Friday, July 24, 2015

Kota Purwakerta (Poerwokerto)

Poerwakerta atau Purwakerta; "Purwa" yang konon diambil dari nama sebuah negara kuna di tepan sungai Serayu "Purwacarita" bermakna "permulaan" dan "Kerta" yang diambil dari nama ibukota kadipaten "Pasir" yaitu "Pasirkertawibawa"  yang dalam bahasa Jawa-Kawi bermakna "kesejahteraan" atau lengkapnya menjadi "Permulaan kesejahetraan".

Purwakerta merupakan kota kecil dibandingkan dengan Sokaraja atau Ajibarang, bahkan ketika pada tahun 1831 saat pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem pemerintahan dengan membagi-bagi daerah kota Purwakerta hanya dijadikan ibukota Distrik dibawah Kabupaten Ajibarang. Walaupun kemudian pada tahun 1836 kota Ajibarang terkena musibah angin puting beliung selama 40 hari 40 malam yang akhirnya atas persetujuan Residen Banyumas pusat kota kabupaten Ajibarang di pindah ke desa Paguwan (Paguhan) yaitu desa sebelah barat ibukota distrik Purwakerta oleh bupati Raden Tumenggung Bartadimeja yang bergelar Raden Adipati Mertadireja II dan Asisten Residen Werkevisser. Seperti kota-kota lain yang di bangun oleh Belanda, biasanya dibangun di lahan baru yang tidak jauh dari kota asalnya.

Desa Paguwan berada di sebelah barat sungai kranji dan kota Purwakerta, di sebelah timur sungai Banjaran di sebelah utara Pereng (tebing) sungai Kranji. Dan pendopo kabupaten dibangun di atas sendang yang sangat jernih airnya (sekarang sedang di bangun mall) yang dulu merupakan tempat mandi para santri di pondok pesantren Pekih di Paguwan. Sedangkan rumah Asisten Residen Purwakerta berada di Bantarsoka (Tebing sungai Banjaran) dan kantor landkas berada di sebelah timurnya.


Banjoemas Heritage
Peta Purwakerta tahun 1940


Banjoemas Heritage
Pendopo Kabupaten di Purwakerta yang di bangun pertama kali

Banjoemas Heritage
Bupati, Pegawai propinsi dan Kabupaten

Banjoemas Heritage
Pendopo tempat tinggal Asisten Residen

Purwakerta pada rekaman visual tahun 1900-1930han, terdapat banyak sekali bangunan sangat megah dan tentunya merupakan sebagai aspek-aspek pendukung kota yang lumayan besar pada saat itu selai Soekaradja (Sokaraja). Bahkan pada awal abad 19 tersebut, dimana mengikuti kejayaan Kerajaan Belanda akan Gula dan Tembakau, kota-kota di Jawa pun mengalami kejayaan termasuk kota Purwakerta.

Banjoemas Heritage
Suikerfabriek Purwakerta

Di sektor transportasi juga mengalami peningkatan yang cukup drastis dimana barang-barang bisa di distribusikan lebih cepat dan lebih luas lagi. Dua buah stasiun Besar dari dua perusahaan yang berbeda pun di bangun di Purwakerta. Yaitu Stasiun Timur Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) berada di timur bendungan Kradji (Kranji) yang di bangun pada tahun 1893 dan stasiun Besar Staats Spoorwegen (SS) di barat sungai Bandjaran. Namun kedua Stasiun tersebut terhubung satu sama lain.

Banjoemas Heritage
Stasiun Timur SDS

Banjoemas Heritage
Stasiun Timur SDS

Banjoemas Heritage
Stasiun SS di Bantarsoka

Sekolah sekolah juga di bangun di sebelah utara kota diantaranya adalah MULO, Hollands-Javaanse school , Hollands-Chinese school, Volksbibliotheek (Perpustakaan Nasional) dan Vervolgschool voor meisjes (Sekolah lanjutan untuk perempuan)
Banjoemas Heritage
sekolah MULO dan AMS

Banjoemas Heritage
Sekolah Tionghoa - Belanda

Banjoemas Heritage
Sekolah Jawa Belanda

Banjoemas Heritage
Volksbibliotheek dan Vervolgschool

Gedung pertemuan Sociƫteit Slamat, Tram hotel, Volksbank, Kantor Kepolisian serta barak-baraknya, kantor Lands Kas (tempat bekerja Asisten Residen), Gedung Setan, Klinik Pabrik Gula, Pasar, Masjid dan lainnya.
Banjoemas Heritage
Gedung Sociƫteit Slamat

Banjoemas Heritage
Tram Hotel

Banjoemas Heritage
gedung Volksbank

Banjoemas Heritage
Barak untuk kepolisian

Banjoemas Heritage
Gedung landskas

Banjoemas Heritage
Asisten Residen dan pegawai di gedung Landskas

Banjoemas Heritage
Klinik Pabrik Gula

Banjoemas Heritage
Pasar Wage

Banjoemas Heritage
Masjid Purwakerta

Sangat kompleks dan memadai sebagai syarat untuk sebuah kota besar, Hingga setelah Kabupaten Ajibarang di gabung dengan Kabupaten Banjoemas pada 31 Desember 1935, Ibukota Kabupaten pun di pindah dari kota Banjoemas ke Purwakerta pada tahun 1937 dengan dipindahkannya juga Pendopo Sipanji yang telah berusia 194 tahun dan pendopo yang asli milik kabupaten Purwakerta dirobohkan.

Ditulis pertama kali pada 17 Desember 2011 dan di update pada 24 Juli 2015

Foto Dokumentasi diambil dari :
Spesial thanks buat cak Priambodo Prayitno (Olivier Johannes) untuk foto-foto dalam kartupos.
Tropenmuseum Royal Tropical Institute
www.indiegenggers.nl
www.delcampe.net
Creative Commons LicenseThis work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

48 comments:

DUANIA TEMPATKU BERBAGI said...

Mas, salam kenal sebelumnya kulonuun,,
oke juga nich kalo ngomongin jaman dahulu apa lagi yang di omongin tentang sejarah tanah leluhur banyumasan,,kalo boleh kupas juga dong tentang lapangan udara wirasaba,kata kakek ku dulu itu di buatnya masih waktu jaman penjajahan belanda dan masih pake sistem kerja rodi, betul ngganya silakan di cek aja,,saya tinggal di kemangkon tepatnya di dusun kemojing, dari tempat saya ke lapangan udara kurang lebih 1 KM,, dan bisa di tempuh dengan jalan kaki,,ada banyak cerita menarik yang ada di sekitar lapangan udara wirasaba,,salah satunya makam yang ada di dekat lapangan terbang sebelah selatan dekat rel yang menghubungkan antara pwkt dan wonosobo yang sampai sekarang masih menjadi misteri,,,silakan di cek dan di kupas tuntas tentang lapangan udara wirasaba,,,

Jatmiko W said...

DUANIA TEMPATKU BERBAGI, salam kenal juga terimakasih sudah berkunjung, gambar-gambar Lanud Wirasaba bisa di lihat di http://www.banjoemas.com/2009/05/bandara-wirasaba-1946-1950.html, namun untuk sejarah pembuatannya kita belum dapatkan, komentar anda adalah reverensi pertama dan segera di tindaklanjuti untuk di carikan tulisan sejarahnya. Terimakasih

Salam

Anonymous said...

salam hangat teruntuk senore Miko the heritage, hhehhe...numpang curhat, mengupas dokumentasi tempoe doeloe purwokerto sangatlah menarik, dan semakin hanyut untuk semakin menelusuri sejarahnya..apalagi di tambah sejarah2 tempat yg lain, sangat beruntung dan suatu kehormatan bisa di kenalkan dgn bpak miko, yg telah menshare situs ini..kalo ad wktu smga bs ddpertemukan dengan team komplitnya..salam karya_ndra shexperno

Anonymous said...

Duniaku tempat berbagi..
Makam yang dimaksud itu yg dekat Kemangkon ya?...Setahu saya dulu ancer ancernya pohon randu...samping rel KA..
Btw sampeyan dari Kemojing?...
Saya asli Wirasaba...
Moderator, sepertinya ada picts pembangunan lap. AURI Wirasaba...mohon dpt direfernsikan

Regards
Toto

Jatmiko W said...

Toto, ini komentar untuk artikel yang mana ya?, Mohon sampaikan komentar pada artikel terkait. Terimakasih,

saya dari Purbalingga. Salam

Anonymous said...

Sekedar berbagi Mas Jatmiko
Rumah Ast residen (2) skrg sdh berubah mjd KOREM, saya pernah jalan2 masuk ke gedung2 didalamnya, sebagian besar masih bangunan jaman bahola, hanya sedikit saja renovasi,. Klinik Serikat Pabrik Gula (6) sudah berubah jadi pavilion geriatric. Sekolah Guru (7) sampai akhir 80an masih bernama SPG, skrg sdh berubah jadi SMU 5, begitu juga MULO (8) dan Hol-jav sch (9) berubah jd SMU 2 & 1. Main buildingnya juga ga ada yang dibongkar. Sekedar berbagi info saja, dibelakang MULO dulu pernah digunakan jd tangsi militer, disebelah barat laut MULO terdapat bangunan semacam penampungan air, mungkin ada baiknya anda mengambil gambarnya dan mensharenya diblog anda.
-pong-

Jatmiko W said...

Terimakasih mas Pong, wah suka jalan2 juga ternyata, usulan yang baik dengan Kota Purwokerto yang sekarang. Segera saya susun mas ... terimakasih masukannya (salute!)

Anonymous said...

Mas Jat, itu hobi dulu waktu SD suka jalan2 ke tempat2 aneh di PWT, kebetulan jg rumah saya deket MULO dan eyang2 saya dulu berdomosili di situ waktu msh jaman pendudukan belanda. Sesekali saya pernah diajak masuk ke dlm residentwoning (10). bangunan didalamnya masih orisinil cap londo.
-pong-

Jatmiko W said...

Pong, saya belum sempat kalo saya sampe masuk ke dalam tapi masuk ke lingkungan pernah untuk mengambil gambar dokumentasi. salam

esbede said...

Gedung Societeit Slamat sekarang jadi Rumah Makan MP ya? yg di timur Pasar Wage itu..
tapi tetap terawat kok, malah jadi bagus :)

Jatmiko W said...

Esbede terimakasih sudah berkunjung, Belanda mengembangkan kota Purwokerto dari Kebondalam hingga Stasiun Barat, dan Sociteit Slamet merupakan tempat yang di bangun Belanda sebagai tempat berkumpulnya orang2 Belanda di Purwokerto, Letaknya berada di timur Tram Hotel yaitu yang sekarang digunakan sebagai gedung RRI Purwokerto. Salam Lestari

Anonymous said...

Wuihhh....saya baru purwokerto tempo dulu,hebat juga purwokerto...

Anonymous said...

Wuihhh....saya baru purwokerto tempo dulu,hebat juga purwokerto...

heru pendowo said...

Foto barak kepolisian itu apakah yg skarang jadi asrama polisi di jl ragasemangsa utara rumah dinas kapolres bms?

astri said...

wah menarik sekali blog-nya. tempo hari saya ke purwokerto dan liat2 kota tua di sana tapi ga punya referensi soal bangunan2 tua tersebut (hehe blog Mas Jat bisa jadi bekel referensi ni kalau lain kali saya muter2 kota tua di Purwokerto). oleh adik saya yang baru masuk kuliah di Unsoed sempat diajak ke Pasar Wage, Restoran MP, dan Museum BRI. Ternyata masih banyak spot lain ya di Purwokerto. Jadi penasaran untuk jajal lagi lain waktu. :)

ndhoel said...

salam kenal sederek :)
saya asli purwokerto, dan punya kakek di kemojing, dulu waktu kecil mesti pingin lihat DC-3 di wirasaba itu, nyeberang jembatan KA juga :D

Ada saudara misan di wirasaba, tapi saya gak begitu kenal :D

Jatmiko W said...

Heru Pendowo, mungkin jadi disana mas, belum saya kroscek
Astri, Senang bisa membantu, kabar2 kalau ke Purwokerto ya
Ndhoel, wah pasti kenangan yang bagus

sony pamela said...

gedung gedungnya sekarang pada dimana ya pak???

Jatmiko W said...

sony pamela; Sebagian masih ada, sebagian di renovasi, sebagian lagi dihancurkan ... begitulah Indonesia

data said...

Mas, itu di peta yg nomer 20, Suikerfabriek, itu sekarang daerah sekitar Moro ya? Berarti jauh sebelum jaman Isola (istana olahraga) ya? CMIIW, maklum cuma berdasar cerita dari orangtua. Sekarang tinggal di Purwokerto jadi semangat ngulik seluk beluk banyumas hehe.

Eko Purwanto said...

salam hormat...
Mantabb mas.. jadi tau ternyata kotaku punya nilai historis yang tinggi. Kalo berkenan dikupas juga sejarah Pasar Wage dari sebelum berdirinya. hehe.. Matur Suwun mas..

Anonymous said...

suiker fabric betul lokasinya sekarang moro super mall. sebelum jadi moro dulunya dijadikan bengkel dan gudang senjata TNI, sedang suiker fabric dipindah ke kali bagor sokaraja yang sekerang masih ada bangunannya.rita swalayan utara moro dulunya gedung olah raga isola.kakek saya dulu kerja didenpal sampai masa pension di tahun 70an,setelah denpal dan gudang amunisi dipindah berdirilah gedung film presiden dan kamandaka,diera 90an kedua gedung film tsb tutup dan berdirilah moro supermall,rita supermall yang sedang dibangun sekarang dulunya gedung film garuda nusantara,mass jat.di lokasi smp n3 pwt/sebelah selatan spg(smu 5) pernah ditemukan sebuah sumur kering yang diperkirakan akses menuju ruang bawah Tanah yang tembus ke sisi timur sungai kranji,sempat ada yang masuk namun balik lagi krn saking gelapnya,dan sekarang akses itu ditutup dan dikunci tidak ada yang boleh masuk.coba ditelusuri ruang bawah Tanah tsb..untuk sejarah kota purwokertonya sangat bagus,kalo bias cari juga informasi sejarah kadipaten pasirluhur mas,katanya petilasannya masih ada.

NUR WAHYU ADIWIJAYA said...

Sekolah Tionghoa Belanda gedung saat ini masih utuh menjadi Markas Polisi Selektif depan Apotik Gita Bina Kebondalem

Wahyu Purnomo said...

saya jdi meneteskan air mata ketika saya baca artikel tentang purwokerto,saya asli org purwokerto tetapi saya buta akan sejarah kota kelahiran saya sendiri. . . sungguh bangga jdi orang purwokerto. . .
ingin rsanya jalan2 k tmpat2 tersebut dan belajar tentang sejarahnya. . .

Jatmiko W said...

Terimakasih kunjungan dan komentarnya, terimakasih juga informasi yang di selipkan, salam lestari

Renaissance said...

terima kasih banyak Mas Jat.. salam lestari

Anonymous said...

Nama saya Budi mo ikutan nimbrung. Seblonnya, makasih buat semua yang kasih info, asyik bacanya.

Bioskop Nusantara dan restonya sekarang jadi deretan ruko, dari Bank Bukopin sampai Toko Kaset Nusantara. Jalur kereta di depan deretan ruko tersebut sudah hilang sekarang. Dulu aku selalu latihan bulutangkis di Isola, sekarang sudah jadi Moro.

Hebatnya Purwokerto, kebanyakan pendiri pusat perbelanjaan yang ada adalah putra-putra daerah. Micky Morse dari Semarang sempat masuk kemudian disusul oleh Sri Ratu. Keduanya sekarang sudah tidak ada, walau Tamara Building masih berdiri dan SuperEkonomi milik Matahari menggantikan Micky Morse. Rita, Moro dan perbelanjaan populer lainnya semua adalah milik putra-putra daerah. Supermarket asing besar seperti Giant, Carefour, dll. selalu gagal masuk ke kota Purwokerto. Toko-toko populer yang saat ini masih berdiri: Toko Intan, Toko Tegal berdiri ca.1960an, Toko Hasil ca. 1970an, Toko Aroma 1978, Rita 1982, Moro berdiri saat krismon, tahun 1997, Cherry 2009.

Jatmiko W said...

Renaissance, terimakasih kembali

Budi, Rel di jalan Sudirman masih ada di tempatnya hanya saja demi kepentingan umum harus mengalah dengan aspal dan pelebaran jalan. Micky Morse sebelah mana ya, atau mungkin mickey mouse yang sekarang menjadi SE

yoyo uyee said...

mas miko, ijin share link ini di facebook boleh ?

ayu puji said...

bener2 berasa ikut di zaman itu dan merasakan rasanya zaman belanda..
suka bngt sm gedung tua nya..
salam kenal dr jawa barat :D

kasamago said...

dr lahirnya, pwt memiliki trah menjadi ibukota federasi.

bangga menjadi inlander purwakerta

FAKIHTA RAKHMAN IHAS said...

ya purwokerto kota tempat q tumbuh dan berkembang,,rindu suasan kota purwokerto yg nyaman sejuk dingin dan tenang.rindu nongkrong2dan makan di "SORJEM" ngisor jembatan stasiun,nongkrong ngopi dan makan di angkringan depan FISIPOL UNSOED,ataupun sekedar jalan2 meleps lelah....
salam terhangat buat purwokerto dari kota pontianak

Unknown said...

Salam kenal Mas Jat, saya asli purwokerto dan merasa bangga menjadi bagian ceritanya. Gedung Mulo, sekarang SMAN 2 masih terawat dan ada komitmen para alumni untuk tetap menjaga orisinalitas bangunannya. Sangat disayangkan, dari beberapa profil foto diatas sudah tidak berbekas lagi. Sudah saatnya kita membangun kesadaran masyarakat sekitar untuk mulai "mencintai" warisan situs kota poerwakerta. Tunjukkan kepada dunia, bahwa kota ini bukan hanya besar dari para pejuang seperti jendral gatot subroto, tapi juga sebagai kota sejarah.. Semoga Mas Jat bisa memelopori komunitas "cinta kota poerwakerta" yang konsern dengan pelestarian bangunan tua.

Jokowa Jokowa said...

berdebar baca artikelnya, tanks mas jat kalibagor

wisesa magani said...

Selama ini aku hanya mencari dan mendengarkan kisah,sejarah dan budaya dari orang-orang yang sengaja aku cari seprti mas nasirin, pak sunardi mt, prof.sugeng dari banyumas.
Tapi jujur aku baru liat foto banyumas tempo dulu di blog anda.....trimakasih.....siiippp

Fathur Rokhman said...

Artikelnya bagus-bagus banget, saya sebagai warga asli banyumas ingin tahu juga sejarah banyumas dari waktu ke waktu. nuwun ngapunten...boleh apa tidak artikelnya saya share di blog saya juga mas..
di www.logatngapak.blogspot.co.id makasih mas..

Jatmiko W said...

Terimakasih semua yang sudah datang berkunjung di halaman ini dan meninggalkan pesan. Maaf tidak bisa membalas satu persatu komen.

Fathur Rokhman terimakasih sudah meminta ijin untuk repost di blog njenengan tapi maaf alamat blog njenengan (logatngapak.blogspot.co.id) bertentangan dengan program kampanye kami di komunitas tentang penggunaan sebutan "ngapak" tidak sejalan dengan program pelestarian bahasa Banyumasan.

Salam lestari

jalin atma said...

ditunggu postingan selanjutnya pak,sejarah banyumas menarik juga,enak dibacanya.visit my site too
ST3 Telkom
and follow my social media instagram please :
Jalin Atma

Anto Josef - Kalibener said...

Salam Kenal semuanya....
Aku asli Purwokerto. Sangat Cinta Purwokerto.
Hollands-Javaanse School jadi SMA Negeri 1 Purwokerto. Aku dulu sekolah di sana dan sangat hafal tata ruangnya.
Karena rumahku dekat SDS, dulu sering main di situ, sebelum dibangun gudang PUSRI dan pertokoan.

Kursito Nerosuke said...

bagaimana pendapat Anda tentang cerita ini ? apakah ini kejadian sebelum tahun 1830 ? atau sesudah ?
Asal mula Purwokerto
Ketika terjadi pemberontakan Cina yang sering discbut geger Pacinan, banyak pembesar Kraton Kartasura lari meninggalkan kraton. Sebagian lari ke arah timur. Konon Sunan Pakubuwono termasuk yang lari ke arah timur. Sesampai di sebuah desa beliau beristirahat di bawah pohon mangga sambil makan buah mangga, Ketika beristirahat Sang Sunan bersabda kepada para pengikutnya : Saksikanlah, suatu ketika tempat ini diberi nama Pelem Wulung. Pelem artinya mangga dan Wulung adalah jenis suatu mangga. Sampai kini desa itu bernama Premulung yang asalnya Pelemwulung.
Sebagian lagi lari ke arah barat, mencari keselamatan masing-masing. Untuk mencari tempat yang aman, para pengungsi sebagian lari terus ke arah barat. Sekitar dua puluh lima orang telah sampai di daerah Banyumas. Keadaannya waktu itu masih hutan rimba. Merasa sudah sampai daerah yang dianggap aman mereka mulai membabat hutan. Tempat itu dijadikan pekarangan dan ladang serta perkebunan. Rumah-rumah pun dibuat secara gotong royong untuk tempat tinggal mereka. Daerah yang tadinya hutan, banyak dihuni binatang liar dan mahluk-mahluk halus serta menyeramkan, kini menjadi suatu desa yang aman dan makmur. disamping pertanian, sebagian juga ada yang memiliki keahlian lain dagang, pertukangan dan ada yang pandai dalam ilmu kekebalan ataupun ilmu gaib.
Di antara mereka yang dianggap mempunyai ngelmu bernama Kyai Kartisara. Kyai Kartisara sangat disegani dan dihormati orang-orang di tempat itu. Karena itu dia dianggap sebagai "sesepuh"nya. Lama-kelamaan daerah pinggiran gunung Slamet bagian selatan yang tadinya hutan itu menjadi suatu desa yang aman. Namun desa itu belum mempunyai nama. Karena itu Kyai Kartisara mengusulkan agar desa itu diberi nama Purwakerta. Purwa artinya awal mula; Kerta artinya aman atau damai. Jadi Purwakerta artinya awal mula yang damai. Nama itu disepakati oleh semua penduduknya. Rumah-rumah bertambah, hutan-hutan pun banyak berubah, banyak ladang dan sawah. Banyak orang-orang dari kampung lain yang singgah, ada juga yang pindah. Sehingga desa itu semakin ramai dan indah. Kyai Kartisara mempunyai seorang putera bernama Kendang Gumulung. Kendang Gumulung juga menuruni bakat ayahnya. Sehingga, setelah Kyai Kartisara meninggal dia menggantikan kedudukan sang ayah. Kemudian Kendang Gumulung yang me¬miliki ilmu kesaktian seperti ayahnya berpindah tempat. Di tempat ini pun banyak orang yang berguru padanya. Orang-orang yang mau belajar atau berguru ke tempat tinggal Kendang Gumulung me¬nyebutnya kepeguron. Peguron artinya tempat berguru. Dari kata Peguron lama kelamaan menjadi Peguwon. Di kemudian hari tempat ini disebut orang desa Peguwon. Setelah meninggal Kendang Gemulung dimakamkan di desa peguwon. Hingga kini orang menyebutnya makan kyai Kendang Gemulung.
Demikianlah dongeng asal mula kota purwokerto. Orang Banyumas sendiri menyebut purwokerto dalam dialek Banyumas Purwakerta atau puraketa

Fuji Xerox said...

Purwokerto desane nyong gan heheh

Mampir kang Jual Mesin Fotocopy

Unknown said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Widi Herdinawati said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Widi Herdinawati said...

Kalau arsip yang lengkap nyri dimna ya yang membahas budaya atau sosial untuk sejarah dari 1980-1990
Adakah topik yang menarik untuk di jadikan skripsi mengenai sosbud namun yang sumber dan data nya lengkap

Jatmiko W said...

Kursito Nerosuke, setahu saya geger Pacinan terjadi pada tahun 1740 atau kurang lebih seabad sebelum perang diponegoro (1825 - 1830). Paguwon dari tulisan yang saya baca dulunya merupakan pesantren, dan pada masa kekuasaan Belanda daerah ini di jadikan pusat kota barunya Purwokerto, setelah "gagal" membuat Adjibarang menjadi ibukuta kabupaten. Kebetulan saya beum baca cerita sejarah yang njenengan tuliskan, saya perlu sumber tulisan njenengan, nuwun.

Widi Herdinawati, tahun tersebut masih lumayan baru, mungkin bu Fitri atau pak Warsito dari arsip Banyumas (kantor arsip dan perpustakaan daerah Banyumas) bisa membantu njenengan. salam

Nizar said...

Assalamu'alaikum, salam sejahtera mas, mau izin bertanya, gedung Volksbank itu letaknya dimana, dan sekarang masih ada ngga ya mas? Terimakasih

Jatmiko W said...

Nizar, Volksbank adalah gedung BRI sekarang, seberang museum BRI

Anonymous said...

harusnya purwakerta, surabaya itu suroboyo, jepara itu jeporo, maka lebih kuat purwakerta dari purwokerto, mau bandekan apa ngapak lwbih kuat purwakerta

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya
Gunakan C-BOX di sidebar untuk komentar umum