Monday, January 8, 2018

Gedung Karesidenan Banyumas Sekarang


Setelah kalahnya pasukan Belanda dari revolusi kemerdekaan, bangunan-bangunan yang pernah dikuasai oleh militer Belanda akhirnya dikuasai oleh TNI, juga termasuk bekas gedung karesidenan Banyumas, dikuasai oleh Komando Distrik Militer 07/01 Banyumas.

Gedung bekas karesidenan Banyumas pada saat sekarang secara fisik beberapa bagian telah banyak berubah dari bentuk aslinya, hanya beberapa bagian saja masih terlihat sama. Kompeks ini telah penuh dengan gedung baru yang rata-rata merupakan bagian dari ruang-ruang kelas. Kompleks gedung Karesidenan sekarang telah dibagi menjadi dua bagian dan dua institusi pengelolaan yang berbeda yaitu SMKN 1 Banyumas dibawah Kemendikbud dan Pondok Pesantren Miftahussalam dibawah Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI). 

banjoemas heritage
Overlay peta lama dengan peta Google
sumber pusat Arsip BHHC

banjoemas heritage
Batas-batas pengelolaan tanah dan bangunan ex. Karesidenan Banyumas


Pada tanggal 6 April 1968, melalui surat bernomor No. 232-11- 5968 Kepala dinas Pendidikan Ekonomi mengusulkan untuk di bangunnya Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas ( SMEA ) Negeri di Banyumas. Dan kemudian pada tanggal 1 Januari 1968 SMEA ini dibuka melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan Surat Keputusan  No. 133/UKK.3/1968 dengan menempati gedung bekas karesidenan Banyumas bagian tengah hingga sayap sebelah barat (gedung Landraat/ pengadilan). 


Pada tanggal 17 Januari 1976 sayap bagian timur (seluas 1.496 m2) di serahkan kepada Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) Cabang Banyumas  yang diketuai oleh K.H Syamsuri Ridwan untuk dijadikan Pondok Pesantren Pendidikan Islam Banyumas Miftahussalam. Pondok pesantren ini didirikan oleh H.O.S. Notosuwiryo (Pensiunan Pegawai Jawatan Agama Kabupaten Banyumas). 

Kondisi terakhir 

Untuk pertama kali penulis mengunjungi bekas bangunan Kediaman Residen Banyumas pada tanggal 22 Oktober 2012, setelah banyak bertanya ternyata lokasinya berada di SMKN 1 Banyumas, orang awam pun pasti akan terkecoh dengan penampilan luarnya, siapa sangka di lingkungan SMKN 1 terdapat bangunan yang sangat bersejarah bagi kesejarahan kabupaten Banyumas dan 3 kabupaten lain (Kab. Purbalingga, kab. Cilacap dan kab. Banjarnegara). Bahkan keadaan sekarang untuk dapat melihat secara utuh bangunan harus mengunjungi dua tempat yaitu SMKN 1 Banyumas dan Pondok Pesantren Miftahussalam. 

Seiring berkembangnya kedua institusi menjadi sekolah dengan siswa yang semakin meningkat akan kebutuhan akan kelas dan fasilitas setiap tahunnya beberapa bangunan kelas baru dibangun di halaman bekas gedung Karsidenan, sehingga secara pelan tapi pasti bangunan baru akan menutupi bangunan lama Karsidenan. Ini menjadi permasalahan sendiri untuk keberlangsungan sebuah gedung bersejarah yang di khawatirkan akan semakin melunturkan ingatan sejarah mengenai fungsi dan keberadaan bangunan gedung karesidenan Banyumas ini. 


banjoemas heritage

Bekas aula gedung Karesidenan yang telah berubah bentuk

banjoemas heritage

Bekas aula gedung Karesidenan dengan sket rekonstruksi

banjoemas heritage

Pilar-pilar yang berjumlah 12 hanya menyisakan 4 pilar terpotong

banjoemas heritage
Pintu utama yang masih terlihat sama 

banjoemas heritage
Gerbang dalam sayap timur yang berbatasan 
dengan wilayah pondok pesantren

banjoemas heritage
Gerbang dalam sayap timur yang berbatasan 
dengan wilayah pondok pesantren dua tahun kemudian 


banjoemas heritage
Gedung sayap barat yang dulunya merupakan pengadilan (Landraad

banjoemas heritage
Pemandangan dari dalam ruang guru (Landraad

banjoemas heritage
Lorong-lorong di belakang dan samping gedung Landraad dan ruang guru SMKN 1 

Bangunan utama kediaman Residen Banyumas yang dahulunya merupakan tempat untuk menjamu tamu-tamu, sekarang digunakan sebagai  ruang serbaguna SMK, bagian depan gedung (fasade) sudah berubah 95% menyisakan 4 buah pilar terpotong dari jumlah 12 pilar yang pernah ada. Gedung Landraad atau pengadilan masih utuh dan digunakan sebagai ruang guru dan lobi meski sebuah bangunan baru (Masjid dan tempat parkir) dibangun tepat di depan gedung.

banjoemas heritage
Gedung kantor Ponpes dari arah Timur 

banjoemas heritage
Gedung sayap Timur yang sekarang di gunakan sebagai asrama Ponpes 

banjoemas heritage
Rumah pimpinan Ponpes


banjoemas heritage
Gerbang sayap timur 


banjoemas heritage
Gedung kantor Residen yang beralih fungsi sebagai Asrama Ponpes 


banjoemas heritage
Beberapa sudut Ponpes 

Bangunan sayap timur dan kantor residen masih utuh 80% dengan penambahan dan renovasi untuk kantor Pondok Pesantren Miftahussalam. Prasasti Garis batas mbanjir yang pernah terjadi pada tanggal 21 hingga 23 Februari 1861 masih terpasang disana dengan jelas di bekas gedung kantor residen. Beberapa bentukan pagar yang menyatukan tiga bangunan juga beberapa masih terlihat dengan jelas di Pondok Pesantren Miftahussalam. Bangunan-bangunan bangunan pendukung lainnya seperti bangunan dapur sepertinya sudah tidak nampak lagi. 


Bangunan ini tercatat dalam daftar inventaris Cagar Budaya kabupaten Banyumas no 11-02/Bas/42/TB/04 dan telah mendapatkan surat proses SK penetapan bernomor 399/101.SP/BP3/P-VIII/2010


Bangunan kediaman Residen Banyumas yang dialih fungsikan sebagai Sekolah adalah salah satu dari akibat dari penggabungan kabupaten dan perpindahan pusat kota ke Purwokerto,  kota Banyumas tidak lagi dibangun seperti Purwokerto. Dan kota Banyumas juga tidak mempunyai sekolah lanjutan yang di prakarsai Hindia Belanda seperti di kota Purwokerto. Sehingga beberapa sekolah lanjutan yang mulai berdiri pada tahun 60-an secara terpaksa menggunakan bekas bangunan Belanda yang tidak sesuai dengan peruntukannya seperti Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Karesidenan Banyumas, Sekolah Menengah kejuruan Negeri 3 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Affdeling Bank dan bekas gedung Kawedanan Banyumas, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Banyumas yang menggunakan bekas gedung Holland Inlander School dan melebar ke bekas gedung Kazerne Gebown Politie yang pernah juga dipakai sebagai gedung perpustakaan pribumi dan yang paling parah adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Banyumas yang membangun gedung sekolahnya diatas gusuran bekas kerkhof (kuburan orang-orang eropa dan militer Belanda) dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Banyumas yang membangun gedung sekolahnya dengan menghancurkan gedung bekas Sociteit Harmonie.  


Penggunaan gedung yang tidak sesuai dengan peruntukannya menyebabkan bangunan dipaksa menyesuaikan dengan kebutuhan dan keperluan pemakai. Bangunan peninggalan Hindia Belanda sangat dikenal dengan perencanaan yang matang untuk bangunan bangunannya oleh insinyur terbaiknya, sehingga sebuah gedung akan sangat sesuai dengan kebutuhan dan keperuntukannya. Ketika sebuah gedung bekas Hindia Belanda bukan gedung sekolah dipaksa menjadi gedung sekolah maka yang terjadi akan banyak perombakan total, ruangan-ruangan kecil dipaksa menjadi ruangan kelas dan ruangan sangat besar di kepras menjadi ruangan-ruangan kelas. Sehingga kasus perusakan bangunan warisan budaya yang "dipakai" menjadi sekolah kota Banyumas menjadi sangat dominan. 

Sumber: 
http://www.hujroh.com
http://www.smkn1bms.sch.id

Saturday, January 6, 2018

Gedung Karesidenan Banyumas


Jatuhnya wilayah Banyumasan ke tangan Hindia Belanda pada tahun 1830, kota Banyumas pada saat itu masih merupakan daerah pedalaman yang susah dijangkau dan jauh dari kota  besar seperti Djogjakarta (Yogyakarta), Samarang (Semarang), Salatiga dan lain-lain. Dua jalan yang dipakai oleh masyarakat pada saat itu adalah jalan darat yang berupa jalan setapak dan jalur transportasi air (sungai).

Kota Banyumas sebagai pusat kadipaten Banyumas sebelumnya, dan merupakan pusat kebudayaan Banyumas secara langsung dijadikan ibukota karesidenan Banyumas dan ibukota kabupaten Banyumas bentukan Hindia Belanda. Sehingga kota Banyumas mulai berbenah dan mulai membangun beberapa bangunan gedung penting diantaranya adalah gedung Sotitet "Harmonie", kantor pos dan telegram, penjara, kantor telepon, gedung sekolah bagi warga Eropa dan Pribumi, gedung pemadam kebakaran, kantor pengairan, kantor pekerjaan umum, bangunan-bangunan penjagaan dan yang lebih penting dari itu adalah bangunan Karesidenan.

banjoemas.com
Peta kota Banyumas
sumber Pusat Arsip BHHC

banjoemas.com
Gedung tempat tinggal Residen Banyumas tahun 1905
sumber tropenmuseum.nl

banjoemas.com
Peta kota Banyumas
sumber Pusat Arsip BHHC

banjoemas.com
Gambar rekonstruksi 3d gedung karesidenan Banyumas
kreatif oleh Jatmiko Wicaksono

banjoemas.com
Gambar rekonstruksi 3d gedung karesidenan Banyumas
kreatif oleh Jatmiko Wicaksono

Gedung Karesidenan Banyumas dibangun dan diresmikan pada tahun 1843 pada masa residen P.J. Overhand. Bangunan ini dibangun bersamaan dengan pembangunan proyek besar pertama Banyumas sejak 12 tahun setelah dikuasainya wilayah Banyumas oleh pemerintah Hindia Belanda dari kekuasaan Surakarta. Proyek besar itu diantaranya membangun infrastruktur berupa jalan (postweg) antara Banyumas - Buntu dan Gombong - Rawalo. Kantor keuangan (Landkas) dibangun selalu tidak jauh dari kantor residen atau asisten residen yaitu di seberang jalan sebelah timur dari gedung Karesidenan.


Tiga residen sebelumnya yang menjabat selama 12 tahun yaitu1830 - 1835 J. E. de Sturler1835 1838 G. de Serière1838 1843 L. Launij Selama sebelum dibangunnya gedung residen, ketiga residen ini tinggal di Pasanggrahan kota Banyumas (arah tenggara kota)

Bangunan gedung Karesidenan Banyumas bergaya Indisch Empire, megah sehingga terkesan gagah dimata pribumi teretak di sebelah selatan kota Banyumas, lurus sekitar 1 kilometer menghadap utara agar saling berhadapan dengan kompleks pendopo Kabupaten, sehingga pengawasan terhadap penguasa pribumi (Bupati) dapat diawasi dari karesidenan. Jabatan Asisten Residen tidak ada di kabupaten Banyumas karena Residen tinggal di kota Banyumas dan dianggap mampu mengawasi bupati dan kabupaten lain diwilayahnya.

banjoemas.com
Gedung tempat tinggal Residen Banyumas tahun 1905
dengan pohon-pohon kenari yang rindang
sumber tropenmuseum.nl

banjoemas.com
Gedung tempat tinggal Residen Banyumas antara tahun 1921 -1933
sumber tropenmuseum.nl

Sepanjang jalan antara gedung Karesidenan dengan alun-alun adalah jalan yang lebar dan ditanam berjajar tanaman kenari, hingga jalan ini pernah berjuluk sebagai jalan kenari (Kenarielaan).

Pada tanggal 1 Januari 1924 pemerintah Hindia Belanda mebangun Juliana Burgerziekenhais atau rumah sakit Juliana tepat di sebelah barat kompleks bangunan kantor Residen dengan kapasitas 110 tempat tidur. Rumah sakit ini adalah rumah sakit kedua setelah rumah sakit Zending Trenggiling di Purbalingga. 


banjoemas.com
Foto bersama pegawai pemerintah, pegawai Belanda dengan residen JJ van Helsdingen 
31 Agustus 1929 pada peringatan Ratu Belanda
sumber tropenmuseum.nl

Ketertinggalan dalam pembangunan dan prasarana kota mulai dirasakan pada masa pembangunan jalur kereta Serajoedal Stoomtram Maatschapij yang menghubungkan Maos (SS) dengan kota Purwokerto dan Sokaraja pada tahun 1896. Bahkan sejak itu residen Banyumas yang sedang menjabat J. Mullemeister sudah mengusulkan kepada gubernur namun dianggap belum mempunyai alasan yang tepat.

Masa mailese (krisis ekonomi dunia) yang juga melanda Banyumas mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit bagi Hindia Belanda, dikarenakan barang-barang eksploitasi dari wilayah Jajahan Hindia Belanda tidak lagi bisa di eksport dan di jual ke Eropa. Menyebabkan pemerintah Hindia Belanda juga harus berhemat banyak. Kebetulan bahwa bupati terakhir kabupaten Purwokerto R.A.A. Cakraadisurya (1924-1935) tidak mempunyai keturunan sehingga terjadi kekosongan jabatan bupati Purwokerto selama 2 tahun. Kemudian Residen J. Ruys dan bupati Banyumas R. Adipati Sudjiman Mertasubrata Gandasubrata memutuskan untuk menggabungkan wilayah kabupaten Purwokerto dengan kabupaten Banyumas. Yang kemudian mengakibatkan pindahnya pendopo Sipanji ke Purwokerto pada tahun 1937 menggantikan pendopo lama di Purwokerto, karena ibukota kabupaten gabungan dipindahkan ke Purwokerto. 

Daftar Residen

Bangunan gedung karesidenan Banyumas di kota Banyumas secara efektif digunakan dari tahun 1843 hingga tahun 1937 atau selama 94 tahun. Residen yang menjabat di Banyumas dan pernah tinggal di gedung karsidenan Banyumas adalah kurang lebih ada 19 residen diantaranya adalah 

1843 - 1846 P. J. Overhand
1846 - 1849 F. H. Doornik
1849 - 1850 R. de Filliettaz Bousquet
1S50 - 1852 Jhr. Mr. D. C. A. van Hogendorp
1853 - 1855 Jhr. Mr. H. C. van der Wijck
1855 - 1858 C. van der Moore
1858 - 1860       G. C. Schonk
1860 -   S. van Deventer
1872 -   C. de Wall
1979 -   C. de Crelrq Moolenburgh
1892 -   A. C. P. Lammers dari Toorenburg
1907 -   G.J. Oudemans
1907 - 1916 E.W.H. Doeve 
1916 - 1919 K. Wijbrands
1919 - 1922 M. Zandveld
1922 - 1925 M.J. van der Pauwert
1925 - 1928 J.J. van Helsdingen
1928 - 1933 W.Ch. Adriaans
1933 - 1937 H.G.F. van Huls
1937 - 1938       J. Ruys

Residen juga akhirnya memutuskan untuk mempunyai gedung baru di Purwokerto dan gedung karsidenan di Banyumas akhirnya di kosongkan. Pembangunan gedung residen di Purwokerto memakan waktu yang agak lama karena marmer yang akan digunakan di gedung yang baru menggunakan marmer dari gedung yang lama. Baru pada tahun 1938 bangunan siap ditinggali oleh residen J. Ruys.

Sejak pemindahan itu, kota dan wilayah kabupaten Banyumas hanya sebuah distrik Banyumas dan mulai saat itu bangunan gedung Karesidenan ditinggalkan begitu saja kosong tanpa perhatian dan pelestarian.

Setelah kemerdekaan

Pada masa Polisionil atau revolusi kemerdekaan tahun 1947 - 1949 bekas bangunan karesidenan diduduki oleh tentara Belanda, dan digunakan sebagai markas tentara pleton "Hond". Pada halaman depan gedung dibangun barak-barak untuk peralatan dan kendaraaan perang milik Belanda.


banjoemas.com
Foto udara gedung karesidenan pada masa polisionil
foto diambil dari sebelah barat rumah sakit Juliana
sumber foto friesfotoarchief.nl

banjoemas.com
Foto udara gedung karesidenan pada masa polisionil
foto diambil dari sebelah timur
sumber foto friesfotoarchief.nl

banjoemas.com
Pleton "Hond" berada di beranda depan bekas gedung Karesidenan Banyumas
sumber foto indiegangers.nl

banjoemas.com
Bukit Kerkhof Banjoemas yang berlokasi di belakang gedung karesidenan
sumber foto indiegangers.nl

Pasukan Belanda yang pernah bertugas di Banyumas dan sekitarnya selama 3 tahun masa agresi Belanda adalah V-Brigade Batalion Friesland. Gedung karesidenan Banyumas juga menjadi saksi untuk tentara Belanda yang tewas dalam serangan dengan Tentara Nasional Indonesia, karena sebelum di kubur di Kerkhof Banyumas jenasah terlebih dahulu di berikan penghormatan terahir di markas gedung Karesidenan Banyumas. Perlu diketahui bahwa tepat dibelakang gedung Karesidenan terdapat sebuah bukit yang merupakan tempat menguburkan orang-orang Eropa dan tentara yang gugur dalam medan perang melawan TNI.

Setelah kalahnya Belanda dari revolusi kemerdekaan, bangunan gedung karesidenan kemudian di kuasai oleh Komando Distrik Militer 0701 Banyumas. 

Setelah Revolusi

Pada tanggal 6 April 1968, melalui surat bernomor No. 232-11- 5968 Kepala dinas Pendidikan Ekonomi mengusulkan untuk di bangunnya Sekolah Menengah Ekonomi Tingkat Atas ( SMEA ) Negeri di Banyumas. Dan kemudian pada tanggal 1 Januari 1968 SMEA ini dibuka melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menerbitkan Surat Keputusan  No. 133/UKK.3/1968 dengan menempati gedung bekas karesidenan Banyumas bagian tengah hingga sayap sebelah barat (gedung Landraat/ pengadilan). 

Pada tanggal 17 Januari 1976 sayap bagian timur (seluas 1.496 m2) di serahkan kepada Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) Cabang Banyumas  yang diketuai oleh K.H Syamsuri Ridwan untuk dijadikan Pondok Pesantren Pendidikan Islam Banyumas Miftahussalam. Pondok pesantren ini didirikan oleh H.O.S. Notosuwiryo (Pensiunan Pegawai Jawatan Agama Kabupaten Banyumas). 
Seiring berkembangnya SMKN 1 menjadi sekolah dengan siswa yang semakin meningkat setiap tahunnya beberapa bangunan kelas baru dibangun di halaman bekas gedung Karsidenan, sehingga bangunan baru menutupi bangunan lama Karsidenan, dan semakin lunturkan ingatan sejarah mengenai bangunan gedung karesidenan Banyumas ini. 

Status bangunan

Bangunan ini telah dicatat dan didokumentasikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2004 dan didaftarkan dalam daftar inventaris Cagar Budaya kabupaten Banyumas no 11-02/Bas/42/TB/04 dan telah mendapatkan surat proses SK penetapan setelah munculnya Undang-Undang Cagar Budaya no 11 tahun 2010 bernomor 399/101.SP/BP3/P-VIII/2010.

Sumber: dari berbagai sumber


Friday, October 20, 2017

Pembangunan ANIEM Banjoemas


A.N.I.E.M (Algemeene Nederlandsen-Indische Electriciteit Maatschappij) atau dalam bahasa Indonesia adalah Listrik untuk Masyarakat hindia Belanda adalah sebuah perusahaan listrik milik negara yang menangani pembangunan pembangkit listrik dan penyaluran lustrik di Hindia Belanda. 
Proyek ini dibangun oleh N. V. A.N.I.E.M (Algemeene Nederlandsen-Indische Electriciteit Maatschappij) wilayah kerja Karsidenan Banyumas tahun 1940. Desain dan pengerjaan dipimpin oleh ir. G. S. GOEMANS yang merupakan Insinyur N. V. A.N.I.E.M. Cakupan dan penyebaran listrik untuk wilayah ini cukup luas sehingga setelah pembangunan selesai, perawatan dan pendistribusian dilakukan oleh N. V. Electriciteit Maatschappij Banjoemas (E.M.B.)

banjoemas.com
Peta Proyek dan transportasi

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

banjoemas.com
pembuatan bangunan penangkap air di hulu sungai Banjaran

Proyek ini diawali dengan pencarian sumber air yang melimpah yang nantinya akan di gunakan untuk membangkitkan turbin generator pembangit listrik. Setelah dilakukan penelitian di lereng gunung Slamet sebelah selatan akhirnya ditemukan sumber air yang melimpah di hulu aliran sungai Banjaran yang masuk wilayah desa Ketenger. Sehingga proyek besar ini di sebut sebagai Proyek Ketenger. Dari proyek ini bertujuan mengaliri listrik untuk wilayah karsidenan Banyumas pada tahun 1927. Ijin diberikan pada 3 November 1927 kepada N. V. Electriciteitmaatschappij Banjoemas (E.M.B.) atau Perusahaan Listrik Banyumas dengan kekuatan daya 1000 pk.

Menurut Koran HET NIEUWS VAN DEN DAG yang terbit 24 Mei 1927 Mengatakan bahwa pembangunan pembangkit ini sudah dimulai dimana Gedung Transformator sudah didirikan hanya tinggal menunggu Mesin disel pertama yang didatangkan lewat Tandjung Priok. Namun karena alasan ekonomi melalui 1 Januari 1929 Proyek ini di tunda.

Tahun-tahun ini merupakan berawalnya jaman mailese, dimana perekonomian dunia mulai terpuruk karena perang terjadi di Eropa. Eropa adalah negara tujuan dari barang-barang komoditi eksport Jawa. Sehingga pemerintah Hindia-Belanda yang menguasai Jawa dan kepulauan lainnya tidak bisa dengan mudah eksport dan mendistribusikannya di Eropa.
Dan pada 1936 proyek inipun dikaji ulang dan akan di teruskan jika proyek besar karsidenan Banyumas ini juga bisa menghidupkan "Groote Krojaplan" (Proyek besar Kroya) yaitu berupa Pengairan irigasi dan pasokan listrik.

banjoemas.com
Saluran pengendapan

banjoemas.com
Pembuatan rangka pipa beton

banjoemas.com
pembuatan beton pembelok air

Teknis Pembangunan Proyek
Proyek Ketengger menggunakan teknologi Hydro ini terletak pada ketinggian 365 - 665 m diatas permukaan air laut, air penggerak menggunakan air dari hulu Kali Banjaran dan beberapa mata air disekitarnya (ditas desa Kalipagu). Dan juga direncanakan bahwa nantinya akan ada penampungan air yang bangunannya bisa kita lihat sampai sekarang.

banjoemas.com
Pembuatan siphon diatas sungai Brajawringin

banjoemas.com

Katup hidrolik, sebagai tenaga air pertama, Pipa peluncur untuk tekananan air pertama
Air dialirkan melalui pipa cor dan pipa besi turun ke bawah hingga melewati sungai Pagu (Kali Pagu) dengan membangun Syphon, dan air dinaikan lagi dan kemudian turun di Sungai Brajawaringin. Diatas sungai ini dibangun Aquaduct (terowongan air dari beton) dan kemudian naik lagi hingga di terima oleh Buffer inrichtingkleppenhuis (Hydran) sehingga air tidak turun lagi ke Aquaduct. Dari sinilah Air meluncur ke bawah dengan menggunakan pipa besi bertekanan tinggi yang dipasang tunggal. Air meluncur dengan kecepatan tinggi hingga bisa memutar turbin pada pembangkit listrik di Centrale (bangunan pembangkit) dan kemudian air di buang ke Sungai Banjaran lagi.

banjoemas.com
Pusat penggerak pada 15 Januari 1938

banjoemas.com
Pusat penggerak pada 15 Maret 1938

banjoemas.com
Pusat pembangkit Ketenger

banjoemas.com
Pipa tekanan air kedua

Teknis tranportasi
Pembangunan proyek Ketenger berada jauh dari Pusat kota Purwokerto, kabupaten dimana Lokasi pembangunan berada. Baturraden sudah terkenal sebagai tempat wisata alam, dan "Soember Pitoe" sudah merupakan tempat pemujaan Tatas Angin oleh masyarakat Banyumas pada masa itu. Sehingga jalan ke Baturraden pada masa itu sudah ada, namun tidak cukup untuk kendaraan berat yang mengangkut peralatan dan bahan bangunan menuju lokasi.

banjoemas.com
Jalur Lori untuk mengangkut peralatan dan bahan bangunan

banjoemas.com
Pengerasan jalan raya

Melalui proses perencanaan yang matang akhirnya dipersiapkan infrastruktur untuk mendukung jalur transportasi yaitu pengerasan jalan dari Stasiun SS (Staats Spoorwagon) Purwokerto hingga desa Ketenger, kemudian pengerasan dan pelebaran jalan di desa Ketenger yang merupakan wilayah Perhutani dan juga dibangunlah jalur rel lori sepanjang 2.2 Km yang juga dibangun secara serius (permanen) dengan membangunnya diatas tanah yang solid dan membangun jembatan rel diatas sungai Gemawang, Sungai ketenger dan Sungai Banjaran. Sehingga dari kesemuanya alur masuknya peralatan berat yang dibutuhkan proyek menggunakan 3 kali transportasi yang berbeda. Peralatan di datangkan melalui kereta SS (Staats Spoorwagon) Purwokerto, kemudian diangkut menggunakan kendaraaan jalan raya ke Ketenger (Gudang peralatan), dan di teruskan menggunakan rel Lori (60cm) hingga ke lokasi proyek.

Seluruh pengerjaan konstruksi hanya berlangsung 15 Bulan (Oktober 1937 - Januari 1939) Pengerjaan Proyek rupanya menemui resiko yang sangat besar yaitu musim hujan, namun dari tahapan keseluruhan yang paling sulit adalah turunnya hujan pada masa pengeringan konstruksi selama tahun 1938.

banjoemas.com
Pengangkutan dengan cara tradisional

Proyek ini adalah pekerjaan yang sangat berat untuk pekerja pribumi dimana lima sampai enam ratus orang pribumi bekerja selama berbulan-bulan. Tidak semua barang-barang perlengkapan bisa di bawa dengan transportasi, pasir, batu, kerikil, semen atau bahkan gelondongan besi cor dan beton pun dibawa secara tradisional (dipikul sendiri atau bersama).

banjoemas.com
Turbin pembangkit listrik

banjoemas.com
Pembuatan saluran pembuangan air akhir

banjoemas.com
Gardu listrik Purwokerto

banjoemas.com
Peta Sebaran jaringan Listrik ENIEM Banjoemas

Distribusi Listrik
Listrik yang dihasilkan proyek Ketenger adalah 100 Kw, yang kemudian ditarik ke Purwokerto untuk di distribusikan ke Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Trenggiling (Rumahsakit Zending), Banyumas, Maos, Cilacap, Kroya, Sumpyuh hingga Gombong, Kebumen dan Kutowinangun.

Setelah digabungnya Kabupaten Banyumas dengan kabupaten Purwokerto tahun 1936, kota kabupaten dan beberapa infrastruktur juga diperbaiki dan dibangun. Salah satunya adalah saluran irigasi yang mengairi air ke daerah Gambarsari, Kebasen, Kroya, Sumpyuh, Cilacap dan air di pompa keatas dari Sungai Serayu. Bangunan pompa ini di laksanakan oleh perusahaan listrik ENIEM Banjoemas yang bersumber di Ketenger

Pada  masa kekuasaan Jepang pembangkit ini pernah tidak berfungsi karena kekurangan air, hingga Jepang membangun DAM Jepang di bawah Curug Gede. Masa kemerdekaan pembangkit ini berada di tangan pemerintah Indonesia namun pada agresi militer pertama pada tahun 1946 pembangkit berhasil dikuasai oleh tentara NICA dan di kembalikan fungsinya seperti semula. (baca disini)

Sumber
Wikimedia Commons
Tropen Museum
DE INGENIEUR IN NEDERLANDSCH-INDIË, BOUW- EN WATERBOUWKUNDE. SEPTEMBER 1940 (Doc. BHHC)
HET NIEUWS VAN DEN DAG 24 Mei 1927
Buku Kenang-kenangan 1933-1950 bag.1
Controle-apparent en toebehooren (koleksi arsip penulis)

Tulisan ini di publikasikan peratama pada 9/19/12
di revisi pada 11/11/14
di revisi pada 20/10/17