Kamis, 27 Oktober 2011

Sisa-Sisa Kejayaan Ko Lie

Perjalanan pencarian beberapa marga keturunan Tionghoa di kota Banyumas dan Sokaraja untuk sebuah proyek silsilah membawaku ke sebuah rumah keturunan keluarga Kho di sekitar pertigaan Klenteng. Pemilik rumah dengan ramah menerima saya dan mempersilahkan untuk memasuki lingkungan Rumah utama keluarga Kho yang sudah tidak di tinggali, dan hanya di gunakan untuk tempat sarang burung lawet saja. Seorang penjaga gedung mengantar saya dan mas Wawan ke dalam gedung, meski tidak begitu paham seperti apa fungsi rumah tersebut dahulunya.

Pada bangunan yang saya kunjungi ini terdiri dari 3 bangunan, Sebuah bangunan ber arsitektur Renaisan, satu bangunan ber-arsitektur Tionghoa dan sebuah bangunan berarsitektur Indisch. Rumah berarsitektur Tionghoa milik keluarga Kho ini sangat khas sebagai arsitektur Campuran antara Arsitektur Cina dan Jawa. Ini di perlihatkan adanya Pendopo di bagian tengah dimana terdapat Soko Guru atau empat pilar utama. Walaupun Dr Pratiwo M Arch, seorang peneliti arsitektur Tionghoa mengatakan bahwa arsitektur Tionghoa di Indonesia bukan merupakan arsitektur asli Tiongkok, karena menurut beliau arsitektur Tionghoa yang berada di Jawa tidak di ketemukan di sana. Namun menurutku tetap adanya unsur-unsur Tionghoa yang khas seperti bentuk atap, dinding, skat pemisah, countyard, ukiran dan beberapa elemen kayu yang tersusun seperti di Kelenteng. Bangunan bergaya Tionghoa terdiri dari tiga bagian yaitu bagian depan, tengah dan belakang. Pada bagian belakang rumah bergaya Tionghoa terdapat kebun yang kemungkinan pada masa yang lalu merupakan taman yang cukup luas.Bangunan bergaya Tionghoa terdiri dari tiga bagian yaitu bagian depan, tengah dan belakang. Pada bagian belakang rumah bergaya Tionghoa terdapat kebun yang kemungkinan pada masa yang lalu merupakan taman yang cukup luas.

Pada bangunan yang bergaya Renaisance berada di samping kanan, yang dulunya merupakan kantor utama N.V. Ko Lie yang di dirikan oleh Kho Tjeng Pek (許清白) pada akhir abad ke 18. Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian kantor yang juga terdapat fasilitas kamar mandi dan toilet yang cukup besar, bagian penginapan tamu dimana bangunan ini terdari dua lantai dengan empat buah kamar yang sangat besar, dan yang terahir adalah bagian dapur.

Bangunan terakhir adalah bangunan berbentuk indisch merupakan bangunan dapur dan kamar para pembantu. Bangunan ini terlihat lebih kecil dari kedua bangunan ini



Simulasi tiga dimensi (download) sudah saya siapkan dan bisa dilihat di Google Earth (download) , dengan terlebih dahulu mendowloadnya.




Banjoemas Heritage
Tampakan gedung secara keseluruhan


Banjoemas Heritage
Bagian depan bangunan berarsitektur bergaya Renaisance

 Banjoemas Heritage
Rumah utama berarsitektur Tionghoa


Banjoemas Heritage
Sebuah mobil Opel Olympia (1951) dibiarkan teronggok


Banjoemas Heritage
Detail Ukiran gaya Tionghoa dan 
sebuah plat tembaga bertuliskan aksara Tionghoa


Banjoemas Heritage
Bagian arsitektur bergaya Indisch yang berada di sebelah selatan
(Bangunan ini sudah di bongkar tahun 1912 akhir)


Banjoemas Heritage
Bagian pintu dan jendela bangunan barsitektur Tionghoa


Banjoemas Heritage
Pintu ruangan di dalam bangunan Tionghoa


Hampir di setiap pintu menuju ke dalam ruangan atau ke dalam kamar selalu dihiasi oleh aksara Tionghoa. Ini menunjukan bahwa penghuni pada masa lalunya tidak meninggalkan budaya aslinya.


Banjoemas Heritage
Liyen atau papan syair Tionghoa di ruang tengah 
pada bangunan bergaya Tionghoa



Sebuah dinding pada ruang tengah bangunan bergaya Tionghoa ini terdapat sebuah dinding yang sangat unik karena terdapat panel kayu yang menutupi pintu bagian belakang yang mengarah ke taman belakang. Panel kayu ini terdapat beberapa macam Liyen atau papan syair Tionghoa dengan cat prada yang masih utuh dengan tulisan tionghoa, salah satunya adalah 堂本崇 yang dibaca tang ben chong yang kalau tidak salah diartikan sebagai ruang pada rumah utama, dan beberapa yang lain yang tidak mudah membacanya.


Banjoemas Heritage
Beberapa foto milik keluarga Kho


Banjoemas Heritage
Inner Countyard (ruang terbuka di tengah rumah) di tengah rumah


Banjoemas Heritage
Selasar bangunan bergaya Renaesance


Banjoemas Heritage
Selasar dan atap bangunan bergaya Renaesance


Banjoemas Heritage
Selasar dan pilar bangunan belakang 


Banjoemas Heritage
Penampakan lantai dua pada bangunan belakang

Di Sokaraja terdapat dua keluarga Kho yang sangat kaya raya dan terkenal yaitu keturunan Kho Tjeng Pek pemilik N.V. Ko Lie dan Kho Wan pemilik N.V. Kho Wan. Dua perusahaan importir ini bersaing dalam bisnisnya, namun dari beberapa sumber menyebutkan bahwa yang terkaya adalah N.V. Ko Lie.

Keluarga "Ko Lie" di Sokaraja sangat terkenal karena merupakan Tionghoa kaya pada masa kolonial, sehingga Kho Joe Seng (anak Kho Tjeng Pek yang pertama) diangkat menjadi Letnan Tionghoa Sokaraja dan kemudian di lanjutkan oleh anaknya yaitu Kho Han Tiong hingga di hapuskannya sistem ini pada tahun 1936. 

Keturunan keluarga "Ko Lie" yang terkenal adalah anak ketiga dari Kho Han Tiong yang bernama Kho Sin Kie dimana dia merupakan atlet tenis muda pertama dari Sokaraja yang mendunia yang menjuarai kejuaraan Wimbolden pada tahun 1930 han. Kho Sin Kie merupakan lulusan THHT (Sekolah Tionghoa di Sokaraja). Baca artikelnya disini Kho Sin Kie


Melalui tulisan ini ternyata beberapa keluarga yang masih merupakan anak keturunan dari N.V. Ko Lie sempat menghubungi dan berkomunikasi intens dengan penulis. Mereka meluruskan tulisan penulis yang menurut mereka kurang tepat dan bahkan menceritakan sejarah keluarga lebih detail.
Terimakasih kepada keluarga Kho (Belanda), keluarga Tan, keluarga Go, ibu Leny, penjaga Gedung, mas Wawan dan Koh Senu (keluarga Bhe). Terimakasih juga buat Pak Alfian dari purwokertoantik.com

Beberapa tulisan di ambil dari www.antaranews.com

Kamis, 04 Agustus 2011

Residentwoning Poerwokerto

Gedung ini adalah rumah tempat tinggal Residen Banyumas di Purwokerto, dahulu adalah sebuah gedung mewah dan megah. Gedung ini di buat setelah adanya keputusan bahwa ibukota Banjoemas pada waktu itu akan di pindah ke Purwokerto pada tanggal Gedung ini di rancang oleh seorang Insinyur dari Belanda bernama IR. Breuning, Hubert Albert, beliau lahir di Den Haag pada 04  desember 1901 dan meninggal di Haarlem, 13 Agustus 1995.
Banjoemas Heritage
Tampak Depan

Banjoemas Heritage
Tampak Samping Depan

Banjoemas Heritage
Tampak Belakang

Banjoemas Heritage
Denah rancangan Residentwoning

Banjoemas Heritage
Peta Belanda tahun 1944

Biografi IR. Breuning, Hubert Albert

Banjoemas Heritage
IR. Breuning, Hubert Albert

Ia masuk pendidikan di TH Delft, pada Jurusan Arsitektur, ia lulus pada tahun 1926. Dia kemudian bekerja dua tahun di Kantor A.A. Kok, dan kantor baru Joh. Enschede di Haarlem. Breuning kemudian pergi ke Hindia Belanda. Dia memulai karirnya dengan posisi Engineering Services untuk Tanah dan Bangunan , di mana ia tetap aktif sampai 1942. Pada tahun 1928 ia membangun terminal bandara di Bandung dan Andir Tjililitan di Batavia. Pada tahun-tahun 1930-1931 ia bekerja di kantor arsitektur di Gedung Departemen Pertanahan di Batavia, di Departemen Pekerjaan Umum Arsitektur dan bekerja sama arsitek oleh arsitek W. Lemei. Breuning ada di sana, bersama dengan arsitek W.B. Carmiggelt terlibat dalam pembangunan kantor Gubernur Jawa Timur Surabaya.

Pada periode 1931-1935 dia bekerja di resor Surabaya. Pada 1931-1932 ia merancang renovasi Badan Kantor Pos, di bawah arsitek Lemei, Simpang, Surabaya. Akhir 1933 ia bekerja di kota sebagai penjabat kepala Perumahan Batavia. Ia membangun kota yang baru yaitu tempat penjagalan kerbau, sapi dan domba. Pada tahun 1935 ia mendapat izin untuk cuaca Eropa di India pada tahun 1936 untuk kembali, ia pergi ke Bandung dengan Departemen Transportasi, Pekerjaan Umum (nama baru untuk Departemen Arsitektur Pekerjaan Umum). Ketika ia merancang bangunan stasiun untuk Bandara  Kemajoran. Pada tahun 1936 ia pergi cuti ke Belanda. Dan pada tahun 1936 ia merancang kantor Bank Tabungan Pos di Makassar.

Dari tahun 1937 sampai 1941 ia bekerja di markas Dinas Tanah Bangunan di tahun-tahun 1941-1942 ia adalah kepala dari subdivisi Bangunan Nasional, Departemen Perhubungan pada tahun 1946 ia kembali ke Belanda dan satu tahun kemudian ia menjadi kepala Departemen Arsitektur Pekerjaan Umum dan arsitek kota kemudian di Haarlem. Dia meninggal pada tahun 1995.

Jumat, 15 Juli 2011

Wieteke Van Dort


Banjoemas Heritage
Wieteke van Dort dalam shownya di depan para Veteran Belanda

Louisa Johanna Theodora (Wieteke) van Dort (Surabaya, 16 Mei 1943) adalah seorang aktris komedian, dan penyanyi Belanda yang telah menjadi dikenal dengan program banyak anak-anak dan dan sebagai pembawa acara Late Lien Show dengan persona wanita Indisch. Lagunya paling terkenal adalah "Arm Den Haag" (1975).

Biografi 
Wieteke Van Dort lahir di Surabaya pada saat Jepang mulai menduduki Nederlandsch Indie (Indonesia sekarang). Dimasa kecilnya dia sempat masuk sekolah dasar, dan baru memulai  HBS. Ketika dia berusia tiga belas tahun, keluarga Van Dort berlibur pergi ke Belanda. Sementara Mereka Apakah di luar negeri, Presiden Soekarno menasionalisasi Indonesia (1956) dan keluarga Van Dort kehilangan segalanya di Indonesia. Lalu merekka terpaksa meninggalkan Indonesia dan keluarganya menetap di The Hague (Den Haag).

Di Den Haag, dia meninggalkan sekolah menengah tanpa ijazah. Karena dia masih terlalu muda untuk Akademi Seni Drama, sehingga dilatih menjadi guru TK. Meskipun ia tidak menerima ijazah, dia melengkapi tiga tahun sekolah menengah (Sekitar setara dengan gelar dalam MAVO - SMA biasa - di Belanda). Pada tahun 1962 dan 1963, ia menghadiri Retorika Teater (Akademi Seni Drama). 
Sementara di akademi, dia memainkan Laura Wingfield dalam performance The Glass Menagerie. Pada tahun 1964, ia keluar dari akademi dan menandatangani kontrak dengan Komedi Baru. Pada tahun 1968, dia Mulai bekerja dengan Wim Kan dan Corry Vonk sebagai komedian.
Setelah menikah dengan Theo Moody, dia berkonsentrasi dengan banyak berhasil di radio dan televisi. Dalam De Stratemakeropzeeshow dengan Aart Staartjes dan Joost Prinsen, ia memainkan 'Distinguished Lady'. Pada 1970-an, ia muncul di Lawaaipapegaai sebuah program anak-anak. Kumpulan  penulis terdiri dari Hans Dorrestijn, Karel Eykman, Ries Moonen, Fetze Pijlman Jan Riem, setelah Willem Wilmink (penulis naskah) meninggal. Wieteke van Dort juga berpartisipasi dalam program televisi Klokhuis Het sebagai pengawas teks dalam kumpulan penulisan naskah.
Wieteke van Dort adalah seniman berbakat ada banyak sekali Judul yang dia perankan diantaranya adalah
Berperan di Teater, television, pertunjukan musikal di televisi, membuat Vinyl Long Play Albums, Singgle album, CD dan DVD.
Di tahun 1980-an ia membawakan acara yang bersuasana khas Indo ("Indisch"), kultur yang dikenalnya sejak kecil, yang terkenal "The Late Lien Show" dan juga beberapa show yang lain seperti "Tante Lien", "Kun je nog zingen, zing dan mee", "Tante Lien voor veteranen".  Ia juga merekam cerita dan lagu bertema Indo, dengan bahasa Belanda kreol dialek Indisch. Karena konsistensinya dalam memperkenalkan kultur Indo, pada tanggal 29 April 1999 van Dort dianugerahi penghargaan Kesatria Bintang Jasa Oranye-Nassau.
Penampilannya yang bergaya Indisch adalah sangat memukau para veteran Belanda dan Indonesia yang melalui jamannya. Lagu-lagu yang di ciptakan dan dilantunkanpun sangat Indisch. Yang membuktikan bahwa Indisch sangatlah berkesan bagi Belanda. Bahkan dari sebuah lagu yang berjudul "Arm Den Haag" beberapa bait lagu mengisyaratkan kegalauan "Arm Den Haag, dat is toch erg, dat jij maar niet vergeten kan De klank van krontjong en van gamelan" yang artinya "Peluk Den Haag, dengan sangat, bahwa anda tidak bisa melupakan krontjong dan suara gamelan". Dan masih banyak lirik dari lagu-lagu yang lain yang mengatakan sangat terpesona dan merindukan Indisch (Indonesia sekarang).
Lagu-lagu yang bernuansa Indisch diantaranya bisa anda download dari sini.

Wieteke Van Dort - Weerzien Met Indi | Lyric
Wieteke Van Dort - Van Moederland Naar Vaderland | Lyric
Wieteke Van Dort - Toch Hoor Jij Er Altijd Bij | Lyric
Wieteke Van Dort - Terang Boelan (maanlicht) | Lyric
Wieteke van Dort - Ramboet Itam Matanja Galak | Lyric
Wieteke Van Dort - Sarina | Lyric
Wieteke Van Dort - Toean Dan Nonja | Lyric
Wieteke van Dort - Op de Pasar Malam | Lyric
Wieteke Van Dort - Meis Suleika | Lyric
Wieteke Van Dort - Meis Suleika (Live)
Wieteke Van Dort - Manneke pedis | Lyric
Wieteke Van Dort - Klappermelk Met Suiker | Lyric
Wieteke Van Dort - Geef mij maar Nasi Goreng | Lyric
Wieteke Van Dort - De Oude School | lyric
Wieteke Van Dort - Arm Den Haag | Lyric
Wieteke Van Dort - Afscheid Van Indië | Lyric
Wieteke Van Dort - Hallo Bandoeng | Lyric
Wieteke Van Dort - Oranjelied | Lyric
Wieteke Van Dort - De bioscoop in Surabaja | Lyric
Wieteke Van Dort - Bengawan Solo | Lyric
Wieteke Van Dort - Liedje van verlangen | Lyric
Wieteke Van Dort - Contractpension | Lyric
Wieteke Van Dort - Nacht over Java | Lyric
Wieteke Van Dort - Ajoen Ajoen | Lyric
Wieteke Van Dort - Boelang Pake Pajong | Lyric
Wieteke Van Dort & Willem Nijholt - Het Betjaklied | Lyric
Wieteke Van Dort & Willem Nijholt - Het Avond Klokje | Lyric


Sumber


Senin, 11 Juli 2011

Kali Peloes Doeloe

Kota Poerwokerto dilewati beberapa kali (sungai) yang mengalir jernih dari kaki gunug Slamet diantaranya adalah Kali Mengadji, Kali Logawa, Kali Tjangkok, Kali Bandjaran, Kali Krandji, Kali Sogra, Kali Peloes dan banyak lagi kali-kali kecil lainnya.

Pada jaman Belanda beberapa sungai dibendung untuk mengaliri saluran irigasi di wilayah kota Poerwokerto seperti daerah Patikraja dan daerah Sokaraja. Keindahan dan kejernihan sungai karena pada waktu itu belum ada pembuangan limbah dan polusi ke sungai. Rumah-rumahpun masih sangat sedikit sekali di daerah Poerwokerto.

Air terjun yang terbentuk oleh alam banyak kita jumpai. Sehingga pada masa kependudukan Belanda (Nederland Indische) banyak orang-orang Belanda yang pergi kesana untuk piknik. Pada masa itu Sungai Peloes adalah salah satu sungai yang sangat indah, jernih dan mempunyai banyak air terjun.

Banjoemas Heritage
Air terjun di Kali Peloes daerah Koetajassa

Banjoemas Heritage
Kali Peloes dijadikan tempat piknik di daerah Koetajassa

Banjoemas Heritage
Di daerah Rempoeah juga terdapat air terjun

Banjoemas Heritage
Kali Peloes di Rempoeah

Banjoemas Heritage
Bendungan Kali Peloes di desa Ardja (arcawinangun)Kedjawar Distrik Poerwokerto

Banjoemas Heritage
Jembatan yang menghubungkan Soekaradja dengan Poerbolinggo di Sokaraja Kidul

Banjoemas Heritage
Jembatan melintas diatas Kali Peloes

Banjoemas Heritage
Di Soekaraja jalur SDS juga melintas diatas kali Peloes

Foto Dokumentasi diambil dari :
Creative Commons LicenseThis work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Senin, 13 Juni 2011

Penelusuran jalur SDS Purwokerto - Patikraja

Hari ini Sabtu 4 Juni 2011 sesuai yang sudah di jadwalkan sebelumnya melalui Facebook banjoemas.com.  Penelusuran ini adalah yang pertama kali di lakukan bersama dengan follower blog banjoemas.com, Railfans dan pecinta fotografi Lensa Manual reg. Banyumas (LM).


banjoemas.com
Peta Google Earth Pasirmuncng Wetan
banjoemas.com
Lokasi persimpangan yang di buat setelah SS (Staats Spoorwegen) pada tahun 1915
Jalur telepon pun kelihatannya mengikuti jalur SDS
Perjalanan dimulai pada  08.15 setelah terkumpul 6 orang (Saya, Arif, Rizky, Hilmy dan  Dodo, Wisnu (LM). Lokasi pertama dari percabangan SS dan SDS di Pasirmuncang Timur, menurut Amstari yang tinggal di samping rel letaknya berada di 150 m  ketimur dari Perlintasan kereta dari Stasiun Purwokerto Timur ke Stasiun Besar Purwokerto. Rel sepertinya berada di antara gang Konvoi Barat dan gang selatannya, ini jika ditarik garis lurus dari persimpangan rel ke Gang Margabakti.dan ini dibenarkan oleh seorang warga Robertus Joko Prayanto yang kita temui di lokasi Penelusuran. Dua rumah yang kita tengarai dulunya sebagai rel pun merupakan aset milik PT.KAI.
banjoemas.com
Peta Google Earth Pasirmuncang Wetan

banjoemas.com
Gang Margabakti
Perjalanan dilanjutkan ke gang Margabakti yang dipastikan dulunya adalah jalur SDS dari Maos ke Purwokerto. Sampai di pertigaan mentok, terdapat gang tapi posisinya lebih tinggi dari gang Margabakti. Dari sini kita tidak yakin bahwa gang merupakan bekas jalur rel. Sepanjang jalan yang kita lalui bahkan adalah tanggul selokan, hingga kita menjumpai sebuah kuburan di sebelah STM. Disana kita bertemu dengan seorang bapak yang mengatakan bahwa jalur rel berada di bawah selokan yang tadi dilalui oleh rombongan. Jadi kalo di tarik dengan garis memang benar bahwa kemungkinan rel adalah di bawah selokan.
banjoemas.com
Peta Google Earth Tanjung

banjoemas.com
Team gabungan Lensa Manual, Railfans dan Follower

banjoemas.com
Bekas jalur rel ternyata berada di bawah selokan

banjoemas.com
Mendapatkan informasi tambahan di lokasi

banjoemas.com
Team gabungan menyusur sepanjang selokan yang berada diatas bekas jalur SDS
Dari sana medan perjalanan semakin basah dan sulit, sementara kita terus saja terheran-heran dengan track yang kita lalui karena jalan yang di tunjuk oleh bapak di kuburan sama dengan yang sebelumnya, sedangkan tanah di bawahnya (sekitar 2 - 5 meter) terdapat tanah yang luasnya sekitar 3 sampai 5 meter yang sudah berubah menjadi kolam dan kebun yang berada di sepanjang selokan yang kita lalui. Sesampainya di sebuah perkampungan kita mencari narasumber yang bisa menjelaskan keberadaan bekas rel SDS itu. Kita bertemu dengan bapak Mardi, dan membawa kita tepat di pinggir kampung. Disana dia menjelaskan bahwa tanah  yang di bawah parit itulah yang dulunya merupakan jalur kereta SDS. maka terjawab sudah keraguan kita.
banjoemas.com
Peta Google Earth Tanjung (jembatan)

banjoemas.com
Team mencocokan Peta  Belanda + Peta Google Earth + GPS

banjoemas.com
Pak Mardi menunjukan dimana letak rel SDS dulu berada

Jam sepuluh kurang 3 menit kita menyeberang jalan lewat saluran air di atas jalan Veteran yang konon di gali pada tahun 1960han. Melintasi saluran air adalah tantangan tersendiri, dimana ketinggian sekitar 10 meteran diatas jalan raya.
banjoemas.com
Team melewati saluran air diatas jalan Veteran

banjoemas.com
Team melewati saluran air diatas jalan Veteran

banjoemas.com
Team melewati saluran air diatas jalan Veteran

Perjalanan setelahnya berjalan dengan penuh kepastian, bahwa bekas jalur rel berada di bawah selokan yang sedang kita lalui, walaupun kondisi bekas jalur rel sudah berubah menjadi semak belukar, kolam dan kebun. Hingga perkampungan di Kedungwringin, bekas rel semakin terlihat lebih jelas, dan bahkan terdapat sebuah bangunan semacam terowongan yang mungkin berfungsi sebagai saluran air melintas diatas jalur SDS. 
banjoemas.com
Peta Google Earth Perumahan Kedungwringin

banjoemas.com
Bekas jalur rel berubah menjadi semak belukar dan kolam warga

banjoemas.com
Sebuah terowongan yang diatasnya di jadikan jembatan warga
Dari sana medan yang kami lalui turun sejajar dengan jalur rel SDS, jalur ini memang landai. Pada peta lama yang Belanda buat terlihat disini terdapat jalur ganda. Tapi bekasnya tidak terlihat sama sekali karena adanya bangunan baru perumahan di Kedungwringin ini. Bahkan lokasi tempat kita beristirahat di Masjid Dhuefulloh Al Mutoiri letaknya tepat diatas cekungan bekas Jalur rel SDS.
banjoemas.com
Peta Google Earth Peta Karanggude

Setelah cukup perjalanan dilanjutkan, dari Masjid bekas jalur terlihat sangat jelas di samping jalan di perumahan, beberapa sudah didirikan bangunan, di pertigaan sebelah selatan jalur berubah menjadi jalan kampung hingga Karanggude. Masuk di perkampungan Karanggude jalur terpotong oleh rumah-rumah permanen. Sehingga kita harus bertanya kesana kemari untuk memastikan dimana letak rel sebenarnya. Disana kita bertemu dengan seorang bapak yang anaknya masih teman dari mas Arif dan Rizky. Bapak itu menjelaskan bahwa jalur berada di samping pekarangan rumahnya, dan hanya sedikit yang mengenai pekaranganya. Dulu lokasi ini adalah pereng (lembah) tapi setelah banyaknya penduduk, tanah berubah menjadi datar.

banjoemas.com
Jalur membatasi tanah kuburan dengan perumahan

banjoemas.com
Ibu Rasitem memberikan kesaksian dan informasi tentang dibongkarnya rel SDS

Team kembali masuk ke jalur yang berada di samping kuburan Karanggude, setelah melewati pekuburan kita bertemu dengan seorang ibu bernama Rasitem (75 tahun), beliau menceritakan bahwa rel dulunya berada di bawah pondasi rumahnya (bukan di gang) dan pada jaman setelah Jepang rel dibongkar dan ditumpuk oleh orang-orang Indonesia. " Pak Lurah, Pak Bau pokoke pejabat dusun sing ngertos nggenopo rile, kulo tiang alit dados mboten wani takon-takon" ( Pak Lurah, Pak Bau dan pejabat desa yang tau mengapa dan untuk apa rel di lepas, saya orang kecil jadi tidak berani bertanya). Lalu jalur rel SDS sebelah mana yang di bongkar oleh Jepang?

Sudah setengah 12 saya harus ke kantor (bekas) dan yang lainnyapun sudah kelelahan, maka penelusuran gabungan ini di hentikan dan kita semua pulang ke Purwokerto ...

Terimakasih buat team gabungan; Lensa Manual Regional Purwokerto(Foto-fotonya ditunggu), Railfans dan Follower blog Banjoemas Heritage.