Saturday, July 14, 2018

Suikerfabriek Bodjong dan Kalimanah

www.banjoemas.com

Pada tahun 1888 di afdeling Purbalingga (sekarang kabupaten) mulai dibangun perkebunan dengan nama Cultuur Maatschappij Poerbolinggo yang di dalamnya terdapat dua buah pabrik gula oleh McNeill & Company Semarang. McNeill & Company  merupakan perusahaan yang sudah sangat berpengalaman dalam berbisnis gula (pasir) dan perkebunan tebu. Pabrik gula pertama dibangun di desa Bojong (Bodjong) di distrik Purbalingga dengan nama pabrik gula Bojong (Sf. Bodjong). Kemudian pabrik gula kedua dibangun di desa Kalimanah distrik Purbalingga bernama pabrik gula Kalie Klawing (Sf. Kaliklawing/Sf Kalimanah).


banjoemas heritage

Peta sf Bojong dan sf Kalimanah (Kalie Klawing)


banjoemas heritage

Peta sf Bojong dan sf Kalimanah (Kalie Klawing)


McNeill & Company sebenarnya hanya pemilik dari seperempat saham, keseluruhan saham adalah f1000 yang dimiliki oleh McNeill & Co (f100), C.W. Baron Van Hecekeren (administratur Sf. Ardjowinangoen) (f50), Dr. E.H.L Ostermann (Administratur Sf. Djeroekwangi/Bandjaran (Pemilik hak tanah sewa)(f50), J.M. Pijnacker Hordijk (f50), W.B. van Groenou (f28), D.W.F. Maxwell (Pemilik sebagian tanah dan infestasi mesin-mesin) (f27), C.L.F. Monod de Froideville (f25), D.D. Fraser (f25), F.J.H. Soesman (f15) dan f10 lainnya adalah Mirandolle dan VoĆ¼tc & Co

Cultuur Maatschappij Poerbolinggo (Perusahaan perkebunan Purbalingga) membangun kedua pabrik ini dengan susah payah karena kedua lokasi pabrik ini masih merupakan wilayah pedalaman di sekitar tahun 1890an. Satu-satunya jalan tercepat yang bisa menghubungkan dengan pelabuhan Cilacap (Tjilatjap)  adalah menggunakan jalur transportasi air yaitu sungai Klawing dan sungai Serayu dan menyambung melalui Sungai Yasa (Sungai Buatan) di antara hilir sungai Serayu dan selat Donan. Dari itulah salah satu dari dari pabrik gula yang di bangun diberi nama pabrik gula Kali Klawing


Cultuur Maatschappij Poerbolinggo mengangkat administratur pertamanya adalah  J. Sayers dan karena alasan kesehatan pada tahun 1893 tuan Sayers hanya mau menjabat sebagai penasehat saja, bertepatan dengan diajukannya proposal penghapusan Cultuur Maatschappij Poerbolinggo karena saham sebagian besar sudah di kuasai oleh Cultuur Maatschappij Kalie Klawing dan posisi administratur kemudian digantikan oleh Hendrik Conrad Carel Fraissinet (H.C.C. Fraissenet) yang menjabat hingga pada tahun 1915. 

banjoemas heritage

Rumah administratur sf Bojong

Hendrik Conrad Carel Fraissinet menikah dengan Philippina Francina Deibert dan mempunyai satu anak perempuan bernama Lamberta Christina Fraissinet (18-11-1911 di Poerbolinggo dan meninggal 30-06-1965 di Gravenhage). Dan kemudian Lamberta Christina Fraissinet  menikah dengan Nicolaas Bessem; lahir pada 17-1-1902 di Bergen dekat Zoom, meninggal 18-12-1985 di Amersfoort dan mempunyai 3 anak yaitu  Nicolaas Dirk Bessem, Conradia Wilhelmina Bessem dan Herman Bessem.
banjoemas heritage
Bagian dalam pabrik gula Bojong

banjoemas heritage
Mesin pompa pabrik gula Bojong

banjoemas heritage
Ketel pemanas pabrik gula Bojong


Peralatan-peralatan berat yang di datangkan dari Eropa semua di kirimkan melalui jalur Air. Salah satu pemasok peralatan-peralatan pabrik juga merupakan pemilik modal kedua pabrik gula ini yaitu D.W.F. Maxwell. Dan karena kepemilikan saham di beberapa pabrik gula di Jawa sehingga pada tahun 1908 menjabat sebagai Dewan Sindikat perlindungan properti industri. 


Pabrik gula Bojong mulai beroprasi pada tahun 1891 dengan menggunakan aliran  sungai Gringsing untuk air bersihnya dan pembuangannya menggunakan aliran sungai Salak, namun di dalam kompleks pabrik terdapat beberapa sumur berukuran besar yang digunakan untuk menambah  kebutuhan air bersih pabrik. Sedangkan pabrik gula Kalimanah menggunakan aliran sungai Ponggawa untuk memenuhi kebutuhan air bersih pabriknya

Perkebunan Tebu Jaringan Rel Lorie
Perkebunan tebu pabrik gula Bojong meliputi Bancar, Penaruban, Kaligondang, Sempor, Jetis, Toyareka, Penambongan, Padamara, Kalimanah, Blater, Kedungwuluh, Grecol, Kembaran Kulon, Brobot, Bojongsari, Kutasari. Demikian juga jaringan rel lori tebu pabrik gula setelah menyebar hingga perkebunan-perkebunan. ini permanen dan Decauville (bongkar pasang) tersebar hingga mencapai perkebunan-perkebunan itu.



banjoemas heritage
Emplasemen bongkar muat tebu di selatan pabrik

banjoemas heritage
Jalur lori di wilayah Bancar dan Penaruban

banjoemas heritage
Jalur rel lori dari sf Bojong 

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Kalimanah

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Kedungwuluh

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Padamara

banjoemas heritage
Jaringan rel lori di Purbalingga Kulon -  Karang Sentul

banjoemas heritage
Peta tahun 1901



Beberapa tahun setelah beroperasi angka hutang perusahaan terus meningkat hingga perusahaan harus melunasi hutang dan bunganya senilai f 420.000. Hingga pada tahun 1894 perusahaan berinisiatif untuk mengganti anggaran biaya dengan menghapus separuh saham asli. Saham dari laba dikeluarkan untuk menggantikan saham biasa dan saham milik pendiri, dan kemudian diterbitkannya saham istimewa senilai f 1.200.000. Pada masa inilah kemudian pabrik gula Kalimanah di tutup dan menjadi Bodjong Cultuur Maatschappij

JARINGAN SERAJOEDAL STOOMTRAM MAATSCHAPIJ
Jaringan kereta uap lembah Serayu baru di bangun pada tahun 1889 dan di resmikan pada 1 Juli 1900, sembilan tahun setelah pabrik ini di bangun baru jaringan kereta api baru di resmikan. H.C.C Fraissinet adalah salah satu dari sekian administratur pabrik gula di Banyumas yang mengusulkan adanya SDS (Serajoedal Stoomtram Maatschapij), yang menghasilkan perjanjian antara pabrik dengan SDS antara tahun 1895 - 1940, dan dikaji ulang pada tahun 1906 dan 1908. 

Pabrik gula Bojong dengan bekas pabrik gula Kalimanah terhubung dengan sebuah jalur rel lori yang melewati yang melewati persawahan Toyareka dan persawahan Blater. Setelah penggabungan bekas pabrik gula Kalimanah hanya berfungsi sebagai gudang akhir sebelum gula di kirim melalui SDS. Rel SDS yang menghubungkan pabrik dengan SDS

banjoemas heritage
Peta SDS, Sf. Kalimanah dan sf Bojong


Perusahaan telah berkembang menjadi tiga kali lipat baik dilihat dari ukuran pabrik dan kapasitas produksinya. H.C.C. Fraissinet telah benar-benar bekerja dengan baik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi gula.
H.C.C. Fraissenet menurut Locale Belangen, 16 September 1914 pada tahun tersebut menjadi anggota Dewan Perwakilan Banyumas. 
MASA MAILESE
Pabrik ini mengalami kesulitan pada masa krisis ekonomi dunia yang mulai dirasakan di Jawa pada tahun 1928, dan benar benar berhenti produksi pada tahun 1930. Setelah keadaan ekonomi mulai membaik pada tahun 1934 justru pabrik ini harus ditutup.

MASA PERANG KEMERDEKAAN

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945 dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Kedatangan Sekutu Amerika bersama dengan Belanda membuat Indonesia Baru bergejolak. Purbalingga pada masa itu adalah wilayah pergerakan Nasionalis (Pejuang Indonesia). Dikarenakan masih banyaknya orang-orang Belanda dan Eropa yang dilepaskan dari inernir Jepang yang tinggal di Purbalingga dan sekitarnya, maka para pejuang berinisiasi untuk menginternir mereka lagi karena ditakutkan akan menjadi antek dan bergabung dengan pasukan Belanda yang baru datang.

Lokasi bekas pabrik gula Bodjong yang sudah kosong semenjak tahun 1934 ini pada masa Jepang dijadikan interniran untuk warga Belanda dan  Eropa. Pada masa revolusi kemerdekaan pun kembali dijadikan interniran. Tanggal 8 Desember 1945 orang-orang Belanda dan Eropa laki-laki dan anak laki-laki yang sebelumnya di Internir di Purwokerto dipindahkan ke bekas pabrik gula Bojong. Bangunan yang dijadikan interniran awalnya hanya menggunakan tiga bangunan pabrik yang sudah kosong yaitu blok A, B dan C. Namun karena banyaknya penghuni maka pada awal Februari 1946 di buka lagi satu gedung yang lokasinya berada di sebelah barat pabrik untuk dijadikan blok D. 


Interniran yang berkapasitas 350 orang ini kondisinya sangat buruk meskipun ditunjuk seorang dokter untuk mengelola yaitu Dr A.C. Zwaan, karena memang tidak ada biaya dan persediaan yang dialokasikan pemerintah. Penghuni pada awalnya hanya tidur di lantai tanpa alas, namun kemudian disediakan kayu-kayu untuk alas tidur. Bekas pabrik ini juga tidak tersedia listrik dari EMB (Electric Maatschapij banjoemas), persediaan makanan yang buruk dan keran air hanya terdapat satu. Interniran ini juga tidak disediakan perawatan medis dan obat-obatan, hanya penghuni yang mengidap penyakit parah yang dibawa ke rumah sakit Zending Trenggiling. Selama interniran ini beroprasi terdapat 4 orang yang meninggal karena malaria. 29 Maret 1946 interniran ini di evakuasi ke interniran yang lebih baik yaitu di bekas pabrik gula Klampok (Sf. Klampok)


Beberapa foto yang berhasi di himpun dari internet terkait orang yang pernah tinggal di pabrik gula Bojong
banjoemas heritage

Foto Nicolaas Lawrence dan Jansje pada tahun 1915

banjoemas heritage
Lucien dan Jet jr pada tahun 1922

banjoemas heritage
Helen R en Nico pada tahun1914



Beberapa orang Belanda dan Eropa yang pernah menjadi karyawan di pabrik gula Bojong yang berhasil di himpun penulis ;

  • Willem Karel Alfred Versteegh (lahir di Perkebunan Soember Tempur Rejo, 5 Maret 1897)
  • Johan Gerard van Rossum (lahir 7 Desember 1878 di Arnhem - Meninggal 2 April 1939 di  Beausoleil, Alpes Maritimes, usia 60 tahun)
  • C. J. Cutler bekerja sebagai masinis lokomotif lori.
  • H. Cordes, 
  • L. Faber
  • C. Kempf
  • G. Zacher
  • Helen R


Daftar pustaka ; hubungi penulis jatmikow@banjoemas.com



18 comments:

Willy Artho said...

Mas, PG Bojong tu operasional/aktif "nggiling" sampai dengan tahun berapa ya? Pakde saya dari pihak Bapak tu ada yang pensiunan sinder tebu di Bojong ( '60-'80-an kalo ngga salah) dari hasil "nguping" obrolan Pakde dan Bapak yang saya dengar sambil main mobil2an di bawah meja ruang tamu, tahun2 '80-an beliau masih inspeksi di daerah Bojong....tapi kalo mmang tahun2 segitu sudah ngga operasional, berarti waktu itu tebu2 dari kebun2 di wilayah Bojong dan sekitarnya di kirim ke PG Kalibagor... begitu mungkin ya..?!?

Anonymous said...

dulu saya lahir di bojong thn '70. dah gak ada apa2 pak. yang ada adalah stasiun lori tebu di bojong yang melangsir tebu dari truk ke lori untuk dibawa ke kalibagor. waktu saya SD, stasiun lori ini pindah ke pertigaan desa jetis

miko wicaksono said...

Menurut pak Suladi (exs CA PG Kalibagor) wilayah perkebunan tebu PG. Klampok, Pg. Bojong dan kalimanah di kuasai oleh PG Kalibagor yang beroprasi hingga 1990han. PG Bojong berubah Jadi Pool Tebu untuk PG Kalibagor.
Tebu di bawa dengan truk dan di setorkan ke Pool Tebu tersebut, dan di pindahkan ke lorie lalu di bawa ke Kalibagor.

Anonymous said...

wah keren bgt infonya.... sedikit sekali info yang saya dapat tentang PG bojong.... padahal rumah saya di bojong. terima kasih infonya...

Milo Wicaksono said...

Anonymous, padahal bekas jalur lorinya menjalar hampir di 6 Kecamatan di purbalingga, salam

Yoyo said...

Menurut dugaan saya, 4 Pabrik Gula di Banyumas (Purwokerto, Kalibagor, Bojong, Klampok) terhubung oleh jalur lori, biasanya 1 (berdasarkan penelusuran saya)

Jatmiko W said...

Betul itu mas, memang pada akhirnya semua pabrik Gula merjer dengan PG Kalibagor, termasuk Klampok. Hingga usia PG Kalibagor mencapai tahun 1998an atau sekitar 150an tahun, dibanding PG yang lain di daerah Banyumas.

wisnu said...

posisi tepatnya sekarang disebelah mana yaaa...kok ngga kelihatan sisa2nya...

Jatmiko W said...

Wisnu, sekarang jadi lokasi perumahan Bojong.

mustofa kamaludin said...

sekedar correct ....di dalam Taman Bojong ada sebuah sumur tua dan sisa-sisa tembok tua yang kemungkinan merupakan bekas sf.bodjong

jalin atma said...

visit my site too
ST3 Telkom
and follow my social media instagram please :
Jalin Atma

Adsense said...

Saya dulu waktu kecil tinggal di Toyareka dapat cerita dari Mbah, lokasi pabrik itu yg sekarang jadi perumahan bojong, kebetulan mbah dulu punya sawah di sebelah timur pabrik, ada cerita di pabrik itu ada gedung uang yang sangat kuat dan ada pintu yg di beri pedang dua buah yg selalu bergerak saat pihak manajemen pabrik mengaktifkan pengaman itu. Dan konon saat pembongkaran gedung itu paling keras saat dihancurkan

Jatmiko W said...

Adsense terimakasih sudah meninggalkan jejak dan berbagi cerita, saya juga ernah menedengar cerita tersebut, dan kebetulan tidak banyak saksi mata yang melihat bangunan ini saat berdiri. Bangunan perumahan pegawai yang menempati sepanjang jalan dari pertigaan hingga pom bensin Bojong juga tidak sedikitpun yang meninggalkan bekas. salam

Gery Anggriawan said...

Kue brug kali klawing jaman mbiyen? Apa siki wis ora ana?

Jatmiko W said...

Gery, betul sekali, di Purbalingga terkenal dengan nama brug menceng (cmiiw)

Anonymous said...

poerbalingga tempoe doeloe...jadi ingin menggali lebih dalam

faradhea said...

di Kedung dawa masih ada bekas rel yang sambungannya ke arah pasar bojong.

Adsense said...

Kedungdawa itu bojong komplek soto so ya, alias karangmunyung

Post a Comment

Silahkan isi komentar anda !
Jangan lupa tinggalkan Nama dan alamat emailnya