Friday, October 20, 2017

Pembangunan ANIEM Banjoemas


A.N.I.E.M (Algemeene Nederlandsen-Indische Electriciteit Maatschappij) atau dalam bahasa Indonesia adalah Listrik untuk Masyarakat hindia Belanda adalah sebuah perusahaan listrik milik negara yang menangani pembangunan pembangkit listrik dan penyaluran lustrik di Hindia Belanda. 
Proyek ini dibangun oleh N. V. A.N.I.E.M (Algemeene Nederlandsen-Indische Electriciteit Maatschappij) wilayah kerja Karsidenan Banyumas tahun 1940. Desain dan pengerjaan dipimpin oleh ir. G. S. GOEMANS yang merupakan Insinyur N. V. A.N.I.E.M. Cakupan dan penyebaran listrik untuk wilayah ini cukup luas sehingga setelah pembangunan selesai, perawatan dan pendistribusian dilakukan oleh N. V. Electriciteit Maatschappij Banjoemas (E.M.B.)

banjoemas.com
Peta Proyek dan transportasi Klik disini untuk ukuran besarnya

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

Proyek ini diawali dengan pencarian sumber air yang melimpah yang nantinya akan di gunakan untuk membangkitkan turbin generator pembangit listrik. Setelah dilakukan penelitian di lereng gunung Slamet sebelah selatan akhirnya ditemukan sumber air yang melimpah di hulu aliran sungai Banjaran yang masuk wilayah desa Ketenger. Sehingga proyek besar ini di sebut sebagai Proyek Ketenger. Dari proyek ini bertujuan mengaliri listrik untuk wilayah karsidenan Banyumas pada tahun 1927. Ijin diberikan pada 3 November 1927 kepada N. V. Electriciteitmaatschappij Banjoemas (E.M.B.) atau Perusahaan Listrik Banyumas dengan kekuatan daya 1000 pk.

Menurut Koran HET NIEUWS VAN DEN DAG yang terbit 24 Mei 1927 Mengatakan bahwa pembangunan pembangkit ini sudah dimulai dimana Gedung Transformator sudah didirikan hanya tinggal menunggu Mesin disel pertama yang didatangkan lewat Tandjung Priok. Namun karena alasan ekonomi melalui 1 Januari 1929 Proyek ini di tunda.

Tahun-tahun ini merupakan berawalnya jaman mailese, dimana perekonomian dunia mulai terpuruk karena perang terjadi di Eropa. Eropa adalah negara tujuan dari barang-barang komoditi eksport Jawa. Sehingga pemerintah Hindia-Belanda yang menguasai Jawa dan kepulauan lainnya tidak bisa dengan mudah eksport dan mendistribusikannya di Eropa.
Dan pada 1936 proyek inipun dikaji ulang dan akan di teruskan jika proyek besar karsidenan Banyumas ini juga bisa menghidupkan "Groote Krojaplan" (Proyek besar Kroya) yaitu berupa Pengairan irigasi dan pasokan listrik.

banjoemas.com
Saluran pengendapan

banjoemas.com
Pembuatan rangka pipa beton

banjoemas.com
pembuatan beton pembelok air

Teknis Pembangunan Proyek
Proyek Ketengger menggunakan teknologi Hydro ini terletak pada ketinggian 365 - 665 m diatas permukaan air laut, air penggerak menggunakan air dari hulu Kali Banjaran dan beberapa mata air disekitarnya (ditas desa Kalipagu). Dan juga direncanakan bahwa nantinya akan ada penampungan air yang bangunannya bisa kita lihat sampai sekarang.

banjoemas.com
Pembuatan siphon diatas sungai Brajawringin

banjoemas.com

Katup hidrolik, sebagai tenaga air pertama, Pipa peluncur untuk tekananan air pertama
Air dialirkan melalui pipa cor dan pipa besi turun ke bawah hingga melewati sungai Pagu (Kali Pagu) dengan membangun Syphon, dan air dinaikan lagi dan kemudian turun di Sungai Brajawaringin. Diatas sungai ini dibangun Aquaduct (terowongan air dari beton) dan kemudian naik lagi hingga di terima oleh Buffer inrichtingkleppenhuis (Hydran) sehingga air tidak turun lagi ke Aquaduct. Dari sinilah Air meluncur ke bawah dengan menggunakan pipa besi bertekanan tinggi yang dipasang tunggal. Air meluncur dengan kecepatan tinggi hingga bisa memutar turbin pada pembangkit listrik di Centrale (bangunan pembangkit) dan kemudian air di buang ke Sungai Banjaran lagi.

banjoemas.com
Pusat penggerak pada 15 Januari 1938

banjoemas.com
Pusat penggerak pada 15 Maret 1938

banjoemas.com
Pusat pembangkit Ketenger

banjoemas.com
Pipa tekanan air kedua

Teknis tranportasi
Pembangunan proyek Ketenger berada jauh dari Pusat kota Purwokerto, kabupaten dimana Lokasi pembangunan berada. Baturraden sudah terkenal sebagai tempat wisata alam, dan "Soember Pitoe" sudah merupakan tempat pemujaan Tatas Angin oleh masyarakat Banyumas pada masa itu. Sehingga jalan ke Baturraden pada masa itu sudah ada, namun tidak cukup untuk kendaraan berat yang mengangkut peralatan dan bahan bangunan menuju lokasi.

banjoemas.com
Jalur Lori untuk mengangkut peralatan dan bahan bangunan

banjoemas.com
Pengerasan jalan raya

Melalui proses perencanaan yang matang akhirnya dipersiapkan infrastruktur untuk mendukung jalur transportasi yaitu pengerasan jalan dari Stasiun SS (Staats Spoorwagon) Purwokerto hingga desa Ketenger, kemudian pengerasan dan pelebaran jalan di desa Ketenger yang merupakan wilayah Perhutani dan juga dibangunlah jalur rel lori sepanjang 2.2 Km yang juga dibangun secara serius (permanen) dengan membangunnya diatas tanah yang solid dan membangun jembatan rel diatas sungai Gemawang, Sungai ketenger dan Sungai Banjaran. Sehingga dari kesemuanya alur masuknya peralatan berat yang dibutuhkan proyek menggunakan 3 kali transportasi yang berbeda. Peralatan di datangkan melalui kereta SS (Staats Spoorwagon) Purwokerto, kemudian diangkut menggunakan kendaraaan jalan raya ke Ketenger (Gudang peralatan), dan di teruskan menggunakan rel Lori (60cm) hingga ke lokasi proyek.

Seluruh pengerjaan konstruksi hanya berlangsung 15 Bulan (Oktober 1937 - Januari 1939) Pengerjaan Proyek rupanya menemui resiko yang sangat besar yaitu musim hujan, namun dari tahapan keseluruhan yang paling sulit adalah turunnya hujan pada masa pengeringan konstruksi selama tahun 1938.

banjoemas.com
Pengangkutan dengan cara tradisional

Proyek ini adalah pekerjaan yang sangat berat untuk pekerja pribumi dimana lima sampai enam ratus orang pribumi bekerja selama berbulan-bulan. Tidak semua barang-barang perlengkapan bisa di bawa dengan transportasi, pasir, batu, kerikil, semen atau bahkan gelondongan besi cor dan beton pun dibawa secara tradisional (dipikul sendiri atau bersama).

banjoemas.com
Turbin pembangkit listrik

banjoemas.com
Pembuatan saluran pembuangan air akhir

banjoemas.com
Gardu listrik Purwokerto

banjoemas.com
Peta Sebaran jaringan Listrik ENIEM Banjoemas

Distribusi Listrik
Listrik yang dihasilkan proyek Ketenger adalah 100 Kw, yang kemudian ditarik ke Purwokerto untuk di distribusikan ke Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Trenggiling (Rumahsakit Zending), Banyumas, Maos, Cilacap, Kroya, Sumpyuh hingga Gombong, Kebumen dan Kutowinangun.

Setelah digabungnya Kabupaten Banyumas dengan kabupaten Purwokerto tahun 1936, kota kabupaten dan beberapa infrastruktur juga diperbaiki dan dibangun. Salah satunya adalah saluran irigasi yang mengairi air ke daerah Gambarsari, Kebasen, Kroya, Sumpyuh, Cilacap dan air di pompa keatas dari Sungai Serayu. Bangunan pompa ini di laksanakan oleh perusahaan listrik ENIEM Banjoemas yang bersumber di Ketenger

Pada  masa kekuasaan Jepang pembangkit ini pernah tidak berfungsi karena kekurangan air, hingga Jepang membangun DAM Jepang di bawah Curug Gede. Masa kemerdekaan pembangkit ini berada di tangan pemerintah Indonesia namun pada agresi militer pertama pada tahun 1946 pembangkit berhasil dikuasai oleh tentara NICA dan di kembalikan fungsinya seperti semula. (baca disini)

Sumber
Wikimedia Commons
Tropen Museum
DE INGENIEUR IN NEDERLANDSCH-INDIË, BOUW- EN WATERBOUWKUNDE. SEPTEMBER 1940 (Doc. BHHC)
HET NIEUWS VAN DEN DAG 24 Mei 1927
Buku Kenang-kenangan 1933-1950 bag.1
Controle-apparent en toebehooren (koleksi arsip penulis)

Tulisan ini di publikasikan peratama pada 9/19/12
di revisi pada 11/11/14
di revisi pada 20/10/17


Thursday, October 19, 2017

Kho Sin Kie


Kho Sin Kie (许承基) lahir pada 2 September 1912 di Soekaradja kabupaten Banyumas dan karsidenan Banyumas (Banjoemas) Nederland Indisch (sekarang Indonesia). Sin Kie adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara Letnan Tiong Hoa Soekaradja Kho Han Tiong. Keluarga Besarnya merupakan keluarga yang sukses dan terpandang dalam perdagangan dan mempunyai banyak perusahaan diantaranya adalah N.V. Ko Lie, N.V. Hong Lee dan N.V. Kho Tjeng Pek.

banjoemas heritage
Keluarga Letnan Tionghoa Soekaradja Kho Han Tiong
dari Kiri Sin Oei, Pwe Kit, Pwe Lan, Pwe Tjiam, Han Tiong, 
Koen Nio, (x) Sin kie, Pwe kam, foto diambil sekitar tahun 1918

banjoemas heritage
Foto anak-anak Kho Han Tiong berpose di taman belakang rumah
dari Kiri Pwe Kit, Sin Oei, Pwe Tjiok, Pwe Tjiam, Pwe Kam, Pwe Lan dan Sin kie

banjoemas heritage
Soekaradja Tennis Club, tempat dimana Kho Sin Kie berlatih Tenis lokasinya bersebelahan dengan jalur rel SDS yang juga berseberangan dengan 
pabrik tapioka " Soekaradja - Boemiaju"


Kho Sin Kie menikmati masa kecil dan belajar di T.H.H.T. Soekradja (Sokaraja) dan juga ikut prifat bahasa Belanda agar bisa beradaptasi dengan penguasa Hindia Belanda. Sejak kecil Sin Kie yang lahir dari keluarga kaya dan terpandang harus belajar keras agar bisa meneruskan bisnis keluarganya. Perkumpulan Tiong Hoa di Sokaraja yang didukung oleh para saudagar besar seperti keluarga Kho Wan, Kho Tjeng Pek menjadi tiang penyangga utama donasi perkumpulan, sehingga perkumpulan Tionghoa ini memiliki beberapa fasilitas seperti pendikikan dan olah raga. Perkumpulan Tionghoa Sokaraja memiliki fasilitas olah raga seperti lapangan tenis (sekarang koramil Sokaraja), lapangan basket dan sekolah Tiongha (sekarang sekolah Kristen Sokaraja). 

Tak heran kalau Kho Sin Kie sangat berbakat dalam permainan tenis yang akhirnya membawanya menjadi orang Tionghoa pertama yang memenangkan turnamen besar Internasional mewakili Republik China. Dia memenangkan British Hard Court Championships dan the Surrey Grass Court Championships dalam sekali waktu dan merupakan juara di Swiss, Italia dan Swedia juga.

Kho Sin Kie memulai tenis pada usia 14 tahun (1926). Pada tahun-tahun pertama Kho Sin Kie (许承基) bermain tenis tidak di dukung oleh ayahnya yang juga Letnan Tionghoa, karena sebagai anak laki-laki Tionghoa seharusnya melanjutkan usaha orang tuanya. Namun ketekunannya membuahkan hasil yang luar biasa.

banjoemas heritage
Keberangkatan Kho Sin Kie ke Semarang untuk mengikuti Kejuaraan tenis Jawa Tengah
diantar oleh Pwe Kit, Pwe Kam dan Sin Oei di Stasiun SS Purwokerto 
nampak di sebelahnya rangkaian gerbong SDS Foto tahun 1929


Pada tahun 1929 ia memenangkan Kejuaraan Tenis Jawa Tengah, Pada tahun 1932 Kho Han Tiong meninggal. Namun dia tetap bertahan sebagai pemain tenis dan pada tahun 1933 ia memenangkan All-Java Championship. Pada tahun 1933 ia memenangkan  the Chinese National Championships Topping Qiufei Hai di Shanghai. Tahun 1934 adalah pertandingan Internasional pertamanya dalam tur Sumatra dengan menantang tim Piala Davis Belanda. Pada tahun 1935 Asosiasi Tenis Hindia Belanda mengundang beberapa pemain Eropa untuk memainkan serangkaian pertandingan pameran di Orient Surabaya.

Kho Sin Kie rentang tahun antara 1935-1946 bertanding di enam Piala Davis untuk Republik China. Dia memenangkan 8 dari 18 piala Davis.

banjoemas heritage
Kho Sin Kie dan istrinya Jane Margaret Gordon Balfour


Pada tanggal 27 Januari 1940 ia menikah dengan Jane Margaret Gordon Balfour putri dari EJ Gordon Balfour, seorang hakim di Ceylon . Mereka telah bertemu di Inggris pada the Queen's Club. Mereka pindah ke Hindia Belanda dan tinggal di sana untuk waktu perang.

Pada tahun 1945 ia memenangkan Midlands County Championships untuk kedua kalinya dan mempertahankan gelarnya

banjoemas heritage
"Perdjamoean boeat Kho Sin Kie" Majalah SIN PO 23 Maret 1940 (hal 7) 
dok. Nederlands Instituut voor Oorlogs Documentatie dan foto dokumentasi penulis

banjoemas heritage
Kho Sin Kie dan piala-pialanya

banjoemas heritage
Beberapa gaya Kho Sin Kie


Gaya bermain tenis Kho Sin Kie digambarkan sebagai ahli drop shot yang memiliki kontrol dengan baik terhadap bola permainan sehingga penyamaran bola mencapai "efek mematikan". Dia memiliki forehand whipped disertai dengan permainan net yang sangat baik dan permainannya dibantu oleh backhand tangguh. Ia memiliki tipe tubuh atletis dengan tinggi 5 kaki 11 inci. Dia adalah pemain yang tenang tapi oportunis.


banjoemas heritage
dok. Nederlands Instituut voor Oorlogs Documentatie


Namun Kho Sin Kie meninggal pada 31 Januari 1947 di rumahsakit di London di usianya yang masih sangat muda setelah mengidap pneumonia atau radang Paru-paru yang menyerangnya dengan cepat.

Sebagai catatan bahwa kakaknya Kho Pwe Kit (anak ke 2 Kho Han Tiong) juga merupakan pemain tenis yang handal dan juga pemain basket wanita di Soekaradja.






www.niod.nl
en.wikipedia.org/wiki/Kho_Sin-Kie
Rob Kho di Belanda
Ci Lani
purwokertoantik.com
Orang-orang Tionghoa di Java (1936) Serie B, deel 1, Tan Hong Boen


Tulisan pertama 3 Juni 2014
Update 19 Oktober 2017

Monday, July 24, 2017

JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" PURBALINGGA #2


Sebelumnya
JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" BANJARNEGARA #1


Jembatan SDS diatas sungai Serayu
foto oleh Lengkong Sanggar Ginaris


# Jembatan SDS sungai Serayu
Setelah menyusuri rel dari stasiun Klampok ke arah barat sepanjang kurang lebih 1 km, peserta jelajah disuguhi dengan pemandangan jembatan SDS diatas sungai Serayu. Jembatan sepanjang 100 meter ini menggunakan rangka besi-baja yang sangat kuat, dan sekarang difungsikan sebagai jembatan manusia hingga kendaraan roda tiga. Lokasi ini hanya berjarak 150 meter dari lanud Wirasaba, sebagai pangkalan militer RI maka peserta jelajah dihimbau untuk tidak memotret dan mengarahkan kamera ke arah lanud. 



Foto bersama di atas jembatan SDS diatas sungai Klawing
foto oleh Friedrichidek


Foto bersama di atas jembatan SDS diatas sungai Klawing
foto oleh Jatmiko W



#Jembatan SDS sungai Klawing
Selepas jembatan SDS sungai Serayu jalur rel tidak lagi bisa di susuri menggunakan roda 2, maka peserta diajak masuk ke perkampungan desa Wirasaba dan melewati rumah Jajadi Wangsa (seorang saudagar Jawa pada masa Hindia Belanda) dan beberapa rumah khas dengan halaman dan pekarangan yang luas. Setelah melewati kota Kemangkon dan jembatan Bandjar Tjahjana Werken (BTW) terdapat sebuah bekas halte Karangkemiri SDS, dari sinilah titik awal susur rel sepanjang 3 kilo meter hingga jembatan sungai Klawing. Jembatan SDS diatas sungai Klawing menggunakan kerangka besi baja sepanjang 100 meter, dan disana masih bisa di jumpai beberapa rel yang terpasang dengan angka tahun SDS 95 (1895). Jenis jembatan kereta milik SDS yang mempunyai tipe seperti ini terdapat di tiga tempat yaitu di atas sungai Serayu (Patikraja), diatas sungai Klawing (Kalialang Purbalingga) dan diatas sungai Gumawang (Gumawang). 



Foto gedung kantor SMA Santo Agustinus yang menggunakan bekas rumah administratur pg Kali Klawing
foto oleh Lengkong Sanggar Ginaris

# Rumah administratur pg Kaliklawing
Setelah rehat, ibadah dan makan siang di warung sederhana, peserta bergeser ke sebuah bangunan gedung di SMA Santo Agustinus, gedung tersebut adalah bekas rumah administratur pabrik gula Kaliklawing (Kalimanah) sebelum di gabung dengan pg Bojong. Bangunan ini masih terawat karena dipakai oleh pihak sekolah menjadi kantor SMA Santo Agustinus berbeda dengan bangunan di sebelahnya yang sekarang dikuasai oleh PT. Pertani. 


Gedung bekas pabrik beras atau penggilingan padi milik Lie Hok Tjan
foto oleh Jatmiko W


Peserta Jelajah Banjoemas sedang memeriksa bekas jalur rel lori pg Kali Klawing
foto oleh Friedrichidek


Setelah pabrik gula gulung tikar bersamaan dengan pabrik induknya pabrik gula Bojong pada tahun 1935, pabrik ini kemudian dibeli oleh Lie Hok Tjan (Boedi Soedarma) dan di gunakan menjadi pabrik beras . pada tahun 1988 pabrik seluas 1 hektar dirubah menjadi panti wreda dibawah yayasan Kristen Budi Darma Kasih. Bangunan utama pabrik beras masih bisa di lihat dan sekaang dijadikan kantor yayasan.

# Bong Kalimanah
Bong Kalimanah merupakan salah satu dari 4 bong yang berada di kabupaten Purbalingga. Terdapat dua buah bong yang tidak biasa dari biasanya sebuah bongpay, dan peserta pun di perkenalkan dengan susunan pada kuburan Tionghoa dan bagaimana membaca bongpay (nisan kuburan Tionghoa).


Peserta memeriksa satu-persatu batu nisan dan mendokumentasikannya
foto oleh Jatmiko W


# Kerkhof Purbalingga
Dibandingkan dengan beberapa kerkhof di kota Purwokerto, Banyumas dan Klampok kerkhof Purbalingga masih banyak yang terawat dan banyak menyimpan informasi. Peserta jelajah nampak antusias untuk menilik satu persatu batu nisan untuk mencari tahu siapakah yang dimakamkan disana. Kerkhof ini menjadi lebih menarik karena kerkhof sebelumnya tidak ditemukan informasi sedikitpun. 

# Bekas pabrik gula Bojong
Pabrik gula ini sama sekali tidak meninggalkan bangunan fisik, sehingga hanya beberapa dari peserta saja yang menginguinkan untuk menjelajah bekas-bekas bangunannya saja. Perumahan Bojong berdiri tepat di petak bekas pabrik gula, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah tim Jelajah datang ke lokasi ternyata di tepi petak perumahan masih meninggalkan pondasi pagar keliling dari pabrik gula Bojong, dan kondisinya sekarangpun sudah mulai tertimbun urugan jalan perumahan dan pondasi untuk saluran sanitasi perumahan Bojong.

Ucapan terimakasih kepada
Pimpinan pengasuh panti Budi Dharma Kasih
Ibu Vita (perum Bojong)



JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" BANJARNEGARA #1
JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" BANYUMAS #3 
JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" CILACAP #4 

Sunday, July 23, 2017

JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" BANJARNEGARA #1


Jelajah Banjoemas akirnya di gelar lagi setelah dua tahun jelajah untuk umum mati suri, dengan tema "MRAPAT" kali ini di gelar sebagai kejutan "rapelan" bagi pecinta sejarah lokal Banyumas Raya. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari secara berturut-turut di wilayah 4 kabupeten yaitu Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Beberapa peninggalan besar yang di kunjungi untuk hari pertama diantaranya adalah 4 bekas pabrik gula, 4 tujuan jalur SDS, 4 kerkhof (kuburan Belanda) dan 4 benteng pertahanan Cilacap.

Tidak hanya itu peserta juga akan melewati beberapa destinasi lain yang merupakan "bonus" Jelajah Banjoemas. Seperti Pecinan Sokaraja, pabrik Tapioka Sokaraja, batik Mruyung dan juga Pecinan kota Banyumas.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Banjoemas History Heritage Community dan Komunitas Roemahtoea (Jogja). Sehingga selama Jelajah Banyumas dipandu oleh dua pegiat sejarah dan warisan Jatmiko Wicaksono founder dan pegiat heritage BHHC dan Lengkong Sanggar Ginaris pegiat di komunitas IG;RoemahToea dan KOPIKOLA Purworejo yang kebetulan juga pernah belajar di Arkeologi UGM fokus pada bangunan Kolonial.

Pembukaan pendaftaran secara online di www.banjoemas.com dibuka selama seminggu semenjak 6 Juli hingga 13 Juli 2017, dan terdaftar sebanyak 45 peserta dengan rincian pada hari pertama sebanyak 25 peserta, hari kedua 39 Peserta dan hari ketiga sebanyak 9 peserta. Namun dilapangan ditemukan beberapa peserta baru (tidak melakukan pendaftaran online) dan anak-anak yang diajak oleh orangtuanya.

13 Juli 2017
Jelajah Banjoemas  "MRAPAT" BANJARNEGARA #1 


Briefing  sebelum pemberangkatan



Materi pertama pada titik tujuan pertama Jelajah Banyumas 



# Bandjar Tjahjana Werken + terowongan lori pabrik gula Klampok
Jelajah hari pertama mengambil titik kumpul di lapangan Majasari kecamatan Bukateja, dimana titik kumpul ini satu lokasi dengan bong (kuburan) Tionghoa Bukateja dimana lotian Bukateja dikuburkan. Jelajah yang di ikuti oleh 20 peserta dan 5 panitia memulai kegiatannya tepat pada pukul 08.45 dengan lokasi pertama adalah pertemuan antara Bandjar Tjahjana Werken (BTW) dengan lori pabrik gula Klampok berupa jembatan sepanjang kurang lebih 10 meter dan 2 terowongan lori yang sekarang berubah fungsi menjadi selokan. 



Foto Bersama di tembok belakang bekas pabrik gula Klampok



# Tembok keliling pabrik gula Klampok
Titik kedua adalah peninggalan berupa tembok keliling pabrik gula Klampok yang merupakan satu-satunya bangunan peninggalan bekas pabrik gula Klampok. Tembok ini membentang sepanjang 270 meter berada di bagian belakang pabrik dengan tampilan tembok tinggi dengan bata merah ter-ekspos, namun terlihat adanya tembok yang sudah di bongkar kurang lebih sepanjang 130 meter yang sebelumnya dipakai oleh pabrik rokok Atom dan pabrik kayu milik Go Bian Ik.

Menurut warga sekitar bekas pabrik gula Klampok setelah dinyatakan gulung tikar pada tahun 1937, lahan bekas pabrik gula dibeli oleh Lie Hok Tjan (Juga pemilik pabrik beras di bekas pabrik gula Kaliklawing Kalimanah Purbalingga), Lie  Hok Lie dan Ahmad Salyo Sujarwoto, lahan milik Lie Hok Lie kemudian di sewakan kepada KUP (Kursus Usaha Pertanian) dibawah Djawatan Penempatan Kerja pada tahun 1953. Pada tanggal 01 September 1955 Jawatan di pecah menjadi dua yaitu Djawatan Penempatan Kerja dan Djawatan Latihan Kerja, sehingga menyebabkan KUP berubah menjadi  PLKP atau Pusat Latihan Kerja Pertanian. 


Tembok ini layak di jadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya, sebagai bangunan yang mengingatkan bahwa tembok ini pernah berdiri pabrik gula Klampok 1889 - 1933



Beberapa kuburan Belanda di kerrkhof Klampok


# Kerkhof Klampok
Penjelajah Banjoemas kemudian diarahkan untuk melihat kondisi kuburan Belanda yang terletak tidak jauh dari lokasi pabrik. Terdapat sekitar 7 kuburan yang kemungkinan di bangun sekitar tahun 1900-an. Tidak ada sebuah informasipun yang kami dapat dari kuburan ini, karena usia kuburan yang sudah seratus tahun lebih dan kemungkinan nama yang meninggal hanya ditorehkan di nisan semen dan atau marmer nya sudah di ambil oleh orang yang iseng.


Peserta fokus pada paparan materi Jelajah Banjoemas


# Bekas pabrik gula Klampok
Setelah mendapatkan ijin dari pengurus keamanan lokasi, peserta hanya bisa menikmati bekas perumahan milik Pertani, karena bekas pabrik gula Klampok sama sekali tidak menyisakan bekas sedikitpun kecuali tembok belakang. Bekas perumahan Pertani ini bergaya jengki dimana jendela rumah bergaya jendela rumah belanda hanya berbentuk mini, dan terdapat lubang ventilasi yang khas.



Foto bersama di salah satu rumah di perumahan pabrik gula Klampok

Bekas perumahan pegawai pabrik gula Klampok
Di seberang lokasi pabrik masih terdapat bekas perumahan pegawai pabrik gula yang masih terlihat kekunoannya, bahkan terdapat sebuah rumah yang masih memakai ornamen khusus identitas ornamen pabrik gula Klampok. Dari beberapa bekas pabrik gula di wilayah karsidenan Banyumas masih terdapat 3 rumah yang masih menggunakan ornamen kekhasan yaitu satu di bekas pg Klampok dan dua di bekas pg Kaliredjo di Sumpyuh. 
bangunan rumah administratur pg Klampok juga msih berdiri meski sudah terdapat berbagai perubahan terutama fasad, dimana terdapat sebuah ruangan yang menjorok di depan suah di hilangkan, dan juga bentukan asli sudah hilang. Yang tersisa adalah tembok samping yang masih menggunakan bangunan dan profile aslinya.



Beberapa bangunan disini layak di jadikan sebagai Bangunan Cagar Budaya, sebagai bangunan yang mengingatkan bahwa tembok ini pernah berdiri pabrik gula Klampok 1889 - 1933



Salah satu rumah dinas yang masih berdiri di bekas stasiun SDS Klampok

Bekas Stasiun SDS Klampok
Mengawali jelajah rel SDS, stasiun Klampok layak untuk di kunjungi karena bagi masyarakat yang awam tidak akan menemukan satupun tanda tanda bahwa pemukiman penduduk disana adalah dulunya sebuah stasiun dengan tiga spoor (jalur) yang salah satunya merupakan jalur untuk bongkar muat ke pg Klampok. Terdapat sebuah bangunan stasiun yang hanya menyisakan tembok dan lengkung pintu atau jendela, sebuah kamar mandi stasiun, kantor tiket, reservoir, tiga buah rumah dinas dan beberpa besi rel yang melintang di pekarangan rumah dan diatas sebuah selokan.

Liputan Suara Merdeka

Foto dan dokumentasi
Dwi Hatmoko
Friedrichidek
Riyandika Vistara
Gerry Hadiwono

lanjut pada
JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" PURBALINGGA #2 
JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" BANYUMAS #3 
JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT" CILACAP #4 

Friday, July 7, 2017

JELAJAH BANJOEMAS "MRAPAT"


Poster Jelajah Banyumas



Jadwal acara Jelajah Banjoemas "Mrapat"
4 Kabupaten (Banjarnegara - Purbalingga - Banyumas - Cilacap)

Kamis 13 Juli 2017
07.00 - 07.30 
- kumpul di lapangan Majasari Bukateja Purbalingga
https://goo.gl/maps/rcsZ3HGCt4R2
07.30 - 09.30
- Terowongan rel lori sf Klampok 
- Kerkhof Klampok
- Sf Klampok dan perumahan pegawai
09.30 - 12.00
- Stasiun SDS Klampok 
- Susur rel SDS
- Susur rel lori sf Bodjong - sf Kali Klawing
12.00 - 14.00
- Makan Siang
- Sf Kali Klawing
14.00 - Selesai
- Sf Bodjong
- Kerkhof Poerbolinggo
- Menuju Purwokerto
19.00 - Selesai
- Juguran Banjoemas (Lokasi menyesuaikan)

Jumat 14 Juli 2017
08.00 - 08.30 
- Kumpul di Pendopo Kecamatan Sokaraja
https://goo.gl/maps/DHPPrhrUEK52
08.30 - 11.30 
- Susur kota Sokaraja
- Sf Kalibagor 
- Kerkhof Kalibagor
11.30 - 13.00
- Ibadah
- Makan siang
13.00 - Selesai
- Susur kota Banyumas
Menuju Cilacap (masih tentatif)

Sabtu 15 Juli 2017
08.00 - 10.00
- Kerkhof Tjilatjap
https://goo.gl/maps/JuJXHN5JERw
10.00 - 12.00 
- Benteng Pendem
12.00 - 15.00 
- Benteng Klingker (jika memungkinkan)
- Selesai
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Biaya pendaftaran (Donasi kegiatan)
Peta tahun 1920 (Pre-order Rp. 15.000,-)

Persiapan
- Membawa kendaraan sendiri, roda dua, bahan bakar penuh, Safe driving.
- Bekal dan konsumsi (sendiri)
- Mantel, pelindung, sendal atau sepatu lintas alam
- Alat Dokumentasi, catatan & alat komunikasi
- peta jelajah (pre-order Rp. 15.000)
- Obat-obatan (luar dan dalam)
- Anti nyamuk

Teknis Jelajah Banjoemas akan dikirimkan melalui email setelah pendaftaran

Terimakasih kepada 
Kotak Pandora 
Kampus Akindo Yogyakarta
Radio Sonora Purwokerto
Amusing Sablon Jogja
Mbak Tiwi