Thursday, November 18, 2010

Suikerfabriek Bodjong

www.banjoemas.com

Sebuah email akhirnya datang di inbox-ku, dari Pak Krispartono seorang senior bidang heritage di Semarang. Attachment-nya membuatku senang bukan kepalang karena berisi foto dan cuplikan paragraf tentang Suikerfabriek Bodjong yang sudah sekian lama saya cari.

48. BODJONG SUGAR ESTATE
This sugar estate was located in the recidency of Banjoemas, Central Java. The factory was erected in 1888. This location of estate was in the area of the heavy rainfall (in rainy season 9 –10 percent of sugar was obtained from cane, while in dry season up to 12 – 13 percent). The good result of the production could be obtained oly by careful and experienced management by Mr. H.C.C. Fraissenet. He managed the production of Bojong estate in such a high level. Since 1894, the Kalimanah estate became part of Bojong estate; this gave positive impact of increasing sugar production of the Bojog factory. To carry the cane from the field to the mill a light railway was used. In addition the factory of Bojong was closed to tramway termius of Purboliggo, so that very quick transport was assured. The factory was splendidly well equipped with machinery has a capacity of 11,000 piculs a day. Mr. Fraissinet has been associated with the cultivation and of manufacture of sugar in Java. Since 1888. He was appointed to his present position in 1894. The financial agents of the estate are Messrs Mc Neil and Co Semarang (Wright 1909, 367).

Source: 'Twentieth Century of Netherlands Indies',
author:  Arthur Wright 1909

www.banjoemas.com
Tampak depan Pabrik Gula Bodjong | Bagian dalam Pabrik

www.banjoemas.com
Tampak Sebuah rumah bertingkat di lingkungan pabrik | Rangkaian lori pengangkut tebu


Pabrik gula ini terletak di desa Bodjong Distrik Poerbolinggo Karesidenan Banjoemas, Jawa Tengah.

www.banjoemas.com

www.banjoemas.com

Pabrik itu didirikan pada tahun 1888. Lokasi ini berada di daerah dengan curah hujan tinggi. Di musim hujan gula yang di hasilkan sekitar 9% - 10% dari tebu yang diolah, sedangkan di musim kemarau bisa sampai 12% - 13%. Hasil produksi gula terbaik dapat diperoleh karena manajemen yang berhati-hati dan berpengalaman dibawah pimpinan Mr HCC Fraissenet. Dia berhasil membuat pabrik gula Bojong berproduksi pada level tinggi. Dan sejak tahun 1894, Pabrik gula Kalimanah menjadi bagian dari pabrik gula Bojong, ini memberikan dampak positif peningkatan produksi gula dari pabrik Bojog. Untuk membawa tebu dari perkebunan ke pabrik menggunakan kereta api ringan (Lori). Selain itu pabrik Bojong dekat dengan stasiun kereta SDS di Purbalingga, sehingga sangat yakin transportasi menjadi cepat. Pabrik ini dilengkapi dengan mesin menakjubkan yang memiliki kapasitas 11.000 pikul sehari. Mr Fraissinet bersatu dengan budidaya dan pembuatan gula di Jawa. Sejak 1888. Beliau diangkat ke posisi sekarang ini pada tahun 1894. Para agen keuangan pabrik tersebut adalah Bapak Mc Neil and Co Semarang(Wright 1909, 367). (maaf kalo terjemahan saya menjadi kurang dimengerti)

Mr. H.C.C. Fraissenet adalah orang pertama di wilayah Banyumas yang memiliki sepeda.

Beberapa gambar yang saya dapat dari TROPENMUSEUM

www.banjoemas.com
Jembatan lori melintas diatas sungai Klawing

www.banjoemas.com
Sebuah lori melintas diatas Jembatan sungai Klawing

Beberapa gambar Buku Laporan Tahunan Perseroan Terbatas Pabrik Gula Bodjong tahun 1930 (Jaarverslag, Naamlooze Vennootschap Suikerfabriek Bodjong 1930)

www.banjoemas.com

www.banjoemas.com

www.banjoemas.com

Data diambil dari :
Esklusif dari Pak Krisparantono Semarang
http://tropenmuseum.nl/
biblio.co.uk


18 comments:

Willy Artho said...

Mas, PG Bojong tu operasional/aktif "nggiling" sampai dengan tahun berapa ya? Pakde saya dari pihak Bapak tu ada yang pensiunan sinder tebu di Bojong ( '60-'80-an kalo ngga salah) dari hasil "nguping" obrolan Pakde dan Bapak yang saya dengar sambil main mobil2an di bawah meja ruang tamu, tahun2 '80-an beliau masih inspeksi di daerah Bojong....tapi kalo mmang tahun2 segitu sudah ngga operasional, berarti waktu itu tebu2 dari kebun2 di wilayah Bojong dan sekitarnya di kirim ke PG Kalibagor... begitu mungkin ya..?!?

Anonymous said...

dulu saya lahir di bojong thn '70. dah gak ada apa2 pak. yang ada adalah stasiun lori tebu di bojong yang melangsir tebu dari truk ke lori untuk dibawa ke kalibagor. waktu saya SD, stasiun lori ini pindah ke pertigaan desa jetis

miko wicaksono said...

Menurut pak Suladi (exs CA PG Kalibagor) wilayah perkebunan tebu PG. Klampok, Pg. Bojong dan kalimanah di kuasai oleh PG Kalibagor yang beroprasi hingga 1990han. PG Bojong berubah Jadi Pool Tebu untuk PG Kalibagor.
Tebu di bawa dengan truk dan di setorkan ke Pool Tebu tersebut, dan di pindahkan ke lorie lalu di bawa ke Kalibagor.

Anonymous said...

wah keren bgt infonya.... sedikit sekali info yang saya dapat tentang PG bojong.... padahal rumah saya di bojong. terima kasih infonya...

Milo Wicaksono said...

Anonymous, padahal bekas jalur lorinya menjalar hampir di 6 Kecamatan di purbalingga, salam

Yoyo said...

Menurut dugaan saya, 4 Pabrik Gula di Banyumas (Purwokerto, Kalibagor, Bojong, Klampok) terhubung oleh jalur lori, biasanya 1 (berdasarkan penelusuran saya)

Jatmiko W said...

Betul itu mas, memang pada akhirnya semua pabrik Gula merjer dengan PG Kalibagor, termasuk Klampok. Hingga usia PG Kalibagor mencapai tahun 1998an atau sekitar 150an tahun, dibanding PG yang lain di daerah Banyumas.

wisnu said...

posisi tepatnya sekarang disebelah mana yaaa...kok ngga kelihatan sisa2nya...

Jatmiko W said...

Wisnu, sekarang jadi lokasi perumahan Bojong.

mustofa kamaludin said...

sekedar correct ....di dalam Taman Bojong ada sebuah sumur tua dan sisa-sisa tembok tua yang kemungkinan merupakan bekas sf.bodjong

jalin atma said...

visit my site too
ST3 Telkom
and follow my social media instagram please :
Jalin Atma

Adsense said...

Saya dulu waktu kecil tinggal di Toyareka dapat cerita dari Mbah, lokasi pabrik itu yg sekarang jadi perumahan bojong, kebetulan mbah dulu punya sawah di sebelah timur pabrik, ada cerita di pabrik itu ada gedung uang yang sangat kuat dan ada pintu yg di beri pedang dua buah yg selalu bergerak saat pihak manajemen pabrik mengaktifkan pengaman itu. Dan konon saat pembongkaran gedung itu paling keras saat dihancurkan

Jatmiko W said...

Adsense terimakasih sudah meninggalkan jejak dan berbagi cerita, saya juga ernah menedengar cerita tersebut, dan kebetulan tidak banyak saksi mata yang melihat bangunan ini saat berdiri. Bangunan perumahan pegawai yang menempati sepanjang jalan dari pertigaan hingga pom bensin Bojong juga tidak sedikitpun yang meninggalkan bekas. salam

Gery Anggriawan said...

Kue brug kali klawing jaman mbiyen? Apa siki wis ora ana?

Jatmiko W said...

Gery, betul sekali, di Purbalingga terkenal dengan nama brug menceng (cmiiw)

dwihatmoko said...

poerbalingga tempoe doeloe...jadi ingin menggali lebih dalam

faradhea said...

di Kedung dawa masih ada bekas rel yang sambungannya ke arah pasar bojong.

Adsense said...

Kedungdawa itu bojong komplek soto so ya, alias karangmunyung

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum