been removed by the author.
Ari Mahmoud coent said...

wah artikel yg amat sangat bagus.
kemarin dulu saya udh mblusuk menusuri jalur lori ini. mash ada meski sdah ada beberapa bagian yg hilang besi bajanya.



Ari Mahmoud coent said...

wah artikel yg amat sangat bagus.
kemarin dulu saya udh mblusuk menusuri jalur lori ini. mash ada meski sdah ada beberapa bagian yg hilang besi bajanya.



Sovya Nilna said...

bagus mas artikelnya, saran aja mas, lebih bagus lagi dengan foto keadaan sekarang, jadi bisa tau yang mana yang masih ada dari peninggalan tersebut. Salam Lestari

Jatmiko W said...

Ari Mahmoud Coent, terimakasih pujiannya dan meginspirasi anda untuk mblusuk terlebih dahulu.

Sovya Nilna, terimakasih saran dan pujiannya, dari team BHHC belum menyusurinya sehingga belum bisa poosting keadaan yang sekarang, dalam waktu dekat ini jelajah Ketenger akan di laksanakan, semoga bisa mendokumentasi keadaan sekarang.

Anonymous said...

Mas Jatmiko yth,

Artikel with high quality.Ahli-ahli Belanda sebenarnya memang hebat,tekun,ulet,cermat,dan selalu berorientasi pada kualitas.Kita seharusnya bisa belajar kepada mereka.Kolonialisme memang jahat.Tapi ilmu dan keahlian mereka sebenarnya bisa kita contoh...(Anwar Hadja-Bandung).

ZAMZAMI ZAINUDDIN said...

wah ....membaca artikel ini,,membawa saya kembali ke masa silam..dengan foto-foto tempo duloe.....penyajian sejarah yang sangat informatif..

Blog wisataku:
http://www.kompasiana.com/zamzami.zainuddin

ZAMZAMI ZAINUDDIN said...

Wisata Aceh:
http://www.zamzamizainuddin.com/2012/10/berwisata-ke-tanah-rencong-aceh.html

Jatmiko W said...

Anwar Hadja, terimakasih, disinilah saya tertarik sejarah diantara bangsa-bangsa yang tidak peduli sejarah, Jawa dan Nusantara pernah jaya meski dibawah kolonial, dan sekarang harusnya lebih maju dari dari itu, itulah pentingnya mengerti sejarah, jangan masuk ke lobang yang sama dan lebih baik dari sejarah yang pernah di catat. salam
zamzami Zainudin, terimakasih sudah mampir blog anda juga sangat informatif jadi pengen jelajah kesana

zainur said...

nice artikel :) ..
pengen ikutan belajar sejarah :)

azizah said...

wiiih keren mz artikelnya,, bangunan hidro sehebat itu pake teknologi tradisional..sampe sekarang masih kokoh, jaringan pipa transmisinya pun canggih bgt untuk konstruksi perpipaan jaman dulu tahun 1930-an.. jauh bgt kualitasnya sama proyek hambalang yang udah pake teknologi serba modern tapi belum selesai konstruksi udah ambruuk duluan,,menyedihkan bangsa ini -))

Jatmiko W said...

Zainur, makasih mari bergabung di fb; Azizah, Betul sekali pengungkapan sejarah adalah perlu agar bangsa ini tidak jatuh ke lubang yang sama, tapi apa daya kesadaran masyarakat akan pengetahuan sejarah adalah rendah. salam

D'Isd. said...

Bagus sekali. Ketika masih di SMA 2 Pwt (tahun 1988), saya beberapa kali berwisata lewat jalur pipa itu hingga ke Bukit Cendana, namun baru sekarang tahu sejarahnya. Terimakasih banyak.

Willy Artho said...

salut dengan artikelnya.....
tahun-tahun 90-an (jaman SMA di Purbalingga), saya beberapa kali blusukan - trekking ke daerah Kalipagu - Ketenger - Gunung Bunder - desa2 sekitar Baturraden.....cuma denger critanya dari mulut ke mulut orang-orang tua daerah situ......

nylekamin said...

Salut mas bro... artikel yang sangat bagus dan informatif .... pemerintah saja belum tentu punya catatan sejarah seperti ini... 4 jempol untuk Mas Jatmiko...
saya tunggu artikel sejarah lainnya...
terima kasih.

Buntoro said...

Mas Miko, terima kasih atas tulisan yg sangat bagus, mengingatkan kita pada masa lalu di Poerwokerto.
Taun 60an sampe awal 70an listrik di Poerwokerto dan sekitarnya masih merupakan barang langka. Langganan listrik di rumah2 paling 100 watt per rumah.
Tegangan yg dipakai masih 110 V, penerangan jalan masih pakai lampu bohlam dan tiang listriknya pake kayu ulin.

Yang menarik pada gardu2 listrik di pinggir jalan, pada box nya ditulis pakai tulisan jawa "Sing ngemek mati" .....

Anonymous said...

wah... ini kan sejarah lokal... mengapa tidak dimasukkan dalam kurikulum muatan lokal banjoemas dan sekitarnya... salam hormat dan salut dari kami anak muda yang kurang banyak ilmu tentang sejarah lokal

Aw Jaya said...

Fotonya pada kemana ya, foto bucket mulu.

Anonymous said...

Aw Jaya : itu tandanya kamu harus memberikan donasi, biar kamu tetap bisa melihat informasinya.

Jatmiko W said...

terimakasih sudah berkunjung di halaman ini dan menyempatkan meninggalkan komentar, salut masih menyempatkan membaca sejarah Banjoemas.

Keterbatasan dana kami untuk mengelola file adalah kendala utama kami, semoga kedepan tidak ada lagi gangguan serupa. terimakasih Salam Lestari

mio bae said...

wah keren kerenn....ternyata sejarahnya mantap sekali..
saya sendiri orang baturaden,tpi saya belum pernah denger or baca artikel se detail ini..
kakek saya pun blm pernah menceritakan kisah PLTA ketenger.. pertama saya berkunjung ke PLTA waktu kelas 1 SD th 1998 mungkin..
tmptnya memang bener2 keren..dr atas sampe bawah saya telusuri..mantap....
thanxs nih buat artikelnya..jadi pengen kesana lagi

mustofa kamaludin said...

kebetulan rumah saya di penaruban , kaligondang , purbalingga kurang lebih 1 km sebelum rumah sakit trenggiling ( zending ) yang mendapat keistimewaan karena merupakan tempat khusus ( komplek gedung) yang mendapat aliran listrik dari ANIEM .....

jalin atma said...

visit my site too
ST3 Telkom
and follow my social media instagram please :
Jalin Atma

Nizar said...

Terimakasih mas, sangat bermanfaat, apalagi untuk saya yang warga lokal baturraden,
Terahir saya ke ketenger dan kalipagu, bangunan rumah di kolam penampungan air kalipagu masih berdiri kokoh, kemudian untuk rel beberapa sudah tertutup lumpur dan tanah, namun masih mudah buat ditemukan, dan jembatan rel lori saya pernah nglewatin yg di sungai bagian barat masih kokoh walaupun menyeramkan hehe

bayu arista said...

siip Bangettt... sejarawan banjoemas pantas anda Sandang Kang Jat..

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum