Jumat, 08 April 2011

Museum Bank BRI Purwokerto

Musium Bank BRI
Musium ini terletak di pojok pertigaan Jl. Jendral Sudirman dan Jl. RA Wiraatmaja (jalan Bank). Jalan ini memang lebih terkenal Sotonya ketimbang museumnya. Musium ini terdiri dari tiga bangunan dengan enam ruangan yaitu ATM BRI, Ruangan Bank BRI (teler) ruang pamer (2) ruang perpustakaan dan ruang/gedung replika Bank pada saat pertama berdiri. Selebihnya adalah ruangan terbuka seperti taman dan kolam serta patung Raden Bei Aria Wiraatmadja.

Banjoemas Heritage
Begitu masuk ke ruang museum akan dijumpai maket Bank BRI pusat Jakarta dan sesosok patung dewa Kuwera yang merupakan lambang kemakmuran bagi agamaHindu Siwa. Selanjutnya urutan mata uang yang pernah ada di bumi NUsantara di awali dari uang pada jaman Majapahit, VOC, Hindia Belanda, Jepang, hingga jenis uang pada masa Orde Baru. Beberapa juga terdapat jenis mata uang yang berasal dari Negara-negara yang pernah memerdekakan diri dari wilayah RI.

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Diorama kondisi Indonesia pada waktu itu dan proses pembentukan Bank ini menjadi point tersendiri karena bentuknya yang besar. Tiga buah buku berbeda namun isinya sama yaitu buku tentang Sejarah/Babad Wirasaba. Buku tersebut di tulis dengan tulisan jawa (tangan) dan buku yang lainnya adalah versi cetaknya dalam bahasa Belanda dan Jawa. Pakaian, senjata, dan perangkat milik Raden Bei Aria Wiraatmaja.

Di musium ruangan bawah terdapat berbagai macam mesin ketik dan mesin hitung yang pernah di gunakan oleh BRI yang rata-rata adalah bikinan Eropa. Beberapa Brankas kuno dan medali.

Perpustakaan
Perpustakaan berada pada ruangan bawah, disana terdapat ratusan buku dari jaman Belanda hingga sekarang, Kebanyakan adalah buku tentang perbankan (berbahasa Belanda dan Inggris) namun juga banyak terdapat buku umum.

Alamat Museum BRI Purwokerto
Alamat: Jl Jend Sudirman 55 Purwokerto, Jawa Tengah Indonesia
Telp: 0281631812 fac: 631819 BRIPWT IA

Jam Kunjungan
Hari Minggu - Hari Kamis jam 08.00-14.00 (FREE)

Dirangkum dari 


Minggu, 03 April 2011

Kuburan Belanda Purbalingga


Kuburan Belanda (Nederlandse begraafplaats) berada di JL. LETJEN. S. Parman ini sudah menarik perhatian dari sejak saya kecil. Ibuku yang bekerja sebagai petugas lapangan KB di BKKBN sering ngajak saya ke kantor pusat kabupaten Purbalingga yang hanya 50 meter dari kuburan Belanda. Menarik buat saya karena setiap melewatinya selalu nggak percaya kalo itu kuburan, karena bentuknya beranekaragam beda juga dengan kuburan Cina (bong Cina Banjaran) deket rumah embah.

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

23 November 2010 lalu dengan tekad bulat dan itikad baik akhirnya "mblusuk" juga ke kuburan Belanda sendirian. Awalnya ragu sih ... jadi ngambil gambarnya agak jauh, tapi malah membuat saya sendiri nggak puas dengan hasil fotonya. Terpaksa memang harus dideketin satu persatu walau rumput yang meninggi masih basah menempel di sepatu kulitku. Satu per satu saya amati, dari bentuk, posisi dan informasi di setiap batu nisannya. Bangunan tidak banyak yang utuh dan apalagi batu marmer yang memuat nama tanggal lahir dan tanggal kematiannya. Beberapa sudah diperbaiki terlihat dari semen yang masih berwarna "navy gray". Kalau di perhatikan secara keseluruhan ini bukan kuburan tentara Belanda tapi kuburan orang Belanda (mungkin keluarga staf residen, keluarga pemilik perkebunan tembakau, atau keluarga staf PG Bodjong) tahun-tahun kematian berkisar antara 1880 - 1920han (berakhirnya culurestensel, masa-masa berdirinya PG Bodjong, Perkebunan tembakau dan awal dimana belanda membangun kota Purbalingga) dan juga karena dilihat dari bentuknya yang beragam.

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Saya berencana untuk menelusuri silsilah keluarganya namun informasi mengenai nama masih belum maksimal sehingga masih harus di teliti lagi mengenai nama keluarga dan ejaannya (bakalan "mblusuk kesana lagi neeh ... siapa mau ikut?").


Senin, 28 Maret 2011

Ibukota Banyumas


Kota Banyumas awalnya adalah kota kadipaten Kedjawar yang didirikan oleh Jaka Kaiman pada masa kekuasaan Kasultanan Pajang.

Setelah perang Diponegoro selesai wilayah Banyumas dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda, dan dibangunlah sistem Residente (Karsidenan). De Sturler pada 1 November 1830 di tunjuk dan di lantik menjadi Residen pertamanya, Belanda mulai membangun kota Banyumas sebagai ibukota Karsidenan Banyumas. Disamping itu Banyumas juga merupakan Ibukota Kabupaten Banyumas yang wilayahnya meliputi Onderdistrict Banyumas, Onderdistrict Adireja dan Onderdistrict Purworejo Kelampok. Kabupaten ini terpisah dengan kabupaten Ajibarang yang akhirnya pindah ke kota Purwokerto.

Pada masa yang sama Graaf Johannes van den Bosch menciptakan sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Sistem ini mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak. Walaupun pada pelaksanaanya sangat berbeda.

Residen menunjuk seorang wakil Residen (Orang Belanda) pada setiap wilayah Kabupaten, yang bertugas mengurusi masalah perpajakan di setiap wilayahnya.
Banjoemas Heritage
Pada 1843, rumah karesidenan di Kampung Pesanggrahan dipindah ke Kajawar, Karanggandul. Bersamaan dengan itu, dibangun pula jalan Banyumas ke selatan hingga sampai Buntu. Lantas ditarik ke barat sampai Cilacap.

Banyumas pernah dilanda Banjir yang sangat besar selama empat hari empat malam (21-23 Februari 1861) seperti yang pernah di ramalkan oleh para sesepuh (catatan R.M.S Brotodiredjo dan R. Ngatidjo Darmosuwondo) yang berbunyi ”Besuk bakal hana betik mangan mangar” (Nanti akan ada ikan (Betik) makan bunga kelapa).

Kota Banyumas yang di bangun Belanda pada saat itu memiliki banyak sekali gedung-gedung megah dan kokoh. Diantaranya adalah Gedung Resident, Gedung Societeit, Kantor Post en Telegram, Kantor Telefon, European School, Holland Inlader School, Inlander School, hospital, Chinese School, Pandhuis Kantoor (Pegadaian), AFD bank, Hotel Carolina, Zoutpakhuis (Gudang Garam), Gevangenis (penjara), Brandspuit (gedung pemadam kebakaran), Districtshoofd (kantor Distrik), Bur. Gew. Wreken (gedung pekerjaan), Waterest Kantoor, Wachthuis (pos penjagaan) dan beberapa gedung lainnya. Selain itu rumah gedong orang-orang Belanda juga banyak didirikan di Banyumas, terutama di daerah Menganti dan Kedung Uter (Kedoengoeter).
Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage
Rumah dan Gedung Residen Banyumas

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage
Pertunjukan kesenian rakyat pribumi di depan Hotel Slamet

Banjoemas Heritage
Masyarakat kota Banyumas menonton pertandingan sepak bola di alun-alun kota

Banjoemas Heritage
Tentara dan perawat menonton sepakbola di alun-alun Banyumas

Banjoemas Heritage
Pegawai rumah sakit Tentara mengunjungi pasar

Banjoemas Heritage
Suasana ruang perawatan rumahsakit Tentara

Banjoemas Heritage
Alun-alun Banyumas

Banjoemas Heritage
Beberapa orang Belanda sedang berada di beranda gedung Harmonie

Banjoemas Heritage

Banjoemas Heritage
Jembatan diatas sungai Serayu yang menghubungkan Banyumas dengan Sokaraja

Banjoemas Heritage
Suasana pasar di Banyumas

Pada saat di bangunnya Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) Maos - Wonosobo pemerintah Hindia Belanda yang diwakili oleh Residen Banjoemas mengajukan dibangunnya jalur kereta ke kota Banyumas namun ditolak oleh SDS karena lokasinya yang susah dan membutuhkan biaya besar sedangkan jalur ini sangat tidak menguntungkan karena tidak adanya pabrik ataupun perkebunan. Sebenarnya jalur ini di minta hanya karena untuk mempermudah akses ke ibukota Batavia.

Sampai pada kepindahannya ke kota Purwokerto, kota Banyumas tidak pernah dibangun jalur kereta api yang merupakan akses penting untuk terhubung dengan Batavia (Jakarta).

Tulisan dirangkum dari beberapa sumber;
1834, Administratief Verslag de Residentie Banjoemas
Kaart, Hoofdplaats Banjoemas 1920
ALGEMEEN HANDELSBLAD. Woensdag 11 October 1893
De Sumatra Post No."233

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Selasa, 22 Februari 2011

Pembentukan Residentie Banjoemas dan Regentschatp

banjoemas
Pembentukan Residentie Banjoemas

Perlawanan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya terhadap pemerintahan Kolonial Belanda yang sangat sewenang-wenang berlangsung selama hampir 5 tahun. Sejak kebijakan Belanda untuk membuat jalan yang melewati tanah leluhur pada tahun 1825 sampai tertangkapnya Pangeran Diponegoro pada tahun 1830. Perlawanan ini merupakan perang yang hebat karena menewaskan sedikitnya 8000 tentara Belanda, 7000 pasukan pengikut Pangeran Diponegoro, dan mengorbankan sekitar 200.000 rakyat jawa yang berarti separuh dari populasi peduduk Jawa pada masa itu.

Kerugian materi sebanyak 30 Juta Gulden ditambah kerugian militer Belanda sebanyak 2 Juta Gulden. Yang oleh pemerintah Belanda kerugian materi ini di bebankan pada dua kerajaan yang berkuasa saat itu yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Namun kedua kerajaan besar tersebut menolak dan sebagai gantinya pemerintah Belanda menguasai daerah mancanegaran kilen yaitu Bagelan dan Banjoemas (Banyumas). Comisie ter Regeling der Zaken yang merupakan komisi urusan tanah-tanah kerajaan memerintahkan Residen Pekalongan M.H. Hellewijn untuk mengambil alih daerah Mancanegaran Kilen yang dimaksud dengan langkah menahan semua piagam pengangkatan bupati oleh Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Piagam tersebut dianggap sebagai bukti gadai seharga 90 Gulden, yang akan di tabggung oleh Kasultanan Yogyakarta 10 Gulden dan Kasunanan Surakarta 80 Gulden. Dan sejak saat itu wilayah Banjoemas berada pada kekuasaan Belanda yang berarti tunduk terhadap pemerintah Kolonial Belanda.

banjoemas
Rumah Residen Banjoemas dengan pepohonan Kenari

Pada saat itu Kadipaten Banjoemas dipimpin oleh K.R.T. Cakrawedana (1816 -1830) sebagai Adipati Kesepuhan dan terdapat pula Adipati Kanoman yaitu R. Adipati Bratadiningrat (R.T. Martadireja I).

M.H. Hellewijn membuat pendataan dan laporan untuk mempersiapkan penyelenggaraan pemerintahan sipil yang menjadi acuan pemerintah pusat Batavia untuk mengatur wilayah Karesidenan Banjoemas. Pada 20 September 1830, M.H. Hellewijn memberikan laporan umum hasil kerjanya kepada Komisaris Kerajaan yaitu Jenderal De Kock yang berada di Sokaraja yang akan di lanjutkan ke Batavia. Tepat pada 1 November 1830 De Sturler di tunjuk dan di lantik menjadi Residen pertamanya. Dan menetapkan cakupan wilayah Banyumasan yang meliputi: Kebumen,  Banjarnegara, Panjer, Ayah, Poerbalingga. Banjoemas, Kroja, Adiredja, Patikradja, Poerwakerta, Adjibarang, Karangputjung, Sidareja, Madjenang sampai ke Daiyoe-loehoer (Dayeuhluhur), termasuk juga di dalamnya tanah-tanah Perdikan (daerah Istimewa) seperti Donan dan Kapungloo.

Banjoemas

Pembentukan Regentschatp / Kabupaten
Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1830 melalui Beslit Gubernur Jenderal J.G. Van Den Bosch, hanya menjadikan empat kabupaten yaitu Banyumas (Banjoemas), Ajibarang (Adji-Baran), Dayeuhluhur (Daijoe-Loehoer), dan Purbalingga (Probolingo).Karesidenan Banyumas juga diperluas dengan dimasukkannya Distrik Karangkobar (Banjarnegara), pulau Nusakambangan, Madura (sebelumnya termasuk wilayah Cirebon) dan Karangsari (sebelumnya termasuk wilayah Tegal).

Wilayah Karesidenan Banyumas dibagi menjadi lima kabupaten dan saat itulah dimulainya jabatan Residen dan Asisten Residen yang dijabat oleh orang Belanda di Banyumas (Soedjarwo, 2000:44; Anto Ahcadiyat, 1994:11), dan pada saat itu di daerah Banyumas mulai ada pangkat Wedana Bupati. Adapun lima kabupaten yang dimaksud adalah:
1. Kabupaten Banyumas, bupati Raden Ngabehi Cakradirja dengan gelar Raden Adipati Cakranegara dan didampingi Residen De Sturler (pejabat Belandan).
 - Distrik Banyumas
 - Distrik Adireja
 - Distrik Purworejo Kelampok
2. Kabupaten Ajibarang, bupati Raden Tumenggung Bartadimeja bergelar R Adipati Martadireja II didampingi Asisten Residen Werkevisser. Pada tahun 1832 pindah ke Purwokerto.
 - Distrik Purwokerto
 - Distrik Ajibarang
 - Distrik Jambu Jatilawang
3. Kabupaten Purbalingga, bupati R.M. Tumenggung Dipakusuma II, dan didampingi Asisten Residen B. Schmalhausen.
 - Distrik Poerbolinggo
 - Distrik Soekaradja
 - Distrik Kertanegara Bobotsari
 - Distrik Tjahjana
4. Kabupaten Banjarnegara, bupati  Raden Tumenggung Dipayuda dan Asisten Residen Panggilmeester.
 - Distrik Banjar
 - Distrik Singamerta
 - Distrik Leksana
 - Distrik Karangkobar
 - Distrik Batur
5. Kabupaten Dayeuhluhur, Bupati  Raden Tumenggung Prawiranegara dengan Asisten Residen De Mayer.
 - Distrik Majenang
 - Distrik Dayeuhluhur
 - Distrik Pegadingan
 - Distrik Jeruklegi

Namun, dalam Resolutie van den 22 Agustus 1831, No.1 pemerintah Belanda mengangkat 5 orang pejabat bupati di Karesidenan Banyumas, yaitu Ngabehi Cakranegara dari Purwokerto diangkat menjadi bupati Banyumas, Raden Tumenggung Mertadiredja II, Wedana Bupati Kanoman Banyumas diangkat menjadi Bupati Ajibarang, Ngabehi Dipayuda dari Ngayah diangkat menjadi Bupati Banjarnegara, Tumenggung Prawiranegara tetap di Dayeuhluhur, dan  Tumenggung Dipakusuma tetap di Purbalingga. Kelima pejabat di atas semuanya memakai gelar raden tumenggung (Priyadi, 2004: 159).

Pada tanggal 22 Agustus 1831 dibawah Karesidenan Banjoemas membentuk 4 Regentschap (Kabupaten) di wilayah Karesidenan Banyumas yaitu, Kabupaten Banjoemas, Adjibarang, Daiyoe-loehoer dan Prabalingga yang masing-masing dipimpin oleh seorang Bupati pribumi. Residen de Sturler juga melakukan pembentukan struktur Afdeling yang berfungsi sebagai Asisten Residen di masing-masing Kabupaten.

Pembentukan Afdeling meliputi, Kabupaten Dayoehloehoer dan Kabupaten Ajibarang menjadi satu Afdeling yaitu Afdeling Ajibarang dengan ibukota Ajibarang dan D.A. Varkevisser diangkat sebagai Asisten Residen di Ajibarang sekaligus sebagai ”pendamping” Bupati Ajibarang Mertadiredja II dan Bupati Dayoehloehoer R. Tmg. Prawiranegara. Tiga Kabupaten lainnya yaitu Kabupaten Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara masing-masing memiliki Afdeling sendiri-sendiri.

Sumber gambar
http://commons.wikimedia.org
Sumber tulisan
Bayumas: sebuah Tijauan Historis Saptono, Dosen PS Seni Karawitan
Priyadi, Sugeng. 2004. “Sejarah Kota Purwokerto” dalam Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 5, No.2, edisi Agustus. Surakarta: Lembaga Penelitian, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Rabu, 26 Januari 2011

Babad III Wirasaba Mataram Islam

banjoemas
Kesultanan Mataram adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa berdiri pada abad ke-17. Kerajaan ini dipimpin keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang berpusat di "Bumi Mentaok" yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang.

purwokertoheritage
Pintu gerbang Makam raja Mataram Islam di dekat Pasar Gede

Kadipaten Mataram dibangun oleh Ki Ageng Pemanahan di Pasargede atau Kotagede pada tahun 1577. Sepeningal ki Ageng Pamanahan 1584 Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan dengan gelar “Ngabhei Loring Pasar”.

Pada tahun 1588 Mataram menjadi Kerajaan setelah beberapa kali bersitegang dengan pajang. Sutawijaya menjadi Sultan bergelar Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama. Kemudian di gantikan oleh Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati dan kemudian dikenal sebagai "Panembahan Seda ing Krapyak" pada tahun 1601. Sepeninggal Mas Jolang di gantikan oleh anaknya yaitu Pangeran Aryo Martoputro. Tak lama kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang karena Pangeran sering sakit. Raden Mas Rangsang bergelar “Prabu Pandita Hanyakrakusuma”. Setelah Menaklukkan Madura beliau menggunakan gelar "Susuhunan Hanyakrakusuma". Dan terakhir bergelar "Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman".

1645 Sultan Agung meninggal dan di gantikan Susuhunan Amangkurat I, pada masa ini terjadi perpecahan dalam keluarga kerajaan kemudian di manfaatkan oleh VOC. 1677 Susuhunan Amangkurat I mangkat. Putra Mahkota dilantik menjadi Susuhunan Amangkurat II di pengasingan. Pangeran Puger yang diserahi tanggung jawab atas ibukota Pleret mulai memerintah dengan gelar Susuhunan Ing Ngalaga nda pada tahun 1680 ibukota ke Kartasura dan tahun 1681 Pangeran Puger diturunkan dari tahta Pleret.

Susuhunan Amangkurat II wafat pada tahun 1703. Putra mahkota diangkat menjadi Susuhunan Amangkurat III. Namun tahun 1704 Dengan bantuan VOC Pangeran Puger ditahtakan sebagai Susuhunan Paku Buwono I. Awal Perang Tahta I (1704-1708). Susuhunan Amangkurat III membentuk pemerintahan pengasingan dan kemudian ditangkap dan dibuang ke Srilanka sampai wafatnya pada 1734.

Tahun 1719 Susuhunan Paku Buwono I meninggal dan digantikan putra mahkota dengan gelar Susuhunan Amangkurat IV atau Prabu Mangkurat Jawa. Awal Perang Tahta II (1719-1723). Kemudian digantikan Putra Mahkota yang bergelar Susuhunan Paku Buwono II pada tahun 1726 dan si asingkan pada tahun 1742 bersamaan dengan dikuasainya Ibukota Kartasura oleh pembrontak Tionghoa yang di dukung oleh orang Jawa anti VOC. Campur tangan VOC dalam mengalahkan pemberontak pada tahun 1743 menyebabkan kedaulatan Mataram tergadaikan oleh Pakubuwono II kepada VOC sebelum berhasil melunasi hutang selama perang dengan pemberontak.

purwokertoheritage
Gerbang Kasunanan Surakarta

Susuhunan Paku Buwana II membangun ibukota baru di desa Sala di tepian Bengawan Beton pada tahun 1745 dan resmi di tempati pada tahun 1746 dengan nama Surakarta. Konflik Istana menyebabkan saudara Susuhunan, P. Mangkubumi, meninggalkan istana. Meletus Perang Tahta III yang berlangsung lebih dari 10 tahun (1746-1757) dan mencabik Kerajaan Mataram menjadi dua Kerajaan besar dan satu kerajaan kecil.

purwokertoheritage
Tampak depan dari Kraton di Surakarta

11 Desember 1749 Susuhunan Paku Buwono II menandatangani penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC. Namun secara de facto Mataram baru dapat ditundukkan sepenuhnya pada 12 Desember 1830.

Di Yogyakarta, P. Mangkubumi diproklamirkan sebagai Susuhunan Paku Buwono oleh para pengikutnya. 15 Desember van Hohendorff mengumumkan Putra Mahkota sebagai Susuhunan Paku Buwono III. Pada tahun 1752 Mangkubumi berhasil menggerakkan pemberontakan di provinsi-provinsi Pasisiran (daerah pantura Jawa) mulai dari Banten sampai Madura. Perpecahan antara Mangkubumi dengan Raden Mas Said.

Nicolas Hartingh menyerukan gencatan senjata dan perdamaian. 23 September 1754, Nota Kesepahaman Mangkubumi dengan Hartingh. 4 November 1754, Paku Buwono III meratifikasi nota kesepahaman. Batavia walau keberatan tidak punya pilihan lain selain meratifikasi nota yang sama.

Banjoemas Heritage
Piagam Perjanjian Giyanti

Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 merupakan puncak perpecahan yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing-Ngalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah" atau lebih populer dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.

purwokertoheritage
Alun-alun utara dengan latar belakang Keraton Yogyakarta


Perpecahan kembali terjadi di Mataram. Pada tahun 1757, dimana Raden Mas Said diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Praja Mangkunegaran yang terlepas dari Kesunanan Surakarta dengan gelar "Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku Nagara Senopati Ing Ayudha".

Pada tahun 1799 VOC dibubarkan dan di gantikan oleh Nederlands Indiƫ (Hindia Belanda).

Perpecahan kembali melanda Mataram. P. Nata Kusuma diangkat sebagai penguasa atas sebuah kepangeranan, Kadipaten Paku Alaman yang terlepas dari Kesultanan Yogyakarta dengan gelar "Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam" pada tahun 1813.

Banjoemas Heritage
Perang Jawa antara tentara Hindia Belanda dengan Pasukan pangeran Diponegara

Tahun1825 terjadi perang Jawa atau De Java Oorlog adalah perang besar yang terjadi selama lima tahun antara pasukan Hindia Belanda yang dipimpin oleh Van Der Kock dengan penduduk pribumi Jawa yang di pimpin oleh Pangeran Diponegoro. Peperangan ini berawal dari pembangunan jalan antara Magelang dengan Jogjakarta lewat Muntilan, yang mengubah rencananya dengan membelokan jalan hingga Tegalrejo dimana terdapat makam leluhur Pangeran Diponegoro. Maka dimulailah perang Jawa terbesar. Hingga akhirnya tertangkap di Magelang pada tahun 1830, kemudian di asingkan di Menado – Benteng Roterdam dan meninggal pada tanggal 8 Januari 1855.

Banjoemas Heritage
Penangkapan pangeran Diponegoro oleh pasukan Hindia belanda

Akhir perang Diponegoro menyebabkan daerah Mancanagara Yogyakarta dan Surakarta dirampas Belanda. 27 September 1830

Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kasunanan_Surakarta
http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Diponegoro
http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia-Belanda
http://id.wikipedia.org/wiki/Cultuur_stelsel
http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia:_Era_Belanda
http://commons.wikimedia.org/

Sabtu, 01 Januari 2011

KEBIJAKAN COPY PASTE

KEBIJAKAN COPY PASTE www.banjoemas.com
Banjoemas History Heritage Community adalah pengelola artikel-artikel yang di muat di www.banjoemas.com, dan artikel-artikel tersebut adalah olahan dari berbagai sumber melalui berbagai tahap pengumpulan data dan arsip serta observasi ke lapangan. Sehingga kami memproteksi artikel kami sebagai penghargaan kepada hasil karya tim BHHC.

Sebagai media edukasi kami memberikan ijin akses copy seluas-luasnya artikel-artikel berupa text dan foto (image) untuk Presentasi, Tugas Sekolah, Menyusun tugas kuliah, Informasi kesejarahan, Ilmu Pengetahuan dan yang Lainnya dengan cetakan terbatas. Dan untuk cetakan yang lebih banyak silahkan hubungi admin; jatmikow@banjoemas.com

Copy Paste secara istilah adalah Copy yang artinya Salin dan Paste yang artinya Tempel, menyalin atau memindah Text atau Foto (image) dari tempat satu ke tempat yang lain.

Artikel kami terbagi menjadi dua tipe yaitu tipe artikel SHARE POST yang bisa di share/copy paste dan artikel SHARE LINK yang tidak bisa di copy paste namun hanya di perbolehkan share link/pautan/alamat artikel saja.

Dan atau mengambil beberapa bagian dari artikel atau mengutip artikel kami.

KETENTUAN SHARE POST/MENGUTIP/COPY PASTE:
  1. Tidak mencopy secara utuh Text, Foto (image) dan atau susunannya.
  2. Tidak mencopy secara utuh artikel dan atau susunannya lalu membaginya menjadi beberapa artikel kecil
  3. Tidak mencopy secara utuh artikel menjadi sebuah blog
  4. Tidak mencopy Artikel utuh lebih dari 2 Artikel
  5. Tidak mencopy 3 artikel baru yang berada di halaman utama
  6. Menggunakan foto atau Image di media sosial (Facaebook, Twitter dll) tetap mencantumkan sumber.
  7. Memberikan Sumber di Bawah Artikel atau di Atas Artikel, misal;
  8. Izin Admin melalui email ke jatmikow@banjoemas.com, ijin akan berupa badge yang harus di tampilkan di sidebar blog
  9. Copy-Paste secara ilegal atau tidak memiliki hak telah melanggar Undang Undang tentang Hak Cipta
KETENTUAN SHARE LINK PENULISAN 
  1. Gunakan link/pautan/alamat dengan lengkap dan jelas misal: http://www.banjoemas.com/2012/09/pembangunan-aniem-banjoemas.html
  2. tidak ada ketentuan lain.
Terima kasih telah membaca dan memahami ketentuan ini, ketentuan ini dilakukan hanya untuk memproteksi karya tulisan penulis/tim dan hasil jernih payahnya.

Admin
Jatmiko W

BANJOEMAS HISTORY HERITAGE COMMUNITY

- Apa BHHC -

Adalah sebuah Komunitas Cinta Sejarah dan Peninggalan Bersejarah di wilayah eks. Karsidenan Banjoemas (Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap). Komunitas Nirlaba ini bertujuan untuk membangun kembali ingatan Sejarah komunitas, masyarakat di wilayah eks. Karsidenan Banjoemas dan lebih luas lagi sehingga terbentuk generasi cinta sejarah sebagai perwujudan rasa Nasionalisme Indonesia.

Berdiri 11 November 2011 di Purwokerto, didirikan oleh Jatmiko W, Hilmy Nugraha, M Risky, Mahbub, Irwan yang merupakan kumpulan dari follower banjoemas.com yang di gagas oleh Jatmiko W. Wilayah cakupan komunitas adalah Banyumas Raya atau eks Karsidenan Banyumas, karena sejarah lokal Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap adalah satu kesatuan dan jika di pisah-pisahkan menurut region Kabupaten akan terasa janggal.

- Visi dan Misi -

Visi BHHC adalah membangun kesadaran sejarah masyarakat Indonesia sehingga tercipta masyarakat yang memilki rasa nasionalisme dan patriotisme terhadap Negara Kesatuan Indonesia.

Misi BHHC adalah membangun informasi dan edukasi kesejarahan melalui program-program kegiatan yang kreatif dan rekreatif.
1. Media informasi kesejarahan dan peninggalan yang informatif dan mendidik melalui www.banjoemas.com sehingga masyarakat luas dapat mempelajari dan menarik kesimpulan analisis dan kritis.
2. Kegiatan rekreasi ketempat bersejarah dan museum sehingga pemahaman sejarah mudah di serap dan diingat
3. Kegiatan edukasi sederhana yang menyenangkan dan menghibur.

- Kegiatan BHHC -

Kegiatan yang dilakukan adalah membangun media informasi dan edukasi kesejarahan lokal melalui kegiatan kreatif dan rekreatif.
1. webloging dengan membangun media informasi global tentang kesejarahan dan peningalannya dengan bentuk yang informatif dan mendidik melalui media weblog www.banjoemas.com, sehingga masyarakat luas bisa mempelajari, memahami dan menarik kesimpulan analisis dan kritis dari manapun berada.
2. Mlusuk atau kegiatan rekreasi sejarah dimana masyarakat dibawa langsung ke tempat bersejarah bangunan, monumen dan museum sehingga proses pemahaman sejarah dapat diserep dan diingat secara mudah. Seperti kegiatan penjelajahan situs-situs sejarah, wisata ke museum, penelusuran rel kereta dan rel lori, Pameran
3. Pameran Indoor dan Outdoor tentang sejarah lokal Banyumas dengan disisipi aksi simpatis cinta sejarah dan pelestarian peninggalannya.
4. Diskusi, sharing, mencari, menggali dan dokumentasi sumber-sumber sejarah lokal dan mengangkatnya dengan tujuan untuk pelestarian dan mengangkat sejarah lokal
5. Memetakan lokasi - lokasi bersejarah, bangunan Cagar Budaya sesuai dengan UU no 11 tahun 2011 mengenai Bangunan Cagar Budaya dan kriteria sesuai analias BHHC.

- Keanggotaan BHHC -

Keanggotaan komunitas bersifat bebas bertanggung jawab dan tidak mengikat, yang terbagi menjadi dua yaitu anggota Inti yang terdaftar secara aktif menyelenggarakan dan mengelola kegiatan kedalam dan keluar komunitas dan anggota reguler yang terdaftar sebagai follower dan terhubung dalam pertemanan di account facebook "banjoemas heritage".

- www.banjoemas.com -

Adalah media informasi, edukasi dan eksistensi Banjoemas History Heritage Community, yang memuat informasi berupa Sejarah, Babad, Penelusuran, Galeri, Info Ivent, Resensi, Download dan lainnya.

- Mitra Komunitas -

Dalam setiap kegiatan komunitas kami selalu memengajak berbagai pihak yang memiliki kepedulian dan penghargaan yang sama terhadap sejarah dan pelestarian peninggalan sejarahnya. Mereka yang turut serta dalam kegiatan, meliput, mendukung dan bekerjasama. Komunitas dan Media partner kami adalah Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO), Komunitas Historia Indonesia (KHI), Borobudur Youth Forum 2016, Jaringan Komunitas Sejarah Indonesia, Komunitas Rumah Tua Yogyakarta,  Komunitas Jelajah Budaya, Lensa Manual reg. Purwokerto, Komunitas SPOORLIMO, Komunitas Padang Ilalang, Komunitas Bloger Banyumas, Komunitas GUBUG, Komunitas Kamera Analog Purwokerto, Komunitas Kamera Lobang Jarum (KLJ) Purwokerto, Indonesian Steam Locomotive Community (ISLC), Komunitas Peduli Sepur Lori & Pabrik Gula Indonesia, Masyarakat Advokasi Warisan Budaya, Indonesian Heritage Trust (BPPI), Komunitas Sepeda Onthel Indonesia (KOSTI), Legion of Arts, Kota Tua Magelang, baturaden.info, Satelit Post, Radar Banyumas, Warta Jateng dan Kompasiana.com

Koordinator BHHC
Kota Purwokerto : Jatmiko W | jatmikow@bajoemas.com (
Kota Sokaraja | Kalibagor : Hilmy Nugraha | hilmy@banjoemas.com
Kota Banyumas : Irwan | irwan.tanpasyah.7@facebook.com
Kota Ajibarang : Mahbub |
Kota Purbalingga : Jatmiko W | jatmikow@bajoemas.com
Kota Purwareja Klampok : 
Kota Sumpyuh : Yohanes Dicky | 01yohanesdicky@gmail.com


email : admin@banjoemas.com
fb: banjoemas heritage
fb group: Banjoemas History & Heritage Community
twitter: @banjoemas

Jl. Langen 7 G.14 Puri Langen Estate
Baturraden Banyumas 53151





Selasa, 28 Desember 2010

Babad II Wirasaba Majapahit - Pajang

banjoemas
Kerajaan Majapahit
XII – XV M
Kerajaan ini berdiri pada tahun 1293 – 1500 M, dan mencapai masa kejayaan pada masa kekuasaan Hayam Wuruk yaitu pada tahun 1350 hingga 1389. Pada masa itu kekuasaan Majapahit adalah Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Bagian Timur (masih di perdebatkan). Sehingga kota-kota yang berada di selatan gunung Slamet seperti Wirasaba, Kedjawar dan Pasirluhur merupakan termasuk kota-kota di wilayah kekuasaan Majapahit.
Pada masa berdirinya Majapahit, pedagang-pedagang Islam dari Kasultanan Malaka sudah mulai masuk ke perairan Nusantara bagian barat dan menyebarkan Islam di daratan Sumatra. Sehingga menyebabkan pengaruh kekuasaan Majapahit mulai berkurang dan satu-persatu mulai melepaskan diri.
Pada tahun 1468 Pangeran Kertabhumi memberontak terhadap Singhawikramawardhana (Brawijaya IV) dan mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit dengan gelar Brawijaya V. Sehingga sejumlah pembesar Majapahit yang tersisihkan dari istana termasuk saudara beda ibu Kerthabhumi yaitu Raden Harya Baribin Pandhita Putra melarikan diri ke arah barat, meminta suaka kepada penguasa Sunda - Galuh yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475 ) di Ciamis. 
Menurut saya melarikan diri bukan karena diserang oleh Kesultanan Demak/Keling, karena Kesultanan Demak menyerang Kerajaan Majapahit pada tahun 1527 M, dimana raja Majapahit adalah Ranawijaya dengan gelar Girindrawardhana (Brawijaya VI). Dimana Ranawijaya mengaku telah mengalahkan Kertabhumi dan telah memindahkan  ibukota kerajaan Majapahit ke Daha (Kediri), ini menyebabkan kemarahan Sultan Demak Pati Unus yang merupakan keturunan Kertabhumi dan Pendukung Ranawijaya mengungsi ke Pulau Bali
Raden Baribin dan rombongan kemudian diterima Prabu Niskala Wastu Kancana dan dijodohkan dengan putri bungsu Dyah Ayu Ratu Pamekas dari ibu Subanglarang. Dyah Ayu Ratu Pamekas adalah adik Raden Banyak Catra (Kamandaka) dari ibu Dewi Kumudaningsih yang merantau di Pasir Luhur.

Adapun keturunan Raden Baribin dan Dyah Ayu Ratu Pamekas adalah Raden Ketuhu, Banyaksasra, Raden Banyakkusuma yang kelak tinggal di Kaleng (Kebumen), dan yang keempat R. Rr Ngaisah. Raden Ketuhu dikisahkan mengembara ke daerah Jawa bagian tengah dan mengabdi kepada Ki Gede Buwara sebuah desa di kadipaten Wirasaba. Raden Ketuhu sangatlah rajin dan tekun. Pada suatu hari saat Raden Ketuhu sedang membakar  ranting dan daun dari membuka hutan di desa Buwara, sinar terang dari pembakaran membentuk Teja (Pelangi) yang terlihat dari kadipaten Wirasaba. Maka dipanggilah Ki Gede Buwara dan Pangeran Ketuhu oleh Adipati Wirahudaya menghadap di kadipaten. Singkat cerita akhirya Adipati Wirahudaya tau siapa sebenarnya Pangeran Ketuhu tersebut dan di jadikan anak oleh Adipati Paguwan/Wirahudaya  (Wirautama I).

Pada saat Pisowanan Ageng ke Kraton Majapahit,  Adipati Wirahudaya dalam keadaan sakit, sehingga diutuslah Raden Ketuhu dengan di dampingi oleh Patih Wirasaba dan Raden Bawang. Pada saat menghadap Raden Ketuhu mendapat pertanyaan tentang asal usul dirinya, karena yang bertanya adalah seorang raja maka Raden Ketuhu mengungkapkan sebenar-benarnya tentang asal-usulnya. Maka Kertabhumi (Brawijaya V) langsung terkejut dan merasa bersalah dengan keturunan dari Raden Harya Baribin Pandhita Putra. Maka Kertabhumi merasa harus mengangkat derajat kebangsawanan Keratonnya. Raden Ketuhu langsung di nobatkan menjadi Adipati Anom Wirasaba dengan gelar Adipati Anom Wirautama dan dihadiahi seorang istri yaitu Putrisari yang merupakan putri Mapatih Majapahit dan juga diijinkan untuk memperluas kekuasaan Wirasaba hingga Lereng Gunung Sindoro Sumbing bagian barat di wilayah Kedu.

Karena perjalanan jauh dari Keraton Majapahit ke Kadipaten Wirasaba, sehari sebelum tiba di Wirasaba rombongan beristirahat agar sampai tujuan pasukan yang mengiringnya tidak kelelahan. Dan ini dijadikan kesempatan oleh Pangeran Bawang untuk menghalangi Adipati Anom kembali ke Wirasaba, karena dialah yang sudah sekian lama mengincar kedudukan Adipati Wirahudaya (Wirautama I). Dengan berpura-pura pulang terlebih dahulu untuk memberitahu Adipati Wirahudaya agar tidak terkejut menghadapi kedatangan rombongan Adipati Anom. Tapi justru Radeng Bawang malah menghasut Adipati Wirahudaya dan mempersiapkan bala tentara Wirasaba dan kembali ketempat dimana Adipati Anom Beristirahat. Maka terjadilah pertempuran yang di menangkan oleh pasukan dari Majapahit dan bahkan Raden Bawang pun tewas dan di kebumikan di desa Bawang Banjarnegara.

Kerajaan Demak
1478 – 1568 M
Setelah Adipati Paguwan mangkat maka digantikan oleh anak angkatnya yaitu Raden Ketuhu (Adipati Anom Wirautama) dengan gelar Adipati Wirautama II.  Dan secara turun temurun di gantikan oleh Adipati Urang dengan gelar Wirautama III. Dipati Urang berputra Adipati Sutawinata/Surawin bergelar Wirautama IV. Adipati Sutawinata/Surawin digantikan Raden Tambangan diangkat menjadi adipati oleh Kesultanan Demak di beri gelar Sura Utama. Raden Tambangan  kemudian menjadin hubungan terlarang dengan Putri Banyak Geleng Pasirbatang (Pangeran Senapati Mangkubumi II) yaitu Dewi Lungge. Hubungan ini melahirkan tiga orang anak, yaitu Raden Warga (Warga Utama I), Jaka Gumingsir dan Ki Toyareka (Demang). Setelah Raden Tambangan meninggal lalu Raden Warga mengantikan ayahnya, dengan gelar Adipati Warga Utama I, dan mempunyai 4 keturunan yaitu Rara Kartimah, Ngabhei Wargawijaya, Ngabhei Wirakusuma dan Raden Rara Sukartiyah/Sukesi (istri anak dari Ki Demang Toyareka). 
Pada masa pemerintahan Adipati Wirautama II sampai dengan Adipati Warga Utama I terjadi pergantian masa kekuasaan dari Majapahit ke Kesultanan Demak yang di dirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478, Kesultanan Demak sebelumnya adalah kadipaten pada masa kekuasaan Majapahit yang menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Kesultanan Demak cepat sekali mengalami kemunduran karena adanya perebutan kekuasan diantara kerabat Kesultanan. Pewaris tahta terakhir adalah Joko Tingkir yang merupakan menantu Sultan Trenggana dan anak dari Ki Ageng Pengging yang di hukum mati karena di tuduh akan memberontak terhadap Kesultanan Demak. Joko Tingkir bergelar Sultan Adiwijaya (1546 – 1587). Sultan Adiwijaya memindahkan ibukota Kesultanan Demak ke Pajang (Solo). Kerajaan Pajang (1568–1586) hanya memiliki tiga Raja dan raja yang terakhir adalah Pangeran Benawa yang berkuasa sampai tahun 1587 M.
Kasultanan Pajang 
1568 - 1586
Saat Adipati Warga Utama I menjabat mempunyai banyak panakawan yang diambil dari para petinggi dan kadipaten Wirasaba. Para panakawan tidur di halaman. Pada suatu malam pada saat bulan purnama, Adipati Warga Utama melihat cahaya masuk ke dalam tubuh salah seorang panakawan yang tidak dikenali oleh Sang Adipati. Oleh karena itu, Sang Adipati merobek bebed panakawan tersebut untuk mengenalinya. Pada pagi harinya, panakawan yang di sobek bebednya dipanggil, ternyata punakawan tersebut adalah Jaka kaiman punakawan dari Kejawar dan setelah itu diberitahunya bahwa ia akan dijadikan menantu. Jaka Kaiman akan dinikahkan dengan puteri Adipati Warga Utama yang bernama Rara Kartimah dan uang lima riyal sebagai pitukon.
Jaka Kaiman disuruh pulang oleh Sang Adipati agar memberitahukan ayahnya dan diikuti oleh dua orang utusan dari Wirasaba. Karena tidak mampu, Kiai Mranggi Kejawar (ayah angkat Jaka Kaiman) meminta bantuan keuangan kepada Banyak Kumara di Kaleng. Sebenarnya Joko Kaiman adalah putera Raden Banyak Cotro dengan ibu adalah puteri Adipati Banyak Geleh (Wirakencana/Mangkubumi II) dari Pasir Luhur. Semenjak kecil Raden Joko Kaiman diasuh oleh Kyai Mranggi di Kejawar, yang terkenal dengan nama Kyai Sembarta dengan Nyi Ngaisah yaitu puteri Raden Baribin yang bungsu.

Di situ, Kiai Mranggi berjumpa dengan Ki Tolih. Ki Tolih adalah utusan Raja Negeri Keling untuk membunuh raja Majapahit Brawijaya. Namun usaha itu gagal, bahkan Ki Tolih dapat di tawan oleh Ki Gajah. Pada saat bersamaan Raja Brawijaya mengadakan sayembara untuk menangkap kudanya yang mengamuk di tengah kota Majapahit karena kerasukan roh Burung Endra yang mati dibunuh oleh Ki Gajah. Dengan hadiah Tanah dan Putrinya. Sebagai seorang tawanan Ki Tolih memberanikan diri untuk mengikuti sayembara tersebut, karena tak satupun orang  yang memenangkannya. Dengan mudah Ki Tolih menaklukan kuda yang kerasukan roh itu dan memenangkan sayembara tersebut. Namun Ki Tolih menolak semua hadiah yang di janjikan, tapi dia meminta keris gajah Endra yang dibawanya dari negeri Keling. Setelah itu, Ki Tolih mengembara sampai ke daerah Kaleng dan mengabdi kepada Adipati kaleng, hingga di ceritakan setelah pengabdiannya di Kaleng, rakyat hidup makmur.

Setelah mendengar cerita tentang Kadipaten Wirasaba dan tawaran dijadikan menantu oleh Adipati di Wirasaba, Ki Tolih menghadiahkan Keris Gajah Endra Ke pada Jaka Kaiman dan memesankan warangka kerisnya kepada Kiai Mranggi ayahnya. Namun Ki Tolih melarang membawa keris Gajah Endra ke medan pertempuran selama tujuh turunan, karena keris tersebut pernah dipake untuk usaha membunuh Brawijaya dan Penguasa Wirasaba ada kaitan erat dengan Brawijaya. Ki tolihpun meramalkan Jaka Kaiman akan menjadi Penguasa di Wirasaba dan akhirnya keris Gajah Endra di bawanya pulang ke Kejawar. Jaka kaiman kembali ke Wirasaba dan menikahi Rara Kartimah putri dari Adipati Warga Utama I.

Pada masa kekuasaan Sultan Adiwijaya (Sultan Pajang) memerintahkan kepada para Adipati di seluruh kadipaten kekuasaannya untuk menyerahkan seorang putri untuk dijadikan pelara-lara. Warga utama I memilih putrinya Raden Rara Sukartiyah/Sukesi (bekas menantu Ki Demang Toyareka) untuk di persembahkan, dan pada Sabtu Paing mereka berangkat ke Pajang. Kemudian anak Ki Demang Toyareka tahu dan marah-marah. Kemudian bersama-sama dengan pengawalnya pergi ke Pajang untuk meminta keadilan. Putra Ki Demang Toyareka menyatakan kepada gandek kesultanan Pajang bahwa istrinya di serahkan oleh Adipati Wirasaba untuk di jadikan pelara-lara. Maka sampailah berita ini kepada Sultan Adiwijaya tanpa menanyakan dulu kepada Raden Rara Sukartiyah.
Banjoemas Heritage
Banjoemas Heritage
Maka dengan angkara murka diutuslah tiga gandek untuk membunuh Adipati Warga Utama I yang dalam perjalanan pulang ke Wirasaba. Ditengah perjalanan Adipati Warga Utama I memutuskan untuk sekedar mampir di rumah Ki Ageng Bener di desa Bener, Ambal Kebumen. Disana Adipati Warga Utama I di terima di bale malang dan di jamu Pindang Banyak. Karena jaraknya tidak terlalu jauh, ketiga gandek utusan sultan Pajang sampai di rumah Ki Ageng Bener saat Adipati sedang makan jamuan pindang banyak.
Banjoemas Heritage
Beberapa saat setelah Sultan Pajang mengirim gandek yang pertama, Sultan baru menanyai Raden Rara Sukartiyah. Dan ternyata Sultan salah besar, Raden Rara Sukartiyah sudah diceraikan oleh Adipati Warga Utama I dari Raden Mangun anak Ki Demang Toyareka, karena hubungan terlarang dalam Islam (menikah dengan sepupu). Maka dengan segera Sultan mengirim gandek untuk membatalkan pembunuhan terhadap Adipati Wirasaba.
Banjoemas Heritage
Gandek yang menyusul sampai di desa Bener melambai-lambai dari kejauhan setelah melihat gandek yang pertama berada di dekat Adipati Warga Utama I, dengan maksud jangan membunuh, tapi justru gandek yang pertama berfikir untuk segera membunuk Adipati Warga Utama I. Maka di tikamlah tepat di dadanya sang Adipati. Kedua kelompok gandek saling menyalahkan satu sama lain, namun Adipati sempat memberi pesan untuk jangan bertengkar dan melaporkan kepada sultan bahwa pembunuhan tidak dapat di cegah oleh gandek yang dating berikutnya. Adipati pun percaya bahwa ini adalah takdir untuk kematiannya.

Setelah kematian Adipati Warga Utama I, Sultan Pajang Adiwijaya kebingungan dan merasa sangat bersalah dan atas kejadian ini. Maka dengan segera Sultan Pajang memanggil putera Adipati Warga Utama I, namun tidak ada yang berani menghadap. Maka satu dari dua putra menantu Adipati yaitu Raden Joko Kaiman (suami R. Rara Kartimah) memberanikan diri untuk menghadap dengan menanggung apapun segala resikonya. Bukan amarah dan murka yang di dapat tetapi anugerah dijadikannya Adipati dengan gelar Adipati Warga Utama II. Karena Raden Joko Kaiman bukan keturunan kandung dari Adipati yang terbunuh maka teks pengangkatanpun harus dirubah. Dan atas kemurahan Sultan Pajang akhirnya Wirasaba dibagi menjadi empat yaitu;
1. Wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Kyai Ngabei Wirayuda.
2. Wilayah Merden diberikan kepada Kyai Ngabei Wirakusuma.
3. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Kyai Ngabei Wargawijaya.
4. Wilayah Kejawar dikuasai sendiri dan kemudian dibangun dengan membuka hutan Mangli dibangun pusat pemerintahan dan diberi nama Kabupaten Banyumas.


Atas pembagian ini maka Adipati Warga Utama II juga bergelar sebagai Adipati Mrapat.
Kerajaan Pajang berahir pada tahun 1587 dan dijadikannya bawahan Kerajaan Mataram Islam yang dibangun pada tahun 1577 oleh Ki Ageng Pamanahan di “Bhumi Mentaok”, yaitu tanah hadiah dari Sultan Adiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan (Ayah Sutawijaya) atas jasanya membunuh Arya Penangsang (bupati Jipang tahun 1549) yang telah membunuh Sunan Prawoto (Sultan Demak). 

Banjoemas

Silsilah Adipati Wirasaba


Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber:
Priyadi, S. 1990. Tinjauan Awal tentang Serat Babad Banyumas sebagai Sumber Sejarah Makalah disampaikan pada Seminar Sejarah Nasional V. Semarang: Jarahnitra, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan & Kebudayaan.
Priyadi, S. 1998. Penelitian Terakhir Babad Banyumas . Makalah Simposium
Internasional Ilmu-ilmu Humaniora IV dalam rangka Purnabakti
Prof. Dr. Umar Kayam dan Prof. Dr. Djoko Soekiman. Yogyakarta: Fakultas
Sastra, Universitas Gadjah Mada.

Dan beberapa tulisan Sugeng Priyadi lainnya
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Majapahit
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pajajaran
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda_dan_Kerajaan_Galuh
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Mataram
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3666115
http://wongbanyumas.multiply.com/journal/item/1
http://www.oocities.com/gudril/babat1.html
http://students.ukdw.ac.id/~22022868/sejarah.htm

Senin, 20 Desember 2010

Babad I Penguasa Selatan Lereng Gunung Slamet

banjoemas
Kerajaan Galuh Purba
Abad III - IV
Van der Meulen (1988): (Indonesia di Ambang Sejarah - Kanisius) menyatakan bahwa pendatang-pendatang dari tanah Kutai dating ke tanah Jawa jauh sebelum abad ke 3 Masehi. Pendatang-pendatang itu masuk dari pantai Cirebon dan menetap di  pedalaman sekitar gunung Cerme, gunung Slamet dan lembah sungai Serayu.
Kerajaan Galuh Purba dibangun oleh pendatang yang menetap di kawasan Slamet (Ratu Galuh), kemungkinan kerajaan bernama Galuh Sinduala ( Bojong Galuh) dan beribukota di Medang Gili (78 M) Namun ini masih di ragukan karena Bahasa dan tulisan sansekerta belum di kenal luas pada jaman itu.

Banjoemas Heritage
Arah Pendatang dari Kutai

Pada abad 1 – 6  banyak kerajaan yang memakai kata galuh selain  kerajaan Galuh Purba di Jawa. Diantaranya:
• Kerajaan Galuh Rahyang yang berlokasi di Brebes, beribukota di Medang Pangramesan
• Kerajaan Galuh Kalangon yang berlokasi di Roban, beribukota di Medang Pangramesan
• Kerajaan Galuh Lalean yang berlokasi di Cilacap, beribukota di Medang Kamulan
• Kerajaan Galuh Tanduran yang berlokasi di Pananjung, beribukota di Bagolo
• Kerajaan Galuh Kumara yang berlokasi di Tegal, beribukota di Medangkamulyan
• Kerajaan Galuh Pataka yang berlokasi di Nanggalacah, beribukota di Pataka
• Kerajaan Galuh Nagara Tengah yang berlokasi di Cineam, beribukota di Bojonglopang
• Kerajaan Galuh Imbanagara yang berlokasi di Barunay (Pabuaran), beribukota di Imbanagara
• Kerajaan Galuh Kalingga yang berlokasi di Bojong, beribukota di Karangkamulyan

Banjoemas Heritage
Kerajaan tetangga

Kerajaan-kerajaan diatas masih belum jelas apakah merupakan bagian-bagian setelah pecahnya Kerajaan Galuh Purba atau justru kerajaan-kerajaan sebelum terbentuknya kerajaan besar Galuh Purba.

Banjoemas Heritage
Kekuasaan Galuh Purba

Kerajaan Galuh Purba mempunyai wilayah yang sangat luas dari Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen dan juga ada yang menyatakan sampai Kedu, Kulonprogo juga Purwodadi.

Pada Babad Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara (tulisan Pangeran Wangsakerta dari Cirebon) mengatakan bahwa 3 wangsa yang yang berkembang pada abad VII – VIII adalah Wangsa Kalingga, Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra, yang juga ada kesamaan dengan tulisan Fruin-Mees : Geschiedenis van Java, 1919, halaman 16-20.

Yang berarti bahwa Kerajaan Galuh Kalingga yang sebelumnya merupakan bagian kerajaan Galuh Purba, nantinya akan berkembang pesat dan pamornya mengalahkan Kerajaan Galuh Purba. Apalagi setelah pusat kerajaan Galuh Purba berpindah ke Garut – Kawali (Prasasti Bogor) dan menjadi bawahan Kerajaan Tarumanegara pada masa pemerintahan Purnawarman (395 -434 M).

Kerajaan Tarumanegara
Abad IV - Abad VII
Kerajaan ini berkuasa di Jawa bagian barat, dan beribukota di Sundapura (Bekasi), dan merupakan kelanjutan dari kerajaan Salaknegara (130 - 362 M). Kerajaan ini adalah kerajaan Hindu tertua di pulau Jawa yang beralirah Hindu Wisnu. Menurut sejarah bahwa kekuasaan hanya di sekitar Banten, Jakarta, Bogor dan Bekasi namun luas pengaruhnya hingga daerah Tegal (Galuh Kumara), Banyumas (Galuh Purba) dan Bagelan.

Kerajaan Galuh-Kawali
Abad III – Abad VI
Kerajaan Galuh Purba berpindah ke Garut – Kawali (Prasasti Bogor) dan menjadi bawahan Kerajaan Tarumanegara pada masa pemerintahan Purnawarman (395 - 434 M).

Banjoemas Heritage
Perpindahan Galuh Purba ke Kawali

Banjoemas Heritage
Letak Kawali dekat dengan Ciamis, Kaart Resident's Priangan en Cheribon, 1947

Keturunan Galuh Kawali banyak yang kawin dengan keturunan kerajaan Kalingga, sehingga menyebabkan raja-rajanya banyak keturunan kerajaan kalingga. Setelah pusat kerajaan di pidah ke Garut, pengaruh kebudayaan makin lama makin pudar dan berganti pengaruh dari kerajaan kalingga.

Kerajaan Tarumanegara mulai pudar pada masa pemerentahan Prabu Tarusbawa  669 M, dan Kerajaan Galuh – Kawali sudah menjadi Kerajaan yang kuat dan banyak dari keturunannya yang kawin dengan keturunan kerajaan Kalingga. Sehingga Raja Galuh Wretikandayun berani meuntuk kekuasaan dari Kerajaan Tarumanegara. Raja Galuh Wretikandayun menjadi Raja Galuh yang merdeka,  waktu Prabu Tarusbawa mewariskan tahta Tarumanegara lewat Putri Manasih, istrinya (putri pertama Prabu Linggawarman). Tarumanegara kemudian menjadi kerajaan Sunda dan memindahkan pusat pemerentahan ke Sundapura agar pamornya naik lagi, namun ini menjadi alasan  Wretikandayun untuk memisahkan Kerajaan Galuh - Kawali menjadi Kerajaan Galuh, dan meminta dukungan Kerajaan Kalingga (Kerajaan Besan). Karena Putra Mahkota Kerajaan Galuh yaitu Rahiyang Mandiminyak menikah dengan Putri Maharani Shima bernama Parwati.

Wilayah Kerajaan Galuh antara Sungai Citarum dan Sungai Cipamali sebelah barat gunung Slamet. Jadi kemungkinan wilayah selatan gunung Slamet merupakan wilayah Kerajaan Kalingga


Kerajaan Kalingga – Mataram Kuna
Abad V – Abad IX
Kerajaan Kalingga atau Kerajaan Ho-ling merupakan kerajaan Budha yang di pimpin oleh  Ratu Sima atau Putri Maharani Shima (tahun 674 M) salah satu pendirinya merupakan keturunan dari Negara bagian Orrisa di India.
Setelah Maharani Shima meninggal di tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bhumi Mataram, dan kemudian mendirikan Wangsa Sanjaya di Kerajaan Medang. Kerajaan Kalingga (Budha) berubah menjadi Medang (Hindu beraliran Siwa) yang dipimpin Raja Sanjaya atau Rakai Mataram pada Tahun 732 M ( Prasasti Canggah),  ibukota Kerajaan berada di Medang Kemulan. Candi-candi Siwa (Hindu) di Dieng Banjarnegara  dibangun pada masa ini.
Menurut teori van Naerssen, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti Sanjaya sekitar tahun 770-an), kekuasaan atas Medang dikuasai dan direbut oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana. Mulai saat itu Wangsa Sailendra berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil pula menguasai Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Pada tahun 778 Candi Kalasan (Budha)di bangun untuk menghormati dewi Tara. Juga mahakarya terbesar Borobudur yang di perkirakan dibangun antara 750M dan selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-833).
Sampai akhirnya, sekitar tahun 840-an, seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan berhasil menikahi Pramodawardhani putri mahkota Wangsa Sailendra. Berkat perkawinan itu ia bisa menjadi raja Medang, dan memindahkan istananya ke Mamrati di daerah Kedu.

Menurut teori van Bammelen Letusan Merapi yang dahsyat menyebabkan pusat kerajaan Medang pindah ke Jawa Timur.
Antara abad sembilan hingga duabelas, tidak ada catatan sejarah yang menerangkan tentang daerah selatan Gunung Slamet. Baru setelah kebangkitan Majapahit yang pernah mencapai masa keemasan dengan menguasai seluruh Jawa, yang berarti bahwa wilayah Gunung Slamet bagian selatan merupakan wilayah kekuasaannya juga.

Perlu Diingat !
0 - 600 M (Hindu-Buddha pra-Mataram)    
  • Salakanagara
  • Tarumanagara
  • Sunda-Galuh 
  • Kalingga
  • Kanjuruhan
600 - 1500 M (Hindu-Buddha)    
  • Mataram Hindu
  • Kahuripan
  • Janggala
  • Kadiri
  • Singasari 
  • Majapahit
  • Pajajaran 
  • Blambangan
1500 M - sekarang (Islam)    
  • Demak
  • Pajang
  • Banten
  • Cirebon
  • Sumedang Larang
  • Mataram Islam
  • Kartasura
  • Surakarta
  • Yogyakarta
  • Mangkunagara
  • Paku Alam

Tulisan ini akan terus di update.
Update terahkir 17.30 21 Desember 2010

Sumber