Tuesday, February 22, 2011

Pembentukan Residentie Banjoemas dan Regentschatp

banjoemas

Pembentukan Residentie Banjoemas

Perlawanan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya terhadap pemerintahan Kolonial Belanda yang sangat sewenang-wenang berlangsung selama hampir 5 tahun. Sejak kebijakan Belanda untuk membuat jalan yang melewati tanah leluhur pada tahun 1825 sampai tertangkapnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Perlawanan ini merupakan perang yang hebat karena menewaskan sedikitnya 8000 tentara Belanda, 7000 pasukan pengikut Pangeran Diponegoro, dan mengorbankan sekitar 200.000 rakyat jawa yang berarti separuh dari populasi peduduk Jawa pada masa itu.

Kerugian materi sebanyak 30 Juta Gulden ditambah kerugian militer Belanda sebanyak 2 Juta Gulden. Yang oleh pemerintah Belanda kerugian materi ini di bebankan pada dua kerajaan yang berkuasa saat itu yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Namun kedua kerajaan besar tersebut menolak dan sebagai gantinya pemerintah Belanda menguasai daerah mancanegaran kilen yaitu Bagelan dan Banjoemas (Banyumas). Comisie ter Regeling der Zaken yang merupakan komisi urusan tanah-tanah kerajaan memerintahkan Residen Pekalongan M.H. Hellewijn untuk mengambil alih daerah Mancanegaran Kilen yang dimaksud dengan langkah menahan semua piagam pengangkatan bupati oleh Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Piagam tersebut dianggap sebagai bukti gadai seharga 90 Gulden, yang akan di tabggung oleh Kasultanan Yogyakarta 10 Gulden dan Kasunanan Surakarta 80 Gulden. Dan sejak saat itu wilayah Banjoemas berada pada kekuasaan Belanda yang berarti tunduk terhadap pemerintah Kolonial Belanda.

banjoemas
Rumah Residen Banjoemas dengan pepohonan Kenari

Pada saat itu Kadipaten Banjoemas dipimpin oleh K.R.T. Cakrawedana (1816 -1830) sebagai Adipati Kesepuhan dan terdapat pula Adipati Kanoman yaitu R. Adipati Bratadiningrat (R.T. Martadireja I).

M.H. Hellewijn membuat pendataan dan laporan untuk mempersiapkan penyelenggaraan pemerintahan sipil yang menjadi acuan pemerintah pusat Batavia untuk mengatur wilayah Karesidenan Banjoemas. Pada 20 September 1830, M.H. Hellewijn memberikan laporan umum hasil kerjanya kepada Komisaris Kerajaan yaitu Jenderal De Kock yang berada di Sokaraja yang akan di lanjutkan ke Batavia. Tepat pada 1 November 1830 De Sturler di tunjuk dan di lantik menjadi Residen pertamanya. Dan menetapkan cakupan wilayah Banyumasan yang meliputi: Kebumen,  Banjarnegara, Panjer, Ayah, Poerbalingga. Banjoemas, Kroja, Adiredja, Patikradja, Poerwakerta, Adjibarang, Karangputjung, Sidareja, Madjenang sampai ke Daiyoe-loehoer (Dayeuhluhur), termasuk juga di dalamnya tanah-tanah Perdikan (daerah Istimewa) seperti Donan dan Kapungloo.

Banjoemas

Pembentukan Regentschatp / Kabupaten
Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1830 melalui Beslit Gubernur Jenderal J.G. Van Den Bosch, hanya menjadikan empat kabupaten yaitu Banyumas (Banjoemas), Ajibarang (Adji-Baran), Dayeuhluhur (Daijoe-Loehoer), dan Purbalingga (Probolingo).Karesidenan Banyumas juga diperluas dengan dimasukkannya Distrik Karangkobar (Banjarnegara), pulau Nusakambangan, Madura (sebelumnya termasuk wilayah Cirebon) dan Karangsari (sebelumnya termasuk wilayah Tegal).

Wilayah Karesidenan Banyumas dibagi menjadi lima kabupaten dan saat itulah dimulainya jabatan Residen dan Asisten Residen yang dijabat oleh orang Belanda di Banyumas (Soedjarwo, 2000:44; Anto Ahcadiyat, 1994:11), dan pada saat itu di daerah Banyumas mulai ada pangkat Wedana Bupati. Adapun lima kabupaten yang dimaksud adalah:
1. Kabupaten Banyumas, bupati Raden Ngabehi Cakradirja dengan gelar Raden Adipati Cakranegara dan didampingi Residen De Sturler (pejabat Belandan).
 - Onderdistrict Banyumas
 - Onderdistrict Adireja
 - Onderdistrict Purworejo Kelampok
2. Kabupaten Ajibarang, bupati Raden Tumenggung Bartadimeja bergelar R Adipati Martadireja II didampingi Asisten Residen Werkevisser. Pada tahun 1832 pindah ke Purwokerto.
 - Onderdistrict Purwokerto
 - Onderdistrict Ajibarang
 - Onderdistrict Jambu Jatilawang
3. Kabupaten Purbalingga, bupati R.M. Tumenggung Dipakusuma II, dan didampingi Asisten Residen B. Schmalhausen.
 - Onderdistrict Poerbolinggo
 - Onderdistrict Soekaradja
 - Onderdistrict Kertanegara Bobotsari
 - Onderdistrict Tjahjana
4. Kabupaten Banjarnegara, bupati  Raden Tumenggung Dipayuda dan Asisten Residen Panggilmeester.
 - Onderdistrict Banjar
 - Onderdistrict Singamerta
 - Onderdistrict Leksana
 - Onderdistrict Karangkobar
 - Onderdistrict Batur
5. Kabupaten Dayeuhluhur, Bupati  Raden Tumenggung Prawiranegara dengan Asisten Residen De Mayer.
 - Onderdistrict Majenang
 - Onderdistrict Dayeuhluhur
 - Onderdistrict Pegadingan
 - Onderdistrict Jeruklegi

Namun, dalam Resolutie van den 22 Agustus 1831, No.1 pemerintah Belanda mengangkat 5 orang pejabat bupati di Karesidenan Banyumas, yaitu Ngabehi Cakranegara dari Purwokerto diangkat menjadi bupati Banyumas, Raden Tumenggung Mertadiredja II, Wedana Bupati Kanoman Banyumas diangkat menjadi Bupati Ajibarang, Ngabehi Dipayuda dari Ngayah diangkat menjadi Bupati Banjarnegara, Tumenggung Prawiranegara tetap di Dayeuhluhur, dan  Tumenggung Dipakusuma tetap di Purbalingga. Kelima pejabat di atas semuanya memakai gelar raden tumenggung (Priyadi, 2004: 159).

Pada tanggal 22 Agustus 1831 dibawah Karesidenan Banjoemas membentuk 4 Regentschap (Kabupaten) di wilayah Karesidenan Banyumas yaitu, Kabupaten Banjoemas, Adjibarang, Daiyoe-loehoer dan Prabalingga yang masing-masing dipimpin oleh seorang Bupati pribumi. Residen de Sturler juga melakukan pembentukan struktur Afdeling yang berfungsi sebagai Asisten Residen di masing-masing Kabupaten.

Pembentukan Afdeling meliputi, Kabupaten Dayoehloehoer dan Kabupaten Ajibarang menjadi satu Afdeling yaitu Afdeling Ajibarang dengan ibukota Ajibarang dan D.A. Varkevisser diangkat sebagai Asisten Residen di Ajibarang sekaligus sebagai ”pendamping” Bupati Ajibarang Mertadiredja II dan Bupati Dayoehloehoer R. Tmg. Prawiranegara. Tiga Kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara masing-masing memiliki Afdeling sendiri-sendiri.

Sumber gambar
http://commons.wikimedia.org
Sumber tulisan
Bayumas: sebuah Tijauan Historis Saptono, Dosen PS Seni Karawitan
Priyadi, Sugeng. 2004. “Sejarah Kota Purwokerto” dalam Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 5, No.2, edisi Agustus. Surakarta: Lembaga Penelitian, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

15 comments:

Anonymous said...

saya tertarik dengan sejarah banyumasan.informasi ini sangat bermanfaat buat saya.terimakasih...

Jatmiko W said...

Anonymous, terimakasih semoga memang bermanfaat.

Anonymous said...

Terima kasih atas tulisan Anda, semoga generasi muda Banyumas tidak lupa sejarah. Tolong sebut sumbernya, biar lebih akurat.

Jatmiko W said...

Anonymous, semoga bisa membantu, sumber gambar dan tulisan sudah saya tuliskan di bagian bawah. Terimakasih

herroe hendrro / heru said...

foto rumah karesidenan banyumas diatas,..kalau tidak salah sekarang SMEAN/SMKN Banyumas,..hingga sampai 1980-an msh ada dua gapura bulat dpn bangunan foto diatas,.kebetulan ayah saya mengajar disitu 1968-1995,jd sy msh familiar dgn kedua tugu tsb,.wktu itu sy msh blm tau apa fungsi kedua tugu tsb, sampai ada foto ini dan ketahuan bahwa itu adalah gapura masuk

Jatmiko W said...

Wah sayang sekali tidak sempat di dokumentasi ya mas Heru

aries purnomo said...

Ehaalaa,,,ternyata sultan Yogyakarta dan surakarta,saat itu,bukan seorang negarawan yg baik,,,dengan memberikan negari kilen buat ganti rugi belanda,licikee pool, mo enaknya doang, resikonya ga mau,pada hal dulu para adipati jg ditarik upeti oleh raja2nya,harusnya berat sama dipikul ringan sama jinjing,tul ga?

Anonymous said...

terima kasih atas informasi yang sangat bagus ini tentang sejarah banyumas. Saya sedikit meluruskan, untuk bupati kasepuhan banyumas tahun 1816 - 1830 bernama K.R.T ( Kanjeng Raden Tumenggung ) Adipati Tjokrowedono ( kalau dalam istilah banyumas menjadi Tjakrawedana ). Sedangkan nama Tjokronegoro kalau di silsilah keluarga saya adalah ayah dari beliau yang menjabat sebagai Patih di Keraton Surakarta Hadiningrat pada masa Pakubuwono ke IV. Kemudian nama Tjokronegoro juga di gunakan oleh beliau untuk menamakan putera beliau dan menjabat sebagai bupati banyumas juga.

Anonymous said...

Saya pengin tahu tentang kademangan Pasir di Karang Lewas, ada info atau referensi ndak...?
lagi nyari silsilah mbah kakung saya
mbah kakung saya bernama Waris Siswomiarso bin Sanjang
terima kasih

harryd. said...

dalam Staatsblad No. 113 tahun 1883, Regentie Banjoemas terdiri dari regentschap/afdeeling sbb:

1. Banjoemas (district: Banjoemas; Soekaradja; Poerwaredja; Kaliredja)
2. Poerwakerta (district: Poerwakerta; Adjibarang; Djamboe)
3. Poerbalingga (district: Poerbalingga; Kertanegara; Tjahjana)
4. Bandjarnegara (district: Bandjar; Singamerta; Karangkobar; Batoer)
5. Tjiatjap (district: Tjilatjap; Madjenang; Adireja; Pegadingan; Dajaloehoer)

widodo said...

Bangga itu kalo bisa bertempur melawan belanda walaupun mati resikonya...bukan bangga kalau dilantik oleh belanda walaupun jadi pejabat

Jatmiko W said...

harryd; menarik terimakasih sudah berkunjung dan menambah informasi

widodo; bangga itu tetap melestarikan warisan budaya bangsanya, masa lalu tetaplah masa lalu ... salam

dikaputra said...

misi mas punya sumber tentang perkebunan kaligua engga ya?

jalin atma said...

infonya sangat membantu mendapat informasi yg saya butuhkan,ditunggu next postinganya.visit my site too
ST3 Telkom
and follow my social media instagram please :
Jalin Atma

Indra Suhendra said...

Sebagai keturunan Tjakrawedana, informasi ini sangat membantu dalam menelusuri silsilah keluarga. Yerima kasih

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum