Rabu, 18 Maret 2020

KPAA MERTADIREDJA III


banjoemas.com

Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
Lahir 2 Maret 1841 -  Meninggal 19 Maret 1927 
Raden Ayu Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
Lahir 29 Juli 1839 - Meninggal 19 Mei 1921

Bupati legendaris yang menjabat sebagai bupati hampir selama hidupnya. Mulai menjadi bupati Purwokerto pada umur 19 tahun pada tahun 1860 dan pensiun pada tahun 1913 diusia yang ke 72 tahun dari bupati Banyumas. Sehingga selama 53 tahun beliau menghabiskan waktunya sebagai Bupati dua kabupaten. Beliau juga disebut sebagai bupati yang pulang pada tempatnya, karena setelah Banyumas jatuh ketangan Belanda bupati tidak lagi jatuh pada anak keturunannya tapi pada pejabat yang tempatkan oleh Belanda.

Bupati ke sepuluh kabupaten Banyumas, Raden Tumenggung Joedanegara V yang menjabat pada masa perang Jawa dianggap tidak banyak membantu Belanda untuk menangkap Pangeran Dipanegara. Sehingga setelah jatuhnya wilayah Banyumasan ke tangan Hindia Belanda RT Joedanegara V langsung dipecat, sehingga berakhirlah trah Adipati Mrapat di Banyumas. 

Banyumas yang belum diserahkan secara resmi oleh Surakarta namun Belanda sudah ikut campur tangan pemerintahan di Banyumas, tidak hanya memecat RT Joedanegara V, mereka juga membagi Banyumas menjadi dua yaitu Banyumas Kasepuhan yang berpusat di Dawuhan  dan Banyumas Kanoman yang berpusat di Kedungrandu Patikraja untuk menyingkirkan keturunan langsung RT Joedanegara V dari Banyumas.

Bratadiningrat yang merupakan putra dari Mas Ngabei Mertawidjaya di Singasari (en) yang masih keturunan dari Bagus Kunting atau Kanjeng Adipati Danureja I (Raden Tumenggung Yudanegara III ) diangkat menjadi Wedana Bupati Kanoman Banyumas dengan gelar Raden Tumenggung Mertadiredja. Namun beliau meninggal pada tahun 1831 setelah setahun menjabat, kemudian digantikan oleh putranya yaitu Raden Adipati Mertadiredja II. Kejadian ini menyebabkan dihapuskannya istilah kanoman, dan diawal pemerintahannya R Ad Mertadiredja II memindahkan pusat pemerintahan dari Patikraja ke Ajibarang.

Disisi lain, setelah meninggalnya Raden Tumenggung Cakrawedana I Banyumas Kasepuhan juga dihapuskan dan dirubah menjadi Kabupaten Banyumas, dan penggantinya adalah Raden Ngabei Cakradirja yang bergelar Raden Adipati Cakranegara I (Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas)

Hanya bertahan satu tahun, pusat kabupaten Ajibarang pun dipindah lagi ke sebuah grumbul dimana terdapat santri mengaji dan diatas sebuah telaga di grumbul Paguwan Purwokerto dengan persetujuan asisten residen kabupaten Ajibarang yaitu Varkevisser. Letaknya sekitar 2 km dari pusat pasar wage Purwokerto. 

Raden Adipati Martadiredja II menjadi bupati pertama kabupaten Purwokerto yang menjabat hingga meninggal pada tahun 1853. Dikarena Pangeran Mertadiredja III masih berumur 12 tahun kemudian akhirnya digantikan oleh menantunya yaitu Raden Tumenggung Djajadiredja. Namun tidak berjalan lama Raden Tumenggung Djajadiredja mengalami depresi dan kemudian diasingkan ke Padang, hingga selama beberapa tahun kabupaten Purwokerto tidak tidak memiliki Bupati. Kangdjeng Pangeran Aria (PA) Mertadiredja III menjadi bupati Purwokerto yang ke tiga yang menjabat dari tahun 1860 hingga 1879. 

Riwayat pekerjaan
Pangeran Mertadiredja III remaja yang ditinggalkan oleh ayahnya pada umur 12 tahun, memulai bekerja pada umur 14 tahun sebagai wakil jurusurat di kantor kabupaten Purwokerto yang pada waktu itu yang menjabat bupati adalah iparnya sendiri yaitu Tumenggung Jayadireja (1853-1860). Mulai bekerja dengan surat keputusan Residen Banyumas tertanggal 7 April 1855. Sembilan bulan kemudian baru diangkat menjadi Jurusurat tetap tepatnya pada tanggal 18 Januari 1856.

Di usia yang ke 15 tahun, mulai 8 September 1856 beliau bekerja menjadi wakil Jaksa di kabupaten Purwokerto selama 4 bulan dan menjadi mulai mantri Polisi pada tanggal 16 Januari 1857 selama dua tahun.
banjoemas.com

Raden Adipati Mertadiredja III pada masa-masa awal menjadi bupati Purwokerto
Sumber KITLV LEIDEN

Pada usia ke 17 tahun Pangeran Mertadiredja III mulai bekerja di kabupaten lain, dengan jabatan yang lebih bergengsi yaitu Onder Kolektur di kabupaten Banjarnegara. Hanya berjalan selama satu tahun sembilan bulan pada tanggal 18 November 1860 melalui keputusan Kanjeng Governemen (Gubernur) pada usianya yang ke 19 tahun beliau diangkat menjadi bupati Purwokerto ketiga dengan gelar Mertadiredja III. 

Setelah menjabat selama 15 tahun baru pada tanggal 7 November 1875 Gubernur Pangeran  Mertadiredja III barulah mendapatkan gelar Pangeran Adipati Mertadiredja III. Pada tahun 1879 Residen di Banyumas adalah Cornelis de Clercq Moolenburgh dan bupati yang menjabat di kabupaten Banyumas adalah Raden Adipati Tjokronegoro II, namun bupati sering berselisih dengan Residen sehingga bupati akhirnya mengundurkan diri. 

Sebelumnya sudah disiapkan wedana Sokaraja yang masih merupakan adik R A Tjokronegoro II yaitu Tumenggung Cakrasaputra. Namun residen melalui keputusan gubernur tertanggal 14 Maret 1879 akhirnya memutuskan untuk mengangkat dengan mememindahkan Pangeran Adipati Mertadiredja III yang masih menjabat di Purwokerto. Dengan alasan bahwa sejak diberhentikannya Raden Tumenggung Joedanegara V oleh pemerintah Hindia Belanda bupati menjabat sudah diluar Trah Banyumas, sehingga pada kesempatan ini Residen memutuskan untuk mengembalikan jabatan bupati pada trah aslinya.

Diakhir masa jabatannya bupati menggunakan gelar kehormatan Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III, dan mengajukan pensiun pada tahun 1913 dan pensiun dengan hormat pada 6 November 1913.



banjoemas.com
Medali kesetiaan kepada pemerintah Hindia Belanda
Dari Kiri Ridder Oranje Nassau, Officier Oranje Nassau dan Ridder Nederlandsche Leeuw

Beberapa medali dan gelar yang diperoleh oleh Pangeran Adipati Mertadiredja III adalah:
  • 10 April 1883 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur yaitu medali bintang Jene
  • 4 November 1890 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur songsong jene
  • 28 Agustus 1900 mendapatakan tanda kehormatan dari ratu Belanda yaitu Ridder Oranje Nassau 
  • 12 November 1900 mendapatkan gelar kehormatan dari gubernur yaitu gelar Aria sehingga menjadi Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
  • 29 Agustur 1901 mendapatkan tanda kehormatan dari Ratu belanda menggantikan Ridder Oranje Nassau menjadi Officier Oranje Nassau. Penghargaan ini diberikan kepada bupati yang telah berjasa pada kontribusi wilayah internasional.
  • 27 Agustus 1904 mendapatkan tanda kehormatan dari Ratu Belanda Ridder Nederlandsche Leeuw. Penghargaan ini diberikan oleh Ratu belanda karena jasanya yang sangat istimewa bagi masyarakat.
  • 26 Agustus 1910 mendapatkan tanda kehormatan dari gubernur yaitu Pengeran Ngagem Songsong Gilap
banjoemas.com

Kiri, Pangeran Adipati Aria Gandasoebrata beserta istri
Kanan, Raden Adibati Aria Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata beserta istri

Pada tanggal 6 November 1913 Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III mengajukan pensiun dan digantikan oleh putranya  yaitu PAA Gandasoebrata  yang menjabat dari tahun 1913 hingga tahun 1933. Kemudian digantikan lagi oleh cucunya yaitu RAA Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata yang menjabat mulai tahun 1933 hingga tahun 1950.

RAA Soedjiman Mertadiredja Gandasoebrata 19 April 1942 diangkat menjadi Residen merangkap menjadi bupati Banyumas.

Pada masa pemerintahan Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III merupakan masa-masa awal wilayah karsidenan Banyumas  yang merupakan daerah pedalaman mulai dieksploitasi dan dibangun menjadi kota kolonial yang nyaman untuk orang-orang Eropa. 

  • Dibangun pabrik gula Klampok pada tahun 1888
  • Pada tahun 1888 dibangun jalur kereta api Yogyakarta Tugu ke Cilacap milik perusahaan Staats Spoorwagon
  • Dibangun pabrik gula Bojong pada tahun 1889
  • Dibangun pabrik gula Purwokerto pada tahun 1894
  • Dibangun jalur kereta Serajoedal Stoomtram Maatschappij 1895
  • Dibangun pabrik gula Kaliredjo di Sumpyuh pada tahun 1910

Pembangunan diwilayah karsidenan Banyumas selalu melibatkan bupati-bupati karena ketersediaan tenaga kerja pembangunan akan dipenuhi oleh para bupati di wilayah karsidenan Banyumas. Jadi meskipun pembangunan dilaksanakan di kabupaten Banjarnegara maka bisa jadi yang menjadi buruh pekerja bangunan berasal dari kabupaten lain. 

Keluarga Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III 
Seperti bupati kebanyakan pada jaman dahulu Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III juga memiliki banyak istri, namun rata-rata istrinya meninggal selama adipati masih hidup. Hanya satu istri yang masih hidup ketika adipati meninggal dari enam istrinya.
  1. Raden Ajoe Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III menikah pada tahun 1857 berputra 6 salah satunya adalah Adipati Aria Gandasubrata (Lahir 29 Juli 1839 - Meninggal 19 Mei 1921)
  2. Masajeng Udawati menikah pada 1854 berputra 4
  3. Masajeng Werdiningsih menikah pada tahun 1866 berputra 6
  4. Masajeng Rejaningsih menikah pada tahun 1869 berputra 2
  5. Masajeng Ismayaningsih menikah pada tahun 1877 berputra 4
  6. Masajeng Sumarsih menikah pada tahun 1882 dan berputra 6

banjoemas.com

Persiapan pemberangkatan iring-iringan lelayon pemakaman Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
di selatan alun-alun Purwokerto (22 Maret 1927)


banjoemas.com

Persiapan pemberangkatan iring-iringan lelayon Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
dari rumah duka di Kepangeranan Banyumas ke pendopo kabupaten Purwokerto, 
nampak didalam gambar bupati Aria Gandasoebrata dan istri (21 Maret 1927)


banjoemas.com

Mobil Dodge Brothers milik keluarga bupati yang ikut dalam iring-iringan lelayon 
Kanjeng Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III
(21 Maret 1927)

Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III meninggal
Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III meninggal pada hari Sabtu 19 Maret 1927 meninggalkan 1 istri yang masih hidup yaitu Masajeng Rejaningsih, putra 28 (lima diantaranya sudah meninggal terlebih dahulu), cucu 111 orang dan 86 cicit.

Prosesi pemakaman Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III melalui prosesi yang sangat panjang untuk seorang Bupati. Bupati meninggal pada tanggal 19 Maret 1927 kemudian disemayamkan di Kepangeranan selama dua malam sambil menunggu berkumpulnya keluarga besar karena putra-putranya hampir semua menjadi pejabat ataupun istri pejabat. 

Pada tanggal 21 pagi jenazah dipindahkan ke pendopo kabupaten Purwokerto untuk disemayamkan selama satu malam. Iring-iringan diawali oleh mobil truk merek Republic model E buatan tahun 1919 yang berisikan dengan beberapa bendera putih setengah tiang yang dijaga oleh sebuah pasukan opas, kemudian disusul dengan mobil Ford TT Truck buatan tahun 1922 yang membawa jenazah almarhum Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III yang penuh dengan hiasan lelayon. Diikuti kemudian adalah mobil Dodge Brothers buatan tahun 1919 yang dibalut dengan hiasan bunga kematian yang membawa keluarga inti laki-laki karena dalam adat jawa perempuan tidak diperkenankan ikut didalam rombongan lelayon. 

Masyarakat sangat antusias untuk melihat prosesi Iring-iringan lelayon yang panjangnya hampir satu kilometer yang di ikuti oleh hampir seluruh pangereh praja dan pejabat kabupaten Banyumas. Mereka menggunakan sepeda yang merupakan kendaraan bergengsi pada waktu itu dan berjalan kaki ikut dalam iring-iringan. Sesampainya di alun-alun Purwokerto jenazah Pangeran Adipati Aria Mertadiredja III disambut oleh R. Tm. Tjokrokohadisoerjo (bupati Purwokerto) dan pangereh praja kabupaten Purwokerto.
Jenazah kemudian di semayamkan selama satu malam di pendopo kabupaten Purwokerto semalam sebelum dikebumikan di makam keluarga Kalibogor. Prosesi ini merupakan bagian dari penghormatan karena almarhum pernah menjadi bupati di Purwokerto selama 19 tahun. 

Tanah makam keluarga kalibogor ada jauh sebelum tahun 1853, karena  R Ad Mertadiredja II sebagai pendiri dan bupati pertama kabupaten Purwokerto ingin di makamkan di Purwokerto. Sehingga pada tahun 1853 ketika beliau meninggal dan dimakamkan di makam keluarga Kalibogor.

banjoemas.com

Wawancara dengan alm. ibu Yeti 17 Juli 2013


Tulisan ini saya dedikasikan untuk ibu Yeti Gandasubrata alm. yang sudah memberikan waktunya, tenaganya, kecintaannya terhadap sejarah dan arsip sejarah Banyumas  dan keluarga besar Mertadireja & Gandasubrata

Terimakasih saya ucapkan kepada narasumber
- ibu Yeti Gandasubrata alm. 
- Pak dr. Soedarmadji
- Mas Alfian Antono

Dirangkum dari berbagai sumber 

10 komentar:

Feb mengatakan...

Sangat menarik & informatif. Semangat menulis mas milo

Feb mengatakan...

Sangat menarik & infomatif. Lebih sering upload tulisan lagi mas milo hehe

Nizargiyan mengatakan...

Kepangeranan itu sekarang letaknya dimana ya mas?

Anonim mengatakan...

kepangeranan itu letaknya dimana mas?

PPoluan mengatakan...

Terima kasih untuk artikelnya.

Salam,
Panji Poluan
(Putera dari Bapak Boy Poluan & Ibu Yettie Gandasubrata)

Indra Tjahjadi mengatakan...

maaf sebelumnya saya ingin bertanya : apakah hubungan beliau (K.P.A.A Martadireja III) dengan R.Martono Mardjana yang makamnya ada di Jln. Sekolahan RT.006/RW.02, Sudagaran - Karangpucung Banyumas ?
Saya I Gst.Ngr.Indra A.Tjahjadi dari Bali ( tridiv1508@gmail.com )

mohon informasinya...Terimakasih, Matur suwun....

Anonim mengatakan...

Terimakasih atas kerjanya! Sangat membantu dalam melestarikan sejarah Banyumas.

Anonim mengatakan...

Saya Budi Suharjo, anak dari Bapak Kadjat Atmotaruno yang semasa kecil beliau tinggal di daerah Purwojati. Kakek saya tidak jelas karena Bapak tidak pernah cerita tentang Kakek. Bapak hanya cerita kakek adalah seorang pembantu Bupati zaman itu. Ingin rasanya tau silsilah keluarga kami tapi kami sudah kehilangan jejak (patenan ojir). Bagaimana sekiranya benar saya bisa mendapatkan ruwayat tsb.

Anonim mengatakan...

Nama Budi Suharjo (budisuharjo29@gmail.com)

Anonim mengatakan...

Terimakasih atas informasinya tentang Adi pati banyumas
Saya cucu Eyang RM MK Ronggo Prakoso kencong jember

Posting Komentar

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya