Saturday, July 14, 2018

Suikerfabriek Bodjong dan Kalimanah

www.banjoemas.com
Pada tahun 1888 di afdeling Purbalingga (sekarang kabupaten) mulai dibangun perkebunan dengan nama Cultuur Maatschappij Poerbolinggo yang di dalamnya terdapat dua buah pabrik gula oleh McNeill & Company Semarang. McNeill & Company  merupakan perusahaan yang sudah sangat berpengalaman dalam berbisnis gula (pasir) dan perkebunan tebu. Pabrik gula pertama dibangun di desa Bojong (Bodjong) di distrik Purbalingga dengan nama pabrik gula Bojong (Sf. Bodjong). Kemudian pabrik gula kedua dibangun di desa Kalimanah distrik Purbalingga bernama pabrik gula Kalie Klawing (Sf. Kaliklawing/Sf Kalimanah).


banjoemas heritage

Peta sf Bojong dan sf Kalimanah (Kalie Klawing)


banjoemas heritage

Peta sf Bojong dan sf Kalimanah (Kalie Klawing)


McNeill & Company sebenarnya hanya pemilik dari seperempat saham, keseluruhan saham adalah f1000 yang dimiliki oleh McNeill & Co (f100), C.W. Baron Van Hecekeren (administratur Sf. Ardjowinangoen) (f50), Dr. E.H.L Ostermann (Administratur Sf. Djeroekwangi/Bandjaran (Pemilik hak tanah sewa)(f50), J.M. Pijnacker Hordijk (f50), W.B. van Groenou (f28), D.W.F. Maxwell (Pemilik sebagian tanah dan infestasi mesin-mesin) (f27), C.L.F. Monod de Froideville (f25), D.D. Fraser (f25), F.J.H. Soesman (f15) dan f10 lainnya adalah Mirandolle dan Voütc & Co

Cultuur Maatschappij Poerbolinggo (Perusahaan perkebunan Purbalingga) membangun kedua pabrik ini dengan susah payah karena kedua lokasi pabrik ini masih merupakan wilayah pedalaman di sekitar tahun 1890an. Satu-satunya jalan tercepat yang bisa menghubungkan dengan pelabuhan Cilacap (Tjilatjap)  adalah menggunakan jalur transportasi air yaitu sungai Klawing dan sungai Serayu dan menyambung melalui Sungai Yasa (Sungai Buatan) di antara hilir sungai Serayu dan selat Donan. Dari itulah salah satu dari dari pabrik gula yang di bangun diberi nama pabrik gula Kali Klawing


Cultuur Maatschappij Poerbolinggo mengangkat administratur pertamanya adalah  J. Sayers dan karena alasan kesehatan pada tahun 1893 tuan Sayers hanya mau menjabat sebagai penasehat saja, bertepatan dengan diajukannya proposal penghapusan Cultuur Maatschappij Poerbolinggo karena saham sebagian besar sudah di kuasai oleh Cultuur Maatschappij Kalie Klawing dan posisi administratur kemudian digantikan oleh Hendrik Conrad Carel Fraissinet (H.C.C. Fraissenet) yang menjabat hingga pada tahun 1915. 

banjoemas heritage

Rumah administratur sf Bojong

Hendrik Conrad Carel Fraissinet menikah dengan Philippina Francina Deibert dan mempunyai satu anak perempuan bernama Lamberta Christina Fraissinet (18-11-1911 di Poerbolinggo dan meninggal 30-06-1965 di Gravenhage). Dan kemudian Lamberta Christina Fraissinet  menikah dengan Nicolaas Bessem; lahir pada 17-1-1902 di Bergen dekat Zoom, meninggal 18-12-1985 di Amersfoort dan mempunyai 3 anak yaitu  Nicolaas Dirk Bessem, Conradia Wilhelmina Bessem dan Herman Bessem.
banjoemas heritage
Bagian dalam pabrik gula Bojong

banjoemas heritage
Mesin pompa pabrik gula Bojong

banjoemas heritage
Ketel pemanas pabrik gula Bojong


Peralatan-peralatan berat yang di datangkan dari Eropa semua di kirimkan melalui jalur Air. Salah satu pemasok peralatan-peralatan pabrik juga merupakan pemilik modal kedua pabrik gula ini yaitu D.W.F. Maxwell. Dan karena kepemilikan saham di beberapa pabrik gula di Jawa sehingga pada tahun 1908 menjabat sebagai Dewan Sindikat perlindungan properti industri. 


Pabrik gula Bojong mulai beroprasi pada tahun 1891 dengan menggunakan aliran  sungai Gringsing untuk air bersihnya dan pembuangannya menggunakan aliran sungai Salak, namun di dalam kompleks pabrik terdapat beberapa sumur berukuran besar yang digunakan untuk menambah  kebutuhan air bersih pabrik. Sedangkan pabrik gula Kalimanah menggunakan aliran sungai Ponggawa untuk memenuhi kebutuhan air bersih pabriknya

Perkebunan Tebu Jaringan Rel Lorie
Perkebunan tebu pabrik gula Bojong meliputi Bancar, Penaruban, Kaligondang, Sempor, Jetis, Toyareka, Penambongan, Padamara, Kalimanah, Blater, Kedungwuluh, Grecol, Kembaran Kulon, Brobot, Bojongsari, Kutasari. Demikian juga jaringan rel lori tebu pabrik gula setelah menyebar hingga perkebunan-perkebunan. ini permanen dan Decauville (bongkar pasang) tersebar hingga mencapai perkebunan-perkebunan itu.



banjoemas heritage
Emplasemen bongkar muat tebu di selatan pabrik

banjoemas heritage
Jalur lori di wilayah Bancar dan Penaruban

banjoemas heritage
Jalur rel lori dari sf Bojong 

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Kalimanah

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Kedungwuluh

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Padamara

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Purbalingga Kulon -  Karang Sentul

banjoemas heritage
Peta tahun 1901



Beberapa tahun setelah beroperasi angka hutang perusahaan terus meningkat hingga perusahaan harus melunasi hutang dan bunganya senilai f 420.000. Hingga pada tahun 1894 perusahaan berinisiatif untuk mengganti anggaran biaya dengan menghapus separuh saham asli. Saham dari laba dikeluarkan untuk menggantikan saham biasa dan saham milik pendiri, dan kemudian diterbitkannya saham istimewa senilai f 1.200.000. Pada masa inilah kemudian pabrik gula Kalimanah di tutup dan menjadi Bodjong Cultuur Maatschappij

JARINGAN SERAJOEDAL STOOMTRAM MAATSCHAPIJ
Jaringan kereta uap lembah Serayu baru di bangun pada tahun 1889 dan di resmikan pada 1 Juli 1900, sembilan tahun setelah pabrik ini di bangun baru jaringan kereta api baru di resmikan. H.C.C Fraissinet adalah salah satu dari sekian administratur pabrik gula di Banyumas yang mengusulkan adanya SDS (Serajoedal Stoomtram Maatschapij), yang menghasilkan perjanjian antara pabrik dengan SDS antara tahun 1895 - 1940, dan dikaji ulang pada tahun 1906 dan 1908. 

Pabrik gula Bojong dengan bekas pabrik gula Kalimanah terhubung dengan sebuah jalur rel lori yang melewati yang melewati persawahan Toyareka dan persawahan Blater. Setelah penggabungan bekas pabrik gula Kalimanah hanya berfungsi sebagai gudang akhir sebelum gula di kirim melalui SDS. Rel SDS yang menghubungkan pabrik dengan SDS

banjoemas heritage
Peta SDS, Sf. Kalimanah dan sf Bojong


Perusahaan telah berkembang menjadi tiga kali lipat baik dilihat dari ukuran pabrik dan kapasitas produksinya. H.C.C. Fraissinet telah benar-benar bekerja dengan baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi gula.
H.C.C. Fraissenet menurut Locale Belangen, 16 September 1914 pada tahun tersebut menjadi anggota Dewan Perwakilan Banyumas. 
MASA MAILESE
Pabrik ini mengalami kesulitan pada masa krisis ekonomi dunia yang mulai dirasakan di Jawa pada tahun 1928, dan benar benar berhenti produksi pada tahun 1930. Setelah keadaan ekonomi mulai membaik pada tahun 1934 justru pabrik ini harus ditutup.

MASA PERANG KEMERDEKAAN

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945 dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Kedatangan Sekutu Amerika bersama dengan Belanda membuat Indonesia Baru bergejolak. Purbalingga pada masa itu adalah wilayah pergerakan Nasionalis (Pejuang Indonesia). Dikarenakan masih banyaknya orang-orang Belanda dan Eropa yang dilepaskan dari inernir Jepang yang tinggal di Purbalingga dan sekitarnya, maka para pejuang berinisiasi untuk menginternir mereka lagi karena ditakutkan akan menjadi antek dan bergabung dengan pasukan Belanda yang baru datang.

Lokasi bekas pabrik gula Bodjong yang sudah kosong semenjak tahun 1934 ini pada masa Jepang dijadikan interniran untuk warga Belanda dan  Eropa. Pada masa revolusi kemerdekaan pun kembali dijadikan interniran. Tanggal 8 Desember 1945 orang-orang Belanda dan Eropa laki-laki dan anak laki-laki yang sebelumnya di Internir di Purwokerto dipindahkan ke bekas pabrik gula Bojong. Bangunan yang dijadikan interniran awalnya hanya menggunakan tiga bangunan pabrik yang sudah kosong yaitu blok A, B dan C. Namun karena banyaknya penghuni maka pada awal Februari 1946 di buka lagi satu gedung yang lokasinya berada di sebelah barat pabrik untuk dijadikan blok D. 


Interniran yang berkapasitas 350 orang ini kondisinya sangat buruk meskipun ditunjuk seorang dokter untuk mengelola yaitu Dr A.C. Zwaan, karena memang tidak ada biaya dan persediaan yang dialokasikan pemerintah. Penghuni pada awalnya hanya tidur di lantai tanpa alas, namun kemudian disediakan kayu-kayu untuk alas tidur. Bekas pabrik ini juga tidak tersedia listrik dari EMB (Electric Maatschapij banjoemas), persediaan makanan yang buruk dan keran air hanya terdapat satu. Interniran ini juga tidak disediakan perawatan medis dan obat-obatan, hanya penghuni yang mengidap penyakit parah yang dibawa ke rumah sakit Zending Trenggiling. Selama interniran ini beroprasi terdapat 4 orang yang meninggal karena malaria. 29 Maret 1946 interniran ini di evakuasi ke interniran yang lebih baik yaitu di bekas pabrik gula Klampok (Sf. Klampok)


Beberapa foto yang berhasi di himpun dari internet terkait orang yang pernah tinggal di pabrik gula Bojong
banjoemas heritage

Foto Nicolaas Lawrence dan Jansje pada tahun 1915

banjoemas heritage
Lucien dan Jet jr pada tahun 1922

banjoemas heritage
Helen R en Nico pada tahun1914



Beberapa orang Belanda dan Eropa yang pernah menjadi karyawan di pabrik gula Bojong yang berhasil di himpun penulis ;

  • Willem Karel Alfred Versteegh (lahir di Perkebunan Soember Tempur Rejo, 5 Maret 1897)
  • Johan Gerard van Rossum (lahir 7 Desember 1878 di Arnhem - Meninggal 2 April 1939 di  Beausoleil, Alpes Maritimes, usia 60 tahun)
  • C. J. Cutler bekerja sebagai masinis lokomotif lori.
  • H. Cordes, 
  • L. Faber
  • C. Kempf
  • G. Zacher
  • Helen R


Daftar pustaka ; hubungi penulis jatmikow@banjoemas.com



Monday, January 8, 2018

Gedung Karesidenan Banyumas Sekarang


Setelah kalahnya pasukan Belanda dari revolusi kemerdekaan, bangunan-bangunan yang pernah dikuasai oleh militer Belanda akhirnya dikuasai oleh TNI, juga termasuk bekas gedung karesidenan Banyumas, dikuasai oleh Komando Distrik Militer 07/01 Banyumas.

Gedung bekas karesidenan Banyumas pada saat sekarang secara fisik beberapa bagian telah banyak berubah dari bentuk aslinya, hanya beberapa bagian saja masih terlihat sama. Kompeks ini telah penuh dengan gedung baru yang rata-rata merupakan bagian dari ruang-ruang kelas. Kompleks gedung Karesidenan sekarang telah dibagi menjadi dua bagian dan dua institusi pengelolaan yang berbeda yaitu SMKN 1 Banyumas dibawah Kemendikbud dan Pondok Pesantren Miftahussalam dibawah Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI). 

banjoemas heritage
Overlay peta lama dengan peta Google
sumber pusat Arsip BHHC

banjoemas heritage
Batas-batas pengelolaan tanah dan bangunan ex. Karesidenan Banyumas


Pada tanggal 6 April 1968, melalui surat bernomor No. 232-11- 5968 Kepala dinas Pendidikan Ekonomi mengusulkan untuk di bangunnya Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas ( SMEA ) Negeri di Banyumas. Dan kemudian pada tanggal 1 Januari 1968 SMEA ini dibuka melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan Surat Keputusan  No. 133/UKK.3/1968 dengan menempati gedung bekas karesidenan Banyumas bagian tengah hingga sayap sebelah barat (gedung Landraat/ pengadilan). 


Pada tanggal 17 Januari 1976 sayap bagian timur (seluas 1.496 m2) di serahkan kepada Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) Cabang Banyumas  yang diketuai oleh K.H Syamsuri Ridwan untuk dijadikan Pondok Pesantren Pendidikan Islam Banyumas Miftahussalam. Pondok pesantren ini didirikan oleh H.O.S. Notosuwiryo (Pensiunan Pegawai Jawatan Agama Kabupaten Banyumas). 

Kondisi terakhir 

Untuk pertama kali penulis mengunjungi bekas bangunan Kediaman Residen Banyumas pada tanggal 22 Oktober 2012, setelah banyak bertanya ternyata lokasinya berada di SMKN 1 Banyumas, orang awam pun pasti akan terkecoh dengan penampilan luarnya, siapa sangka di lingkungan SMKN 1 terdapat bangunan yang sangat bersejarah bagi kesejarahan kabupaten Banyumas dan 3 kabupaten lain (Kab. Purbalingga, kab. Cilacap dan kab. Banjarnegara). Bahkan keadaan sekarang untuk dapat melihat secara utuh bangunan harus mengunjungi dua tempat yaitu SMKN 1 Banyumas dan Pondok Pesantren Miftahussalam. 

Seiring berkembangnya kedua institusi menjadi sekolah dengan siswa yang semakin meningkat akan kebutuhan akan kelas dan fasilitas setiap tahunnya beberapa bangunan kelas baru dibangun di halaman bekas gedung Karsidenan, sehingga secara pelan tapi pasti bangunan baru akan menutupi bangunan lama Karsidenan. Ini menjadi permasalahan sendiri untuk keberlangsungan sebuah gedung bersejarah yang di khawatirkan akan semakin melunturkan ingatan sejarah mengenai fungsi dan keberadaan bangunan gedung karesidenan Banyumas ini. 


banjoemas heritage

Bekas aula gedung Karesidenan yang telah berubah bentuk

banjoemas heritage

Bekas aula gedung Karesidenan dengan sket rekonstruksi

banjoemas heritage

Pilar-pilar yang berjumlah 12 hanya menyisakan 4 pilar terpotong

banjoemas heritage
Pintu utama yang masih terlihat sama 

banjoemas heritage
Gerbang dalam sayap timur yang berbatasan 
dengan wilayah pondok pesantren

banjoemas heritage
Gerbang dalam sayap timur yang berbatasan 
dengan wilayah pondok pesantren dua tahun kemudian 


banjoemas heritage
Gedung sayap barat yang dulunya merupakan pengadilan (Landraad

banjoemas heritage
Pemandangan dari dalam ruang guru (Landraad

banjoemas heritage
Lorong-lorong di belakang dan samping gedung Landraad dan ruang guru SMKN 1 

Bangunan utama kediaman Residen Banyumas yang dahulunya merupakan tempat untuk menjamu tamu-tamu, sekarang digunakan sebagai  ruang serbaguna SMK, bagian depan gedung (fasade) sudah berubah 95% menyisakan 4 buah pilar terpotong dari jumlah 12 pilar yang pernah ada. Gedung Landraad atau pengadilan masih utuh dan digunakan sebagai ruang guru dan lobi meski sebuah bangunan baru (Masjid dan tempat parkir) dibangun tepat di depan gedung.

banjoemas heritage
Gedung kantor Ponpes dari arah Timur 

banjoemas heritage
Gedung sayap Timur yang sekarang di gunakan sebagai asrama Ponpes 

banjoemas heritage
Rumah pimpinan Ponpes


banjoemas heritage
Gerbang sayap timur 


banjoemas heritage
Gedung kantor Residen yang beralih fungsi sebagai Asrama Ponpes 


banjoemas heritage
Beberapa sudut Ponpes 

Bangunan sayap timur dan kantor residen masih utuh 80% dengan penambahan dan renovasi untuk kantor Pondok Pesantren Miftahussalam. Prasasti Garis batas mbanjir yang pernah terjadi pada tanggal 21 hingga 23 Februari 1861 masih terpasang disana dengan jelas di bekas gedung kantor residen. Beberapa bentukan pagar yang menyatukan tiga bangunan juga beberapa masih terlihat dengan jelas di Pondok Pesantren Miftahussalam. Bangunan-bangunan bangunan pendukung lainnya seperti bangunan dapur sepertinya sudah tidak nampak lagi. 


Bangunan ini tercatat dalam daftar inventaris Cagar Budaya kabupaten Banyumas no 11-02/Bas/42/TB/04 dan telah mendapatkan surat proses SK penetapan bernomor 399/101.SP/BP3/P-VIII/2010


Bangunan kediaman Residen Banyumas yang dialih fungsikan sebagai Sekolah adalah salah satu dari akibat dari penggabungan kabupaten dan perpindahan pusat kota ke Purwokerto,  kota Banyumas tidak lagi dibangun seperti Purwokerto. Dan kota Banyumas juga tidak mempunyai sekolah lanjutan yang di prakarsai Hindia Belanda seperti di kota Purwokerto. Sehingga beberapa sekolah lanjutan yang mulai berdiri pada tahun 60-an secara terpaksa menggunakan bekas bangunan Belanda yang tidak sesuai dengan peruntukannya seperti Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Karesidenan Banyumas, Sekolah Menengah kejuruan Negeri 3 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Affdeling Bank dan bekas gedung Kawedanan Banyumas, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Holland Inlander School dan melebar ke bekas gedung Kazerne Gebown Politie yang pernah juga dipakai sebagai gedung perpustakaan pribumi dan yang paling parah adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banyumas yang membangun gedung sekolahnya diatas gusuran bekas kerkhof (kuburan orang-orang eropa dan militer Belanda) dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Banyumas yang membangun gedung sekolahnya dengan menghancurkan gedung bekas Sociteit Harmonie.  


Penggunaan gedung yang tidak sesuai dengan peruntukannya menyebabkan bangunan dipaksa menyesuaikan dengan kebutuhan dan keperluan pemakai. Bangunan peninggalan Hindia Belanda sangat dikenal dengan perencanaan yang matang untuk bangunan bangunannya oleh insinyur terbaiknya, sehingga sebuah gedung akan sangat sesuai dengan kebutuhan dan keperuntukannya. Ketika sebuah gedung bekas Hindia Belanda bukan gedung sekolah dipaksa menjadi gedung sekolah maka yang terjadi akan banyak perombakan total, ruangan-ruangan kecil dipaksa menjadi ruangan kelas dan ruangan sangat besar di kepras menjadi ruangan-ruangan kelas. Sehingga kasus perusakan bangunan warisan budaya yang "dipakai" menjadi sekolah kota Banyumas menjadi sangat dominan. 

Sumber: 
http://www.hujroh.com
http://www.smkn1bms.sch.id

Saturday, January 6, 2018

Gedung Karesidenan Banyumas


Jatuhnya wilayah Banyumasan ke tangan Hindia Belanda pada tahun 1830, kota Banyumas pada saat itu masih merupakan daerah pedalaman yang susah dijangkau dan jauh dari kota  besar seperti Djogjakarta (Yogyakarta), Samarang (Semarang), Salatiga dan lain-lain. Dua jalan yang dipakai oleh masyarakat pada saat itu adalah jalan darat yang berupa jalan setapak dan jalur transportasi air (sungai).

Kota Banyumas sebagai pusat kadipaten Banyumas sebelumnya, dan merupakan pusat kebudayaan Banyumas secara langsung dijadikan ibukota karesidenan Banyumas dan ibukota kabupaten Banyumas bentukan Hindia Belanda. Sehingga kota Banyumas mulai berbenah dan mulai membangun beberapa bangunan gedung penting diantaranya adalah gedung Sotitet "Harmonie", kantor pos dan telegram, penjara, kantor telepon, gedung sekolah bagi warga Eropa dan Pribumi, gedung pemadam kebakaran, kantor pengairan, kantor pekerjaan umum, bangunan-bangunan penjagaan dan yang lebih penting dari itu adalah bangunan Karesidenan.

banjoemas.com
Peta kota Banyumas
sumber Pusat Arsip BHHC

banjoemas.com
Gedung tempat tinggal Residen Banyumas tahun 1905
sumber tropenmuseum.nl

banjoemas.com
Peta kota Banyumas
sumber Pusat Arsip BHHC

banjoemas.com
Gambar rekonstruksi 3d gedung karesidenan Banyumas
kreatif oleh Jatmiko Wicaksono

banjoemas.com
Gambar rekonstruksi 3d gedung karesidenan Banyumas
kreatif oleh Jatmiko Wicaksono

Gedung Karesidenan Banyumas dibangun dan diresmikan pada tahun 1843 pada masa residen P.J. Overhand. Bangunan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan proyek besar pertama Banyumas sejak 12 tahun setelah dikuasainya wilayah Banyumas oleh pemerintah Hindia Belanda dari kekuasaan Surakarta. Proyek besar itu diantaranya membangun infrastruktur berupa jalan (postweg) antara Banyumas - Buntu dan Gombong - Rawalo. Kantor keuangan (Landkas) dibangun selalu tidak jauh dari kantor residen atau asisten residen yaitu di seberang jalan sebelah timur dari gedung Karesidenan.


Tiga residen sebelumnya yang menjabat selama 12 tahun yaitu1830 - 1835 J. E. de Sturler1835 1838 G. de Serière1838 1843 L. Launij Selama sebelum dibangunnya gedung residen, ketiga residen ini tinggal di Pasanggrahan kota Banyumas (arah tenggara kota)

Bangunan gedung Karesidenan Banyumas bergaya Indisch Empire, megah sehingga terkesan gagah dimata pribumi teretak di sebelah selatan kota Banyumas, lurus sekitar 1 kilometer menghadap utara agar saling berhadapan dengan kompleks pendopo Kabupaten, sehingga pengawasan terhadap penguasa pribumi (Bupati) dapat diawasi dari karesidenan. Jabatan Asisten Residen tidak ada di kabupaten Banyumas karena Residen tinggal di kota Banyumas dan dianggap mampu mengawasi bupati dan kabupaten lain diwilayahnya.

banjoemas.com
Gedung tempat tinggal Residen Banyumas tahun 1905
dengan pohon-pohon kenari yang rindang
sumber tropenmuseum.nl

banjoemas.com
Gedung tempat tinggal Residen Banyumas antara tahun 1921 -1933
sumber tropenmuseum.nl

Sepanjang jalan antara gedung Karesidenan dengan alun-alun adalah jalan yang lebar dan ditanam berjajar tanaman kenari, hingga jalan ini pernah berjuluk sebagai jalan kenari (Kenarielaan).

Pada tanggal 1 Januari 1924 pemerintah Hindia Belanda mebangun Juliana Burgerziekenhais atau rumah sakit Juliana tepat di sebelah barat kompleks bangunan kantor Residen dengan kapasitas 110 tempat tidur. Rumah sakit ini adalah rumah sakit kedua setelah rumah sakit Zending Trenggiling di Purbalingga. 


banjoemas.com
Foto bersama pegawai pemerintah, pegawai Belanda dengan residen JJ van Helsdingen 
31 Agustus 1929 pada peringatan Ratu Belanda
sumber tropenmuseum.nl

Ketertinggalan dalam pembangunan dan prasarana kota mulai dirasakan pada masa pembangunan jalur kereta Serajoedal Stoomtram Maatschapij yang menghubungkan Maos (SS) dengan kota Purwokerto dan Sokaraja pada tahun 1896. Bahkan sejak itu residen Banyumas yang sedang menjabat J. Mullemeister sudah mengusulkan kepada gubernur namun dianggap belum mempunyai alasan yang tepat.

Masa mailese (krisis ekonomi dunia) yang juga melanda Banyumas mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi Hindia Belanda, dikarenakan barang-barang eksploitasi dari wilayah Jajahan Hindia Belanda tidak lagi bisa di eksport dan di jual ke Eropa. Menyebabkan pemerintah Hindia Belanda juga harus berhemat banyak. Kebetulan bahwa bupati terakhir kabupaten Purwokerto R.A.A. Cakraadisurya (1924-1935) tidak mempunyai keturunan sehingga terjadi kekosongan jabatan bupati Purwokerto selama 2 tahun. Kemudian Residen J. Ruys dan bupati Banyumas R. Adipati Sudjiman Mertasubrata Gandasubrata memutuskan untuk menggabungkan wilayah kabupaten Purwokerto dengan kabupaten Banyumas. Yang kemudian mengakibatkan pindahnya pendopo Sipanji ke Purwokerto pada tahun 1937 menggantikan pendopo lama di Purwokerto, karena ibukota kabupaten gabungan dipindahkan ke Purwokerto. 

Daftar Residen

Bangunan gedung karesidenan Banyumas di kota Banyumas secara efektif digunakan dari tahun 1843 hingga tahun 1937 atau selama 94 tahun. Residen yang menjabat di Banyumas dan pernah tinggal di gedung karsidenan Banyumas adalah kurang lebih ada 19 residen diantaranya adalah 

1843 - 1846 P. J. Overhand
1846 - 1849 F. H. Doornik
1849 - 1850 R. de Filliettaz Bousquet
1S50 - 1852 Jhr. Mr. D. C. A. van Hogendorp
1853 - 1855 Jhr. Mr. H. C. van der Wijck
1855 - 1858 C. van der Moore
1858 - 1860       G. C. Schonk
1860 -   S. van Deventer
1872 -   C. de Wall
1979 -   C. de Crelrq Moolenburgh
1892 -   A. C. P. Lammers dari Toorenburg
1907 -   G.J. Oudemans
1907 - 1916 E.W.H. Doeve 
1916 - 1919 K. Wijbrands
1919 - 1922 M. Zandveld
1922 - 1925 M.J. van der Pauwert
1925 - 1928 J.J. van Helsdingen
1928 - 1933 W.Ch. Adriaans
1933 - 1937 H.G.F. van Huls
1937 - 1938       J. Ruys

Residen juga akhirnya memutuskan untuk mempunyai gedung baru di Purwokerto dan gedung karsidenan di Banyumas akhirnya di kosongkan. Pembangunan gedung residen di Purwokerto memakan waktu yang agak lama karena marmer yang akan digunakan di gedung yang baru menggunakan marmer dari gedung yang lama. Baru pada tahun 1938 bangunan siap ditinggali oleh residen J. Ruys.

Sejak pemindahan itu, kota dan wilayah kabupaten Banyumas hanya sebuah distrik Banyumas dan mulai saat itu bangunan gedung Karesidenan ditinggalkan begitu saja kosong tanpa perhatian dan pelestarian.

Setelah kemerdekaan

Pada masa Polisionil atau revolusi kemerdekaan tahun 1947 - 1949 bekas bangunan karesidenan diduduki oleh tentara Belanda, dan digunakan sebagai markas tentara pleton "Hond". Pada halaman depan gedung dibangun barak-barak untuk peralatan dan kendaraaan perang milik Belanda.


banjoemas.com
Foto udara gedung karesidenan pada masa polisionil
foto diambil dari sebelah barat rumah sakit Juliana
sumber foto friesfotoarchief.nl

banjoemas.com
Foto udara gedung karesidenan pada masa polisionil
foto diambil dari sebelah timur
sumber foto friesfotoarchief.nl

banjoemas.com
Pleton "Hond" berada di beranda depan bekas gedung Karesidenan Banyumas
sumber foto indiegangers.nl

banjoemas.com
Bukit Kerkhof Banjoemas yang berlokasi di belakang gedung karesidenan
sumber foto indiegangers.nl

Pasukan Belanda yang pernah bertugas di Banyumas dan sekitarnya selama 3 tahun masa agresi Belanda adalah V-Brigade Batalion Friesland. Gedung karesidenan Banyumas juga menjadi saksi untuk tentara Belanda yang tewas dalam serangan dengan Tentara Nasional Indonesia, karena sebelum di kubur di Kerkhof Banyumas jenasah terlebih dahulu di berikan penghormatan terahir di markas gedung Karesidenan Banyumas. Perlu diketahui bahwa tepat dibelakang gedung Karesidenan terdapat sebuah bukit yang merupakan tempat menguburkan orang-orang Eropa dan tentara yang gugur dalam medan perang melawan TNI.

Setelah kalahnya Belanda dari revolusi kemerdekaan, bangunan gedung karesidenan kemudian di kuasai oleh Komando Distrik Militer 0701 Banyumas. 

Setelah Revolusi

Pada tanggal 6 April 1968, melalui surat bernomor No. 232-11- 5968 Kepala dinas Pendidikan Ekonomi mengusulkan untuk di bangunnya Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas ( SMEA ) Negeri di Banyumas. Dan kemudian pada tanggal 1 Januari 1968 SMEA ini dibuka melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan Surat Keputusan  No. 133/UKK.3/1968 dengan menempati gedung bekas karesidenan Banyumas bagian tengah hingga sayap sebelah barat (gedung Landraat/ pengadilan). 

Pada tanggal 17 Januari 1976 sayap bagian timur (seluas 1.496 m2) di serahkan kepada Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) Cabang Banyumas  yang diketuai oleh K.H Syamsuri Ridwan untuk dijadikan Pondok Pesantren Pendidikan Islam Banyumas Miftahussalam. Pondok pesantren ini didirikan oleh H.O.S. Notosuwiryo (Pensiunan Pegawai Jawatan Agama Kabupaten Banyumas). 
Seiring berkembangnya SMKN 1 menjadi sekolah dengan siswa yang semakin meningkat setiap tahunnya beberapa bangunan kelas baru dibangun di halaman bekas gedung Karsidenan, sehingga bangunan baru menutupi bangunan lama Karsidenan, dan semakin lunturkan ingatan sejarah mengenai bangunan gedung karesidenan Banyumas ini. 

Status bangunan

Bangunan ini telah dicatat dan didokumentasikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2004 dan didaftarkan dalam daftar inventaris Cagar Budaya kabupaten Banyumas no 11-02/Bas/42/TB/04 dan telah mendapatkan surat proses SK penetapan setelah munculnya Undang-Undang Cagar Budaya no 11 tahun 2010 bernomor 399/101.SP/BP3/P-VIII/2010.

Sumber: dari berbagai sumber