Monday, December 20, 2010

Babad I Penguasa Selatan Lereng Gunung Slamet

banjoemas

Kerajaan Galuh Purba
Abad III - IV
Van der Meulen (1988): (Indonesia di Ambang Sejarah - Kanisius) menyatakan bahwa pendatang-pendatang dari tanah Kutai dating ke tanah Jawa jauh sebelum abad ke 3 Masehi. Pendatang-pendatang itu masuk dari pantai Cirebon dan menetap di  pedalaman sekitar gunung Cerme, gunung Slamet dan lembah sungai Serayu.
Kerajaan Galuh Purba dibangun oleh pendatang yang menetap di kawasan Slamet (Ratu Galuh), kemungkinan kerajaan bernama Galuh Sinduala ( Bojong Galuh) dan beribukota di Medang Gili (78 M) Namun ini masih di ragukan karena Bahasa dan tulisan sansekerta belum di kenal luas pada jaman itu.

Banjoemas Heritage
Arah Pendatang dari Kutai

Pada abad 1 – 6  banyak kerajaan yang memakai kata galuh selain  kerajaan Galuh Purba di Jawa. Diantaranya:
• Kerajaan Galuh Rahyang yang berlokasi di Brebes, beribukota di Medang Pangramesan
• Kerajaan Galuh Kalangon yang berlokasi di Roban, beribukota di Medang Pangramesan
• Kerajaan Galuh Lalean yang berlokasi di Cilacap, beribukota di Medang Kamulan
• Kerajaan Galuh Tanduran yang berlokasi di Pananjung, beribukota di Bagolo
• Kerajaan Galuh Kumara yang berlokasi di Tegal, beribukota di Medangkamulyan
• Kerajaan Galuh Pataka yang berlokasi di Nanggalacah, beribukota di Pataka
• Kerajaan Galuh Nagara Tengah yang berlokasi di Cineam, beribukota di Bojonglopang
• Kerajaan Galuh Imbanagara yang berlokasi di Barunay (Pabuaran), beribukota di Imbanagara
• Kerajaan Galuh Kalingga yang berlokasi di Bojong, beribukota di Karangkamulyan

Banjoemas Heritage
Kerajaan tetangga

Kerajaan-kerajaan diatas masih belum jelas apakah merupakan bagian-bagian setelah pecahnya Kerajaan Galuh Purba atau justru kerajaan-kerajaan sebelum terbentuknya kerajaan besar Galuh Purba.

Banjoemas Heritage
Kekuasaan Galuh Purba

Kerajaan Galuh Purba mempunyai wilayah yang sangat luas dari Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen dan juga ada yang menyatakan sampai Kedu, Kulonprogo juga Purwodadi.

Pada Babad Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara (tulisan Pangeran Wangsakerta dari Cirebon) mengatakan bahwa 3 wangsa yang yang berkembang pada abad VII – VIII adalah Wangsa Kalingga, Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra, yang juga ada kesamaan dengan tulisan Fruin-Mees : Geschiedenis van Java, 1919, halaman 16-20.

Yang berarti bahwa Kerajaan Galuh Kalingga yang sebelumnya merupakan bagian kerajaan Galuh Purba, nantinya akan berkembang pesat dan pamornya mengalahkan Kerajaan Galuh Purba. Apalagi setelah pusat kerajaan Galuh Purba berpindah ke Garut – Kawali (Prasasti Bogor) dan menjadi bawahan Kerajaan Tarumanegara pada masa pemerintahan Purnawarman (395 -434 M).

Kerajaan Tarumanegara
Abad IV - Abad VII
Kerajaan ini berkuasa di Jawa bagian barat, dan beribukota di Sundapura (Bekasi), dan merupakan kelanjutan dari kerajaan Salaknegara (130 - 362 M). Kerajaan ini adalah kerajaan Hindu tertua di pulau Jawa yang beralirah Hindu Wisnu. Menurut sejarah bahwa kekuasaan hanya di sekitar Banten, Jakarta, Bogor dan Bekasi namun luas pengaruhnya hingga daerah Tegal (Galuh Kumara), Banyumas (Galuh Purba) dan Bagelan.

Kerajaan Galuh-Kawali
Abad III – Abad VI
Kerajaan Galuh Purba berpindah ke Garut – Kawali (Prasasti Bogor) dan menjadi bawahan Kerajaan Tarumanegara pada masa pemerintahan Purnawarman (395 - 434 M).

Banjoemas Heritage
Perpindahan Galuh Purba ke Kawali

Banjoemas Heritage
Letak Kawali dekat dengan Ciamis, Kaart Resident's Priangan en Cheribon, 1947

Keturunan Galuh Kawali banyak yang kawin dengan keturunan kerajaan Kalingga, sehingga menyebabkan raja-rajanya banyak keturunan kerajaan kalingga. Setelah pusat kerajaan di pidah ke Garut, pengaruh kebudayaan makin lama makin pudar dan berganti pengaruh dari kerajaan kalingga.

Kerajaan Tarumanegara mulai pudar pada masa pemerentahan Prabu Tarusbawa  669 M, dan Kerajaan Galuh – Kawali sudah menjadi Kerajaan yang kuat dan banyak dari keturunannya yang kawin dengan keturunan kerajaan Kalingga. Sehingga Raja Galuh Wretikandayun berani meuntuk kekuasaan dari Kerajaan Tarumanegara. Raja Galuh Wretikandayun menjadi Raja Galuh yang merdeka,  waktu Prabu Tarusbawa mewariskan tahta Tarumanegara lewat Putri Manasih, istrinya (putri pertama Prabu Linggawarman). Tarumanegara kemudian menjadi kerajaan Sunda dan memindahkan pusat pemerentahan ke Sundapura agar pamornya naik lagi, namun ini menjadi alasan  Wretikandayun untuk memisahkan Kerajaan Galuh - Kawali menjadi Kerajaan Galuh, dan meminta dukungan Kerajaan Kalingga (Kerajaan Besan). Karena Putra Mahkota Kerajaan Galuh yaitu Rahiyang Mandiminyak menikah dengan Putri Maharani Shima bernama Parwati.

Wilayah Kerajaan Galuh antara Sungai Citarum dan Sungai Cipamali sebelah barat gunung Slamet. Jadi kemungkinan wilayah selatan gunung Slamet merupakan wilayah Kerajaan Kalingga


Kerajaan Kalingga – Mataram Kuna
Abad V – Abad IX
Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Ho-ling merupakan kerajaan Budha yang di pimpin oleh  Ratu Sima atau Putri Maharani Shima (tahun 674 M) salah satu pendirinya merupakan keturunan dari Negara bagian Orrisa di India.
Setelah Maharani Shima meninggal di tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bhumi Mataram, dan kemudian mendirikan Wangsa Sanjaya di Kerajaan Medang. Kerajaan Kalingga (Budha) berubah menjadi Medang (Hindu beraliran Siwa) yang dipimpin Raja Sanjaya atau Rakai Mataram pada Tahun 732 M ( Prasasti Canggah),  ibukota Kerajaan berada di Medang Kemulan. Candi-candi Siwa (Hindu) di Dieng Banjarnegara  dibangun pada masa ini.
Menurut teori van Naerssen, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti Sanjaya sekitar tahun 770-an), kekuasaan atas Medang dikuasai dan direbut oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana. Mulai saat itu Wangsa Sailendra berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil pula menguasai Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Pada tahun 778 Candi Kalasan (Budha)di bangun untuk menghormati dewi Tara. Juga mahakarya terbesar Borobudur yang di perkirakan dibangun antara 750M dan selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-833).
Sampai akhirnya, sekitar tahun 840-an, seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan berhasil menikahi Pramodawardhani putri mahkota Wangsa Sailendra. Berkat perkawinan itu ia bisa menjadi raja Medang, dan memindahkan istananya ke Mamrati di daerah Kedu.

Menurut teori van Bammelen Letusan Merapi yang dahsyat menyebabkan pusat kerajaan Medang pindah ke Jawa Timur.
Antara abad sembilan hingga duabelas, tidak ada catatan sejarah yang menerangkan tentang daerah selatan Gunung Slamet. Baru setelah kebangkitan Majapahit yang pernah mencapai masa keemasan dengan menguasai seluruh Jawa, yang berarti bahwa wilayah Gunung Slamet bagian selatan merupakan wilayah kekuasaannya juga.

Perlu Diingat !
0 - 600 M (Hindu-Buddha pra-Mataram)    
  • Salakanagara
  • Tarumanagara
  • Sunda-Galuh 
  • Kalingga
  • Kanjuruhan
600 - 1500 M (Hindu-Buddha)    
  • Mataram Hindu
  • Kahuripan
  • Janggala
  • Kadiri
  • Singasari 
  • Majapahit
  • Pajajaran 
  • Blambangan
1500 M - sekarang (Islam)    
  • Demak
  • Pajang
  • Banten
  • Cirebon
  • Sumedang Larang
  • Mataram Islam
  • Kartasura
  • Surakarta
  • Yogyakarta
  • Mangkunagara
  • Paku Alam

Tulisan ini akan terus di update.
Update terahkir 17.30 21 Desember 2010

Sumber


52 comments:

Hilmy Nugraha said...

bagus ni mas,
lanjut maaass....

Rizky said...

jadi dulunya banyumas dan cirebon satu kerajaan ya?

miko wicaksono said...

Thanks Hilmy Nugraha selanjutnya sedang di olah Ketika Kerajaan Majapahit mulai bangkit, doakan saja segera saya posting.
Thanks Rizky kemungkinan iya, pada saat pamor kerajaan Tarumanegara sedang besar-besarnya. Kedua nama itupun belum ada, Banyumas muncul pada Abad XV dan Kraton Cirebon identik dengan Islam yang baru masuk ke jawa pada abad ke XIV.

Rizky said...

ada yang mengatakan kalau akar bahasa jawa itu adalah bahasa banyumas. hm, coba mas ditelusuri, apa fakta ini ada hubungannya dengan Galuh Purba..

trus, menurut buku Eden In The East kan Jawa adl pusat peradaban2 besar dunia, kalau ternyata Banyumas adalah akar kebudahaan jawa, berarti Banyumas itu pusat dunia donk..

berarti betul donk kata banyak orang tua di Banyumas yang mengatakan bahwa Gunung Slamet itu pusering (wudelnya, pusatnya) bumi...

wah wah wah...

miko wicaksono said...

Belum sampe sana loh Rizky, kebetulan barusan selesai untuk posting kelanjutan Babad II, sangat menyita tenaga dan pikiran karena data2nya ketika disilang banyak yang tidak cocok. http://www.banjoemas.co.cc/2010/12/penguasa-banyumas-majapahit-pajang.html

Terimkasih kunjungannya,
nanti saya cari bukunya, biar bisa menghubungkannya

Anonymous said...

wah mas miko, saya apresiasi keseriusan njenengan membedah sejarah kita di blog keren ini. saya jadi penasaran, karena prof truman, arkeolog ugm, menyatakan kalau di purbalingga itu paling kaya akan situs pra sejarah. bahkan lebih kaya dari pacitan dan sangiran. uniknya, tak ditemukan fosil sama sekali. konon karena tanah purbalingga terlalu asam dan merusak benda-benda organik seperti fosil. btw, kalau baca sejarah mulai 0-600 masehi, trus adanya kerajaan galuh purba, dan kalingga, saya jadi berpikir apa ada hubungannya dengan asal-usul purbalingga yang masih menjadi perdebatan? soalnya, salah satu desa di purbalingga yang paling banyak ditemukan situs pra sejarah itu namanya desa galuh, pusat batik di purbalingga.

(esti hms purbalingga)

miko wicaksono said...

Pagi mbak Esti, makasih pujiannya. Kapan lagi berbagi cerita sejarah ..., sampai sekarang ku belum bisa menghubungkan Batik dengan situs prasejarah, tapi mereka-reka hubungan antara Galuh purba dan peninggalan sejarah yang lebih banyak dimiliki oleh Kab. Purbalingga, rasanya bahwa pusat prasejarah memang berada di Kab. Purbalingga.

salam.

nugro said...

pernakah mendengar slentingan rumor tentang ramalan kejawen, berakhirnya jaman edan (dengan segala ciri2nya) akan terjadi jaman kejayaan dimana pusat peradaban dunia ada di indonesia, dan pusat indonesia ada di banyumas, lebih spesifik di purbalingga. awal terjadinya di katalisis oleh sebuah organisasi invisible islam yg sngt kuat(rumornya sekarang sudah bergerak), dan akan bergerak terbuka saat gedung 8 17 45 di bangun, dan versi cerita kejawen beberapanya seperti dapat di analogikan ke dalam versi islam. tp sy tdk punya data valid, entahlah, hanya rumor, semoga hal itu benar.. phoenix99purbalingga

nugro said...

sebuah kemungkinan lain yang terbersit di pikiran saya, bahwa ramalan itu hanyalah cerita kuno, telah terjadi puluhan ribu tahun yang lalu dan telah kadaluarsa, dan sekarang kita mengalami jaman edan terakhir (akhir jaman) dengan segala kesesatan dan kehancuran di akhir cerita. entahlah, semoga hal itu tidak benar... salam... phoenix99purbalingga

gajahalas said...

like :
dari cerita2 cerita kuno yang saya dengar langsung dari kakek nenek saya dan dari cerita cerita mulut kemulut dari leluhur di desa saya .. memang gunung slamet itu katanya pusering bumi .. terus soal indonesia ini .. kata embah dulu pernah dengar juga suatu saat ibukota akan singgah di wilayah banyumas "fakta : pernah ada rumor juga soal perpindahan ibukota karena segudang maslah nya di jakarta - purwokerto / banyumas masuk nominasi"
yang jelas kita harus bangga sebagai masyarakat banyumas dengan segudang cerita mitos dan ramalannya ...
inget ramalan "bethik mangan manggar" ikan betik bisa makan bunga kelapa?? akhire terbukti .. banyumas banjir bandang (lupa tahunnya)katanya yang ga kena banjir cuma pendapa sipanji sama masjid agung ..
ayo bang miko lanjut lagi ceritanya .. heehehe salam saking lare papringan mbanyumas

Jatmiko W said...

Nugro (phoenix99purbalingga) terimakasih kunjungan dan komennya, dalem banget nihh ... tidak ada tempat di dunia ini yang tidak mistis, di dunia nyata orang berebut kekuasaan dan wilayah dan terjadi juga pada dunia lain yang di jembatani oleh misitisnya Kejawen, di dunia lain mereka juga saling berebut wilayah dan kekuasaan juga, hanya mereka masih menggunakan kekuatan dan senioritas untuk menguasai sebuah wilayahnya. Dan setiap wilayah dimana bisa di temui "penguasa" disitu pula akan terdengar sebuah kabar "pusering bumi" sebagai taring atau propaganda "penguasa" berebut "lengahing manungso". Saya tidak banyak mengulas sisi mistis sebuah wilayah karena takut terjebak propaganda 'penguasa dunia lain' yang cenderung menyimpang dari sejarah (mitos), sejauh ini mitos dan legenda hanya saya unggah sebagai cerita rakyat belaka.

gajahalas (www.ngapak.web.id), sebagai putra daerah adalah wajib bangga terhadap daerahnya, dan www.banjoemas.com adalah salah satu rasa bangga yang bisa saya lakukan, Cerita-cerita rakyat dan legenda sudah terkumpul cuman belum saya unggah ...

salam,

dimas wong asli banyumas said...

dimasgentong@yahoo.co.id
wah banyumas itu pnya kerajaan besar ya hehehe
maklum nyong orang/wong banyumas

Krisna Catur Pamungkas said...

galuh PURBA dan kaLINGGA apakah ada hubungannya dengan PURBALINGGA?

Bambang Ram said...

brebes sama tegal pada masa itu besar mana pengaruh dan kekuasaan nya?

Handi said...

wah, mantep banget mas. makin lama saya ikuti blog ini, mkin menarik dan penasaran dengan sejarah banyumas dan perannya dalam peradaban di nusantara ini. angkat topi buat njenengan , smeoga Allah swt memberi kemudahan pada njenengan dan tim untuk terus berkiprah dalam penulusuran sejarah banyumas dan nusantara.. Amiin

Anjaz Ahmad Zazuli said...

baru-baru ini di daerah semedo, kedungbanteng, tegal, telah ditemukan fosil-fosil jaman purba, arca, dll.
(tidak jauh dari situs semedo)

Jatmiko W said...

Dimas Wong Asli Banyumas, Banyumas hanya wilayah dari kerajaan2 besar bukan Banyumas pernah jadi kerajaan Besar.

Krisna Catur Pamungkas, Bisa jadi ada hubungannya tapi mengingat purbalingga dahulu hanya sebuah desa kecil dibandingkan dengan Karang Lewas dan Wirasaba, bisa jadi jauh dari sana.

Bambang Ram, Brebes dan Tegal pengaruhnya terhadap pendatang dari Eropa besar Tegal sampai menyeut Gunung Slamet (Breg Tagal) dan mendirikan benteng di pelabuhan, tapi untuk masa diatas masih abu-abu jawabannya.

Handi, terimakasih sanjungannya, mari bersama2 menggali sejarah Banyumas Raya agar Sejarah Lokal tidak hilang samasekali

Anjaz Ajmad Zazuli terimakasih, Situs Semedo masuk jaman prasejarah, team kami belum berani mengangkat topik ini dan kebetulan lokasi berada di Tegal yang bukan wilayah kami Karsidenan Banyumas. Namun Situs ini menarik juga bagi kami kapan2 kami berencana untuk mengunjunginya.

All Salam Lestari

pungki andana idianto said...

ya intini wong banyumas kue keturunane semar... alias bawor..mulane senjatane kudi
wektu aq neng daerah curug gomblang lereng gunung slamet aq ktmu kr rt sekaligus juru kuncen...bahwa
neng nduwur kue ana sumur jenenge jala tunda, banjur aq takon2 akeh... trus jare iwak lumba2 kue asale sekang sejodo menungsa sing dibalangna sekang gunung slamet... percaya ra percaya.. pacen keyekue.

Jatmiko W said...

Pungki Andana Idianto, terimakasih kunjungannya, dalam naskah Paramayoga, Semar atau Janggan Smarasanta adalah anak dari Batara Wungkuham (Putra sulung Ismaya yang berwajah jelek dan berkulit hitam), Semar tinggal di Sunyaruri dimana tempat itu adalah tempat golongan mahluk halus, tempat dimana Ismaya ditempatkan pada awalnya. Semar bertugas menjaga dan mengasuh keturunan dari Batara Guru (Manikmaya/saudara kembar setelur Ismaya) dan masih ada naskah Purwakanda, naskah Serat Kanda dan naskah Purwacarita. Tokoh Semar adalah tokoh ciptaan pujangga Jawa/Jawadwipa/Insulide meski sekarang kita tau tokoh tersebut berada di dalam cerita pewayangan, pewayangan sendiri berasal dari kitab Ramayana dan Kitab Mahabarata dimana tokoh Semar tidak tercantum disana. Tokoh Semar sebagai pengasuh kesatria Pandawa dalam pewayangan hanyalah simbol perwakilan suara rakyat sehingga tingkah laku kesatria Pandawa selalu membawa kebenaran diatas rakyat kecil.

Sebagai pribadi beragama saya sependapat bahwa Semar yang secara fisik tersenyum, mata sembab, wajah tua, rambut kuncung kekanak-kanakan, berkelamin laki-laki, berpanyudara hanyalah simbol belaka, bukan sesembahan bukan juga leluhur orang Banyumas, mari lebih kritis membedakan antara fiksi dan non fiksi, antara tersirat dan tersurat. salam lestari

Anonymous said...

Yth.Mas Jatmiko
Kisah yang menceriterakan adanya perkawinan antara Putra Mahkota Kerajaan Galuh -Kawali,Mandiminyak dengan Putri Maharani Shima,Parwati, dari Kerajaan Kalingga, hanyalah mitos belaka yang bersumber dari buku Babad Karangan Pangeran Wangsakerta,Cirebon.Dan bukan merupakan fakta sejarah.Di bawah ini beberapa alasan:
1.Kerajaan Galuh Purba di Kawali,beragama Hindu Aliran Syiwa.Sedangkan Kerajaan Kalingga pada masa Ratu Shima beragama, Budha Mahayana.Saat itu agama Hindu dan Budha belum akur dan sering terlibat konflik.Rujuk antara keduanya baru terjadi dua abad kemudiaan saat Rake Pikatan dari Dinasti Sanjaya yang penganut Hindu Syiwa,mengawini Pramodawardani,penguasa Dinasti Syailendra yang Budha.
2.Menurut van der Meulen,rakyat Kerajaan Kalingga kebanyakan preman.Karena itu Sang Ratu menerapkan hukum yang keras,agar premanisme tak berkembang di Kalingga.Dasar preman, mereka tak mau merampok di Kerajaan sendiri,tetapi sering menjarah rakyat Kerajaan Galuh Purba yang sebelumnya berkedudukan di lereng Selatan Gunung Slamet.Karena merasa terancam,Kerajaan Galuh Purba,pindah ke Kawali,Ciamis.Bagaimana mungkin dua negara bermusuhan,lalu saling berbesanan ?.
3.Naskah Wangsakerta sebagai sumber sejarah,masih diragukan,baik kebenaran isinya maupun keaslian naskahnya.De Graaf,Bapak Sejarah Jawa,enggan berkomentar tentang asli dan tidak asli,tapi menganggap kurang bernilai sebagai sumber sejarah.Almarhum Buchori,malah menyebutnya sebagai karya penuh skandal.Van der Meulen sendiri menyebutnya sebagai karya amburadul yang meminjam kerangka ceritera dari Babad Tanah Jawi.Karena itu,isinya harus dikritisi,agar sesuai dengan fakta sejarah.Sekalipun begitu,karya Pangeran Wangsakerta itu,bukannya tak berguna.Ada juga kisah-kisah yang mengandung fakta historis.Tapi nampaknya tidak terlalu banyak.Karena itu,kisah yang ada didalamnya jika ingin dijadikan bahan rujukan untuk merekontruksi peristiwa sejarah,perlu selalu dilakukan pengujian secara krtis.Pada hemat saya,redaksi Banjoemas Heritage, telah mengkritisinya di sana-sini,sekalipun belum tuntas.Salam tuk pengasuh dan Mas Jatmiko(Anwar Hadja-Bandung).

Jatmiko W said...

Anwar Hadja, salut buat anda ..., sejarah yang banyak di ragukan dan di kritisi adalah sejarah sebelum era kolonial, karena minimnya peninggalan tersurat, dan masih sedikitnya sejarahwan pribumi pada waktu itu, sehingga kita telah banyak kehilangan artefak saat sejarahwan pribumi mulai ada.

Kurangnya bahan dan minimnya pengetahuan tentang merangkai sejarah lokal dengan sejarah lokal di daerah lain juga merupakan kendala bagi saya, meski dengan susah payah memilah dan merangkai dengan pengetahuan seadanya. Namun disinilah saya belajar, pembaca2 yang kritis seperti anda betul betul sebuah anugerah, kemudahan jejaring sosial sebagai sarana komunikasi semoga bisa kita gunakan semaksimal mungkin, saya masih harus belajar lagi dengan anda, kita sambung disana ... salam lestari.

Anonymous said...

Yth.Mas Jatmiko,

Saya pun baru belajar,terpicu oleh semangat anda yang luar biasa, terinspirasi banyak dari web site Bajoemas Heritage,salam selalu(An.Hadja-Bdg)

BLOGG SEORANG GURU said...

di sebelah utara Bumiayu juga ada desa yang bernama LINGGAPURA.Ada juga wialayah GALUH TIMUR
Apakah ada hubungannya dengan sejarah dengan nama-nama ini?
dan kalau PURBA LINGGA (= LINGGA yang PURBA???)
Menarik utk dikaji jika memang ada data yang akurat

Anonymous said...

Jth tuk sesama Pendidik-Seorang Guru

W.J.van der Meulen SJ adalah seorang ahli Sejarah Jang unik,beliau sering menggunakan toponim nama-nama kota,desa,sungai,gunung dan nama geografi lainnja tuk merekontruksi Sejarah masa lalu tuk memperkuat prasasti,insripsi,temuan arkeologi dan historiografi lokalJang ada.Metodenja menjadi menarik karena sering mampu memecahkan teka-teki sejarah masa lalu berdasarkan kaidah Jang dibenarkan oleh ilmu sejarah.
Contohnja nama kota Purwokerto sudah disebut dalam berita China bahwa disitu pada jaman proto Sejarah sudah pernah ada Kerajaan Galuh Purba.Purwokerto dieja dalam bahasa China menjadi To Po Teng,Jang mengandung arti Jang disusun dipermulaan.Atau Kerajaan Jang paling dulu ada.Kata Purwokerto, juga berasal dari kata purwo,berarti awal dari bahasa sansekerta.Dan kerta dari asli Jawa kuno,dibuat,dibangun,diatur,ditata.Kesimpulannja Van der Meulen berhasil merekontruksi bahwa ada Kerajaan Galuh Purba Jang dulu pernah berpusat di Purwokerto,setelah beliau mengkaji naskah Sunda secara kritis Carita Parahjangan.Galuh Purba menganut agama Sjiwa.Dan Lingga adalah tugu simbol pemujaan terhadap dewa Sjiwa.Jelas bahwa Linggapura dan Purbalingga,dari toponim nama,dulunja merupakan wilajah Kerajaan Galuh Purba Jang berkedudukan di Purwokerto,sebagai salah satu tempat pemujaan dewa Sjiwa.Linggapura,mengandung arti Pura,candi,bangunan Jang didalamnja ada Lingga sebagai tempat memuja Sjiwa.Demikian pula Purbalingga,pura berarti awal.Jadi disinilah dulu Kerajaan Galuh Purba pertama kali membangun tempat peribadatan tuk memuja dewa Sjiwa.Menurut van der Meulen,disebelah timur Kerajaan Galuh Purba ada pula Kerajaan Galuh Lor Jang beragama Wisnu.Pusatnja di Medang,sekitar Purwodadi-Grobogan-Blora.Batas baratnja Gunung Perahu.Dari kata Rahu,raksasa pemakan Matahari&bulan Jang dibunuh Wisnu,dalam mitologi Hindu.Demikian mudah-mudahan bermanfaat(Anwar Hadja-Bandung).Salam hormat selalu tuk Mas Jatmiko.

Jatmiko W said...

Terimakasih Blogg Seorang Guru, mas Anwar Hadja senang membahas sesuatu dengan dalamnya, saya sungguh kagum dengan jalan pemikirannya, sayang ku tidak banyak punya referensi tulisan Meulen dan yang lainnya, jadi tidak bisa berkomentar banyak, hanya bisa mengikutinya. Kalau berkenan bagi saya buku-buku terkait mas Anwar Hadja biar bisa tambah wawasan.

Salam lestari dan salam hormat untuk semua

Anonymous said...

Buku W.J. van der Meulen SJ,berjudul Indonesia Di Ambang Sejarah,Editor Sutarjo Adisusilo JR,Penerbit Kanisius,cetakan pertama tahun 1988.Dulu banjak dijual di Toko Buku Gramedia, termasuk TB.Gramedia di Moro,Pwt.Di perpustakaan UNSOED dan UMP pasti ada atau hubungi Penerbit Kanisius,Jl.P.Senopati 24,Jogja.Salam.(An.Hadja-Bdg).

nugro said...

mari kita kupas sejarah dgn tuntas, tp jg jngn lupa masa depan. skrg akhlak, moral, nasib dan persatuan dipertaruhkan. hiburan, politik, aliran sesat, ormas boneka, geng, narkoba, komunitas kultus, pluralisme kultus, mosi kecewa pada koruptor dan liberalisme tanpa batas semua merong-rong persatuan dan kedaulatan bangsa dan negara ini. indonesia or nusantara what so ever, aku hanya tidak ingin anak ku menyaksikan orang dari bangsa kita menumpahkan darah saudaranya hanya demi judul perjuangan yang belum tentu membuat orang lapar jadi kenyang, orang takut jadi tenang, orang miskin jadi kaya, orang jahat jadi baik. kenapa dan apa yang bisa kita lakukan untuk membuat anak cucu kita dimasa depan bisa membahas sejarah moyang mereka dengan bangga, karena tak ada pertumpahan darah hingga mereka hidup tentram di saat itu. lebih dari kebanggaan kita pada moyang kita dulu. kita adalah bagian dari sejarah juga kan? dan sejarah masih terus ditulis kan? kenapa dan apa yang bisa kita lakukan? dulu kita pernah runtuh, sekarang entah, terlena mungkin, haruskah besok kita luluh? God help us.. phoenix99purbalingga...

Amin Yusuf said...

Sugeng Rahayu,

Lanjutkan, mugi2 tansah diparingi pituduh, maturnuwun....

sohibsgp said...

mohon jangan terlalu percaya pada sumber asing.

jangan terpaku pada kalender masehi krna mengingat gunung padang

Jatmiko W said...

Anwar Hadja, masih nyari2 neh bukunya

Nugro, maka sejarah harus di ingat, jangan sampai masuk ke lubang hitam yang sama.

Amin Yusuf, salam rahayu

sohibsqp, tulisan di atas 90% pake sumber lokal, dan metode luar kadang membuka hal-hal baru karena kita kadang terlalu berpendekatan mistis dan menyingkirkan rasio.

Rawins said...

mas miko
aku pinjam gambarnya untuk ilustrasi disini http://blog.rawins.com/2013/04/anomali-bahasa-di-cilacap.html

maaf masukin link
kalo tidak berkenan dihapus saja
matur suwun, mas...

Jatmiko W said...

Rawins, terimakasih sudah berkunjung, dan ku juga sudah kunjungan balik, hanya belum detail baca isinya.

Terimakasih sudah minta ijin pengunaan image yang ada di banjoemas.com sungguh prilaku terpuji, bisa jadi contoh buat yang lainnya.

Salam lestari

Anonymous said...

Ngawur aja,.kerajaan galuh itu adalah kerajaan RATNA yang terletak di Dieng di sebut kerajaan Batur ratna yaitu kerajaan Ratna yang terletak di banjar batur di dirikan olih Sang Rsi Agastya kumbayani

Anonymous said...

kalau mau lebih tau lihat di babat kanung, buka di link google, ketik "Sejarah kawitane ono wong jowo lan Wong kanung" kerajaan galuh atau ratna itu di dirikan Sang Rsi Agastya kumbayani Menantu Raja Po chang Su lao (Endriya Pra Astha)Hang Sam Badra karena menikah dengan anaknya makanya dia di kasih tanah untuk menjadi pengusa di banjar batur dan mendirikan kerajaan bernama Ratna,.dan kerajaan ratna sering di sebut kerajaan BATUR RATNA yaitu kerajaan Ratna yang terletak di banjar batur atau kerajaan GALUH yang terletak di banjar batur,.

Jatmiko W said...

Terimakasih kritik dan sarannya, Saya menulis dengan semampu saya, sejauh pengetahuan dan referensi saya, menambah tulisan dengan seksama, dan selalu berusaha menggunakan akal sehat. Penulisan babad menuurut saya kadang jauh dari sejarah karena hanya memanfaatkan budaya tutur, dan kadangpun ada babad terserat yang dituliskan oleh pujangga yang lebih dikenal dengan sastra, sastra jawa tidak cukup di baca dan di mengerti tetapi lebih dari itu perlu tafsir yang dalam, 100 orang membacanya 100 juga tafsirannya. Perlu 3 - 5 pembanding atau mungkin lebih. Saya bukan ahli sejarah yang harus menafsirkan lebih jauh sebuah babad yang kadang tanpa nama pengarang dan susah dibuktikan. Babad hanya tambahan prolog saja dalam blog ini, karena blog ini fokus terhadap sejarah yang tertulis dan bersumber. Terimakasih atas kunjungannya yang sekilas lalu saja tanpa meningalkan identitas seperti babad yang di kisahkan oleh entah ...

Bocah Ngapak said...

Bahasan yang sangat menarik!

Neh ada Topik yang sama di sini kang!
www.facebook.com/photo.php?fbid=613920848620617&id=100000081222101&set=a.201775106501862.54225.100000081222101&refid=18

aries purnomo said...

Salut,,buat sampean,,,yg menggali sejarah daerahe dewek,,sangat sedikit orang2 seperti sampean,,lanjut trus, ,,pak,,,

much lisin said...

terus gali sejarah2 yg belum terungkap,sem0ga dngan analisa2 yg anda ungkapkan bisa menambah wawasan kita smua,negri kita memang kaya budaya,...

Boedi Poernomo said...

sangat menarik mengikuti perbincangan para sejarawan, ikut nimbrung mas. kerajaan galuh purba (indramayu,cirebon,brebes,tegal,pemalang,bumiayu,cilacap,banyumas,purbalingga,banjarnegara,kebumen) yg menarik dan khas dari wilayah ini menurut sy adalah bahasa mereka, sy ga tau sebutan untuk bahasanya, sy sebut saja bahasa ngapak. wilayah pantura indramayu,cirebon mereka masih menggunakan bahasa jawa ngapak(cuman agak berbeda) kecuali sudah masuk ke selatan pantura baru bhsa sunda, sy orang kroya tp sya msih bisa mengartikan bhsa jawa mereka, dan brebes,bumiayu,tegal, mereka jg masih berbhs ngapak dan sebagian daerah pamalang ada yg ngapak dan jawa alus. ya kl orang banyumasan pasti bisa mengartikanya. cilacap,banyumas, purbalingga, bahasanya hampir sama. banjarnegara dan kebumen juga masih ngapak cuman di perbatasan purworejo mereka sudah semi jawa alus. saya dari dulu bertanya" kenapa jawa tengah bagian barat bahasanya beda dgn bhs jawa pd umumnya, setelah sya baca artikel ini sy mengerti jawabanya mungkin karena mereka keturunan kerajaan galuh purba. mas, bahasa ngapak sebenarnya sangat menarik untuk di telusuri. ada yg bilang bahasa ngapak adalah bahasa jawa purba, barangkali ada referensi asal-usul bahasa ngapak.

Iqbal Nm said...

aku wong ajibarang. :D

event attendance system said...

bagus sekali artikelnya.. terimakasih bacaannya bermakna

Anonymous said...

lanjutkan mas

Anonymous said...

minta silsilah nya dong

wong gaptek said...

salut buat mas jatmiko yg dh mau bersusah payah menggali lagi sejarah banyumas
coba njenengan berkunjung ke daerah kec. Karang Anyar,Purbalingga, disana ada situs peninggalan jaman batu,dan denger2 pernah diadakan penelitian oleh arkeolog dari UGM
kalo ga salah di desa Ponjen,njenengan bisa gali info lebih dalam disana.
suwun mas, lanjut trus perjuangannya mas....

Jatmiko W said...

Boedi Poernomo, Sejarah bahasa Banyumas mungkin jadi bisa di susuri menggunakan metode sejarah kekuasaan yang anda paparkan, karena istilah Ngapak yang anda sebutkan berulang diatas juga menurut penelusuran saya ada sejarahnya dengan menyusuri sejarah kekuasaan dan penjajahan, terlalu jauh membahas dari mana bahasa Banyumasan berasal, saya membahas saja sejarah kontradiksi "Ngapak" dimana daerah sekitar gunung Slamet dalam babad dan sejarah selalu di ceritakan menjadi perebutan antara penguasa dan kerajaan-kerajaan pada waktu itu sehingga selalu juga menjadi wilayah abu-abu, daerah pinggiran dari kerajaan-kerajaan besar, sehingga sentimen negatif terhadap bahasa Banyumasan sudah terjadi dari sana. Dan masyarakat lereng gunung Slamet pun sebagai orang pinggiran mengalah saja disebut sebagai bahasa kilen yang kasar sehingga sebutan Ngapak sah-sah saja di julukan terhadap bahasa lereng gunung Slamet yang kita kenal sebagai basa Banyumasan itu. Bahkan sampai daerah ini pun di kuasai Surakarta dan di serahkan ke Belanda pun sentimen merendahkan masih saja di lakukan dengan membaca nama kota Purwakerta menjadi Purwokerto, Purbalingga menjadi Purbolinggo. Di era sekarang banyak justru masyarakat berbahasa Banyumas malah bangga di sebut Ngapak lebih lagi malah berlabel Ngapak, yang notabene merupakan sebutan tidak pantas untuk bahasa Banyumas. Ngapak sendiri merupakan plesetan dari "Ngapa" yang diucapan orang Banyumas dan terdengar ada huruf "k" di belakangnya. Ini sebuah kekeliruan yang menurut saya harus di luruskan, karena semua bahasa sama dan merupakan budaya lokal yang mestinya kita lestarikan dan di jaga keberadaannya bukan malah ikut mengejeknya secara berjamaah. Salam Lestari

Wong Gaptek, terimakasih kunjungan dan informasinya, tim kami sangat terbatas sekali gerakannya namun akan kami agendakan, namun peran serta pembaca dan follower sangat di harapkan disini, siapa tau wong gaptek bisa jadi kontributor kami disana bekerjasama dengan teman-teman yang setujuan dengan anda dan kami, silahkan email ke admin@banjoemas.com untuk jelasnya. Lanjutkan dan Lestarikan

All, terimakasih dan salam Lestari

Anonymous said...

Salam Rahayu,

Salut buat Mas Miko
Saya juga mohon pencerahan dari panjenengan, terkait Situs Semedo yang berada di kab.Tegal

Mohon maaf bila pertanyaan saya agak bergeser sedikit, dari topik yang sedang di bahas

1.Apa arti Semedo itu sendiri ?
2.Apakah ada kaitan dengan Islam ?
3.Benarkah ada keberadaan Candi/punden berundak, yang besarnya melebihi Candi Borobudur di kaki Gnung Slamet, kalau tidak salah Stupa utamanya saja tingginya mencapai 75m


Terima Kasih
Salam Nusantara

Jatmiko W said...

Salam Lestari Anonymous
(sebaiknya meninggalkan jejak nama atau email)

Semedo saya belum tau artinya, dalam kamus bahasa Sansekerta juga tidak ada kata ini, kalau situs ini di kaitkan dengan Islam saya nggak yakin bakalan ada kaitannya. Untuk Candi yang melebihi besar Candi Borobudur (Budha) di sekitar lereng gn Slamet saya belum pernah dengar, tapi adanya punden berundak dan peninggalan Animisme Dinamisme dan Hindu Budha di lereng gunung Slamet bisa di benarkan.

Salam.

Andi said...

Salam Rahayu Mas Miko

Terima Kasih Atas pencerahannya, untuk beberapa hal pembahasan diatas, saya minta ijin jikalau tidak keberatan, untuk boleh saya masukkan dalam tulisan saya nantinya, tetap untuk sumber saya cantumkan nama penjenengan mas

Saya berharap panjenengan tidak keberatan, untuk selalu berbagi tentang Nusantara tentunya


Salam Nusantara

Anonymous said...

Chino Kroya ...
wah apik kiye ,,, enyong nyimak bae .. dilanjut kang .

Luthfi Arifani said...

Wahh 17X..ternyata sejarah tentang Banyumas itu luar biasa begitu luasnya. Saya sangat terkagum2 dgn apa yg sudah mas Miko tuliskan. Begitu juga dengan Komentar2 nya. Lanjutkan terus mas tulisannya. Oia saya juga minta ijin ambil foto2 & sebagian tulisan yg ada pada mas Miko, untuk saya share ke blog saya.

Jatmiko W said...

Luthfi Arifani, terimakasih kunjungan dan komentarnya, untuk ijin copy silahkan baca http://www.banjoemas.com/2011/01/kebijakan-copy-paste.html dan menghubungi jatmikow@banjoemas.com terimakasih

Anonymous said...

sbg orang yg suka sejarah dan kebetulan tinggal di daerah tegal, sata juga penasaran dgn asal muasal bahasa dan kebudayaan tegal dan banyumas yg memiliki kedekatan bahasa dari purbalingga, banyumas, purwokerto, cilacap, tegal, slawi, pemalang, brebes sampai ke cirebon dan indramayu. walaupun dialeknya berbeda-beda tapi pada dasarnya sama dan ini berbeda dari bahasa jawa tengahan mataraman umumnya dan saya yakin ada keterkaitan dgn perkembangan kerajaan sebelum mataram yg sangat sedikit sekali diketahui. apakah ada upaya penghapusan sejarah masa lalu oleh kerajaan-kerajaan yg menguasai suatu wilayah dan kebudayaan baru di suatu daerah yg menyebabkan sejarah masa lalu suatu daerah itu begitu hilang tak ada berita. karena kita tahu jaman terus berganti dan banyak kerajaan pada masa lalu saling berperang untuk memperbutkan wilayah dan budaya. ambil contoh saja sebuah candi yg begitu besar bisa hilang tertelan waktu ratusan tahun menjadi sebuah bukit karena jaman yg berganti penguasa dan baru diketemukan kembali berabad kemudian.. mudah-mudahan saja ada bukti atau artefak sejarah masa lalu yg masih tertutup bisa diketemukan untuk menyingkap misteri sejarah di sekitar wilayah ngapak ini.. salam kenal (haris-tegal)

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum