Tuesday, May 31, 2011

Menelusuri Jejak Saluran Irigasi Bandjar-Tjahjana


29 Mei 2011

Blusukan kali ini saya di temani oleh anak perempuanku dan istri tercinta. Hanya mengandalkan Google Earth dengan melakukan pemetaan secara online jalur-jalur yang saya perkirakan sebagai jalur BTW (bandjar Tjahjana Werken) dan hanya mamahami jalur jalan raya dari perempatan Ngebrak (Majasari) hingga kota Banjarnegara melalui Rakit dan bendung Mrica.

Berangkat dari rumah (Purwokerto) dan sampe di Bukateja 1 jam kemudian. Wilayah yang mudah di capai adalah wilayah Cipawon dimana aliran irigasi ini berada di tepi jalan raya dan terlihat sangat jelas. Di Cipawon aliran Irigasi membelok melintasi jalan raya dan masuk ke perkampungan di Cipawon. Sementara di daerah Karang Cengis aliran menjauh masuk ke tengah sawah dan bertemu lagi dengan jalan raya Karang Gedang - Kebutuh. Setelah melewati persawahan di sebelah timur Karang Gedang Air melewati luncuran yang lumayan panjang di desa Rakit. Dan kamipun berhenti untuk sarapan pagi tepat di tepi luncuran diatas rumput yang rapi dan menghijau.

banjoemas.co.cc
Peta Google Earth Cipawon hingga Rakit



Saluran irigasi di Cipawon





Tanggul berundak untuk menahan kecepatan air, terlihat tanggul yang jebol





Luncuran air masuk daerah rakit
Setelah cukup makan paginya kami meneruskan perjalanan ke arah hulu dari saluran irigasi ini. Desa Adipasir, Kincang, Tanjunganom, dan Siteki. Dijumpai banyak sekali luncuran dan air terjun yang berfungsi untuk menahan kecepatan air, ini juga berguna untuk menjaga dinding dan dasar saluran irigasi agar tidak cepat tergerus air ada puluhan bahkan ratusan buah. Di Tanjunganom dan Siteki yang merupakan daerah perbukitan sekarang terdapat PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) unit bisnis Pembangkit Mrica yang hanya bisa membangkitkan listrik sebesar 1 x 1,2 Megawatt. 
banjoemas.co.cc
Peta Google Earth Rakit hingga Tapen

banjoemas.co.cc

Peta Google Earth daerah Tapen

banjoemas.co.cc

Air terjun di daerah Adipasir, terlihat level yang tinggi

Masih di Adipasir, air terjun dibawah jembatan


Aliran air di bendung untuk membangkitkan PLTM Siteki


 Jembatan dengan aliran Irigasi Bandjar-Tjahjana saat masuk Tapen

Dari PLTM Siteki kita kehilangan jalan yang mendekati saluran irigasi ini. Setelah melewati Lengkong dan sebelum asuk Tapen Aliran irigasi melintas dibawah jembatan sehingga, kami harus menelusuri balik ke arah aliran. Aliran air terlihat besar dan tenang namun berwarna coklat kehijauan. Dari perempatan Tapen kami menganbil jalan kekiri (kearah desa Kasilip). Tepat 200 m terdapat jembatan yang dibawahnya melintas aliran irigasi, dan 200 m arah aliran terdapat air terjun buatan yang mungkin sedang di bangun PLTM baru. Dari sana kita menju ke arah Wanadadi, namun baru 700 m kami menjumpai PLTM Tapen dan aliran irigasi sesudah PLTM Tapen ternyata debit airnya hanya selebar 1 meter. Disana bertemu dengan bapak pengembala bebek, dan menceeritakan bahwa aliran Irigasi Bandjar-Tjahjana dulu sangat bagus dan menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang seperti tempat wisata. Terutama tempat tempat seperti grojogan (saluran air yang dibuat seperti air terjun), terowongan air, juga syphon yang berfungsi sebagai pompa penyedot air.Dia juga bercerita kalau aliran Irigasi Bandjar-Tjahjana sekarang di alirkan dari sana.

banjoemas.co.cc
Peta Google Earth Tapen hingga Wanadadi


Saluran Irigasi tidak lagi digunakan

Saluran Irigasi tidak lagi digunakan

Selanjutnya, penelusuran akan lebih sulit karena saluran tidak lagi di fungsikan sebagai saluran irigasi tapi kelihatannya sudah berubah fungsi menjadi sawah, kebun atau mungkin kolam. Nggak mau ambil resiko kepanasan di jalan, setelah mendapatkan informasi dari bapak penggembala bebek di bekas aliran irigasi itu, langsung saja kami bergerak ke arah Kandangwangi - Karangkemiri dimana terdapat syphon.

banjoemas.co.cc
Peta Google Earth Wanadadi hingga Linggasari


Ujung syphone berada di belakang perahu, anakku asik bermain perahu


Selokan bekas saluran irigasi di tumbuhi enceng gondok

Selokan bekas saluran irigasi di tumbuhi enceng gondok

Saluran irigasi berubah menjadi kolam ikan

Alangkah kecewanya ketika sampai di lokasi, semua syphon yang ada di blog dah raib, dah tenggelam dan tersisa ujung dari pondasinya saja. Namun galian sedalam 10 - 15 m lebar 10 m masih menganga tergenang air diam dan menguning. Hampir satu jam kita disana sambil main perahu dan makan bakso (beli di perempatan Wanakarsa). Setelah jeprat-jepret dan puas main perahunya, perjalanan di teruskan lewat jembatan gantung "cableburg" (jembatan Paris kata orang situ). Terdapat jembatan serupa juga di daerah Linggasari. Jadi buat yang suka berkelana pake jalur ini untuk tracking.

banjoemas.co.cc
Peta Google Earth Linggasari hingga Rejasa, terlihat saya harus memutar untuk sampai di Rejasa

Gumingsir, Jenggawur dan Rejasa adalah tujuan terahir penelusuran ini. Jalur irigasi berada tepat di sisi lereng sungai Serayu bagian utara. Saluran masih terpagari pohon-pohon besar dan rindang. Sedangkan pada saluran sudah berubah menjadi kolam ikan, sawah, genangan air, kebun salak dan jalan ke depo pasir. Tidak bisa di blusuki dengan motor pastinya, dan cenderung menjadi lahan yang susah untuk di jamah. Sampai di Jenggawur kami sudah lelah dan kepanasan, anakku di jok belakang sudah tertidur jadi final penelusuran justru tidak bisa turun ke medan. Bahkan sampai di Rejasa dimana harusnya saya turun ke bendungan dan syphon di sungai Merawu pun ternyata tersesat ke jalur depo pasir sungai Merawu yang hanya dapat di lalui truk besar pengangkut pasir. Fuih .. berat sekali medannya, dan akhirnya mengalah dan rehat sejenak di masjid Agung Banjarnegara, sebelum melanjutkan mblusuk ke Stasiun Bandjarnegara dan mencari duuriann .. ..
Terimakasih Kayla (anakku) dan Istriku dah menemaniku mblusuk.



11 comments:

Hariyono said...

Ntar kalo mau kesitu lagi jangan lupa mampir ke rumahku mas

miko wicaksono said...

Hariyono, siap mas ...

add dulu FBnya : Banjoemas Heritage
biar saling kenal dulu hehehe

Anonymous said...

mas miko,,

dulu saya pernah ke bendung banjar tjahyana,,
yang kalo ndak salah, dibagian belakang kebun binatang selamanik, kita bisa ngeliat bendung banjar tjahyana diseberang sungai serayu ( bagian hulu waduk mrican ),,
dan akhirnya kami memutuskan untuk kesana ( bendung banjar tjahyana ),,

melalui jalan memutar, kembali ke banjarnegara, kearah wanadadi dan memutar waduk,,
akhirnya tiba di bendung banjar tjahyana,,
menuruni anak tangga yang lumayan melelahkan,,

konon, air dari bendung itu dialirkan hingga kedaerah purbalingga melalui terowongan air,,
dan menurut penduduk setempat, lokasinya lumayan wingit, kalo ada muda mudi pacaran di lokasi, salah satu pasangan akan tercebur kedalam terowongan dan tersedot,,( mayatnya tinggal nunggu di hilir terowongan )
ndak tau benar atau tidak ( karena belom pernah pacaran disitu,,:D )

yang jelas, penasaran dengan terowongan air itu,,
yang katanya sangat dalam dan panjang, serta menyeramkan,,
heheee,,

miko wicaksono said...

Anonymous, betul mas, tapi untuk mencapai daerah bendung bandjar tjahjana nggak harus memutar ke waduk loh mas, tinggal memutar lewat jembatan kali serayu yang ada di Rejasa terus masuk gang.

Memang ada beberapa yang berbentuk terowongan, syphon (air di turunkan kemudian dinaikan lagi untuk menyiasati air lewat lembah) air terjun, luncuran hingga aliran terbuka dan jembatan air.

Penelusuran saya yang kurang sedikit lagi di bagian ini. Apa Anonymous punya dokumentasinya biar kita tampilkan di sini?

salam

den mBagusi said...

wah inyong nembe sepisan merdayoh nang kene langsung krasan
maturnuwun Kang,,,, infone diisi maning sing lewih komplit.

Milo Wicaksono said...

Den mBagusi, makasih pujiannya semoga bermanfaat. salam

Anonymous said...

Jan, infone jos pisan

Jatmiko W said...

Anonymous terimakasih, semoga berguna

putra-purbalingga said...

Tambah lagi pak tulisanya... saya yang asli penduduk desa karanggedang malah nggak banyak tau tentang saluran ini, saya sering dapat cerita dari almarhum kakek dulu tentang masalalu saluran irigasi ini, dulunya katanya banyak jalur lori tebu di sekitar saluran ini, tapi saya nggak sempet liat langsung karena sudah di bongkar sebelum saya lahir, tapi sisa sisanya masih bisa di lihat salah satunya beton bekas jembatan rel lori tebu di depan sekolahan SD dimana saluran ini mulai terlihat lagi di tepi jalan, trowonganya pun masih ada lokasinya nggak jauh dari grujugan desa situwangi, kira kira 300 meter arah utara

Jatmiko W said...

Terimakasih Putra-purbalingga, saya kalau pulang ke Bukateja, senang sekali kalau sewaktu waktu saya bisa ketemu darat dengan anda. Atau silahkan kontak saya dulu di 082135220689 (Whatsapp) / jatmikow@banjoemas.com

salam lestari

putra-purbalingga said...

Wah, boleh itu pak,saya juga sebenarnya ingin sekali blusukan membuat semacam video untuk mendokumentasikan saluran irigasi ini dan di upload ke youtube,tapi belum ada waktu untuk pulang kampung. lebaran kemarin niatnya ingin saya kerjakan tapi karena ada halangan akhirnya batal.saluran ini masih cukup terwat dan biasanya dilakukan perbaikan pada bulan agustus saat air sengaja di keringkan beberapa hari.grujugan di desa situwangi yang ada di pinggir jalan sekarang kondisinya memprihatinkan,pada awalnya akan di bangun PLTMH tapi entah mengapa saya tidak tau alasanya pengerjaanya dibatalkan dan di tinggalkan begitu saja

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum