Wednesday, March 18, 2020

KPAA MERTADIREDJA III


banjoemas.com
Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
Lahir 2 Maret 1841 -  Meninggal 19 Maret 1927 
Raden Ayu Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
Lahir 29 Juli 1839 - Meninggal 19 Mei 1921



Bupati legendaris yang menjabat sebagai bupati hampir selama hidupnya. Mulai menjadi bupati Purwokerto pada umur 19 tahun pada tahun 1860 dan pensiun pada tahun 1913 diusia yang ke 72 tahun dari bupati Banyumas. Sehingga selama 53 tahun beliau menghabiskan waktunya sebagai Bupati dua kabupaten. Beliau juga disebut sebagai bupati yang pulang pada tempatnya, karena setelah Banyumas jatuh ketangan Belanda bupati tidak lagi jatuh pada anak keturunannya tapi pada pejabat yang tempatkan oleh Belanda.

Bupati ke sepuluh kabupaten Banyumas, Raden Tumenggung Joedanegara V yang menjabat pada masa perang Jawa dianggap tidak banyak membantu Belanda untuk menangkap Pangeran Dipanegara. Sehingga setelah jatuhnya wilayah Banyumasan ke tangan Hindia Belanda RT Joedanegara V langsung dipecat, sehingga berakhirlah trah Adipati Mrapat di Banyumas. 

Banyumas yang belum diserahkan secara resmi oleh Surakarta namun Belanda sudah ikut campur tangan pemerintahan di Banyumas, tidak hanya memecat RT Joedanegara V, mereka juga membagi Banyumas menjadi dua yaitu Banyumas Kasepuhan yang berpusat di Dawuhan  dan Banyumas Kanoman yang berpusat di Kedungrandu Patikraja untuk menyingkirkan keturunan langsung RT Joedanegara V dari Banyumas.
Bratadiningrat yang merupakan putra dari Mas Ngabei Mertawidjaya di Singasari (en) yang masih keturunan dari Bagus Kunting atau Kanjeng Adipati Danureja I (Raden Tumenggung Yudanegara III ) diangkat menjadi Wedana Bupati Kanoman Banyumas dengan gelar Raden Tumenggung Mertadiredja. Namun beliau meninggal pada tahun 1831 setelah setahun menjabat, kemudian digantikan oleh putranya yaitu Raden Adipati Mertadiredja II. Kejadian ini menyebabkan dihapuskannya istilah kanoman, dan diawal pemerintahannya R Ad Mertadiredja II memindahkan pusat pemerintahan dari Patikraja ke Ajibarang.

Disisi lain, setelah meninggalnya Raden Tumenggung Cakrawedana I Banyumas Kasepuhan juga dihapuskan dan dirubah menjadi Kabupaten Banyumas, dan penggantinya adalah Raden Ngabei Cakradirja yang bergelar Raden Adipati Cakranegara I (Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas)

Hanya bertahan satu tahun, pusat kabupaten Ajibarang pun dipindah lagi ke sebuah grumbul dimana terdapat santri mengaji dan diatas sebuah telaga di grumbul Paguwan Purwokerto dengan persetujuan asisten residen kabupaten Ajibarang yaitu Varkevisser. Letaknya sekitar 2 km dari pusat pasar wage Purwokerto. 
Raden Adipati Martadiredja II menjadi bupati pertama kabupaten Purwokerto yang menjabat hingga meninggal pada tahun 1853. Dikarena Pangeran Mertadiredja III masih berumur 12 tahun kemudian akhirnya digantikan oleh menantunya yaitu Raden Tumenggung Djajadiredja. Namun tidak berjalan lama Raden Tumenggung Djajadiredja mengalami depresi dan kemudian diasingkan ke Padang, hingga selama beberapa tahun kabupaten Purwokerto tidak tidak memiliki Bupati. Kangdjeng Pangeran Aria (PA) Mertadiredja III menjadi bupati Purwokerto yang ke tiga yang menjabat dari tahun 1860 hingga 1879. 

Riwayat pekerjaan
Pangeran Mertadiredja III remaja yang ditinggalkan oleh ayahnya pada umur 12 tahun, memulai bekerja pada umur 14 tahun sebagai wakil jurusurat di kantor kabupaten Purwokerto yang pada waktu itu yang menjabat bupati adalah iparnya sendiri yaitu Tumenggung Jayadireja (1853-1860). Mulai bekerja dengan surat keputusan Residen Banyumas tertanggal 7 April 1855. Sembilan bulan kemudian baru diangkat menjadi Jurusurat tetap tepatnya pada tanggal 18 Januari 1856.

Di usia yang ke 15 tahun, mulai 8 September 1856 beliau bekerja menjadi wakil Jaksa di kabupaten Purwokerto selama 4 bulan dan menjadi mulai mantri Polisi pada tanggal 16 Januari 1857 selama dua tahun.
banjoemas.com
Raden Adipati Mertadiredja III pada masa-masa awal menjadi bupati Purwokerto
Sumber KITLV LEIDEN

Pada usia ke 17 tahun Pangeran Mertadiredja III mulai bekerja di kabupaten lain, dengan jabatan yang lebih bergengsi yaitu Onder Kolektur di kabupaten Banjarnegara. Hanya berjalan selama satu tahun sembilan bulan pada tanggal 18 November 1860 melalui keputusan Kanjeng Governemen (Gubernur) pada usianya yang ke 19 tahun beliau diangkat menjadi bupati Purwokerto ketiga dengan gelar Mertadiredja III. 

Setelah menjabat selama 15 tahun baru pada tanggal 7 November 1875 Gubernur Pangeran  Mertadiredja III barulah mendapatkan gelar Pangeran Adipati Mertadiredja III 
Pada tahun 1879 Residen di Banyumas adalah C de Clerq Moolenburgh dan bupati yang menjabat di kabupaten Banyumas adalah Raden Adipati Tjokronegoro II, namun bupati sering berselisih dengan Residen sehingga bupati akhirnya mengundurkan diri. 

Sebelumnya sudah disiapkan wedana Sokaraja yang masih merupakan adik R A Tjokronegoro II yaitu Tumenggung Cakrasaputra. Namun residen melalui keputusan gubernur tertanggal 14 Maret 1879 akhirnya memutuskan untuk mengangkat dengan mememindahkan Pangeran Adipati Mertadiredja III yang masih menjabat di Purwokerto. Dengan alasan bahwa sejak diberhentikannya Raden Tumenggung Joedanegara V oleh pemerintah Hindia Belanda bupati menjabat sudah diluar Trah Banyumas, sehingga pada kesempatan ini Residen memutuskan untuk mengembalikan jabatan bupati pada trah aslinya.

Diakhir masa jabatannya bupati menggunakan gelar kehormatan Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III, dan mengajukan pensiun pada tahun 1913 dan pensiun dengan hormat pada 6 November 1913.



banjoemas.com
Medali kesetiaan kepada pemerintah Hindia Belanda
Dari Kiri Ridder Oranje Nassau, Officier Oranje Nassau dan Ridder Nederlandsche Leeuw

Beberapa medali dan gelar yang diperoleh oleh Pangeran Adipati Mertadiredja III adalah:
  • 10 April 1883 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur yaitu medali bintang Jene
  • 4 November 1890 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur songsong jene
  • 28 Agustus 1900 mendapatakan tanda kehormatan dari ratu Belanda yaitu Ridder Oranje Nassau 
  • 12 November 1900 mendapatkan gelar kehormatan dari gubernur yaitu gelar Aria sehingga menjadi Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
  • 29 Agustur 1901 mendapatkan tanda kehormatan dari Ratu belanda menggantikan Ridder Oranje Nassau menjadi Officier Oranje Nassau. Penghargaan ini diberikan kepada bupati yang telah berjasa pada kontribusi wilayah internasional.
  • 27 Agustus 1904 mendapatkan tanda kehormatan dari Ratu Belanda Ridder Nederlandsche Leeuw. Penghargaan ini diberikan oleh Ratu belanda karena jasanya yang sangat istimewa bagi masyarakat.
  • 26 Agustus 1910 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur yaitu Pengeran Ngagem Songsong Gilap
banjoemas.com
Kiri, Pangeran Adipati Aria Gandasoebrata beserta istri
Kanan, Raden Adibati Aria Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata beserta istri

Pada tanggal 6 November 1913 Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III mengajukan pensiun dan digantikan oleh putranya  yaitu PAA Gandasoebrata  yang menjabat dari tahun 1913 hingga tahun 1933. Kemudian digantikan lagi oleh cucunya yaitu RAA Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata yang menjabat mulai tahun 1933 hingga tahun 1950.

RAA Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata 19 April 1942 diangkat menjadi Residen merangkap menjadi bupati Banyumas.

Pada masa pemerintahan Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III merupakan masa-masa awal wilayah karsidenan Banyumas  yang merupakan daerah pedalaman mulai dieksploitasi dan dibangun menjadi kota kolonial yang nyaman untuk orang-orang Eropa. 

  • Dibangun pabrik gula Klampok pada tahun 1888
  • Pada tahun 1888 dibangun jalur kereta api Yogyakarta Tugu ke Cilacap milik perusahaan Staats Spoorwagon
  • Dibangun pabrik gula Bojong pada tahun 1889
  • Dibangun pabrik gula Purwokerto pada tahun 1894
  • Dibangun jalur kereta Serajoedal Stoomtram Maatschappij 1895
  • Dibangun pabrik gula Kaliredjo di Sumpyuh pada tahun 1910

Pembangunan diwilayah karsidenan Banyumas selalu melibatkan bupati-bupati karena ketersediaan tenaga kerja pembangunan akan dipenuhi oleh para bupati di wilayah karsidenan Banyumas. Jadi meskipun pembangunan dilaksanakan di kabupaten Banjarnegara maka bisa jadi yang menjadi buruh pekerja bangunan berasal dari kabupaten lain. 

Keluarga Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III 
Seperti bupati kebanyakan pada jaman dahulu Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III juga memiliki banyak istri, namun rata-rata istrinya meninggal selama adipati masih hidup. Hanya satu istri yang masih hidup ketika adipati meninggal dari enam istrinya.
  1. Raden Ajoe Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III menikah pada tahun 1857 berputra 6 salah satunya adalah Adipati Aria Gandasubrata (Lahir 29 Juli 1839 - Meninggal 19 Mei 1921)
  2. Masajeng Udawati menikah pada 1854 berputra 4
  3. Masajeng Werdiningsih menikah pada tahun 1866 berputra 6
  4. Masajeng Rejaningsih menikah pada tahun 1869 berputra 2
  5. Masajeng Ismayaningsih menikah pada tahun 1877 berputra 4
  6. Masajeng Sumarsih menikah pada tahun 1882 dan berputra 6

banjoemas.com
Persiapan pemberangkatan iring-iringan lelayon pemakaman Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
di selatan alun-alun Purwokerto (22 Maret 1927)


banjoemas.com
Persiapan pemberangkatan iring-iringan lelayon Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
dari rumah duka di Kepangeranan Banyumas ke pendopo kabupaten Purwokerto, 
nampak didalam gambar bupati Aria Gandasoebrata dan istri (21 Maret 1927)


banjoemas.com
Mobil Dodge Brothers milik keluarga bupati yang ikut dalam iring-iringan lelayon 
Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
(21 Maret 1927)

Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III meninggal
Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III meninggal pada hari Sabtu 19 Maret 1927 meninggalkan 1 istri yang masih hidup yaitu Masajeng Rejaningsih, putra 28 (lima diantaranya sudah meninggal terlebih dahulu), cucu 111 orang dan 86 cicit.

Prosesi pemakaman Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III melalui prosesi yang sangat panjang untuk seorang Bupati. Bupati meninggal pada tanggal 19 Maret 1927 kemudian disemayamkan di Kepangeranan selama dua malam sambil menunggu berkumpulnya keluarga besar karena putra-putranya hampir semua menjadi pejabat ataupun istri pejabat. 

Pada tanggal 21 pagi jenazah dipindahkan ke pendopo kabupaten Purwokerto untuk disemayamkan selama satu malam. Iring-iringan diawali oleh mobil truk merek Republic model E buatan tahun 1919 yang berisikan dengan beberapa bendera putih setengah tiang yang dijaga oleh sebuah pasukan opas, kemudian disusul dengan mobil Ford TT Truck buatan tahun 1922 yang membawa jenazah almarhum Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III yang penuh dengan hiasan lelayon. Diikuti kemudian adalah mobil Dodge Brothers buatan tahun 1919 yang dibalut dengan hiasan bunga kematian yang membawa keluarga inti laki-laki karena dalam adat jawa perempuan tidak diperkenankan ikut didalam rombongan lelayon. 

Masyarakat sangat antusias untuk melihat prosesi Iring-iringan lelayon yang panjangnya hampir satu kilometer yang di ikuti oleh hampir seluruh pangereh praja dan pejabat kabupaten Banyumas. Mereka menggunakan sepeda yang merupakan kendaraan bergengsi pada waktu itu dan berjalan kaki ikut dalam iring-iringan. Sesampainya di alun-alun Purwokerto jenazah Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III disambut oleh R. Tm. Tjokrokohadisoerjo (bupati Purwokerto) dan pangereh praja kabupaten Purwokerto.
Jenazah kemudian di semayamkan selama satu malam di pendopo kabupaten Purwokerto semalam sebelum dikebumikan di makam keluarga Kalibogor. Prosesi ini merupakan bagian dari penghormatan karena almarhum pernah menjadi bupati di Purwokerto selama 19 tahun. 

Tanah makam keluarga kalibogor ada jauh sebelum tahun 1853, karena  R Ad Mertadiredja II sebagai pendiri dan bupati pertama kabupaten Purwokerto ingin di makamkan di Purwokerto. Sehingga pada tahun 1853 ketika beliau meninggal dan dimakamkan di makam keluarga Kalibogor.

banjoemas.com
Wawancara dengan ibu Yeti 17 Juli 2013


Tulisan ini saya dedikasikan untuk ibu Yeti Gandasubrata alm. yang sudah memberikan waktunya, tenaganya, kecintaannya terhadap sejarah dan arsip sejarah Banyumas  dan keluarga besar Mertadireja & Gandasubrata

Terimakasih saya ucapkan kepada narasumber
- ibu Yeti Gandasubrata alm. 
- Pak dr. Soedarmadji
- Mas Alfian Antono




Dirangkum dari berbagai sumber 

Saturday, July 27, 2019

Tamasya Bersama R Soetedja

www.banjoemas.com

Raden Soetedja dan Siti Asiah (repro. dok keluarga Soetedja)

RADEN Soetedja Poerwodibroto, semua orang jamak mendengar nama yang selalu dikaitkan dengan dua hal, pertama langgam keroncong "Di Tepinya Sungai Serayu" yang selalu terdengar saat kereta tiba di Stasiun Purwokerto, dan kedua, Gedung Kesenian Soetedja yang baru menyelesaikan pembangunan gedung teater indoor-nya. Lantas, siapa sebenarnya sosok pencipta lagu yang namanya justru jarang didengar di tanah kelahirannya ini.

Sebelum mencari jejak sang komponis, ada baiknya memutar lagu berjudul "I'I'I' (Seruanku)" ciptaan R Soetedja dengan syair yang ditulis Mahargono. Perjalanan dimulai dengan memasuki gang sempit di belakang sebuah mall tepat di jantung Kota Purwokerto. Tak banyak yang tahu, kisah tentang pria kelahiran 15 Oktober 1909 ini berawal dari balik kemegahan gedung itu, 50 meter ke arah timur dari parkir basement.

Tak jauh dari pusat perbelanjaan lima lantai itu, terdapat rumah bercat putih berdinding kusam, berjendela berwarna biru. Sejenak, terbersit dalam pikiran, mungkin tak ada yang pernah menyangka rumah ini adalah saksi bisu masa kecil Raden Soetedja, anak keempat dari delapan bersaudara, buah kasih Poerwadibrata.

Kondisi bangunan itu masih utuh. Beberapa ekor burung gereja terbang bebas di pelataran. Orang yang lalu lalang di Jalan Pereng, Purwokerto tentu paham, bangunan yang kini difungsikan sebagai gudang itu berusia cukup tua.
Rumah Bapak R Soetedja, R Poerwadibrata (sekarang milik Rita Supermall)
Warga setempat lebih akrab dengan sebutan rumah "Bu Sisten", merujuk pada Siti Asiah, istri Poerwadibrata, ayah kandung Soetedja. Rumah itu dibiarkan kosong selama puluhan tahun sebelum akhirnya dimiliki oleh salah satu taipan Kota Mendoan.

Setelah puas melihat-lihat bangunan tua itu, perhentian berikutnya adalah rumah dinas Poerwadibrata. Lagu gubahan Soetedja "Aku Jadi Kepala" yang syairnya ditulis Utjin, menjadi pengantar saat melihat-lihat rumah dinas Asisten Wedana Kebumen, di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden.

Di rumah ini, Soetedja dibesarkan sebelum diangkat sebagai anak oleh Raden Soemandar. Sayangnya, tak banyak yang bisa diketahui dari sini. Sebab bangunan utama sudah berubah menjadi Puskesmas II Baturraden.

Pun demikian dengan rumah milik R Soetedja ketika sudah berkeluarga di Jalan Komisaris Bambang Suprapto atau yang lebih dikenal bekas Hotel Adam. Bangunan itu telah berubah menjadi deretan rumah toko.

Satu-satunya jejak masa kecil yang masih tersisa adalah kediaman ayah angkat sekaligus paman Soetedja, Raden Soemandar. Dalem Kemandaran merupakan sebuah rumah tua di tepi jalan Purwareja Klampok, Banjarnegara, sekitar satu jam perjalanan dari Kota Purwokerto.

Beberapa daftar lagu milik Soetedja seperti lagu Selamat Berjuang, Hamba Menyanyi, Keroncong Melati Pesanku, Keroncong Senja, sampai Tidurlah Intan bisa menjadi teman perjalanan menuju rumah yang berada di komplek Pasar Purwareja Klampok.

Dalem Kemandaran, Klampok, Banjarnegara (dok. Nugroho Pandhu Sukmono)
Rumah bergaya Belanda ini menjadi taman bermain bagi R Soetedja semasa dibesarkan oleh orang tua angkatnya. Raden Soemandar, adalah orang terpandang pada masa Hindia Belanda. Dia pengusaha karung, pemilik kebun tebu dan batik saat kejayaan ekspor gula di Karesidenan Banyumas. Dalem Kemandaran sendiri diambil dari nama Soemandar, tujuannya untuk memudahkan pengantar surat tidak salah alamat.

Tahun 1971, satu keluarga bidan menyewa rumah ini. Lalu, difungsikan sebagai klinik pengobatan hingga sekarang. Bangunan utama yang tadinya digunakan sebagai kantor pengelolaan bisnis Soemandar masih terlihat utuh. Demikian pula dengan pabrik batik di sayap timur rumah utama.

Di rumah inilah, bakat Soetedja sebagai komponis besar mulai terlihat. Soetedja kecil memiliki kebiasaan yang cukup berisik. Dia gemar memainkan peralatan batik untuk bermusik.

Ketika berusia 10 tahun, Soemandar membelikan biola Stradivarius Paganini buatan tahun 1834 yang dilengkapi dengan sebuah piano pada pemberian berikutnya. Kemahirannya bermusik tampak ketika dia mendirikan band semasa duduk di bangku sekolah menengah.

Lagu "Ditepinya Sungai Serayu" yang legendaris itu, lahir berkat kemauan kerasnya untuk menekuni dunia musik. Syair itu tercipta kala berhasil menaklukkan ayah angkat dan menyekolahkannya ke Konservatori Musik Roma, Italia.

Jejak-jejak terakhir R Soetedja masih tertinggal di salah satu sudut studio RRI Purwokerto. Aula Soetedja, yang kini berganti nama Studio Satria masih memajang fotonya. Jika tak percaya, silakan saja mengunjungi ruangan itu.

Konon, ruangan ini merupakan bentuk penghargaan kepada pria yang menggemari kopi dan nasi goreng ini. Setelah sempat menetap di Jakarta tahun 1942, dia sempat kembali ke Purwokerto dan menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto pada tahun 1946.

R Soetedja juga dikenal sebagai sosok yang romantis, gesekan biola, ketukan piano dan aransemennya mampu meluluhkan hati setiap orang yang mendengar. Sebagian besar tembang gubahan Soetedja diciptakan semasa berada di Jakarta. Dia juga menghidupkan Orkes Melati yang kerap tampil di RRI Jakarta, atau bermain di sebuah klub bernama Wisma Nusantara, pojok Istana Negara serta memimpin korps musik Angkatan Udara Republik Indonesia.

Sayangnya, R Soetedja wafat pada 12 April 1960 dan dimakamkan di TPU Karet Jakarta. Penerima penghargaan bidang kesenian pada masa Gubernur Jakarta Ali Sadikin ini meninggalkan seorang istri dan sembilan putra. Meninggal di usia relatif muda dan lemahnya dokumentasi karya, membuat lagu-lagu R Soetedja kurang begitu dikenal pada masa sekarang.

Setelah menempuh perjalanan jauh Purwokerto-Banjarnegara, tamasya bersama Soetedja ini haruslah dilengkapi dengan bersantai di kawasan Lembah Sungai Serayu. Menikmati senja di ketinggian Bukit Watumeja, Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen, ditemani kopi hangat dan mendengar sayup-sayup lagu "Ditepinya Sungai Serayu". (Nugroho Pandhu Sukmono)

Saturday, July 14, 2018

Suikerfabriek Bodjong dan Kalimanah

www.banjoemas.com
Pada tahun 1888 di afdeling Purbalingga (sekarang kabupaten) mulai dibangun perkebunan dengan nama Cultuur Maatschappij Poerbolinggo yang di dalamnya terdapat dua buah pabrik gula oleh McNeill & Company Semarang. McNeill & Company  merupakan perusahaan yang sudah sangat berpengalaman dalam berbisnis gula (pasir) dan perkebunan tebu. Pabrik gula pertama dibangun di desa Bojong (Bodjong) di distrik Purbalingga dengan nama pabrik gula Bojong (Sf. Bodjong). Kemudian pabrik gula kedua dibangun di desa Kalimanah distrik Purbalingga bernama pabrik gula Kalie Klawing (Sf. Kaliklawing/Sf Kalimanah).


banjoemas heritage

Peta sf Bojong dan sf Kalimanah (Kalie Klawing)


banjoemas heritage

Peta sf Bojong dan sf Kalimanah (Kalie Klawing)


McNeill & Company sebenarnya hanya pemilik dari seperempat saham, keseluruhan saham adalah f1000 yang dimiliki oleh McNeill & Co (f100), C.W. Baron Van Hecekeren (administratur Sf. Ardjowinangoen) (f50), Dr. E.H.L Ostermann (Administratur Sf. Djeroekwangi/Bandjaran (Pemilik hak tanah sewa)(f50), J.M. Pijnacker Hordijk (f50), W.B. van Groenou (f28), D.W.F. Maxwell (Pemilik sebagian tanah dan infestasi mesin-mesin) (f27), C.L.F. Monod de Froideville (f25), D.D. Fraser (f25), F.J.H. Soesman (f15) dan f10 lainnya adalah Mirandolle dan VoĆ¼tc & Co

Cultuur Maatschappij Poerbolinggo (Perusahaan perkebunan Purbalingga) membangun kedua pabrik ini dengan susah payah karena kedua lokasi pabrik ini masih merupakan wilayah pedalaman di sekitar tahun 1890an. Satu-satunya jalan tercepat yang bisa menghubungkan dengan pelabuhan Cilacap (Tjilatjap)  adalah menggunakan jalur transportasi air yaitu sungai Klawing dan sungai Serayu dan menyambung melalui Sungai Yasa (Sungai Buatan) di antara hilir sungai Serayu dan selat Donan. Dari itulah salah satu dari dari pabrik gula yang di bangun diberi nama pabrik gula Kali Klawing


Cultuur Maatschappij Poerbolinggo mengangkat administratur pertamanya adalah  J. Sayers dan karena alasan kesehatan pada tahun 1893 tuan Sayers hanya mau menjabat sebagai penasehat saja, bertepatan dengan diajukannya proposal penghapusan Cultuur Maatschappij Poerbolinggo karena saham sebagian besar sudah di kuasai oleh Cultuur Maatschappij Kalie Klawing dan posisi administratur kemudian digantikan oleh Hendrik Conrad Carel Fraissinet (H.C.C. Fraissenet) yang menjabat hingga pada tahun 1915. 

banjoemas heritage

Rumah administratur sf Bojong

Hendrik Conrad Carel Fraissinet menikah dengan Philippina Francina Deibert dan mempunyai satu anak perempuan bernama Lamberta Christina Fraissinet (18-11-1911 di Poerbolinggo dan meninggal 30-06-1965 di Gravenhage). Dan kemudian Lamberta Christina Fraissinet  menikah dengan Nicolaas Bessem; lahir pada 17-1-1902 di Bergen dekat Zoom, meninggal 18-12-1985 di Amersfoort dan mempunyai 3 anak yaitu  Nicolaas Dirk Bessem, Conradia Wilhelmina Bessem dan Herman Bessem.
banjoemas heritage
Bagian dalam pabrik gula Bojong

banjoemas heritage
Mesin pompa pabrik gula Bojong

banjoemas heritage
Ketel pemanas pabrik gula Bojong


Peralatan-peralatan berat yang di datangkan dari Eropa semua di kirimkan melalui jalur Air. Salah satu pemasok peralatan-peralatan pabrik juga merupakan pemilik modal kedua pabrik gula ini yaitu D.W.F. Maxwell. Dan karena kepemilikan saham di beberapa pabrik gula di Jawa sehingga pada tahun 1908 menjabat sebagai Dewan Sindikat perlindungan properti industri. 


Pabrik gula Bojong mulai beroprasi pada tahun 1891 dengan menggunakan aliran  sungai Gringsing untuk air bersihnya dan pembuangannya menggunakan aliran sungai Salak, namun di dalam kompleks pabrik terdapat beberapa sumur berukuran besar yang digunakan untuk menambah  kebutuhan air bersih pabrik. Sedangkan pabrik gula Kalimanah menggunakan aliran sungai Ponggawa untuk memenuhi kebutuhan air bersih pabriknya

Perkebunan Tebu Jaringan Rel Lorie
Perkebunan tebu pabrik gula Bojong meliputi Bancar, Penaruban, Kaligondang, Sempor, Jetis, Toyareka, Penambongan, Padamara, Kalimanah, Blater, Kedungwuluh, Grecol, Kembaran Kulon, Brobot, Bojongsari, Kutasari. Demikian juga jaringan rel lori tebu pabrik gula setelah menyebar hingga perkebunan-perkebunan. ini permanen dan Decauville (bongkar pasang) tersebar hingga mencapai perkebunan-perkebunan itu.



banjoemas heritage
Emplasemen bongkar muat tebu di selatan pabrik

banjoemas heritage
Jalur lori di wilayah Bancar dan Penaruban

banjoemas heritage
Jalur rel lori dari sf Bojong 

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Kalimanah

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Kedungwuluh

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Padamara

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Purbalingga Kulon -  Karang Sentul

banjoemas heritage
Peta tahun 1901



Beberapa tahun setelah beroperasi angka hutang perusahaan terus meningkat hingga perusahaan harus melunasi hutang dan bunganya senilai f 420.000. Hingga pada tahun 1894 perusahaan berinisiatif untuk mengganti anggaran biaya dengan menghapus separuh saham asli. Saham dari laba dikeluarkan untuk menggantikan saham biasa dan saham milik pendiri, dan kemudian diterbitkannya saham istimewa senilai f 1.200.000. Pada masa inilah kemudian pabrik gula Kalimanah di tutup dan menjadi Bodjong Cultuur Maatschappij

JARINGAN SERAJOEDAL STOOMTRAM MAATSCHAPIJ
Jaringan kereta uap lembah Serayu baru di bangun pada tahun 1889 dan di resmikan pada 1 Juli 1900, sembilan tahun setelah pabrik ini di bangun baru jaringan kereta api baru di resmikan. H.C.C Fraissinet adalah salah satu dari sekian administratur pabrik gula di Banyumas yang mengusulkan adanya SDS (Serajoedal Stoomtram Maatschapij), yang menghasilkan perjanjian antara pabrik dengan SDS antara tahun 1895 - 1940, dan dikaji ulang pada tahun 1906 dan 1908. 

Pabrik gula Bojong dengan bekas pabrik gula Kalimanah terhubung dengan sebuah jalur rel lori yang melewati yang melewati persawahan Toyareka dan persawahan Blater. Setelah penggabungan bekas pabrik gula Kalimanah hanya berfungsi sebagai gudang akhir sebelum gula di kirim melalui SDS. Rel SDS yang menghubungkan pabrik dengan SDS

banjoemas heritage
Peta SDS, Sf. Kalimanah dan sf Bojong


Perusahaan telah berkembang menjadi tiga kali lipat baik dilihat dari ukuran pabrik dan kapasitas produksinya. H.C.C. Fraissinet telah benar-benar bekerja dengan baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi gula.
H.C.C. Fraissenet menurut Locale Belangen, 16 September 1914 pada tahun tersebut menjadi anggota Dewan Perwakilan Banyumas. 
MASA MAILESE
Pabrik ini mengalami kesulitan pada masa krisis ekonomi dunia yang mulai dirasakan di Jawa pada tahun 1928, dan benar benar berhenti produksi pada tahun 1930. Setelah keadaan ekonomi mulai membaik pada tahun 1934 justru pabrik ini harus ditutup.

MASA PERANG KEMERDEKAAN

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945 dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Kedatangan Sekutu Amerika bersama dengan Belanda membuat Indonesia Baru bergejolak. Purbalingga pada masa itu adalah wilayah pergerakan Nasionalis (Pejuang Indonesia). Dikarenakan masih banyaknya orang-orang Belanda dan Eropa yang dilepaskan dari inernir Jepang yang tinggal di Purbalingga dan sekitarnya, maka para pejuang berinisiasi untuk menginternir mereka lagi karena ditakutkan akan menjadi antek dan bergabung dengan pasukan Belanda yang baru datang.

Lokasi bekas pabrik gula Bodjong yang sudah kosong semenjak tahun 1934 ini pada masa Jepang dijadikan interniran untuk warga Belanda dan  Eropa. Pada masa revolusi kemerdekaan pun kembali dijadikan interniran. Tanggal 8 Desember 1945 orang-orang Belanda dan Eropa laki-laki dan anak laki-laki yang sebelumnya di Internir di Purwokerto dipindahkan ke bekas pabrik gula Bojong. Bangunan yang dijadikan interniran awalnya hanya menggunakan tiga bangunan pabrik yang sudah kosong yaitu blok A, B dan C. Namun karena banyaknya penghuni maka pada awal Februari 1946 di buka lagi satu gedung yang lokasinya berada di sebelah barat pabrik untuk dijadikan blok D. 


Interniran yang berkapasitas 350 orang ini kondisinya sangat buruk meskipun ditunjuk seorang dokter untuk mengelola yaitu Dr A.C. Zwaan, karena memang tidak ada biaya dan persediaan yang dialokasikan pemerintah. Penghuni pada awalnya hanya tidur di lantai tanpa alas, namun kemudian disediakan kayu-kayu untuk alas tidur. Bekas pabrik ini juga tidak tersedia listrik dari EMB (Electric Maatschapij banjoemas), persediaan makanan yang buruk dan keran air hanya terdapat satu. Interniran ini juga tidak disediakan perawatan medis dan obat-obatan, hanya penghuni yang mengidap penyakit parah yang dibawa ke rumah sakit Zending Trenggiling. Selama interniran ini beroprasi terdapat 4 orang yang meninggal karena malaria. 29 Maret 1946 interniran ini di evakuasi ke interniran yang lebih baik yaitu di bekas pabrik gula Klampok (Sf. Klampok)


Beberapa foto yang berhasi di himpun dari internet terkait orang yang pernah tinggal di pabrik gula Bojong
banjoemas heritage

Foto Nicolaas Lawrence dan Jansje pada tahun 1915

banjoemas heritage
Lucien dan Jet jr pada tahun 1922

banjoemas heritage
Helen R en Nico pada tahun1914



Beberapa orang Belanda dan Eropa yang pernah menjadi karyawan di pabrik gula Bojong yang berhasil di himpun penulis ;

  • Willem Karel Alfred Versteegh (lahir di Perkebunan Soember Tempur Rejo, 5 Maret 1897)
  • Johan Gerard van Rossum (lahir 7 Desember 1878 di Arnhem - Meninggal 2 April 1939 di  Beausoleil, Alpes Maritimes, usia 60 tahun)
  • C. J. Cutler bekerja sebagai masinis lokomotif lori.
  • H. Cordes, 
  • L. Faber
  • C. Kempf
  • G. Zacher
  • Helen R


Daftar pustaka ; hubungi penulis jatmikow@banjoemas.com



Monday, January 8, 2018

Gedung Karesidenan Banyumas Sekarang


Setelah kalahnya pasukan Belanda dari revolusi kemerdekaan, bangunan-bangunan yang pernah dikuasai oleh militer Belanda akhirnya dikuasai oleh TNI, juga termasuk bekas gedung karesidenan Banyumas, dikuasai oleh Komando Distrik Militer 07/01 Banyumas.

Gedung bekas karesidenan Banyumas pada saat sekarang secara fisik beberapa bagian telah banyak berubah dari bentuk aslinya, hanya beberapa bagian saja masih terlihat sama. Kompeks ini telah penuh dengan gedung baru yang rata-rata merupakan bagian dari ruang-ruang kelas. Kompleks gedung Karesidenan sekarang telah dibagi menjadi dua bagian dan dua institusi pengelolaan yang berbeda yaitu SMKN 1 Banyumas dibawah Kemendikbud dan Pondok Pesantren Miftahussalam dibawah Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI). 

banjoemas heritage
Overlay peta lama dengan peta Google
sumber pusat Arsip BHHC

banjoemas heritage
Batas-batas pengelolaan tanah dan bangunan ex. Karesidenan Banyumas


Pada tanggal 6 April 1968, melalui surat bernomor No. 232-11- 5968 Kepala dinas Pendidikan Ekonomi mengusulkan untuk di bangunnya Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas ( SMEA ) Negeri di Banyumas. Dan kemudian pada tanggal 1 Januari 1968 SMEA ini dibuka melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan Surat Keputusan  No. 133/UKK.3/1968 dengan menempati gedung bekas karesidenan Banyumas bagian tengah hingga sayap sebelah barat (gedung Landraat/ pengadilan). 


Pada tanggal 17 Januari 1976 sayap bagian timur (seluas 1.496 m2) di serahkan kepada Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) Cabang Banyumas  yang diketuai oleh K.H Syamsuri Ridwan untuk dijadikan Pondok Pesantren Pendidikan Islam Banyumas Miftahussalam. Pondok pesantren ini didirikan oleh H.O.S. Notosuwiryo (Pensiunan Pegawai Jawatan Agama Kabupaten Banyumas). 

Kondisi terakhir 

Untuk pertama kali penulis mengunjungi bekas bangunan Kediaman Residen Banyumas pada tanggal 22 Oktober 2012, setelah banyak bertanya ternyata lokasinya berada di SMKN 1 Banyumas, orang awam pun pasti akan terkecoh dengan penampilan luarnya, siapa sangka di lingkungan SMKN 1 terdapat bangunan yang sangat bersejarah bagi kesejarahan kabupaten Banyumas dan 3 kabupaten lain (Kab. Purbalingga, kab. Cilacap dan kab. Banjarnegara). Bahkan keadaan sekarang untuk dapat melihat secara utuh bangunan harus mengunjungi dua tempat yaitu SMKN 1 Banyumas dan Pondok Pesantren Miftahussalam. 

Seiring berkembangnya kedua institusi menjadi sekolah dengan siswa yang semakin meningkat akan kebutuhan akan kelas dan fasilitas setiap tahunnya beberapa bangunan kelas baru dibangun di halaman bekas gedung Karsidenan, sehingga secara pelan tapi pasti bangunan baru akan menutupi bangunan lama Karsidenan. Ini menjadi permasalahan sendiri untuk keberlangsungan sebuah gedung bersejarah yang di khawatirkan akan semakin melunturkan ingatan sejarah mengenai fungsi dan keberadaan bangunan gedung karesidenan Banyumas ini. 


banjoemas heritage

Bekas aula gedung Karesidenan yang telah berubah bentuk

banjoemas heritage

Bekas aula gedung Karesidenan dengan sket rekonstruksi

banjoemas heritage

Pilar-pilar yang berjumlah 12 hanya menyisakan 4 pilar terpotong

banjoemas heritage
Pintu utama yang masih terlihat sama 

banjoemas heritage
Gerbang dalam sayap timur yang berbatasan 
dengan wilayah pondok pesantren

banjoemas heritage
Gerbang dalam sayap timur yang berbatasan 
dengan wilayah pondok pesantren dua tahun kemudian 


banjoemas heritage
Gedung sayap barat yang dulunya merupakan pengadilan (Landraad

banjoemas heritage
Pemandangan dari dalam ruang guru (Landraad

banjoemas heritage
Lorong-lorong di belakang dan samping gedung Landraad dan ruang guru SMKN 1 

Bangunan utama kediaman Residen Banyumas yang dahulunya merupakan tempat untuk menjamu tamu-tamu, sekarang digunakan sebagai  ruang serbaguna SMK, bagian depan gedung (fasade) sudah berubah 95% menyisakan 4 buah pilar terpotong dari jumlah 12 pilar yang pernah ada. Gedung Landraad atau pengadilan masih utuh dan digunakan sebagai ruang guru dan lobi meski sebuah bangunan baru (Masjid dan tempat parkir) dibangun tepat di depan gedung.

banjoemas heritage
Gedung kantor Ponpes dari arah Timur 

banjoemas heritage
Gedung sayap Timur yang sekarang di gunakan sebagai asrama Ponpes 

banjoemas heritage
Rumah pimpinan Ponpes


banjoemas heritage
Gerbang sayap timur 


banjoemas heritage
Gedung kantor Residen yang beralih fungsi sebagai Asrama Ponpes 


banjoemas heritage
Beberapa sudut Ponpes 

Bangunan sayap timur dan kantor residen masih utuh 80% dengan penambahan dan renovasi untuk kantor Pondok Pesantren Miftahussalam. Prasasti Garis batas mbanjir yang pernah terjadi pada tanggal 21 hingga 23 Februari 1861 masih terpasang disana dengan jelas di bekas gedung kantor residen. Beberapa bentukan pagar yang menyatukan tiga bangunan juga beberapa masih terlihat dengan jelas di Pondok Pesantren Miftahussalam. Bangunan-bangunan bangunan pendukung lainnya seperti bangunan dapur sepertinya sudah tidak nampak lagi. 


Bangunan ini tercatat dalam daftar inventaris Cagar Budaya kabupaten Banyumas no 11-02/Bas/42/TB/04 dan telah mendapatkan surat proses SK penetapan bernomor 399/101.SP/BP3/P-VIII/2010


Bangunan kediaman Residen Banyumas yang dialih fungsikan sebagai Sekolah adalah salah satu dari akibat dari penggabungan kabupaten dan perpindahan pusat kota ke Purwokerto,  kota Banyumas tidak lagi dibangun seperti Purwokerto. Dan kota Banyumas juga tidak mempunyai sekolah lanjutan yang di prakarsai Hindia Belanda seperti di kota Purwokerto. Sehingga beberapa sekolah lanjutan yang mulai berdiri pada tahun 60-an secara terpaksa menggunakan bekas bangunan Belanda yang tidak sesuai dengan peruntukannya seperti Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Karesidenan Banyumas, Sekolah Menengah kejuruan Negeri 3 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Affdeling Bank dan bekas gedung Kawedanan Banyumas, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Holland Inlander School dan melebar ke bekas gedung Kazerne Gebown Politie yang pernah juga dipakai sebagai gedung perpustakaan pribumi dan yang paling parah adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banyumas yang membangun gedung sekolahnya diatas gusuran bekas kerkhof (kuburan orang-orang eropa dan militer Belanda) dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Banyumas yang membangun gedung sekolahnya dengan menghancurkan gedung bekas Sociteit Harmonie.  


Penggunaan gedung yang tidak sesuai dengan peruntukannya menyebabkan bangunan dipaksa menyesuaikan dengan kebutuhan dan keperluan pemakai. Bangunan peninggalan Hindia Belanda sangat dikenal dengan perencanaan yang matang untuk bangunan bangunannya oleh insinyur terbaiknya, sehingga sebuah gedung akan sangat sesuai dengan kebutuhan dan keperuntukannya. Ketika sebuah gedung bekas Hindia Belanda bukan gedung sekolah dipaksa menjadi gedung sekolah maka yang terjadi akan banyak perombakan total, ruangan-ruangan kecil dipaksa menjadi ruangan kelas dan ruangan sangat besar di kepras menjadi ruangan-ruangan kelas. Sehingga kasus perusakan bangunan warisan budaya yang "dipakai" menjadi sekolah kota Banyumas menjadi sangat dominan. 

Sumber: 
http://www.hujroh.com
http://www.smkn1bms.sch.id