Thursday, November 3, 2016

Temu Komunitas Sejarah se Indonesia 2016

Temu Komunitas Sejarah se- Indonesia 2016
Yogyakarta - Borobudur (Magelang)
bersama Borobudur Youth Forum 2016 dan Komunitas Night at the Museum
27 - 31 Oktober 2016


Dengan tema "Berkolaborasi Mencegah Lupa" kegiatan yang di selenggarakan oleh komunitas Night at the Museum ini adalah sebuah kolaborasi antara komunitas pecinta sejarah di daerah-daerah di seluruh Indonesia yang  untuk gerakan mencegah masyarakat dari lupa akan sejarah. Kegiatan ini juga menegaskan posisi komunitas sejarah sebagai garda terdepan dalam mengawal pengetahuan sejarah dan pelestarian warisan budaya di masyarakat. Dalam kegiatan ini peserta dalam hal ini pegiat sejarah yang tergabung dalam komunitas untuk menghasilkan produk-produk tulisan sejarah yang dapat berkontribusi besar bagi pengembangan kesejarahan lokal sebagai pendukung sejarah Nasional dan pelestarian warisan budaya.


 Peserta berfoto bersama di pelataran Hotel Sentong Asri Mbudur


Kegiatan yang di laksanakan di Balai Konservasi Borobudur (BKB) ini juga mempertemukan Komunitas-komunitas Sejarah dengan Borobudur Youth Forum 2016 (BYF2016) yang digagas oleh Balai Konservasi Borobudur dalam rangka melibatkan generasi muda sebagai upaya pelestarian Candi Borobudur. BYF 2016 merupakan agenda tahunan setelah sukses diadakannya BYF 2015 pada Juni tahun Lalu. 

Agenda kegiatan yang juga bertepatan dengan peringatan 25 tahun Candi Borobudur sebagai warisan dunia dan 88 tahun Sumpah Pemuda (hari Sumpah Pemuda) ini adalah pemaparan materi oleh  Kepala BKB Bapak Marsis Sutopo tentang kebijakan pemerintah dalam pelestarian cagar budaya, Bapak Hari Setyawan (pelestarian Candi Borobudur dan statusnya sebagai warisan dunia), Mas Elanto Wijoyono (optimalisasi pemanfaatan sumberdaya sejarah dan budaya untuk komunitas), serta Mas Gary Youidan Herlambang yang menyampaikan promosi melalui website maupun medsos.


 Pembukaan acara di Balai Pelestarian Borobudur

 Ibu Isni Wahyuningsih, Erwin Djunaedi, Bapak Marsis Sutopo, Mas Elanto Wijoyono, Mas Gary Youidan Herlambang Bapak Hari Setyawan


Mas Elanto sedang berperan sebagai sutradara 

Peserta kegiatan berfoto di aula Balai Kosnserfasi Borobudur

Sharing komunitas sebagai ajang saling berbagi informasi antar komunitas dilaksanakan pada Jumat Malam dan Sabtu Malam. Semua komunitas yang hadir memaparkan profil dan kegiatan kominitasnya secara bergantian dan membuka sesi tanya jawab. Kegiatan ini juga menjadi wawasan tersendiri untuk peserta BYF2016 (non komunitas). Karena pengalaman-pengalaman peserta Komunitas yang dipaparkan oleh setiap komunitas adalah pengalaman nyata yang terjadi di setiap daerah yang belum tentu terjadi di daerah lainnya. 

 Sharing komunitas yang di gelar di pendopo Pondok Tingal


 Jatmiko Wicaksono perwakilan BHHC sedang memaparkan profil dan kegiatan BHHC 


Jatmiko Wicaksono perwakilan BHHC sedang menjawab pertanyaan peserta


Erwin Djunaedi, Jatmiko W (BHHC), Abel (Kampung Salatiga)


 Erwin Djunaedi, Saiful Iskandar (Sahabat Museum Banten), JENANK, Arya (RCC), Lengkong Sanggar (Kopikola)


Erwin Djunaedi, Supangat (Museum 13), 


Erwin Djunaedi, Rosalia (Madya), Andika (Wonosobo Heritage), Edwin Daru (BKMS)


Erwin Djunaedi, Putu Anggita (Ikatan Duta Museum YK), Andre (Tjimahi Heritage)


Peserta kegiatan pada hari ke-2 diajak untuk merancang poster-poster atau media propaganda pelestarian Candi Borobudur yang nantinya digunakan oleh peserta kegiatan untuk mengkampanyekan langsung kepada pengunjung Candi Borobudur. Kegiatan ini secara tidak langsung mengajak peserta untuk berfikir bagaimana mengkomunikasikan bentuk bentuk pesestarian dan teks yang di gunakan. Sepuluh media propaganda mengenai pelestarian akhirnya bisa diselesaikan oeleh sepuluh kelompok yang di bentuk.



Pengarahan peserta oleh mbak Samantha


 Pembuatan materi propaganda 


Kelompok 9 dan mbak Samantha (@malamuseum)


Sesuai agenda yang telah di susun sebelumnya, peserta gegiatan juga menyusun sebuah deklarasi yang berjumlah tujuh poin ungkapan hati Pemuda Pelestari Cagar Budaya Indonesia atau Sapta Sidhikara. Yang kemudia di deklarasikan di pelataran Candi borobudur tepat jam 12 siang di depan pewarta Nasional dan Lokal. Deklarasi Sapta Sidhikara kemudian diikuti dengan aksi kampanye pelestarian Bangunan Cagar Budaya candi Borobudur dan bersih-bersih candi Borobudur yang di arahkan oleh Koordinator Pokja Pelayanan Masyarakat, Balai Konservasi Borobudur Ibu Isni Wahyuningsih di titik yang sudah di siapkan oleh pihak BKB. 


 Deklarasi Sapta Sidhikara oleh Pemuda Pelestari Cagar Budaya Indonesia
(Foto oleh metrojateng.com)

 Kampanye pelestarian kepada pengunjung Candi Borobudur

Bersih-bersih candi Borobudur

Di hari yang sama peserta juga secara bergilir mengunjungi Museum Konservasi Borobudur dan penonton filem konservasi Borobudur di studio mini.



Peserta berada di Museum konservasi Borobudur

Peserta berada di dalam Museum konservasi Borobudur

Peserta berfoto bersama di sela-sela kegiatan

Kegiatan ini juga masih berlangsung hingga 1 November 2016 namun penulis harus meninggalkan acara lebih awal karena adanya kegiatan lain di luar gegiatan ini. Saya atas nama Banjoemas History Heritage Community mengucapkan banyak terimakasih kepada penyelenggara Night at the Museum, Balai Konservasi Borobudur, Hotel Senthong Asri, Pondok Tingal dan para donatur untuk keberangkatan penulis.


Wednesday, October 12, 2016

Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia (Segera Terbit)

banjoemas.com


Penulis; Alex, Charly, Erwin (ACE)

Penerbit; SHB (Sinar Harapan Bangsa)
Editor ; Tim ACE & tim SHB
Tanggal terbit; September 2016
Jumlah Halaman; 1648++
Jenis Cover; Hard Cover
Text Bahasa; Indonesia
Kategori; Sejarah
Harga kisaran; Rp. 500.000, - Rp. 600.000, 
Rp. 400.000, Pre order  (November)
 Buku sudah di jual di Gramedia
Saat membaca buku “Melacak Jejak Kungfu Tradisional di Indonesia” yang disusun oleh Team ACE ini, akan membuat kita bernostalgia tentang kondisi Indonesia tempo doeloe sekaligus mengajak pembacanya terbawa dalam romantika dunia kang-ouw alias rimba persilatan di Indonesia.  Pembaca juga akan dimanjakan dengan berbagai bahan dan foto langka yang selama ini hampir tak pernah muncul ke permukaan.

     Seperti yang dituturkan oleh Prof. Dr. Leo Suryadinata dalam bagian Kata Pengantar-nya yang dimuat dalam buku ini, tak banyak dokumentasi / penulisan mengenai tokoh-tokoh silat Tionghoa di Indonesia.  Walaupun cerita-cerita silat Tionghoa (wuxia xiaoshuo 武侠小说) dalam bahasa Melayu cukup populer sejak akhir abad ke-19, dan terus berkembang hingga abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1960-an, namun cerita-cerita tersebut berkisah mengenai para tokoh-tokoh dunia persilatan di daratan Tiongkok, dimana banyak dari tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh khayalan, sesuai peruntukan penerbitan bacaan silat pada zaman itu yaitu sebagai bacaan hiburan, tidak dimaksudkan sebagai dokumentasi.
     Atas dasar itu, patutlah diberikan apresiasi bagi karya Team ACE ini, dimana seperti tercantum dalam bukunya, nama ACE sendiri merupakan singkatan dari nama para penulisnya yaitu : Alex, Charly, Erwin.  Hasil kerja keras mereka dalam menyusun buku ini selama lebih dari 3 tahun bisa dibilang cukup fenomenal karena menjadi salah satu buku pertama yang bertemakan dokumentasi para tokoh pendekar kungfu tradisional Tionghoa di Indonesia yang cukup lengkap.
Ketika membaca buku ini bagian demi bagian, para pembaca terutama peminat beladiri kungfu di Indonesia akan terbuai dan tertarik untuk terus membaca buku yang tebalnya mencapai 1.600 halaman ini hingga selesai.  Hal ini selain disebabkan oleh kisah-kisah mengagumkan para pendekar di dalamnya, juga karena banyaknya foto-foto langka dari para tokoh tersebut, meskipun tak semua tokoh tercantum fotonya.
     Saat mengupas kisah-kisah para pendekar / tokoh kungfu tradisional, team ACE memiliki format yang serupa pada hampir setiap babnya, pertama adalah latar belakang atau kisah seputar sang tokoh, karakteristik kungfu, kisah-kisah mengenai keluarga, murid, cucu, atau pihak-pihak lain yang dijadikan nara sumber.  Selain itu masih ditambah juga dengan kisah-kisah heroik (seperti kisah pertarungan) atau kisah-kisah unik seputar kehidupan sang tokoh (seperti kisah persahabatan para tokoh).  Beberapa bab juga ditambahkan bagian artefak yang menampilkan benda-benda berharga peninggalan para tokoh atau keturunannya tersebut.
     Banyak dari nama para tokoh pendekar yang ditampilkan dalam buku ini mungkin masih asing di telinga pembaca seperti Oey Teng Tjong, Tan Kai Tjok, Oey Bie Dhian, Siauw A Tok, Encek Rebo, Encek Minggu, Sinshe Loo, dan lain sebagainya, padahal nama-nama tersebut cukup terkenal di zamannya serta tak sedikit dari mereka yang turut andil dalam melawan penjajah di daerah masing-masing saat Indonesia masih berusaha meraih kemerdekaannya.  Tentu saja selain nama-nama tokoh yang masih asing, ada juga nama tokoh pendekar kungfu yang cukup dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa pada umumnya dan masyarakat beladiri pada khususnya, misalnya nama Sinshe Lo Ban Teng, Ji Xiao Fu, Ong Cu Kiu, Lie Tjhing Yan, Liem Khee In, Louw Djeng Tie, dan lain sebagainya.


Louw Djeng Tie, 
pendekar Parakan Temanggung

     Sebagai buku dokumentasi yang pertama kali membahas mengenai para tokoh pendekar kungfu tradisional di Indonesia, amat wajar jika masih ditemui ‘kekurangan’ disana-sini pada buku ini, misalnya belum adanya pemisahan jelas tokoh-tokoh pendekar yang hidup pada zaman dulu (era 1800-1900an) dengan tokoh kungfu generasi selanjutnya (era setelah kemerdekaan Republik Indonesia), sehingga tokoh-tokoh tersebut masih tercampur baur.  Selain itu buku ini juga tidak memisahkan para tokoh berdasarkan aliran kungfu mereka, sehingga tak jarang pembaca perlu mencari lebih lanjut mengenai tokoh tersebut.   Hal-hal semacam ini tentunya dapat dimaklumi karena para penulis memang bukan berasal dari pihak akademisi dan juga tidak berlatar belakang di bidang sejarah maupun sastra.  Toh, ‘kekurangan’ tersebut tidak mengurangi keasyikan membaca buku ini.
     Pertama kali melihat tingkat ketebalan dan ukuran dimensi buku ini sendiri awalnya dapat membuat pembaca cukup ‘kewalahan’.  Namun setelah mengupas halaman demi halaman, tanpa sadar buku ini dapat ‘menyihir’ pembacanya untuk tanpa sadar melupakan rasa ‘kewalahan’ akan tebal dan ukuran buku ini.
Walaupun mengupas kungfu tradisional Tionghoa, buku ini tidak bersifat eksklusif serta tidak menganaktirikan pembaca non-Tionghoa.  Hampir setiap istilah berbahasa Tionghoa baik dalam dialek lokal, Hokkian atau Mandarin dijelaskan dengan baik oleh penulisnya pada bagian catatan kaki, kecuali untuk istilah yang mungkin sudah dianggap umum atau ‘merakyat’ di Indonesia.  Bagi pembaca yang penasaran mengenai cerita tentang suatu nama, tempat, kejadian atau objek sejarah tertentu, juga diajak untuk mendalami lebih jauh melalui penjelasan yang cukup detil pada bagian catatan kaki.
     Ada hal unik yang cukup menarik pada buku ini yaitu terdapatnya kisah-kisah mengenai pendekar kungfu wanita di Indonesia, yang bisa dibilang namanya nyaris tak pernah terdengar.  Dalam bagian ini pihak penulis seakan ingin menunjukkan bahwa kungfu bukan hanya milik gender laki-laki saja.
Bagian yang membahas berbagai perkumpulan Tionghoa juga amat menarik dan dilengkapi dengan foto-foto yang cukup langka bahkan bisa dibilang ‘temuan baru’ di bidang pembahasan organisasi tradisional Tionghoa.  Selain itu pembaca masih terus dijamu dengan berbagai kisah mengenai para pendekar dari seantero Indonesia pada bagian Trivia.  Tak cukup sampai disitu, pembaca masih dimanjakan dengan bonus cerita berupa “Kampung Kungfu di Indonesia Tempo Doeloe” yang secara khusus membahas beberapa daerah di Indonesia yang pada zamannya dulu seakan menjelma menjadi dunia kang-ouw karena dipenuhi oleh para pendekar kungfu.
     Sebagai kalimat penutup, buku luar biasa yang menurut beberapa pihak dapat diibaratkan “Etalase Kungfu Tradisional di Indonesia” ini sangat layak untuk dikoleksi bahkan dapat juga dijadikan sebagai bahan penelitian bagi para peminat seni beladiri dan budaya tradisional Tionghoa di Indonesia.Terlepas dari kontroversi yang mungkin timbul seperti layaknya dunia kang-ouw yang sering mengalami kehebohan, yang pasti sumbangsih buku ini sebagai catatan penting mengenai kungfu tradisional Tionghoa di Indonesia untuk generasi berikutnya amat besar dan patut dipuji.


#kiongtjhioe


    


Thursday, April 28, 2016

Kuburan Belanda Purwokerto

Kerkhof di Poerwokerto

Kota baru Purwokerto yang di bangun oleh Belanda sejak dijadikan ibukota Regentschaap (Kabupaten) pada tahun 1836 menjadikan kota ini dipenuhi oleh orang orang Eropa. Terlebih lagi setelah masa mailese yang menyebabkan digabungkannya kabupaten Purwokerto dengan kabupaten Banyumas pada tahun 1937. Kota Purwokerto menjadi kota yang super sibuk sebagai ibukota kabupaten Banyumas sekaligus ibukota karsidenan Banyumas. Kota Purwokerto juga di lalui oleh dua maskapai kerta api yang saling terhubung satu sama lain yaitu Serajoedal Stoomtram Maatscappij yang di bangun pada tahun 1836 dan Staats Spoorwegen yang baru di bangun pada tahun 1917, menjadikan kota Purwokerto sebagai kota transit. Banyaknya sekolah-sekolah dan fasilitas-fasilitas lain yang lebih lengkap dari kota kota lain di karsidenan Banyumas membuat kota Purwokerto semakin ramai.

Orang-orang Eropa yang telah turun temurun dan atau tinggal karena masa jabatan di Purwokerto juga banyak yang meninggal dan di kuburkan di Purwokerto. Di Purwokerto terdapat sebuah Kerkhof atau kuburan Belanda yang saat ini keberadaannya sangat memperihatinkan karena bekas tanah kuburan yang menjadi tanah "mati" sekarang banyak di pakai warga di daerah Pasirmuncang untuk dijadikan pemukiman. Dari puluhan kuburan yang pernah ada hanya beberapa kuburan saja yang masih bisa terlihat dan terawat.


banjoemas.com
Pada peta lama Purwokerto Kerkhof terletak antara Pasirmuncang dan Tanjung


banjoemas.com
Pada peta Purwokerto sekarang bahwa taman makam pahlawan Purwokerto
berada di samping kerkhof 
banjoemas.com

Ilustrasi keberadaan nisan-nisan yang masih ada dan bisa di kunjungi


banjoemas.com
(1 & 2) Makam P. J. Tadema dan istrinya


P.J. Tadema lahir 31 Mei 1898 - meninggal 5 Agustus 1969 dan Th. U. de Mey lahir 10 Desember 1909 - meninggal (tidak jelas). P.J. Tadema adalah pemilik "Villa Krandji" yang pada jaman pemerintahan Hindia Belanda di belakang terdapat perusahaan susu miliknya.


banjoemas.com
(3) Makam J.W. van Dapperen


banjoemas.com
Advertentie De Maasbode 15-10-1937

J.W. van Dapperen (seorang administratur pabrik gula yang lama) lahir di Harleem 25 Agustus 1869 - meninggal di Baturraden 14 Oktober 1937. J.W. van Dapperen beristrikan seorang Jawa bernama Raden Roro Sudarminah. Van Dapperen pernah menuliskan beberapa buku mengenai flora dan fauna di wilayah gunung Slamet. Silsilah keluarga  J.W. van Dapperen.


banjoemas.com
(7) Makam J.P. Dom dan istri (info dari juru kunci makam)

banjoemas.com
Advertentie De Telegraaf 08-09-1936

J.P. Dom  adalah Asisten Residen Purwokerto pada masa residen E.W.H. Doeve (1913 - 1916) yang mengundurkan diri pada tahun 1915 (Locale Belangen 16 Oktober 1915) dan meninggal pada 7 September 1936 dalam usia 69 tahun (De Telegraaf 08 September 1936)). J.P. Dom setelah mengundurkan diri tetap tinggal di Purwokerto hingga meninggalnya, dikubur disamping kuburan istrinya yang mungkin telah meninggal terlebih dahulu.

banjoemas.com
(4) Latumahina dan istrinya

Bapak Latumahina dan Ibu Latumahina meninggal pada 19 Januari 1971. Latumahina dimungkinkan adalah seorang dokter pada rumah sakit Zending (RS Lama Purwokerto).


banjoemas.com
(5) Christina Elizabeth Hukom Aponno

Christina Elizabeth Hukom Aponno lahir 14 Februari 1889 - meninggal 26 Juni 1940. Tidak ditemukan jejaknya namun  Christina tercatat dalam daftar nama Naturalisasi pada tahun 1931 di naturalisaties.decalonne.nl




banjoemas.com
(6) Makam tidak teridentifikasi

banjoemas.com
(8) Makam tidak terientivikasi, Denny Purnomo (tim BHHC) bersama warga 

banjoemas.com
(9 & 10) Dua makam tidak teridentifikasi, 
satunya hanya terlihat semacam pondasi di sampingnya 

banjoemas.com
(11) Makam dibawah pondasi rumah

banjoemas.com
(12) Makam kecil tidak teridentifikasi

banjoemas.com

Sisa-sisa makam berserakan di beks kerkhof

banjoemas.com
Sisa-sisa tegel makam yang masih bisa di dapati di permukaan tanah


Sebagai salah satu bentuk peninggalan bersejarah kuburan/makam Belanda ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk tetap mempertahankan sisa-sisa kuburan Belanda sebagai bukti bahwa di kota Purwokerto pernah di jajah dan ditinggali oleh orang-orang Eropa.

Terimakasih kepada juru kunci Kerkhof bapak Kartadimeja (alm.) dan warga yang menempati tanah kerkhof Purwokerto yang telah memberikan informasi.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie 07-09-1936
Het Vaderland  staat- en letterkundig nieuwsblad 07-09-1936
De Telegraaf 08-09-1936
Het volk  dagblad voor de arbeiderspartij 27-08-1932
De Maasbode 15-10-1937
Reggeringsalmanak 02 01 1913 (dalam dr. Soedarmadji 2016)


Tim Blusukan 11 Januari 2015
- Denny Purnomo (Gan Liang An)
- Jatmiko Wicaksono

Friday, April 15, 2016

Kuburan Belanda Pabrik Gula Kalibagor

Kerkhof Suikerfabrik Kalibagor
Kuburan Belanda di kompleks Pabrik Gula Kalibagor

Pabrik gula Kalibagor adalah pabrik gula tertua di Karsidenan Banyumas yang di bangun pada tahun 1839. Selain memiliki bangunan pabrik, areal perkebunan tebu yang luas dan jaringan rel lori terpanjang pabrik gula ini memiliki kompleks kuburan khusus orang Belanda yang bekerja di dalamnya.

banjoemas.com
Pabrik Gula Kalibagor dan kereta barang milik Serajoedal Stoomtram Maatscapij
sekitar tahun 1905



banjoemas.com
Peta Sokaraja - Kalibagor tahun 1942


banjoemas.com
Peta Pabrik Gula Kalibagor tahun 1960


banjoemas.com
Kompleks kuburan Belanda di Pg Kalibagor 
antara tahun 1920 - 1929


banjoemas.com
Ilustrasi Kompleks kuburan Belanda di Pg Kalibagor
1. Alida Geertrnida Frederika Busselaar 
2. Edward Cooke
3. Paulina Martina Conrad
4. J.J.D. Ottenhoff

Dalam foto kuburan Belanda yang diambil antara tahun 1920 - 1929 tampak bahwa disana terdapat 11 kuburan. Namun pada kunjungan saya pada tanggal 13 Mei 2012 dan 27 Juni 2013 hanya menyisakan 8 kuburan yang masih terlihat wujudnya dan hanya 4 yang masih terbaca nisannya. Diantaranya adalah :


banjoemas.com

Kuburan Edward Cooke


HIER RUST

HET STOFFELYK OVERSCHOT

VAN

WYLEN DEN WELEDELE HEER
EDWARD COOKE
IN LEVEN SUIKER FABRIKANT TE BANJOEMAS
GEBOREN TE POELOPIRNANG
OVERLEIDEN TE KALIBAGOR DEN 24 FEBRUARY 1847
IN DEN OUDERDOM VAN 56 JAREN

DISINI BERSEMAYAM JENAZAH
ALMARHUM TUAN TERHORMAT EDWARD COOKE
YANG SEMASA HIDUPNYA SEORANG PEMBUAT GULA DI BANYUMAS
LAHIR DI PULAU PINANG
MENINGGAL DI KALIBAGOR 24 FEBRUARI 1847
DI USIA 56 TAHUN

Edward Cook adalah ayah dari Edward Cook Jr (Junior) sang pendiri pabrik gula Kalibagor, Edward Cook adalah seorang produsen gula dan menurut saya dialah kemungkiunan pemilik pabrik gula sebenarnya. Ayah Edward Cooke adalah seorang Kapiten Kapal Layar asal Inggris yang meninggal dan di makamkan di Calcuta India. 

Edward Cooke (1791 - 24 02 1847) + Maria Magdalena Wolzijven pada 17 Maret 1830 menikah di Surabaya dan menurunkan seorang putri yaitu Maria Magdalena Cooke yang menikah dengan Christoffel Theodorus Toorop (1825-1887) Seorang Asisten Residen Sambas Kalimantan dan kemudian bekerja di departemen Pertanahan di Bogor. Mereka mempunyai lima orang anak yaitu:
  • Charles Toorop 1856 - 1894
  • Maria Theodora Toorop 1857 - ?
  • Johann Theodorus Toorop 1858 - 1928
  • Elize Toorop 1860 - 1947
  • Maria Magdalena Toorop 1862 - ?
banjoemas.com
Marmer Nisan Alida Geertrnida Frederika Busselaar masih terbaca jelas


banjoemas.com
Penulis berfoto di Kuburan Alida Geertrnida Frederika Busselaar 
Foto oleh Hilmy Nugroho (BHHC)



banjoemas.com
Kuburan Alida Geertrnida Frederika Busselaar tidak terawat

HIER RUST
HET ATOFFELYK OVERSCHOT
VAN
ALIDA GEERTRNIDA FREDERIKA BUSSELAAR 
GELIEFDE ECHTGENOOTE VAN
EDWARD COOKE JR
OVERLEIDEN TE KALIBAGOR DEN 21 DECEMBER 1850
IN DEN OUDERDOM VAN 18 JAREN EN 6 MAANDEN, NA 5 MAANDEN
EN 21 DAGEN GEBUWD TE ZYN GEWEEST

DISINI BERSEMAYAM JENAZAH
DARI
ALIDA GEERTRNIDA FREDERIKA BUSSELAAR 
ISTRI TERCINTA DARI
EDWARD COOKE JR
MENINGGAL DI KALIBAGOR PADA 21 Desember 1850
DI USIA 18 TAHUN 6 BULAN SETELAH 5 BULAN
21 HARI PERNIKAHAN


Edward Cook Jr (Junior) yang mungkin anak Edward Cook dari istri yang lain Menikahi Alida Geertruida Frederika Busselaar pada 7 Januari 1850, Alida Geertruida Frederika Busselaar adalah anak dari Jan + Anthoinette Coenradina Hendriks.

Setelah istri pertamanya meninggal Edward Cook Junior menikahi Anna Paulina Greuder pada 26 Juni 1852 dan melahirkan Charles Edward Cooke yang menikah dengan Catherine Adolphina Soekias.

banjoemas.com
Kuburan J.J.D. Ottenhoff


HIER RUST
ONS GELIEFD KINDJE
30/8 1900
J.J.D. OTTENHOFF

DISINI BERSEMAYAM
ANAK TERKASIH KAMI
30 AGUSTUS 1900
J.T.D. Otten Hoff


banjoemas.com

Makam Paulina Martina Conrad

HIER RUST

PAULINA MARTINA CONRAD

OVERLEIDEN 30 APRIL 1852


DISINI BERSEMAYAM
PAULINA MARTINA CONRAD
MENINGGAL 30 APRIL 1852

banjoemas.com
Kondisi kuburan Belanda yang penuh semak belukar


banjoemas.com
Kondisi kuburan Belanda 


banjoemas.com
Sebuah kuburan hampir tidak terlihat karena tumbuhan 


banjoemas.com

Beberapa kuburan yang tidak terbaca lagi nisannya

Saat ini kompleks pabrik gula Kalibagor sedang dalam pengawasan BPCB Jawa Tengah setelah pemilik merobohkan cerobong asap dan membongkar beberapa bagian utama bekas pabrik yang sudah terdaftar sebagai bangunan cagar budaya kabupaten Banyumas.

Untuk melihat lokasi melalui perangkat Google Map silahkan klik disini.


Terimakasih pada Hans Ottenhoff keturunan dari keluarga Ottenhoff mekanik di pabrik gula Kalibagor, Cak Hans Boers admin imexbo.nl yang membantu saya dalam penerjemahan dan silsilah keluarga Cooke dan Soekias.


KOLONIAAL VERSLAG 1922, suikerindustrie op Java 1891 - 1921
imexbo.nl
indisch4ever.nu
genealogieonline.nl
geni.com
cbg.nl