Sunday, March 8, 2015

Suikerfabriek Kaliredjo


Pabrik Gula Kaliredjo  masih dibawah N. V. Cultuur - Maatschappij der Vorstenlanden Semarang. Pabrik gula Kaliredjo (Kalirejo) yang di bangun dibangun oleh O. L. J. E. Lohmann adalah pabrik gula paling terakhir di wilayah karsidenan Banyumas. Dilihat dari peta Belanda tahun 1906 yang belum merilis peta wilayah bagian barat Soempioeh (Sumpyuh) namun pada peta tahun 1920 kumpulan garis merah yang mempresentasikan bangunan permanen pada peta sudah diterbitkan. Menurut data mengenai laporan keuangan catatan tertua mengenai pabrik gula ini adalah tahun 1910.

banjoemas.com
Peta Sumpiuh (kit.nl)

Pabrik ini seakan dibangun berbeda dengan pabrik gula lainnya yang terlebih dahulu dibangun di Banyumas, karena dari segi tata ruang dan tehnologi yang lebih modern. Bangunan pabrik dan perumahan karyawan yang tertata rapi. Gedung bangunan pabrik sudah menggunakan rangka baja. Bahkan cerobong asap yang merupakan elemen penting pebuangan sisa pembakaranpun sudah tidak menggunakan cerobong gemuk (bata) tapi sudah menggunakan cerobong baja cor yang lebih ramping.

banjoemas heritage
Pembuatan jalur rel Sf. Kaliredjo - Sta. Sumpiuh tahun 1912

banjoemas heritage
Persiapan pondasi untuk bangunan pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Pekerja Pribumi mempersiapkan pondasi tahun 1912

banjoemas heritage
Tiang rangka baja sedang di persiapkan tahun 1912

banjoemas heritage
Pembangunan pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Pembangunan pabrik dengan alat sederhana  tahun 1912

banjoemas heritage
Peralatan pabrik baru saja di turunkan dari kereta tahun 1912

banjoemas heritage
Jalur rel SS yang berada di kompleks Pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Pemasangan rangka baja untuk pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Merangkai Crane untuk bongkar muat tebu tahun 1912

banjoemas heritage
Bagian lain dari pabrik tahun 1912

Pembangunannya pabrik ini menggunakan Pelabuhan Cilacap untuk mendatangkan peralatan giling dan peralatan lainnya dari Batavia maupun dari Eropa. Dari Pelabuhan Cilacap peralatan dan bahan lainnya diangkut menggunakan kereta milik SS ke setasiun Sumpiuh yang dibangun 15 tahun sebelumnya. Konon jalur rel yang menghubungkan pabrik dan stasiun lebih dahulu di bangun dari pada pabriknya sendiri. Ini bisa di benarkan karena di lihat dari dokumentasi foto bahan2 yang di gunakan dalam pembangunan sangat tergantung dari pasokan pabrik di luar daerah.

banjoemas heritage
Bagian lain dalam pabrik gula tahun 1912

banjoemas heritage
Instalasi mesin pabrik tahun 1910

banjoemas heritage
Seorang anak bermain di antara lori tahun 1911

banjoemas heritage
Instalasi mesin di dalam pabrik tahun 1911

banjoemas heritage
Pemasangan peralatan pabrik tahun 1910

Rel lori yang merupakan sarana transportasi olahan pabrik juga terlihat sangat tertata rapi. Posisi pabrik dan rel lori yang berada lebih rendah dari rel SS menyebabkan dibuatkanya terowongan di bawah rel SS untuk menjangkau perkebunan tebu di daerah selatan rel SS.

Residen Banyumas membuat berdasarkan ayat 1, Lampiran No 2. 5132 mengumumkan bahwa mereka telah menerima permintaan dari Mr J. A. Pietermaat, Administrator gula kalibagor, izin untuk membawanya berlaku dan mengemudi sebuah perusahaan gula, sebagaimana dimaksud dalam Pasal I Nomor 1889. 263, di Soempioeh desa, Kaliredjo kabupaten, Banyumas departemen dengan penanaman chen bruto tahunan tahun 2000 bangunan. Banyumas, 24 Januari 1907. Residen Banyumas, L. N. Dari Meeverden.

Archief voor de Java-suikerindustrie : orgaan van het Algemeen syndicaat van suikerfabrikanten op Java, Volume 15, Number 3, 1 December 1907 

Perusahaan pabrik ini berbentuk perusahaan terbatas (naamlooze vennootschappen) dimana merupakan saham gabungan. Administratur pabrik Gula ini adalah O. L. J. E. Lohmann (1915) dia pada tahun 1906 menuliskan sebuah buku berjudul "sugar industry sugar cane agricultural engineering quality control Java Indonesia.

Pada tanggal 23 Juli 1926 Kantor Residen di Banyumas mendapat petisi yang di sahkan di Semarang pada tanggal 20 Juli 1920 oleh A. Fernhout en Mr. H. A. A. C. Reyners tentang perluasan wilayah perkebunan tebu di daerah Tjindaga (Cindaga) distrik Adiredja Afdeling Tjilatjap (Kabupaten Cilacap). Perluasan ini diharapkan agar produksi Tebu dan Gula pabrik gula Kaliredjo (Kalirejo) mencapai maksimalnya. Perluasan yang diminta sebanyak 2000 bouws (bau). Tanah yang diminta berada di timur kali Serjoe (Serayu) selatan pegunungan Djampang (Jampang) utara rel SS Kroja (Kroya) - Maos, dan wilayah timur dengan areal perkebunan yang sudah ada sebelumnya. Perluasan ini akan dilakukan dengan menyewa tanah dari penduduk hingga tercapai angka 2000 bouws (bau).

Javasche Courant, 30 Juli 1926 No 60

Aplikasi untuk penambahan areal perkebunan tebu Sf. Kaliredjo

Gubernur Jawa Tengah pada 28 Agustus 1929 telah menerima petisi, Semarang tanggal 26 Agustus 1929, dari A. Fernhout dan Mr. H. A. A. C. Reyners, agen Semarang dari  Amsterdam mendirikan perusahaan saham gabungan "Masyarakat Budaya Kepangeranan", saat ini perwakilan perusahaan tanpa nama di KUALITAS yang didelegasikan di Hindia Belanda juga ke Amsterdam berbasis saham gabungan perusahaan gula Kaliredjo, pemilik perusahaan gula "Kaliredjo", yang terletak di Selatan dan Utara tinggal Banyumas, yang berisi permintaan untuk otorisasi untuk memperluas daerah untuk budidaya tebu untuk gula disebut perusahaan dengan 3035 bouws, yang 1.388 bouws terletak di distrik Banyumas off deeling utara Banjoemas bouws dan 1647 di distrik Kroya departemen Selatan Banyumas.

Keberatan Gubernur di Semarang diutarakan sebelum 15 November 1929.

Java Courant, 3 September 1929, No. 71

banjoemas heritage
Foto perumahan pegawai dengan latar belakang pabrik tahun 1911

banjoemas heritage
Foto perumahan pegawai dengan latar belakang pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Jalan raya Sumpiuh - Buntu dengan rangkaian rel lorie

banjoemas heritage
Pegawai pabrik gula berpose di lapangan tenis tahun 1911

banjoemas heritage
Pegawai Belanda dan pegawai Pribumi tahun 1912

banjoemas heritage
Mesin-mesin dengan teknologi paling baru di Pabrik gula Kaliredjo tahun 1912

banjoemas heritage
Mesin pembangkit untuk pabrik gula tahun 1912

banjoemas heritage
Crane melakukan pekerjaannya membongkar muatan tebu tahun 1912

banjoemas heritage
Mesin mengeluarkan ampas tebu tahun 1912

banjoemas heritage
Pegawai pabrik gula berpose didalam pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Acara pembukaan pabrik gula Kaliredjo

banjoemas heritage
Pembukaan pebrik gula Kaliredjo tahun 1912

banjoemas heritage
Pesta pembukaan pabrik Gula Kaliredjo tahun 1912

banjoemas heritage
Acara pembukaan pabrik gula Kaliredjo tahun 1912

banjoemas heritage
Pabrik di lihat dari udara tahun 1930

banjoemas heritage
Perumahan pegawai pabrik gula tahun 1930

banjoemas heritage
Jalur kereta SS dan lorie

Pemberhentian Produksi

Pada tahun 1934 dimana masa krisis dunia sedang berlangsung, beberapa Pabrik Gula tidak bisa lagi untuk terus berproduksi, dikarenakan sulitnya menjual komoditas di Eropa dan beberapa negara pengekspor Gula. Keputusan ini dilakukan bersamaan dengan laporan tahunan tahun 1934. Likuidasi dilakukan bersam dengan 21 Pabrik yang lain di Jawa, dan khususnya di Banyumas bersama dengan Sf. Klampok dan Sf. Bodjong.

Verslag van het Algemeen syndicaat van suikerfabrikanten in Nederlandsch-Indiƫ, Number 1, 1 January 1933
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License

Sumber lain.
Archief voor de Java-suikerindustrie : orgaan van het Algemeen syndicaat van suikerfabrikanten op Java, Volume 15, Number 3, 1 December 1907 

Javasche Courant, 30 Juli 1926 No 60 
Java Courant, 3 September 1929, No. 71
Verslag van het Algemeen syndicaat van suikerfabrikanten in Nederlandsch-IndiĆ«, Number 1, 1 January 1933 

51 comments:

Hilmy Nugraha said...

josss!!

Anonymous said...

wah keren sekali ya ternyata jaman dulu...sekarang dah hilang semuanya....Waktu kecil saya masih ingat mas di jalan raden patah dukuhwaluh dari arah utara ke selatan ada rel sepur ya....mungkin menghubungkan ke sokaraja ke kalibagor?

Jatmiko W said...

Hilmy, Gandoss !

Anonymous, betul mas/mbak semoga situs ini bisa mengingatkan memori masa lalu, pernah berjaya dan dengan peninggalan yang begitu banyak dan sekarang satu persatu puluhan per puluhan hilang tak terganti.

Salam Lestari !

Ideaku said...

Entah kenapa hati saya sakit ketika melihat foto, "Pegawai Belanda dan pegawai pribumi 1912" Penjajah menjadi raja di negeri ini, pribumi hanya jadi jongos....

Jatmiko W said...

Sofyan (Ideaku) terimakasih, Pada saat itu itulah yang terjadi, penguasa itu ada dua mas Penjajah bernama keren Hindia Belanda (Nama sebelum Indonesia) dan juga darah biru dan priyayi yang sebagai penyedia jasa tenaga kerja berbayar atau gratis untuk Ned. Indie, lebih pedih lagi disaat bangunan itu seharusnya di teruskan oleh tangan pribumi setelah kemerdekaan, bangunan yang di kerjakan dengan darah dan keringat "pribumi" dibakar dan di hancurkan oleh pro republik, pikirku apa salah bangunan itu, dan parah lagi di masa era pembangunan semakin banyak peninggalan terabaikan begitu saja.

salam lestari

Willy Artho said...

Matur nuwun atas tambahan pengetahuannya.... Bulan Des-2012 yll, setelah sekitar 7 tahun lebih 'ndak mengunjungi tanah leluhur (sumpyuh), selintas saya lihat gedung2 di bekas tangsi Belanda-Giritomo banyak sudah berubah bentuk....

Willy Artho said...

Mas Miko, setelah saya perhatikan lebih teliti lokasi pabrik berdasar peta di atas, maka posisi pabrik sekarang ini ada dimana ya ?! Jangan2 apa yang saya sebut "tangsi Belanda-Giritomo" pada comment saya sebelumnya, itu yang dimaksud bekas komplek pabrik gula Kalirejo ya?? Di lokasi tersebut memang ada beberapa bangunan tersisa dengan arsitektur Eropa (Belanda)....pada dekade 80-an yang saya tahu, ada beberapa bangunan yang masih bagus/utuh dan ada yang tinggal tembok2 besar menghitam seperti bekas terbakar..... Bangunan yang masih bagus ada yang dimanfaatkan sebagai gedung sekolah (STM Giritomo dan SMPN 2 Sumpyuh), dan di arah jalan keluar dari komplek tersebut, menghadap jalan raya Buntu-Sumpyuh, terdapat pabrik minyak goreng/kelapa..... Saya penasaran dengan analisa saya ini karena hanya berdasar ingatan saya 25-30 tahun yll saat saya sering diajak bapak setiap minggu berkunjung rumah ke Mbah saya, Mbah dari ibu di Desa Kebokura (disebut di peta) dan Mbah dari Bapak di Desa Lebeng Kec. Sumpyuh....

Saya asli-lahir/besar di Purbalingga, sekarang tinggal di Tambun-Bekasi, di belakang gedung "Joeang 45 Bekasi" bekerja di bilangan Pejambon-Jakpus (yang masih banyak bangunan tua dilestarikan) ...Setiap kali memperhatikan bangunan2 tua jaman Kolonial maka ingatan saya selalu nge-'klik' pada kenangan masa kecil saya saat sering di ajak ke rumah Mbah di Sumpyuh.....

Willy Artho said...

Dari foto udara komplek perumahan pegawai, saya jadi semakin yakin, kalau lahan berbentuk lingkaran yang di tengah-tengahnya terdapat lapangan tenis, itu yang sekarang menjadi lokasi SMPN 2 Sumpiuh (bedasar pengamatan di google earth ataupun denah SMPN 2 yang saya dapat di google). Tapi yang membuat saya penasaran, sejauh pengamatan foto2 di atas dihubungkan dengan rekaman memori yang ada di ingatan saya , lokasi pabrik berarti di seberang jalan raya Sumpiuh-Buntu ?!?!.....Dan yang lebih membuat lebih penasaran, dari orang2 tua ataupun embah2 saya belum pernah ke-crita kalo dulu di daerah tersebut ada pabrik gula, padahal saat saya SD dulu (tahun 80-an) saya sangat terobsesi akan asal-usul keberadaan bangunan2 tersebut......

Jatmiko W said...

Mas Willy, senang membaca apresiasi komentar anda, Mengenai Tangsi saya tidak begitu tahu, Awalnya saya juga begitu heran beberapa sumber dari arsip Belanda menyatakan bahwa Pabrik Gula ini berada di Sumpyuh dengan nama Kaliredjo (sebuah distrik bikinan Belanda tahun 1830 yang menginduk pada kabupaten Banyumas). Google Earth tidak banyak membantu karena wilayah Sumpyuh belum terlihat jelas, dan secara nyata pun di lokasi tidak terlihat adanya peninggalan bangunan yang mencolok. Beberapa narasumber pun tidak banyak membantu, hingga akhirnya menemukan peta tahun 1906 dan 1920 dan juga foto udara. Pada tahun 1934 pabrik ini di tutup beserta 3 pabrik gula lain di wilayah Karsidenan Banyumas, dan pada masa Agresi Militer pabrik di bakar oleh Tentara Nasional.

Salam Lestari

Willy Artho said...

Memang bila dilihat melalui google earth ndak begitu jelas....tapi kelihatan ada beberapa (denah) beberapa bangunan yang samar2 terlihat (di sebelah utara jalan) dan itu yang saya perkirakan bekas komplek perumahan karyawan, karena mendekati denah letak bangunan2 seperti di foto2 artikel anda ini. Sedangkan apa yang disebut pabrik memang secara nyata di lapangan maupun citra satelit menurut saya sudah tidak kelihatan lagi...... Seingat saya ke arah selatan dulu memang ada jalur lori yang masih terlihat, ngga tahu klo sekarang.....

Yoyo said...

mas, ternyata PG Kalirejo di Sumpiuh to, pantesan kata temen saya yg di sumpiuh katanya di sumpiuh ada jalur lori, dan mungkin itu milik PG Kalirejo ini... wahhh, mantebb mas bgt infonya, oiya kata temen saya yg di tambak katanya juga ada bekas jalur lori juga, ktny gauge'ny sekitar 900mm..., kalo saya sejauh ini sudah memfoto bekas2 stasiun& bekas2 Pabrik Gula, misalnya foto Stasiun Banjarsari

Anonymous said...

jadi pabriknya itu bukan di kompleks SMK GP Atau SMPN 2 Sumpiuh,akan tetapi ada di Sekitar Wahyu (Polsek) ke selatan,dekat Jalur Kereta Api sekarang.sudah rusak bangunan nya.....

Everest Corporation Medical said...

jika diblakang polsek sumpiuh apakh msh ada sisa2 bangunannya?PG kalirejo di sumpuih jd smakin penasaran blusukan...kl begitu komplek perumahan pegawainya di dpn polsek sumpiuh kah?

Anonymous said...

kalau dilihat peta udaranya sepertinya lokasi pabrik gula ini pas di komplek Giritomo,sampai sekarang masih bisa dilihat bekas2 bangunan belanda dan saluran pengairan yang sangat rapi bekas pabrik gula....terus apa hubunganya dengan nama sungai yg di sumpiuh yah??KALI REJA

Jatmiko W said...

All, maaf baru sekarang balesinnya, sisa sisa bangunan pabrik sudah tidak terlihat lagi di belakang polsek, polsek sendiri dulu belakangnya bekas stasiun lori. Lori memang menjalar ke semua arah termasuk ke arah selatan dan barat sampai distrik Adiredja (Buntu), untuk nama Kaliredja karena dulu daerah Soempioeh masuk distrik Adiredja, dan distrik Kaliredja dan Adiredja masuk wilayah kabupaten Banjoemas bukan Tjilatjap. Lihat disini

Mas Yoyo terimakasih sudah berbagi di FB.

Faishal Ammar said...

sedikit mau menambahkan mas Jat... Saya teman Yoyo yang dimaksud dalam komentarnya,memang di tempat saya ada bekas gundukan rel lori sepanjang l.k 800m melintang dari barat ke timur.Sayang hanya rel di jembatan saja yang menjadi bukti,itupun sudah di re-gauge oleh warga untuk memperlebar jalan.Sayang hanya ada sedikit narasumber dan tidak ada arsip desa untuk hal ini.Menurut analisa Ayah saya,rel ini menuju ke selatan hingga menuju jalan raya kemudian membelok ke timur hingga ke daerah Kalimanggis kemudian masuk ke utara lagi hingga ke pemakaman.Analisa ini kemungkinan benar,karena badan jalan sepanjang jalur tadi cukup lebar,muat untuk lori.Hanya satu yang masih mengganjal.Jembatan Kali Ketjepak.Apakah bergabung dengan jembatan jalan raya,atau menjadi jembatan sendiri.Di lokasi sendiri tidak ditemukan adanya bekas-bekas jembatan lori.Jika bergabung dengan jembatan jalan raya,pada Clash I jembatan tersebut pernah diledakkan oleh Republieken Desa Purwodadi dan Tambak,yang menyebabkan Purwodadi dihujani mortir dan tembakan artilleri.Namun untuk trek ke barat,menuju desa Kamulyan dan desa Gumelar Lor/Kidul masih samar-samar... Cuma itu saja yang saya ketahui...

Jatmiko W said...

Faishal Ammar terimakasih sudah menambahkan, saya kurang paham nama2 daerah di Sumpiuh, tapi saya punya peta dalam bentuk kmz yang bisa di buka di Google Earth. Silahkan kirimkan Email kosong ke jatmikow@banjoemas.com. Salam

Cakra Amiyantoro said...

Gan Baru tahu aku wkwkwk

Ohya aku mao requwest mmm gimana sejarahnya kereta api terakhir di indonesia trus bisa juga + full filmnya yang mengenai perjalanan kereta api terakhir indonesia dari Purwokerto hingga Yogyakarta. Moga ajja bermanfaat gan !! :)

kunjungi juga ya hihikkk cuma kunjungi satu kali gapapa kok wkwkkw
http://tik-lebihdekat.blogspot.com/

Trim Infonya Salam kenal

smyadi said...

Seneng banget bisa melihat foto kota asal saya jaman dulu. Terima kasih om Penulis. Oh ya beberapa waktu lalu saya sempet mbusukan dikit, dan ada beberapa foto yang kaitannya tentang pabrik gula ini. Boleh saya minta ijin share beberapa foto di halaman ini, sebagai bahan perbandingan foto Sumpiuh dulu dan sekarang melalui blog saya. Terima kasih sebelumnya.

Jatmiko W said...

Cakra Amiyantoro, terimakasih kunjungannya, film kereta api terahir hanya simbol perlawanan dengan media kereta yang dieksploitasi sehingga menciptakan klimaks. Dalam kejadian yang sebenarnya tidak ada istilah kereta terahir, karena kereta yang di pakai pada masa kolonial-Jepang-Agresi akhirnya dipake juga oleh Indonesia dibawah PNKA.

smyadi, terimakasih kunjungannnya di sini, senang bisa mengingatkan dan menggambarkan kembali masa lalu daerah anda. Untuk sementara menggunakan foto di halaman ini belum diijinkan karena foto yang kami dapatkan bersifat "exlusif" silahkan cantumkan saja link ke halaman ini. Karena kami juga masih dalam penyusunan halaman perbandingan, yang akan di publish dalam waktu dekat. Terimakasih

smyadi said...

ya tidak apa-apa...
ini foto Sf Kaliredjo jepretan saya, juni 2013
Sf Kaliredja | 2013

Tegar Alfi said...

benar,hingga saat ini beberapa "artefak" masih tersisa akan tetapi tidak cukup untuk mewakili kemegahan dari suikerfabriek Kaliredjo ini.bangunan diselatan jalan sudah hampir2 menjadi perumahan.sementara terowongan lori masih ada,dan jalur SS yang ke sumpiuh sekarang sudah jadi jalur persawahan namun mungkin masih ada sisa2 jembatan nya yg menyeberang sungai kecil disebelah utara.sayang sekali kemegahan bangunan2 ini benar2 tidak tersisa kecuali sedikit...mas jatmiko,maaf apakah punya MAP Sumpiuh di era kolonial? yang memuat bangunan2 (seperti contoh MAP Soempioeh th 1920.kebetulan saya orang Sumpiuh...

Jatmiko W said...

Tegar Alfi, terimakasih kunjungannya, memang sekarang sudah memperihatinkan kondisinya, hanya tersisa perumahan dan empalesemen lori di dekat kuburan. Untuk peta nanti saya cari lagi mas sesampainya di Purwokerto, sementara saya masih di luar kota mas.

Anonymous said...

terima kasih sekali nih mas......
jadi saya tau sejarah rumah saya......
saya salah satu yang menempati rumah ex perumahan karyawan PG Kaliredjo.... rumah saya masih utuh.... terawat ....

Anonymous said...

Mas anonymous sampeyan tinggal dimananya yg di giripuro apa yang didaerah wahyu.... seingat saya waktu parik gula itu adanya di wahyu tepatnya di pinggir kali disitu dulu ada lori dan waktu kecil saya sering main ke bangunan belanda yg kata orang sekitar bekas pabrik gula... dan waktu tahun 1980 an bagungan itu pernah digunakan sebagai penggilingan padi... karena beberapa x saya sempat menggiling padi di situ...memang bangunan itu sunggu megah dulunya

sujatno
jatno_lala@yahoo.com

jazzy oldiesa said...

Waduhhh, terima kasih artikelnya Bapak Admin, ternyata rumah ortu saya sudah ada sejak 1912 ya ? alhamdulillah masih utuh. Keluarga kami baru pindah ke salah satu rumah bekas pegawai pabrik gula kaliredjo awal tahun ini, bener2 rejeki karena kami bisa menempati rumah yg bersejarah, dengan tanah yg luas jadi orang tua saya bisa punya kegiatan menanam/piara ayam seperti yg mereka impi2kan waktu masih aktif jadi pegawai di Jakarta. Sekarang beliau sudah pensiun dan mau melipir ke desa dan alhamdulillah dapat rumah di depan SMPN 2 Sumpiuh, dekat dari rumah Mbah saya juga di Gombong. Dekat ke Jalan raya, kalau mau ke jogja/purwokerto, bisa langsung stop di pinggir jalan hehehe. Kapan2 saya mudik lagi, kalau ada acara napak tilas daerah sekitar Sumpiuh-Banyumas, mohon info2, siapa tau saya bisa ikut join liat bangunan2 tua peninggalan jaman belanda.

Salam
Vita ( evitagoeritno@gmail.com )

Kang Sa'o said...

Sumpiuh mantab zaman dulu ya brow, mari wujudkan yang seperti ini lagi

Anonymous said...

kaliredjo kan nama sungai yabg di sebelah timur rumah makan inggir kali

Anonymous said...

wah keren !!!! pabrik gula tsb, dulu ada di tempat tinggal saya sekarang, yaitu daerah wahyu,,waktu saya kecil sisa-sisa sanitasi air bahkan masih bagus dan lancar,,bahkan tempat yg ada di foto, saya tahu semua,,,saya masih punya foto2 peniggalan mbh saya.

setiadiheri@ymail.com

Jatmiko W said...

Sujatno, terimakasih sudah berkunjung

Vita, semoga keluarga anda bisa merawat bangunan bersejarah meski tidak di sumbang oleh Pemerintah, karena kecil kemungkinan mengharapkan kepedulian pemerintah, untuk lebih dekat silahkan add facebook kita di fb/banjoemas salam

Kang Sa'o, terimakasih kunjungannya

Setiadiheri, terimakasih sudah berkunjung, kapan2 kapan tim kami bisa mampir ke rumah untuk sekedar melihat-lihat kleksi foto leluhurnya mas

UNUY said...

LUAR BIASA

Anonymous said...

wah Majenang kapan gilirannya ya? dulu ada pabrik Gula Belanda juga lho disana...

sobi bms said...

top

tumpakrejotumpaklawang said...

keren sekalii om sebuah megah sekali

Anonymous said...

Menarik sekali.
Saya sendiri orang Kebokura---Sumpiuh (tinggal di daerah Wahyu).
Thanks for sharing :)

kasamago said...

mantab, ternyata di sumpiuh ad pabrik gula jg. dokumentasinya lngkp lg dijaman sgitu. amazing

AW said...

https://www.google.com/maps/@-7.60855,109.35387,472m/data=!3m1!1e3

AW said...

https://www.google.com/maps/@-7.6120841,109.3531041,945m/data=!3m1!1e3

Jatmiko W said...

Kasamago; sisi terang penjajahan di Banjoemas adalah dokumentasi masa lalu

AW; semangat betul sekali

tyo aji said...

Mas kalo menurut saya itu berada di daerah wahyu blkang polsek karna saya lihat dari wikimapia ada struktur railbed dari arah timur sblum sta sumpiuh berbelok ke utara, selain itu d jalan sumpiuh buntu sebelum polsek ada greja dekat makam arsitekturnya mirip jaman kolonial

Faizal Ahmad said...

Mas Jat, dulu waktu kecil(belom masuk TK), ortu saya baru pindah dari pandak ke wahyu, timur rumah ortu saya tepatnya sekarang selatan polsek sumpiuh, gang 2, masih ada peninggalan roda besi yang sangat besar, Tapi sekarang sudah jadi perumahan warga semua, tinggal sedikit sisa bangunan pabrik gula itu sampe sekarang, di selatan rymah ortu saya, tepatnya gang 3. s

Deni Trigartanto said...

Hanya jd peninggalan dan nama untuk d kenang kemegahan dan kejayaan jaman dahulu berbanding terbalik dg keadaan sekarang banyak yg terlupakan dan beralih fungsi mungkin jika d masa perjuangan dahulu pabrik ini tidak d bakar pasti d sumpyuh menjadi salah satu sentra pemasok gula nasional saya orang jogja tp ibu saya asli bogangin sumpyuh apapun tentang sumpyuh saya tertarik mungkin akhir bulan depan saya akan ke tempat simbah saya dan bertanya ke pada beliau tentang P. G kaliredja

Danang Afuah Setiaji said...

Baru tau ada situs ini..
Kampung sy di desa Kedungpring, sekitar 2km ke arah barat Wahyu. Daerah itu jalan sehari2 aktivitas sy kalo pas lg di rumah. Boleh dishare peta sumpiuh nya via email kalo ada mas Jatmikow. Kalau liat foto2 jadul begini enaknya sambil dengerin lagunya Coldplay, "Everglow", makin syahdu. :D

tri saptono said...

Akhinya trjawab rasa penasaranku selama 19th :D

Unknown said...

menurut cerita ortu .... buyut saya salah satu pegawai pabrik gula kaliredjo ..... dari pribuminya bukan bulenya ,,,, heheheheee

arikus said...

Miris ngeliat pegawai Belanda dan Pribumi, jaraknya seperti jauh banget..Belanda duduk di atas dan pribumi tanpa baju duduk di bawah..padahal di negeri sendiri..Alhamdulillah sekarang sudah merdeka..

Iwan Tse said...

Rumah saya di daerah gumelar kidul kecamatan tambak..kira-kira 5km ke arah timur sumpiuh...di gumelar kidul ada daerah persawahan yang terkenal dengan nama "trem",menurut cerita mbah kakung saya.daerah tersebut tadinya adalah perkebunan tebu yang hasilnya untuk menyuplai pabrik gula yang ada di sumpiuh..dilengkapi juga dengan jalur lori atau trem..tapi sayang sekarang tidak bekasnya sama sekali..

Jatmiko W said...

Buat semua yang sudah meninggalkan komentar saya ucapkan terimakasih, memang peninggalan sejarah Pabrik Gula kaliredjo meninggalkan sedikit sekali artefak karena pabrik ini di tutup lebih awal yaitu pada tahun 1936, setelah sebelumnya tutup sementara karena adanya masa mailese yang terjadi di Hindia Belanda. Dan sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk membuka sejarah masa lalu daerah sekitar kita (dalam kasus ini wilayah Sumpyuh dan sekitarnya) dan menjaganya bersama sama agar tidak lagi dihilangkan. Laporkan pengrusakan dan penghancuran situs situs peninggalan sejarah di sekitar kita ke admin@banjoemas.com atau FB/banjoemas.

Nantikan JELAJAH PABRIK GULA KALIREDJO di bulan September 2016.

Salam
Jatmiko W

Wahyu Dedi said...

Salam Mas Jatmiko

kalau mau mampir ke rumah ortu saya kami persilahkan. masih asli seperti jaman belanda.
lokasi di depan polsek Sumpiuh. (ibu Tuti)

salam

Wahyu (wawan)

Jatmiko W said...

Wahyu Dedi, Tahun lalu saya sudah mampir ke salah satu rumah disana yang masuk gang kecil. Saya mampir di rumah yang etngah bukan yang pojok, kapan kapan saya mampir ke rumah yang pojok.

salam lestari

Anonymous said...

wah, setelah saya pikir. pg ini ada di barat rumah saya. saya dulu sering main kesawah. ngeliat terowongan tersebut[selatan] dan bekas jalur kereta. saya tanya sama mbah2 katanya bekas pg. skrg kayanya tk wahyu arrohman. cmiiw

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum