Friday, June 30, 2017

GUNUNG SLAMET RIWAYATMU

Peta Tegal - Brebes - gn. Slamet (peta dibuat terbalik) tahun 1756
doc. BHHC
Gunung Slamet (3.428 m dpl) adalah gunung teringgi di Jawa Tengah dan nomer dua di Jawa setelah gunung Semeru (3.676 m dpl), nama gunung Slamet berasal dari bahasa Arab salamatan, hingga nama ini kemungkinan muncul pada masa setelah masuknya Islam ke Jawa. Dalam catatan naskah kuno Sunda tentang perjalanan Bujangga Manik gunung yang berada diantara budaya Mataram dan Pajajaran ini disebutkan bernama gunung Agung, dan beberapa orang tua menyebutnya dengan gunung Ghora, namun catatan bangsa Eropa melalui peta kartografi yang pernah di buat,  Gunung besar dan menjulang yang berada di antara daerah Tagal (Tegal), Pecalongang (Pekalongan) Passir (Purwokerto) Banjoemas (Banyumas), Wirasaba dan Ladok (Lembah Serayu) itu bernama Berg van Tagal (Gunung Tegal). 

Gunung Slamet bagian selatan yang basah dan dengan kadar asam yang tinggi menyebabkan tidak ditemukannya fosil purba, bahkan peninggalan berupa batu-batu pun tidak banyak ditemukan di sana, namun berbeda dengan daerah utara dimana terdapat banyak kapur dan kering sehingga lapisan ini membantu mengawetkan fosil-fosil purba seperti yang di ketemukan di Semedo Pemalang.

Kawah gunung Slamet
Keliling kawah gunung Slamet sekitar 2 km, sedangkan luas kawah sekitar 300 meter persegi sedangkan diameternya sekitar 550 meter. 

Penampakan kawah gn. Slamet menghadap barat pada tahun 1910
Sumber Tropen Museum
Penampakan kawah gn. Slamet dari arah barat pada tahun 1929
Fotografer: Dr. W.G.N. (Wicher Gosen Nicolaas) van der Sleen 
Sumber Tropen Museum

Penampakan kawah gn. Slamet dari arah utara pada tahun 1929
Fotografer: Dr. W.G.N. (Wicher Gosen Nicolaas) van der Sleen 
Sumber Tropen Museum

Penampakan kawah gn. Slamet dari arah Selatan pada tahun 1940
Sumber Tropen Museum

Penampakan kawah gn. Slamet menghadap utara pada tahun 1922
Fotografer: Dr. H.J. (Herman Johannes) Lam 
Sumber Tropen Museum
Penampakan kawah gn. Slamet menghadap selatan pada tahun 1922
Fotografer: Dr. H.J. (Herman Johannes) Lam 
Sumber Tropen Museum

Penampakan kawah gn. Slamet menghadap barat pada tahun 1922
Fotografer: Dr. H.J. (Herman Johannes) Lam
Sumber Tropen Museum

Wilayah
Gunung Slamet semenjak kekuasaan Hindia Belanda di Jawa, terbagi menjadi beberapa bagian wilayah yaitu Wilayah kabupaten Purwokerto (1832 - 1937), Kabupaten Banyumas (1937 - Sekarang), masuk wilayah kabupaten Purbalingga (1931 - sekarang), kabupaten Pemalang, Tegal dan Brebes.



gn Slamet peta tahun 1870
sumber Universiteit Leiden


Peninggalan 
Menurut kepercayaan orang-orang tua gunung Slamet mempunyai banyak tempat yang wingit dan di hormati. Dan orang dulu sangat mengenal bagian bagian dari gunung Slamet, karena hampir setiap gunung kecil (bukit diantara aliran hulu sungai), lembah atau lereng kecil (igir) dan hutan (utan) di gunung Slamet mempunyai nama. Ini mengisyaratkan bahwa masyarakat kuno sececara spiritual sangat dekat dengan gunung Slamet. 
Berikut nama gunung kecil yang bisa penulis himpun yaitu :

  • g Anyer
  • g Seladadak
  • g Selawang
  • g Selatri
  • Igir Wika
  • g Pongkor
  • g Kranggen
  • Igir Tipis
  • g Utan Bambuwiar
  • g Beser
  • g Sikalong
  • g Pondokandong
  • g Malang
  • g Cendong
  • g Sedakarang
  • Utan Batur
  • g Watu
  • g Dalem
  • g Watu Kalang
  • Utan Damarpayung
  • Utan Sikanjur
  • g Lempung
  • g Limpartepus
  • g Kuta Barang
  • g Karang
  • g Tipis
  • g Kerisan
  • g Malang 
  • g Sumbul
  • g Kembang
  • g Lanang 
  • g Puter 
  • g Grecol
  • utan Kabang Tengah
  • g Tukung
  • g Jangkol Pring
  • g Kelir
  • g Brete 
  • g Keto
(Sumber peta Belanda tahun 1850)

Menurut peta Belanda tahun 1943 Gunung Slamet yang masuk wilayah Banyumas merupakan bagian lereng gunung yang curam dan memanjang dari timur hingga ke barat. Menurut masyarakat kuno terdapat banyak igir (Lereng) yang dianggap wingit seperti Igir Klanglar (jalur pendakian baru Baturraden) yang merupakan hulu sungai Gemawang yang melewati lokawisata Baturraden, igir Dawa (hulu sungai Banjaran) dan igir Manis (hulu sungai Logawa).  Terdapat sebuah gunung yang terlihat dari kota Purwokerto terlihat datar memanjang bernama gunung Rataamba dan gunung Cendana (sebelah barat Ketenger).

Gunung Slamet yang masuk wilayah Purbalingga terdapat jalur pendakian yang merupakan jalur pendakian yang sudah di lewati sejak masa Hindu Budha. Hal ini dibuktikan dengan beberapa tempat wingit dan dihormati berada di sekitar jalur pendakian ini seperti Sanghyang Kendit (Hulu Sungai Lembarang), Sanghyang Cemoro (Perbatasan Purbalingga-Pemalang) dan Sanghyang Jampang (Perbatasan Purbalingga-Pemalang). Juga terdapat dua buah gunung kecil yang dianggap wingit karena dianggap menghalangi daerah Purbalingga dari bahaya lahar gunung Slamet yaitu keduanya bernama gunung Malang. Banyaknya peninggalan susunan bebatuan antara Baturagung ketimur hingga Baturraden juga membuktikan bahwa pada masa lalu gunung Slamet dianggap mempunyai kekuatan dan tempat yang suci. 


Jalur Pendakian
Terdapat dua jalur pendakian gunung Slamet yang sudah biasa dilewati yaitu:
- Jalur Bangbangan (Purbalingga)
Jalur ini ditenggarai merupakan jalur pendakian yang sudah ada sejak masa Hindu Budha. Wilayah Sangkanayu, Serang  hingga Bangbangan merupakan pemukiman kuno yang tinggal di dataran tinggi. Jalur yang merupakan perbatasan kabupaten Purbalingga dan Pemalang ini merupakan jalur paling dekat antara pemukiman dengan puncak.

- Jalur Baturraden (Banyumas)

Jalur ini kemungkinan mulai di buka pada masa Hindia Belanda dimana penelitian Biologi dilaksanakan di sini. Jalur ini tergolong jalur yang lebih panjang dan lebih sulit dari jalur Bangbangan. Jalur menggunakan bukit antara hulu sungai Banjaran dan sungai Gemawang.
Jalur pendakian gunung Slamet
sumber Universiteit Leiden


Penelitian Biologi
Pada masa Hindia Belanda gunung Slamet juga tidak luput dari obyek penelitian biologi diantaranya adalah F.C. Drescher yang meneliti berbagai Kumbang yang berada di wilayah gunung Slamet. Beberapa spesies yang di temukan diantaranya adalah Omotemnus Serrirostris, Omotemnus Swierstrae, Omotemnus Hauseri, Omotemnus Variabilis, Otidognathus Turbatus Javanicus, Protocerius Preator, Protocerius Colossus, Ommatolampus Germari, Sphenocorynus marginalis, Poteriophorus Opacus Javanicus, Atarphaeus Rhinodontulus, Nea Drescheri (Von Klaus Gunther, Staatliches Museum fur Tierkunde, Dresden).


Beberapa spesies serangga yang ditemukan di gn. Slamet
Sumber: Über einige von F. C, Drescher auf Java gesammelte Calandriden (Col. Curcul.), 
mit biologischen Angaben.



banjoemas.com
JW van Dapperen (Jan William) 1869 - 1937 pernah menulis upacara-upacara adat di wilayah Baturraden seperti upacara tanam padi di Ketenger, upacara adat di Kemutug dan Sumber Pitu (Pancuran Pitu) dengan sangat detail. Van Dapperen tergila-gila dengan Baturraden dan akhirnya menikahi perempuan pribumi Rr. Sudarminah dan tinggal di Baturraden hingga akhir hayatnya. Van Dapperen di kebumikan di kerhof Purwokerto dan terawat sampai sekarang, bahkan anak keturunannya banyak yang tinggal di Indonesia. 



Eksploitasi
Sejak masa Hindia Belanda kaki gunung Slamet yang subur di wilayah Banyumas dan Purbalingga terdapat beberapa perkebunan (Onderneming) yang terkenal yaitu onderneming Pekajen (atas desa Candiwulan Purbalingga), onderneming Tegalsari (Kemutug Baturraden) dan onderneming Menggala (milik pengusaha Kwee Lie Keng Purbalingga).


Peta 
Lokawisata Baturraden
Lokawisata Baturraden yang berada di kaki gunung Slamet dan menjadi salah satu tempat wisata andalan kabupaten Banyumas saat ini ternyata hanya meneruskan saja dari upaya pemerintah Hindia Belanda dalam membuat tempat wisata. Pemandangan indah air terjun Baturraden merupakan pemandangan alami yang masih bisa kita nikmati hingga sekarang. Pembangunan lokawisata Baturraden sudah di lakukan sejak tahun 1914 dimana Kho Han Tiong (Letnan Tionghoa Sokaraja) yang juga merupakan pemilik Nv Ko Lie memberikan sumbangan berupa pembangunan sebuah jembatan yang melintas diatas sungai Gumawang (Jembatan Merah) yang pada awalnya merupakan jembatan satu-satunya di lokawisata Baturraden. Namun jembatan Merah ini pada tahun 1984 sudah di rehab menggunakan dana APBD Banyumas, sehingga bentuk asli jembatan sudah tidak terlihat lagi. Prasasti pembangunan jembatan merah masih tetap terpasang disana meski lokasinya sedikit berbeda dan tidak terawat.


Air terjun Batoerraden di aliran sungai gemawang, 
Fotografisch Atelier O. Hisgen & Co. NV
Sumber Tropen Museum

Hotel Batoerraden
Sebuah hotel bernama Hotel Batoe Raden milik warga Belanda di dirikan di kawasan Baturraden, dan pernah menjadi bangunan dengan posisi paling tinggi di sana, hotel ini juga menjadi salah satu rujukan untuk tamu tamu penting pemerintah untuk menginap di Baturraden. Termasuk salah satunya adalah raja Kasunanan Surakarta Pakubuwono 10 pada saat mengunjungi Banyumas (gabungan Banyumas - Purwokerto) yang menginap disini bersama dengan istri, asisten residen Purwokerto dan residen Banyumas pada tahun 1937.


Hotel Batoe Raden


Aliran Sungai
Lereng gunung Slamet sebelah selatan terdapat ribuan mata air yang akhirnya menjadi hulu dari puluhan sungai yang mengalir melewati Banyumas Purbalingga dan Cilacap. Berikut adalah beberapa sungai dan air terjun (Curug) yang dilewatinya yang bermata air di lereng gunung Slamet sebelah selatan yang berhasil di himpun dari Purbalingga hingga Banyumas. 

Noni-noni Belanda berwisata di curug Tebela Sungai Pelus
sumber Tropen Museum

Curug duwur
sumber Tropen Museum

Curug Ceheng
sumber Tropen Museum

  • Kali Bojo
  • Kali Bangbangan
  • Kali Airtilang
  • Kali Soso
  • Kali Tembelang
  • Kali Urip
  • Kali Rejasa 
  • Kali Tembekor
  • Kali Pring 
  • Kali Paingan (Curug Nini)
  • Kali Lembarang (Curug Penganten, Curug Kembar, Curug Duwur, Curug Cingongah)
  • Kali Lutung
  • Kali Longkrong 
  • Kali Siwarak 
  • Kali Kajar 
  • Kali Candiwulan
  • Kali Gemuruh 
  • Kali PonggawaBerta 
  • Kali Berem 
  • Kali Pangkon (Curug Ceheng)
  • Kali Deku 
  • Kali Pelus (CUrug Lawang, Curug telu, Curug Tebela, Curug Carang)
  • Kali Lirip 
  • Kali Belot (Curug Belot)
  • Kali Gemawang 
  • Kali Banjaran (Curug penganten, Curug Jenggala, Curug Bayan, Curug Celiling, Curug Gede)
  • Kali Manggis 
  • Kali Logawa (Curug Lima, CUrug Cidadap)
  • Kali Dadap
  • Kali Harus 
  • Kali Surian 
  • Kali Mengaji (Curug Cipendok)
  • Kali Prukut

PLTA Ketenger
NV Electriciteit Maatschappij Banjoemas (EMB) mendapat ijin pembangunan pembangkit listrik tenaga Air (krachtcentrale) pada 3 November 1927 di Ketenger Baturraden untuk mengaliri listrik kawasan Banyumas. Pembangkit ini mengandalkan aliran sungai Banjaran dan sungai Gumiwang yang berhulu di lereng gunung Slamet.

Lereng gunung Slamet sebagai satu-satunya hutan asli (perawan) di pulau Jawa yang belum pernah di eksploitasi sebelumnya bahkan oleh pemerintah Hindia Belanda, karena mereka sangat mengerti bahwa kota-kota di bawahnya seperti Ajibarang, Purwokerto, Baturraden, Sokaraja, Purbalingga dan Bobotsari sangat tergantung terhadap ketahanan air yang diserap oleh hutan lereng gunung Slamet ini. Semoga artikel ini juga dapat menjadi pertimbangan untuk pembangunan Geo Thermal di lereng gunung Slamet yang dampaknya sudah terasa hingga di wilayah kaki gunung Slamet sebelah Selatan.


Wawancara 
- Tekad Santos
- Pardiono (Pekalongan Bojongsari Purbalingga)
- Indra (Cipaku Mrebet Purbalingga)
- Sudir Rahardjo (pensiunan Polisi sektor Serang)
- Margono Sungkowo (Polisi sektor Mrebet)

Sumber pustaka
- Aardrijkskunde Deel 1
- Über einige von F. C, Drescher auf Java gesammelte Calandriden (Col. Curcul.), mit biologischen Angaben
ekliptika.wordpress.com
- Geni.com
- id.wikipedia.org

Picture
- Tropen Museum
Universiteit Leiden
- Billy Kamajaya
- Doc arsip BHHC
- Doc pribadi penulis

Tulisan masih dalam pengembangan
kritik saran penulis nantikan
jatmikow@banjoemas.com

Tidak disarankan copy dan upload lagi di web/blog/kaskus/medsos

4 comments:

Intan Julie said...

min, boleh minta kontak yang bisa dihubungi? tolong email saya ke julie.intan@gmail.com. saya adalah mahasiswa unsoed yang ingin melakukan penelitian seputar sejarah tempat tempat wisata alam di kabupaten banyumas, sebelumnya terima kasih

Sulis.Banyumas said...

Bagus Mas...!!! two thumbs up.!!!

Kasamago said...

Mantabs.. lengkap mendetail
Gunung Slamet dan eks Karesidenan Banyumas sudah satu kesatuan yg wajib seimbang.. semoga tidak ada ekploitasi berlebihan di sekitar gunung slamet demi kelestarian bersama.

Lokawisata Batoeraden hingga kini terus menjadi magnet wisata :
http://kasamago.com/lokawisata-baturraden-yang-tak-pernah-lelah/

pakmuji said...

Bagus mas artikelnya mari kita dukung gerakan pelestarian Hutan Kawasan Gunung Slamet, tolak pembanguanan PLTPB geo thermal di lereng Gunung Slamet

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum