Monday, February 15, 2021

Suikerfabriek Klampok


Setelah pabrik gula Kalibagor dioperasikan pada tahun 1839 dan selama 50 tahun telah berhasil menanam tebu dan mengolahnya menjadi gula di karsidenan Banyumas maka sindikat gula kembali memberikan peluang untuk dibangun pabrik gula kedua di timur kota Poerwaredja (kabupaten Banyumas). Sebuah desa kecil bernama Klampok di tepi sungai Serayu.

Pabrik gula Klampok dibangun tahun 1889 dipimpin oleh Administratur Jacobus Franciscus de Ruyter de Wildt (Lahir 25 mei 1851 di Utrecht dan meninggal di Klampok 7 juli 1904). Pabrik gula ini memiliki lahan perkebunan tebu yang sangat luas. Perkebunan tebu dari Purwonegoro, Mandiraja, Klampok, Susukan, Somagede hingga barat Banyumas. Bahkan perusahaan inipun membangun jembatan rel lori diatas sungai Serayu untuk mengambil tebu dari daerah Rakit, Penaruban, Bukateja, Kemangkon dan Tidu.
Jacobus Franciscus de Ruyter de Wildt merupakan anak dari Johan Willem de Ruijter de Wildt dan Catharina Maria Anna Koopman, Cicit dari Yakub (de Ruijter) de Wildt dan Jacoba Maria Parker, beristrikan Georgina Engelina Tielman dan memiliki 7 orang putra. Salah satunya adalah Franciscus de Ruijter de Wildt pendiri hotel dan kolam renang hotel Selecta Malang. (Silsilah keluarga de Ruijter de Wildt)
Rangkaian rel lori milik pabrik gula ini merupakan lori terpanjang diantara pabrik gula di karsidenan banyumas. Di daerah Kembangan Bukateja terdapat terowongan kereta lori dimana diatasnya melintas aliran air dari proyek Irigasi Bandjar-Tjahjana yang dibangun pada tahun 1910.
Pada tahun 1910 Perusahaan di pimpin oleh W.A. Kuipers (HET NIEUWS VAN DEN DAG, Voor Nederlandesch-Indie, Zaterdag, 22 October 1910). Pada tahun 1915 perusahaan di pimpin oleh W. van der Haar (Ondernemingen in Nederlandsch-India 1915)
Jalur Serajoedal Stoomtram Maatschappij pun dibangun hingga di depan bangunan pabrik Gula ini, ini membuktikan bahwa dibangunnya jalur rel SDS karena desakan para pengusaha Tebu. Sebuah jalur kereta SDS dan emplasemen khusus dibuat untuk langsir mengangkut gula sf. Klampok.

banjoemas heritage
Bangunan Suikerfabriek Klampok insert tulisan Klampok dan tahun 1889 pada cerobong asap

banjoemas heritage
Suikerfabriek Klampok pada peta Belanda tahun 1899

banjoemas heritage
Suikerfabriek Klampok pada peta Belanda tahun 1901

banjoemas heritage
Suikerfabriek Klampok pada peta Belanda tahun 1944

banjoemas heritage
Pipa-pipa untuk memompa dengan tenaga listrik

banjoemas heritage
Ketel pengolahan dan ketel pendingan

banjoemas heritage
Bagian penggilingan tebu

banjoemas heritage
Pengepakan dan pengangkutan ke dalam kereta SDS untuk di kirim ke Maos

banjoemas heritage
Depo lokomotif di pabrik gula Klampok

banjoemas heritage
Rangkaian lori membawa tebu diatas sebuah jembatan

banjoemas heritage
Truk pengangkut tebu untuk Suikerfabriek Klampok

Pada tahun 1929 setelah berhentinya Perang Dunia yang pertama (1914 - 1918) muncul dampak ekonomi yang sangat hebat di seluruh dunia terutama pada negara-negara jajahan yang di jadikan sebagai susu perah. Dimana produksi eksport mengalami over produksi sehingga komoditas menjadi sangat murah sehingga merugikan pengusaha-pengusaha, di Jawa khususnya adalah NHM. Sehingga pada tahun 1933 perusahaan berhenti beroperasi, dan dengan usulan dewan NHM pabrik gula Klampok pada tanggal 21 September 1936 resmi di likuidasi.

Bekas pabrik gula ini sebagian dikuasai oleh Balai Latihan Kerja Klampok dan sebagian yang lain telah dikuasai oleh perseorangan dan perusahaan.

Lokasi tepatnya berada di Bekas Pabrik Gula Klampok (google map)

Artikel ini ditulis pertama pada 29 Oktober 2010
Direvisi kedua pada 29 Desember 2012
Direvisi ketiga 15 Februari 2021

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License

Sumber lain.
Inventaris van het archief van de Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM), (1784) 1824-1964 (1994)
HET NIEUWS VAN DEN DAG, Voor Nederlandesch-Indie, Zaterdag, 22 October 1910


Sunday, February 14, 2021

Pampangan Nama Kios Kota Purwokerto 1


Pertigaan Bakmi Tomang - Perempatan Pasar Wage

Pampangan nama toko merupakan bagian dari identitas dan penanda toko agar mudah ditemukan oleh masyarakat. Pada tahun 2010 ada banyak pampangan nama toko di kota Purwokerto yang masih terlihat jelas menggunakan semen permanen sehingga selama berpuluh-puluh tahun menjadi karya monumental sepanjang jalan Soedirman kota Purwokerto.

Pampangan toko berbahan semen merupakan tren setelah pada masa awal orde baru semua yang secara visual termasuk diantaranya adalah nama toko dan  arsitektur berbau Tionghoa harus diganti dengan tema ke Indonesiaan. 

Toko-toko yang telah berdiri disana sejak masa Hindia Belanda, dan rata-rata bernama toko Tionghoa dan berlanggam Tionghoa harus mengalah demi terciptanya keamanan, walaupun sebenarnya cara ini telah menghilangkan corak khusus ke Tionghoaan dan telah membunuh karakter mereka.

Foto-foto diambil pada saat sebelum dan sesudah jalan Jendral Soedirman dilebarkan antara tanggal 20 Maret 2009 dan 26 Agustus 2010. Pada pemotretan kedua sudah banyak pampangan dan toko yang sebelumnya didokumentasikan hilang atau berubah. Dan menjadi PR seperti apa keadaan tahun 2021 ini, karena belum ada pendokumentasian lagi setelahnya.

Seperti artikel sebelumnya, artikel dijadikan dua bagian 

Berikut foto-foto yang berhasil saya dokumentasikan; terbagi menjadi 2 bagian

Pampangan Nama Kios Kota Purwokerto 1
Pertigaan Bakmi Tomang - Perempatan Pasar Wage

Pampangan Nama Kios Kota Purwokerto 2

Ahli Gigi Wanteg

Toko Sumber Agung

Toko Tjita Sinar Timur

Toko Sidamulja
Toko Eko Buwono

Toko Mantep

Toko "Katjang"

Toko Darma

Toko Bangun

Toko Artomoro



Artikel untuk pertama kali di unggah pada tanggal 28 Agustus 2010 

Saturday, April 25, 2020

RUMAH KWEE LIE KENG


banjoemas.comRumah Kwee Lie Keng

Setiap melewati pusat kuliner Kya Kya Mayong pasti selalu tertarik melihat sebuah bangunan tua yang sangat mencolok. Bangunan yang menempati sebuah lahan luas di tengah-tengah kota Purbalingga. Bangunan utama berada di tengah dan bangunan lain berada di samping kanannya dengan halaman yang luas ditumbuhi rumput hijau. Begitu mencolok selama berpuluh-puluh tahun sehingga bangunan ini sudah menjadi ciri yang sangat khas dari jalan gang Mayong. 

Bangunan bergaya "WRIGTIAN" ini juga merupakan bangunan satu-satunya di wilayah kabupaten Purbalingga bahkan di Banyumas Raya (eks Karsidenan Banyumas). Rumah yang terkesan "TEBAL" dengan dominan garis-garis horisontal dan vertikal ini sangat populer pada tahun 30an. Sehingga bisa dipastikan rumah ini dibangun pada era yang sama. 

Gaya arsitektur Wrightian yang diprakarsai oleh Frank Lloyd Wright sangat populer di Amerika pada tahun 1920 -1930an, dan masuk ke Hindia Belanda mulai tahun 1930an. Gaya arsitektur yang modern ini dipakai oleh Arsitek Hindia Belanda keturunan Tionghoa bernama Liem Bwan Tjie.


banjoemas.com
Kwee Lie Keng, istrinya, anak dan cucunya berfoto bersama mobil Chrysler Royal sedan miliknya
15 Februari 1956
Pemilik rumah tua ini dimiliki oleh pengusaha Tionghoa kaya raya bernama Kwee Lie Keng (alm). Rumah ini sebenarnya sudah menjadi perhatian penulis sejak kecil, karena penulis waktu kelas 5 SD pernah ikut organisasi Karate Kei Sin Kan yang latihannya setiap hari Rabu dan Sabtu di gedung Mahesa Jenar (sebelah selatannya). Setiap melewati bangunan rumah ini, penulis selalu ingin masuk dan melihat setiap sudutnya.

Bangunan rumah Kwee Lie Keng yang sarat dengan sejarah dan kekhasan gaya arsitektur ini sangat layak dijadikan BANGUNAN CAGAR BUDAYA. Bangunan rumah ini sudah masuk dalam daftar inventaris Bangunan Cagar Budaya (BCB) kabupaten Purbalingga bernomor 11-03/Pub/05/TB/09, dan sekarang mengunggu untuk disahkan menjadi BCB oleh Bupati Purbalingga. 

KWEE LIE KENG 郭利經 
Kwee Lie Keng adalah anak tertua dari empat bersaudara dari suami istri Kwee Ma Sioe dan The Pinter Nio. Kwee Ma Sioe adalah anak kedua dari saudagar totok Kwee Goen Tjiang yang tinggal di Bobotsari Purbalingga dan berasal dari Pemalang, sehingga Kwee Lie Keng dilahirkan di kota kecil Bobotsari pada tahun 1889.

Kwee Lie Keng  yang lahir pada tahun 1889, menikahi Tjhie Moeloes Nio 徐櫓娘 pada 28 Desember 1908 di Purbalingga diusianya yang ke 19.  Tjhie Moeloes Nio yang berumur 3 tahun lebih muda ini merupakan anak dari Tjhie Soeij Lian dan adik seorang saudagar BPM di kota Banyumas Tjhie King Gwan. Marga Tjhie adalah marga Tionghoa yang sudah sangat lama tinggal di kota Banyumas. 

Keberadaan keluarga Kwee di Purbalingga pada saat itu masih merupakan warga negara asing yang memperoleh hak tinggal, hak pakai atas tanah (Eigendom) dan mencari kekayaan di Hindia Belanda menurut undang-undang Burgelijke Stand.


banjoemas.com
7 anak-anak Kwee Lie Keng berfoto di depan rumah keluarga Ibunya Tjhie Mulus Nio di Banyumas
Oktober 1929

Kwee Lie Keng dari pernikahannya dengan Tjhie Mulus Nio memberikan 7 orang anak yaitu;
Kwee Mo Tjwan, Kwee Mo Liem, Kwee Mo Hian, Kwee Lien Eng, Kwee Lien Hoei, Kwee Lien Giok
dan Kwee Mo Hoei

Kwee Lie Keng aktif sebagai pengurus dan juga donatur Tiong Hoa Hwe Koan Purbalingga yang di ketuai oleh tetangganya, Gan Thian Koeij yang diangkat menjadi Letnan Tionghoa pada tahun 1927. 

Kwee Ma Jong
Anak pertama Kwee Goen Tjiang adalah Kwee Ma Jong (Ma Yong), yang usahanya dalam jual beli hasil bumi sangatlah maju. Kemudian atas usahanya Ma Jong inilah yang pertama kali membeli tanah sedikit demi-sedikit di sebelah barat Kauman hingga pemerahan susu "Sampoerna" milik keluarga Kho. Tanahnya yang sangatlah luas dibatasi oleh sebuah gang kecil di sebelah barat, yang kemudian atas inisiatifnya gang diperlebar menjadi sebuah jalan besar bernama gang Ma Jong (Gang Mayong). Anaknya yang paling mencolok adalah yang nomer dua bernama Kwee Lie Go, karena Lie Go adalah pengusaha batik sukses di Bobotsari dan merupakan pengurus THHK Purbalingga. Keahliannya membatik turun pada anaknya Kwee Hoe Loei hingga cucunya sekarang Slamet Hadi Priyanto (Batik Mruyung Banyumas)

Namun usaha Kwee Ma Jong tidaklah mulus sehingga tanah di Purbalingga itu dibeli oleh adiknya yaitu  Kwee Ma Sioe, yang pada kemudian hari setelah kematiannya diwariskan kepada istrinya namun kemudian justru langsung dialihkan pada anak-anaknya. 


banjoemas.com
Lukisan conte Kwee Ma Sioe dan The Pinter Nio

NV GWAN LIE 

Kisah sukses keluarga Lie Keng diawali dari usaha ayahnya yaitu Kwee Ma Sioe yang mendirikan NV Handel en Cultuur-Maatschappij GWAN LIE di Purbalingga pada tahun 1914 yang usahanya dibidang perkebunan dan eksportir. NV Gwan Lie didirikan setelah perkebunan teh yang disewa di Menggala dianggap berhasil. Modal utamanya adalah f 50.000 yang terbagi menjadi 50 lembar saham dengan harga perlembar saham f 1.000. 

Sahamnya dijual rata-rata kepada keturunan Kwee Goen Tjiang, namun pada akhirnya semua saham dibeli oleh Kwee Lie Keng, diantaranya adalah dimiliki oleh Kwee Ma Sioe setelah meninggal pada 6 Oktober 1915 kemudian secara sah jatuh waris pada kepada Istrinya, namun pada tahun 1938 The Pinter Nio menjual semua saham kepada Kwee Lie keng , Kwee Lie Haij pun akhirnya menjualnya pada Lie Keng pada tahun 1921, Kwee Lie Kwan dan beberapa saudaranya juga kemudian menjualnya kepada Lie Keng dan anak-anaknya. 


banjoemas.com
Saham Gwan Lie yang dimiliki oleh keluarga Kwee 


Gwan Lie memiliki beberapa jenis usaha diantaranya adalah perkebunan dan penjualan teh, perkebunan bunga melati (untuk teh), perkebunan dan eksport tembakau, Pertenunan dan Karet. Usaha dan asetnya menyebar dibeberapa kabupaten dan kota, kabupaten Purbalingga, Kabupaten Purwokerto, Kabupaten Banyumas dan kabupaten Pemalang. 

Perkebunan Teh Menggala
Pada tahun 1910 (De Preanger-Bode 12 Mei 1911) Kwee Ma Sioe memutuskan untuk menyewa dari Anggadikrama beberapa bidang tanah seluas 43,832 m2 di grumbul Menggala desa Karang Tengah Cilongok Banyumas, lokasi ini sangat sejuk dan masih merupakan pegunungan sehingga cocok untuk dijadikan perkebunan Teh. Sebenarnya perkebunan ini sudah disewa dari tahun 1891 oleh Ma Sioe dan sudah menghasilkan teh yang di kenal dengan nama Onderneming (perkebunan) Menggala. Untuk pembuatan badan hukum NV Gwan Lie baru di publikasikan pada tahun 1910. 

Kwee Ma Sioe juga membeli sebuah kebun untuk memperluas kebun teh dengan nama perkebunan Nirwana pada tahun 1903. Setahun setelah Gwan Lie resmi berbadan hukum Kwee Ma Sioe meninggal dan dimakamkan di Bong Sawangan. Penerusnya adalah Kwee Lie Keng, anak pertamanya yang terkenal sangat serius, keras kepala dan tak kenal lelah.


banjoemas.com
Bungkus "Thee Tjap Nanas Doea" original (kiri), dan nama Kwee Lie Keng ditempel nama anaknya
Kwee Mo Liem, dengan aksara Cina yang berarti Kwee Lie Keng dan Teh Harum buah pir
Kwee Lie Keng menggunakan istilah KLK dalam beberapa cetakan dan label barangnya


banjoemas.com
Cap "Kajumanis Thee" 


Teh yang ditanam di perkebunan Menggala adalah jenis teh Miramontana, Hasil teh kemudian di pasarkan dalam tiga kategori, hasil teh terbaik akan di ekspor ke Eropa, sebagian lagi teh diolahnya menjadi teh siap jual dengan menggunakan label The Tjap Menggala, Thee Tjap Nanas, Thee Tjap Djamoer, Thee Tjap Tjanting, Thee Tjap Idjo Doos dan Thee Tjap Kajoemaniskoe. Namun sebagian dijual tanpa label ke perusahaan teh lain seperti kongsi dengan Lie Kim Tjoei di Batavia pada tahun 1935 dengan label Thee Tjap Daoen dengan nomer ijin 24946, namun tidak bertahan lama karena sebuah masalah dalam perusahaan. 

banjoemas.com
Surat pernyataan Arsanam Kedungdjampang Kutasari mengenai persekot 
untuk komoditas tembakau krosok (hancur), 1 Desember 1932

Dalam tahun  1937 hingga 1939 ketika perusahaan sedang naik tajam Lie Keng mengangkat Tjhie Ngo Hien yang masih saudara dari istinya untuk menjadi administratur. Dan juga untuk mengatur keseimbangan keuangan perusahaannya, Lie keng menyewa jasa akuntan Dr Teng Sioe Tjhan di Batavia

Setelah kemerdekaan hingga tahun 1954 perkebunan Menggala tidak dikelola dengan baik karena keadaan politik, sosial dan ekonomi pasar memburuk. Selain terjadi agresi militer Belanda terjadi juga pemberontakan DI dan TII di wilayah Banyumas. Perkebunan hanya mengelola 30% dari seluruh perkebunan, hingga muncul memorandum dari Dewan Pimpinan Cabang Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia Purwokerto (DPT SARBUPRI) yang menginginkan, sebagian dari kebun yang tidak dikelola agar dikelola oleh buruh perkebunan Menggala yang dikeluarkan dan petani miskin disekitar perkebunan. 

Perusahaan Tembakau
Di Purbalingga hanya sedikit yang bermain tembakau untuk di eksport, hanya  GJ Hartog untuk Perkebunan Kandanggampang atau GMIT yang sudah memulai bisnisnya sejak tahun 1899 dan Kwee Lie Keng (Gwan Lie), dan beberapa perusahaan yang sama di wilayah Sokaraja dan Purwokerto yaitu NV Ko Tek (Kho Eng Tjwan) di Sokaraja, Liem Tjeng Tjwan (Purwokerto) dan Nicolas Korndorffer untuk Tabaksonderneming Patikradja. Mereka rata-rata bersaing secara sportif karena mereka memiliki perkebunan dan standar sendiri dalam mengolah dan menjual tembakau.

Dalam usaha tembakau Kwee Lie Keng disebut sebagai pengusaha pendatang baru, karena baru memulai usaha tembakau di tahun 1920han, namun berbekal keuntungan dari perkebunan teh Menggala usaha tembakaunya pun berhasil dibesarkan dan terus menerus menambah asetnya seperti gudang permanen di Purbalingga Kidul, Gudang tidak permanen di Karangreja (Kutasari), Kedungjampang, Bojongsari, Penaruban dan Sokawera, Tanah hak pakai (Eigendom) di desa Serayu dan  Sawangan. Namun juga terdapat 15 tanah sewa untuk ditanami tembakau yaitu antara lain

- Penaruban
- Bancar
- Purbalingga Wetan
- Kalikajar (perkebunan Melati dan Melati gambir)
- Sokawera
- Karangtengah
- Lembarang
- Padamara
- Kajongan
- Limbangan
- Karangreja
- Karang bancar
- Karangcegak 
- Bojongsari
- Purbalingga Kulon

Tembakau yang berkualitas satu di eksport langsung melalui NV Loemadjang Tabak Import Maatschapij, namun kualitas dibawahnya dijual kepada beberapa perusahaan klembak menyan di sekitar Purbalingga seperti kepada Sigarettenfabrikanten Tan Koei An, rokok Wahid Marimas di Purwokerto milik Jap Khe Hap dan rokok Atom di Klampok.

Gudang-gudang tembakau untuk menghindari kerugian karena bencana baik yang permanen dan tidak permanen diasuransikan dari kebakaran, badai dan banjir yang dipercayakan pada perusahaan asuransi yang berpusat di Belanda yaitu lloyds underwriters insurance.


PERUSAHAAN TENUN
Usaha lain yang dimiliki oleh Lie Keng adalah perusahaan pertenuanan yang memproduksi sarung dan lurik. Usahanya ini menempati rumah Lie Keng di Jl. Suraganda bagian belakang rumahnya. 

Perusahaan tenun ini banyak menggunakan bahan dasar pewarna dan obat kimia yang dipesan melalui NV Jacobson van den Berg & Co cabang Cirebon. Termasuk pewarna benang merek Chemical Works Rohner Ltd Zwitzerland yang dipakai Lie Keng diambil dari importir yang sama. 


PERKEBUNAN KARET
Perkebunan teh Menggala yang berada di pegunungan tidak semua bagian bisa ditanam teh, kemudian ditanami pohon karet. Pada tahun 1928 Lie keng menambah luas kebun seluas 3520 meter untuk ditanam karet dengan menyewa dari pemerintah yang di ketahui oleh bupati Purwokerto RTA Tjokroadisoerojo. Karet dijual ke perusahaan HGTh Crone yang berkantor di Semarang. 

TUAN TANAH
Kwee Lie Keng juga terkenal sebagai tuan tanah, beberapa bidang tanah dimilikinya lokasinya ada yang di Moga Pemalang,  Purbalingga dan Purwokerto. Namun selain sebagai pemilik beberapa perceel tanah hak guna Lie Keng juga menyewa banyak sekali tanah untuk dioleh menjadi perkebunan teh, tembakau, karet, bunga melati, bunga melati Gambir dan gudang. 

Beberapa sumber juga mengatakan bahwa Lie keng menyewa tanah dari Ang Tiong Kam di  desa Kalikajar yang merupakan bekas perkebunan nila, tanah di desa Karengreja Kutasari yang akan digunakan sebagai gudang tembakau selama 6 tahun hingga tahun 1943.

Pada tahun 1930 dimana pageblug sedang mulai dirasakan di Purbalingga Lie Keng justru membeli sebidang tanah dari seorang Arab bernama bok Hadji Sitti Chotidjah janda Hadji Basrail seluas 20 bau dengan harga 100 rupiah yang terletak di Purbalingga Kidul.  Sebidang tanah tersebut kemudian dibangun sebuah gudang dengan ukuran 24 meter persegi dengan atap seng dan pagar keliling permanen yang di ketahui pembangunannya oleh bupati Soegondho.

Sebuah pabrik tapioka pernah direncanakan di bangun oleh Lie Keng dengan memanfaatkan kali Kemusuk. Dengan mengirimkan surat permohonan kepada residen Banyumas pada tahun 1937 dengan tembusan ke asisten residen Purbalingga untuk memanfaakan aliran sungai kemusuk untuk menggerakan turbin mesin pabrik tapioka miliknya, namun permohonannya dibatalkan pada tahun berikutnya karena berbagai alasan termasuk salah satunya adalah pencemaran air.

TRANSPORT
Di Purbalingga orang yang memiliki mobil pada tahun 1930 an bisa di hitung dengan jari. Dan Kwee Lie Keng merupakan salah satu yang memiliki mobil pada tahun itu. Mobil pertamanya adalah merek Chrysler Royal sedan dengan nomer polisi R 97 yang kemudian diperbaharui pada tahun 1939 menjadi ber nopol R 708. Pada tahun 1960 Lie Keng menjual mobilnya dan membeli baru Cevrolet Belair dengan nopol R2584.


banjoemas.com
Mobil kedua, Cevrolet Belair milik Kwee Lie Keng pada tahun 1960an


Pada tahun 1939 Lie Keng juga membeli kuda jantan untuk di tempatkan di kebun Melati di Kalikajar, mengingat jembatan Bancar pada waktu itu memanfaatkan jembatan lori milik pg Bodjong yang sempit dan panjang, sehingga tidak bisa dijangkau dengan menggunakan truk angkutan.

Kwee Lie Keng tidak pernah membeli mobil untuk mengangkut barang-barang produksi perusahaan Gwan Lie, Lie Keng hanya memanfaatkan perusahaan persewaan truk dan dokar untuk membawa ke stasiun terdekat, seperti kendaraan angkut milik Sarag-sereg (Purbalingga), TOS (Tan Oen Soei), Bintang Purwokerto, Lieco (Lie Tiang Tik) dan Nara (Kho Sian Kie)


GONCANGAN DI GWAN LIE
Pada masa aksi polisionil oleh tentara Belanda yang ke dua antara 20 Juni 1947 hingga 1948 di Purbalingga dibawah Brigade V (Kolonel Huiting dan Kolonel J.H. de Vries), Batalion 1-9 Resimen Infantri Friesland dengan komandan Lt.Kol E. Wiersma yang menggunakan rumah Lie Keng sebagai rumah dinas lapangannya. 

Rumah Lie Keng sebagai rumah dinas lapangan komandan
Batalyon Friesland
Foto Lex de Jong 

Tahun 1950 NV Gwan Lie mengalami goncangan, kemudian meminta anaknya Mo Liem untuk pulang dan membantu perusahaan ayahnya. Pegawai perkebunan Menggala yang masih sisa sedikit pun mulai banyak juga yang tidak jujur. Kwee Mo Liem anak pertamanya yang tinggal di Banjarsari Solo membantu berdagang teh, dengan mengganti nama yang tercantum di label teh dari Kwee Lie keng menjadi Kwee Mo Liem.

Pada tahun 1958 terjadi perjanjian bilateral antara RI dan RRT untuk mengatasi kewarganegaraan ganda di Indonesia, yang kemudian terbit PP No 20/1959 yang mengharuskan warga negara Asing (Tiongkok) untuk mengakui kewarganegaraan Indonesia atau menolak, dengan tenggang antara 20 Januari 1960 hingga 20 Januari 1962. Banyak juga yang menolak dan kembali ke RRT (sekarang RRC), pindah ke Belanda atau Amerika. Namun Kwee Lie Keng dan istrinya yang merasa lahir, besar dan sukses di Purbalingga - Banyumas akhirnya memutuskan untuk melepas kewarganegaraan Tiongkok pada November 1960 melalui pengadilan Purbalingga yang di ketuai oleh hakim R Soeharto Radyosoewarno BA.

Banyaknya warga peranakan yang menolak untuk melepas kewarganegaraan RRT mengurangi penduduk peranakan hingga 20 persen di wilayah karsidenan Banyumas. Dan mulai tahun 1965 di Banyumas suhu politik begitu panas perusahaan-perusahaan warga peranakan mengalami kesusahan untuk berkembang, bahkan bagi mereka yang terlibat partai kiri sudah pasti tidak akan punya masa depan. Banyak perusahaan tidak lagi beroperasi dan gulung tikar, bahkan Lie Keng tidak bisa mengunjungi perkebunannya di Menggala. Yang menyedihkan lagi beberapa aset tanah Kwee Lie Keng disita oleh Pemerintah Daerah. Konon salah satunya adalah tanah yang sekarang didirikan gedung Mahesa Jenar. 

Keputusan Presiden RI Nomor 240 tahun 1967 Tentang Kebidjaksanaan Pokok Jang Menjangkut Warga Keturunan Asing juga memaksa Lie Keng untuk berganti nama menjadi Likin Kawidibrata meskipun tidak pernah dipakainya dalam surat-surat resmi dan kehidupan sehari-hari.

Kwee Lie Keng yang berkebangsaan RRT ini sangat berjasa pada banyak masyarakat Pribumi di Purbalingga dan Ajibarang. Karena pekerja-pekerjanya yang berjumlah ratusan merupakan warga pribumi disekitar perkebunan dan usaha Lie Keng. Nama Kwee Lie Keng pada masanya terkenal dan melekat ditempat dimana beliau memiliki atau menyewa tanah.



banjoemas.com
Ulang tahun pernikahan Kwee Lie Keng dn Tjhie Pinter Nio yang ke 50 dihadiri seluruh kerebatnya
foto didepan rumah gang Mayong 4, 28 Desember 1958


banjoemas.com
Kwee Lie Keng meninggal, tampak bersedih Tjhie Mulus Nio 
8 Februari 1974


banjoemas.com
Pemberangkatan jenazah Kwee Lie Keng ke bong Sawangan
9 Februari 1974

Kwee Lie keng  meninggal pada 8 Februari 1974 dalam usia 85 tahun, dan dikebumikan di bong Sawangan. Sedangkan istrinya Tjhie Mulus Nio meninggal tanggal 27 Maret 1983 dalam usia 92 tahun. 

Terimakasih kepada
Warga Padamara, Pagutan, Kalikajar dan Ajibarang
Slamet Hadi Priyanto (Batik Banyumas)
Mas Alfian Purwokerto
Koh Bambang
Keluarga Kwee dan Kwok Klampok - Bukateja - Banyumas
Keluarga Tjhie dan Bhe Banyumas
Keluarga Kho Sokaraja (Suzuki Sokaraja)
Keluarga Liem (toko Cendrawasih)
Sudir Raharjo (Polisi tahun 50 - 60 an)
Anita Wirja

Sumber
Raport Theeonderneming "Menggala"
Surat-surat Kwee Lie Keng
Orang-orang Tionghoa di Jawa 1936
Arsitektur dan kota-kota di Jawa pada masa Kolonial
Brinkman's cultuur-adresboek voor Nederlandsch-Indië, 1939
Bong Sawangan


Wednesday, March 18, 2020

KPAA MERTADIREDJA III


banjoemas.com

Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
Lahir 2 Maret 1841 -  Meninggal 19 Maret 1927 
Raden Ayu Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
Lahir 29 Juli 1839 - Meninggal 19 Mei 1921


Bupati legendaris yang menjabat sebagai bupati hampir selama hidupnya. Mulai menjadi bupati Purwokerto pada umur 19 tahun pada tahun 1860 dan pensiun pada tahun 1913 diusia yang ke 72 tahun dari bupati Banyumas. Sehingga selama 53 tahun beliau menghabiskan waktunya sebagai Bupati dua kabupaten. Beliau juga disebut sebagai bupati yang pulang pada tempatnya, karena setelah Banyumas jatuh ketangan Belanda bupati tidak lagi jatuh pada anak keturunannya tapi pada pejabat yang tempatkan oleh Belanda.

Bupati ke sepuluh kabupaten Banyumas, Raden Tumenggung Joedanegara V yang menjabat pada masa perang Jawa dianggap tidak banyak membantu Belanda untuk menangkap Pangeran Dipanegara. Sehingga setelah jatuhnya wilayah Banyumasan ke tangan Hindia Belanda RT Joedanegara V langsung dipecat, sehingga berakhirlah trah Adipati Mrapat di Banyumas. 

Banyumas yang belum diserahkan secara resmi oleh Surakarta namun Belanda sudah ikut campur tangan pemerintahan di Banyumas, tidak hanya memecat RT Joedanegara V, mereka juga membagi Banyumas menjadi dua yaitu Banyumas Kasepuhan yang berpusat di Dawuhan  dan Banyumas Kanoman yang berpusat di Kedungrandu Patikraja untuk menyingkirkan keturunan langsung RT Joedanegara V dari Banyumas.
Bratadiningrat yang merupakan putra dari Mas Ngabei Mertawidjaya di Singasari (en) yang masih keturunan dari Bagus Kunting atau Kanjeng Adipati Danureja I (Raden Tumenggung Yudanegara III ) diangkat menjadi Wedana Bupati Kanoman Banyumas dengan gelar Raden Tumenggung Mertadiredja. Namun beliau meninggal pada tahun 1831 setelah setahun menjabat, kemudian digantikan oleh putranya yaitu Raden Adipati Mertadiredja II. Kejadian ini menyebabkan dihapuskannya istilah kanoman, dan diawal pemerintahannya R Ad Mertadiredja II memindahkan pusat pemerintahan dari Patikraja ke Ajibarang.

Disisi lain, setelah meninggalnya Raden Tumenggung Cakrawedana I Banyumas Kasepuhan juga dihapuskan dan dirubah menjadi Kabupaten Banyumas, dan penggantinya adalah Raden Ngabei Cakradirja yang bergelar Raden Adipati Cakranegara I (Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas)

Hanya bertahan satu tahun, pusat kabupaten Ajibarang pun dipindah lagi ke sebuah grumbul dimana terdapat santri mengaji dan diatas sebuah telaga di grumbul Paguwan Purwokerto dengan persetujuan asisten residen kabupaten Ajibarang yaitu Varkevisser. Letaknya sekitar 2 km dari pusat pasar wage Purwokerto. 
Raden Adipati Martadiredja II menjadi bupati pertama kabupaten Purwokerto yang menjabat hingga meninggal pada tahun 1853. Dikarena Pangeran Mertadiredja III masih berumur 12 tahun kemudian akhirnya digantikan oleh menantunya yaitu Raden Tumenggung Djajadiredja. Namun tidak berjalan lama Raden Tumenggung Djajadiredja mengalami depresi dan kemudian diasingkan ke Padang, hingga selama beberapa tahun kabupaten Purwokerto tidak tidak memiliki Bupati. Kangdjeng Pangeran Aria (PA) Mertadiredja III menjadi bupati Purwokerto yang ke tiga yang menjabat dari tahun 1860 hingga 1879. 

Riwayat pekerjaan
Pangeran Mertadiredja III remaja yang ditinggalkan oleh ayahnya pada umur 12 tahun, memulai bekerja pada umur 14 tahun sebagai wakil jurusurat di kantor kabupaten Purwokerto yang pada waktu itu yang menjabat bupati adalah iparnya sendiri yaitu Tumenggung Jayadireja (1853-1860). Mulai bekerja dengan surat keputusan Residen Banyumas tertanggal 7 April 1855. Sembilan bulan kemudian baru diangkat menjadi Jurusurat tetap tepatnya pada tanggal 18 Januari 1856.

Di usia yang ke 15 tahun, mulai 8 September 1856 beliau bekerja menjadi wakil Jaksa di kabupaten Purwokerto selama 4 bulan dan menjadi mulai mantri Polisi pada tanggal 16 Januari 1857 selama dua tahun.
banjoemas.com

Raden Adipati Mertadiredja III pada masa-masa awal menjadi bupati Purwokerto
Sumber KITLV LEIDEN

Pada usia ke 17 tahun Pangeran Mertadiredja III mulai bekerja di kabupaten lain, dengan jabatan yang lebih bergengsi yaitu Onder Kolektur di kabupaten Banjarnegara. Hanya berjalan selama satu tahun sembilan bulan pada tanggal 18 November 1860 melalui keputusan Kanjeng Governemen (Gubernur) pada usianya yang ke 19 tahun beliau diangkat menjadi bupati Purwokerto ketiga dengan gelar Mertadiredja III. 

Setelah menjabat selama 15 tahun baru pada tanggal 7 November 1875 Gubernur Pangeran  Mertadiredja III barulah mendapatkan gelar Pangeran Adipati Mertadiredja III 
Pada tahun 1879 Residen di Banyumas adalah C de Clerq Moolenburgh dan bupati yang menjabat di kabupaten Banyumas adalah Raden Adipati Tjokronegoro II, namun bupati sering berselisih dengan Residen sehingga bupati akhirnya mengundurkan diri. 

Sebelumnya sudah disiapkan wedana Sokaraja yang masih merupakan adik R A Tjokronegoro II yaitu Tumenggung Cakrasaputra. Namun residen melalui keputusan gubernur tertanggal 14 Maret 1879 akhirnya memutuskan untuk mengangkat dengan mememindahkan Pangeran Adipati Mertadiredja III yang masih menjabat di Purwokerto. Dengan alasan bahwa sejak diberhentikannya Raden Tumenggung Joedanegara V oleh pemerintah Hindia Belanda bupati menjabat sudah diluar Trah Banyumas, sehingga pada kesempatan ini Residen memutuskan untuk mengembalikan jabatan bupati pada trah aslinya.

Diakhir masa jabatannya bupati menggunakan gelar kehormatan Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III, dan mengajukan pensiun pada tahun 1913 dan pensiun dengan hormat pada 6 November 1913.



banjoemas.com
Medali kesetiaan kepada pemerintah Hindia Belanda
Dari Kiri Ridder Oranje Nassau, Officier Oranje Nassau dan Ridder Nederlandsche Leeuw

Beberapa medali dan gelar yang diperoleh oleh Pangeran Adipati Mertadiredja III adalah:
  • 10 April 1883 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur yaitu medali bintang Jene
  • 4 November 1890 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur songsong jene
  • 28 Agustus 1900 mendapatakan tanda kehormatan dari ratu Belanda yaitu Ridder Oranje Nassau 
  • 12 November 1900 mendapatkan gelar kehormatan dari gubernur yaitu gelar Aria sehingga menjadi Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
  • 29 Agustur 1901 mendapatkan tanda kehormatan dari Ratu belanda menggantikan Ridder Oranje Nassau menjadi Officier Oranje Nassau. Penghargaan ini diberikan kepada bupati yang telah berjasa pada kontribusi wilayah internasional.
  • 27 Agustus 1904 mendapatkan tanda kehormatan dari Ratu Belanda Ridder Nederlandsche Leeuw. Penghargaan ini diberikan oleh Ratu belanda karena jasanya yang sangat istimewa bagi masyarakat.
  • 26 Agustus 1910 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur yaitu Pengeran Ngagem Songsong Gilap
banjoemas.com

Kiri, Pangeran Adipati Aria Gandasoebrata beserta istri
Kanan, Raden Adibati Aria Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata beserta istri

Pada tanggal 6 November 1913 Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III mengajukan pensiun dan digantikan oleh putranya  yaitu PAA Gandasoebrata  yang menjabat dari tahun 1913 hingga tahun 1933. Kemudian digantikan lagi oleh cucunya yaitu RAA Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata yang menjabat mulai tahun 1933 hingga tahun 1950.

RAA Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata 19 April 1942 diangkat menjadi Residen merangkap menjadi bupati Banyumas.

Pada masa pemerintahan Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III merupakan masa-masa awal wilayah karsidenan Banyumas  yang merupakan daerah pedalaman mulai dieksploitasi dan dibangun menjadi kota kolonial yang nyaman untuk orang-orang Eropa. 

  • Dibangun pabrik gula Klampok pada tahun 1888
  • Pada tahun 1888 dibangun jalur kereta api Yogyakarta Tugu ke Cilacap milik perusahaan Staats Spoorwagon
  • Dibangun pabrik gula Bojong pada tahun 1889
  • Dibangun pabrik gula Purwokerto pada tahun 1894
  • Dibangun jalur kereta Serajoedal Stoomtram Maatschappij 1895
  • Dibangun pabrik gula Kaliredjo di Sumpyuh pada tahun 1910

Pembangunan diwilayah karsidenan Banyumas selalu melibatkan bupati-bupati karena ketersediaan tenaga kerja pembangunan akan dipenuhi oleh para bupati di wilayah karsidenan Banyumas. Jadi meskipun pembangunan dilaksanakan di kabupaten Banjarnegara maka bisa jadi yang menjadi buruh pekerja bangunan berasal dari kabupaten lain. 

Keluarga Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III 
Seperti bupati kebanyakan pada jaman dahulu Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III juga memiliki banyak istri, namun rata-rata istrinya meninggal selama adipati masih hidup. Hanya satu istri yang masih hidup ketika adipati meninggal dari enam istrinya.
  1. Raden Ajoe Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III menikah pada tahun 1857 berputra 6 salah satunya adalah Adipati Aria Gandasubrata (Lahir 29 Juli 1839 - Meninggal 19 Mei 1921)
  2. Masajeng Udawati menikah pada 1854 berputra 4
  3. Masajeng Werdiningsih menikah pada tahun 1866 berputra 6
  4. Masajeng Rejaningsih menikah pada tahun 1869 berputra 2
  5. Masajeng Ismayaningsih menikah pada tahun 1877 berputra 4
  6. Masajeng Sumarsih menikah pada tahun 1882 dan berputra 6

banjoemas.com

Persiapan pemberangkatan iring-iringan lelayon pemakaman Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
di selatan alun-alun Purwokerto (22 Maret 1927)


banjoemas.com

Persiapan pemberangkatan iring-iringan lelayon Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
dari rumah duka di Kepangeranan Banyumas ke pendopo kabupaten Purwokerto, 
nampak didalam gambar bupati Aria Gandasoebrata dan istri (21 Maret 1927)


banjoemas.com

Mobil Dodge Brothers milik keluarga bupati yang ikut dalam iring-iringan lelayon 
Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
(21 Maret 1927)

Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III meninggal
Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III meninggal pada hari Sabtu 19 Maret 1927 meninggalkan 1 istri yang masih hidup yaitu Masajeng Rejaningsih, putra 28 (lima diantaranya sudah meninggal terlebih dahulu), cucu 111 orang dan 86 cicit.

Prosesi pemakaman Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III melalui prosesi yang sangat panjang untuk seorang Bupati. Bupati meninggal pada tanggal 19 Maret 1927 kemudian disemayamkan di Kepangeranan selama dua malam sambil menunggu berkumpulnya keluarga besar karena putra-putranya hampir semua menjadi pejabat ataupun istri pejabat. 

Pada tanggal 21 pagi jenazah dipindahkan ke pendopo kabupaten Purwokerto untuk disemayamkan selama satu malam. Iring-iringan diawali oleh mobil truk merek Republic model E buatan tahun 1919 yang berisikan dengan beberapa bendera putih setengah tiang yang dijaga oleh sebuah pasukan opas, kemudian disusul dengan mobil Ford TT Truck buatan tahun 1922 yang membawa jenazah almarhum Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III yang penuh dengan hiasan lelayon. Diikuti kemudian adalah mobil Dodge Brothers buatan tahun 1919 yang dibalut dengan hiasan bunga kematian yang membawa keluarga inti laki-laki karena dalam adat jawa perempuan tidak diperkenankan ikut didalam rombongan lelayon. 

Masyarakat sangat antusias untuk melihat prosesi Iring-iringan lelayon yang panjangnya hampir satu kilometer yang di ikuti oleh hampir seluruh pangereh praja dan pejabat kabupaten Banyumas. Mereka menggunakan sepeda yang merupakan kendaraan bergengsi pada waktu itu dan berjalan kaki ikut dalam iring-iringan. Sesampainya di alun-alun Purwokerto jenazah Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III disambut oleh R. Tm. Tjokrokohadisoerjo (bupati Purwokerto) dan pangereh praja kabupaten Purwokerto.
Jenazah kemudian di semayamkan selama satu malam di pendopo kabupaten Purwokerto semalam sebelum dikebumikan di makam keluarga Kalibogor. Prosesi ini merupakan bagian dari penghormatan karena almarhum pernah menjadi bupati di Purwokerto selama 19 tahun. 

Tanah makam keluarga kalibogor ada jauh sebelum tahun 1853, karena  R Ad Mertadiredja II sebagai pendiri dan bupati pertama kabupaten Purwokerto ingin di makamkan di Purwokerto. Sehingga pada tahun 1853 ketika beliau meninggal dan dimakamkan di makam keluarga Kalibogor.

banjoemas.com

Wawancara dengan alm. ibu Yeti 17 Juli 2013


Tulisan ini saya dedikasikan untuk ibu Yeti Gandasubrata alm. yang sudah memberikan waktunya, tenaganya, kecintaannya terhadap sejarah dan arsip sejarah Banyumas  dan keluarga besar Mertadireja & Gandasubrata

Terimakasih saya ucapkan kepada narasumber
- ibu Yeti Gandasubrata alm. 
- Pak dr. Soedarmadji
- Mas Alfian Antono

Dirangkum dari berbagai sumber 

Saturday, July 27, 2019

Tamasya Bersama R Soetedja

www.banjoemas.com

Raden Soetedja dan Siti Asiah (repro. dok keluarga Soetedja)

RADEN Soetedja Poerwodibroto, semua orang jamak mendengar nama yang selalu dikaitkan dengan dua hal, pertama langgam keroncong "Di Tepinya Sungai Serayu" yang selalu terdengar saat kereta tiba di Stasiun Purwokerto, dan kedua, Gedung Kesenian Soetedja yang baru menyelesaikan pembangunan gedung teater indoor-nya. Lantas, siapa sebenarnya sosok pencipta lagu yang namanya justru jarang didengar di tanah kelahirannya ini.

Sebelum mencari jejak sang komponis, ada baiknya memutar lagu berjudul "I'I'I' (Seruanku)" ciptaan R Soetedja dengan syair yang ditulis Mahargono. Perjalanan dimulai dengan memasuki gang sempit di belakang sebuah mall tepat di jantung Kota Purwokerto. Tak banyak yang tahu, kisah tentang pria kelahiran 15 Oktober 1909 ini berawal dari balik kemegahan gedung itu, 50 meter ke arah timur dari parkir basement.

Tak jauh dari pusat perbelanjaan lima lantai itu, terdapat rumah bercat putih berdinding kusam, berjendela berwarna biru. Sejenak, terbersit dalam pikiran, mungkin tak ada yang pernah menyangka rumah ini adalah saksi bisu masa kecil Raden Soetedja, anak keempat dari delapan bersaudara, buah kasih Poerwadibrata.

Kondisi bangunan itu masih utuh. Beberapa ekor burung gereja terbang bebas di pelataran. Orang yang lalu lalang di Jalan Pereng, Purwokerto tentu paham, bangunan yang kini difungsikan sebagai gudang itu berusia cukup tua.
Rumah Bapak R Soetedja, R Poerwadibrata (sekarang milik Rita Supermall)
Warga setempat lebih akrab dengan sebutan rumah "Bu Sisten", merujuk pada Siti Asiah, istri Poerwadibrata, ayah kandung Soetedja. Rumah itu dibiarkan kosong selama puluhan tahun sebelum akhirnya dimiliki oleh salah satu taipan Kota Mendoan.

Setelah puas melihat-lihat bangunan tua itu, perhentian berikutnya adalah rumah dinas Poerwadibrata. Lagu gubahan Soetedja "Aku Jadi Kepala" yang syairnya ditulis Utjin, menjadi pengantar saat melihat-lihat rumah dinas Asisten Wedana Kebumen, di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden.

Di rumah ini, Soetedja dibesarkan sebelum diangkat sebagai anak oleh Raden Soemandar. Sayangnya, tak banyak yang bisa diketahui dari sini. Sebab bangunan utama sudah berubah menjadi Puskesmas II Baturraden.

Pun demikian dengan rumah milik R Soetedja ketika sudah berkeluarga di Jalan Komisaris Bambang Suprapto atau yang lebih dikenal bekas Hotel Adam. Bangunan itu telah berubah menjadi deretan rumah toko.

Satu-satunya jejak masa kecil yang masih tersisa adalah kediaman ayah angkat sekaligus paman Soetedja, Raden Soemandar. Dalem Kemandaran merupakan sebuah rumah tua di tepi jalan Purwareja Klampok, Banjarnegara, sekitar satu jam perjalanan dari Kota Purwokerto.

Beberapa daftar lagu milik Soetedja seperti lagu Selamat Berjuang, Hamba Menyanyi, Keroncong Melati Pesanku, Keroncong Senja, sampai Tidurlah Intan bisa menjadi teman perjalanan menuju rumah yang berada di komplek Pasar Purwareja Klampok.

Dalem Kemandaran, Klampok, Banjarnegara (dok. Nugroho Pandhu Sukmono)
Rumah bergaya Belanda ini menjadi taman bermain bagi R Soetedja semasa dibesarkan oleh orang tua angkatnya. Raden Soemandar, adalah orang terpandang pada masa Hindia Belanda. Dia pengusaha karung, pemilik kebun tebu dan batik saat kejayaan ekspor gula di Karesidenan Banyumas. Dalem Kemandaran sendiri diambil dari nama Soemandar, tujuannya untuk memudahkan pengantar surat tidak salah alamat.

Tahun 1971, satu keluarga bidan menyewa rumah ini. Lalu, difungsikan sebagai klinik pengobatan hingga sekarang. Bangunan utama yang tadinya digunakan sebagai kantor pengelolaan bisnis Soemandar masih terlihat utuh. Demikian pula dengan pabrik batik di sayap timur rumah utama.

Di rumah inilah, bakat Soetedja sebagai komponis besar mulai terlihat. Soetedja kecil memiliki kebiasaan yang cukup berisik. Dia gemar memainkan peralatan batik untuk bermusik.

Ketika berusia 10 tahun, Soemandar membelikan biola Stradivarius Paganini buatan tahun 1834 yang dilengkapi dengan sebuah piano pada pemberian berikutnya. Kemahirannya bermusik tampak ketika dia mendirikan band semasa duduk di bangku sekolah menengah.

Lagu "Ditepinya Sungai Serayu" yang legendaris itu, lahir berkat kemauan kerasnya untuk menekuni dunia musik. Syair itu tercipta kala berhasil menaklukkan ayah angkat dan menyekolahkannya ke Konservatori Musik Roma, Italia.

Jejak-jejak terakhir R Soetedja masih tertinggal di salah satu sudut studio RRI Purwokerto. Aula Soetedja, yang kini berganti nama Studio Satria masih memajang fotonya. Jika tak percaya, silakan saja mengunjungi ruangan itu.

Konon, ruangan ini merupakan bentuk penghargaan kepada pria yang menggemari kopi dan nasi goreng ini. Setelah sempat menetap di Jakarta tahun 1942, dia sempat kembali ke Purwokerto dan menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto pada tahun 1946.

R Soetedja juga dikenal sebagai sosok yang romantis, gesekan biola, ketukan piano dan aransemennya mampu meluluhkan hati setiap orang yang mendengar. Sebagian besar tembang gubahan Soetedja diciptakan semasa berada di Jakarta. Dia juga menghidupkan Orkes Melati yang kerap tampil di RRI Jakarta, atau bermain di sebuah klub bernama Wisma Nusantara, pojok Istana Negara serta memimpin korps musik Angkatan Udara Republik Indonesia.

Sayangnya, R Soetedja wafat pada 12 April 1960 dan dimakamkan di TPU Karet Jakarta. Penerima penghargaan bidang kesenian pada masa Gubernur Jakarta Ali Sadikin ini meninggalkan seorang istri dan sembilan putra. Meninggal di usia relatif muda dan lemahnya dokumentasi karya, membuat lagu-lagu R Soetedja kurang begitu dikenal pada masa sekarang.

Setelah menempuh perjalanan jauh Purwokerto-Banjarnegara, tamasya bersama Soetedja ini haruslah dilengkapi dengan bersantai di kawasan Lembah Sungai Serayu. Menikmati senja di ketinggian Bukit Watumeja, Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen, ditemani kopi hangat dan mendengar sayup-sayup lagu "Ditepinya Sungai Serayu". (Nugroho Pandhu Sukmono)