Saturday, October 24, 2015

Satelit Post 24 10 2015

Satelit Post 
24 10 2015
BPCB Surati Ahli Waris
Pembongkaran Eks Kantor NV Ko Lie



Artikel di satelitnews.co

Thursday, October 8, 2015

Satelit Post 08 10 2015

Satelit Post 
08 10 2015

Dinporabudpar Surati BPCB
  • Pembongkaran Bangunan Diduga Cagar Budaya




Artikel di satelitnews.co

Tuesday, October 6, 2015

Satelit Post 06 10 2015

Satelit Post 
06 10 2015

Perda BCB Jalan di Tempat
Pembongkaran Bangunan Cagar Budaya

Artikel lengkap di satelitnews.co

Sunday, October 4, 2015

Satelit Post 04 10 2015

Satelit Post 
04 10 2015

Imbauan Dinas Tidak digubris
  • Penghancuran Bangunan Cagar Budaya di Sokaraja
  • Tanpa Kofirmasi ke Dinporabudpar Banyumas




Saturday, October 3, 2015

Satelit Post 03 10 2015

Satelit Post 
03 Oktober 2015
Cagar Budaya Banyumas Dihancurkan
  • Rumah Pecinan Sokaraja
  • Dibeli Kolektor dan dijual ke Bali

Yoga: Pemkab Kecolongan









Friday, July 24, 2015

Kota Purwakerta (Poerwokerto)

Poerwakerta atau Purwakerta; "Purwa" yang konon diambil dari nama sebuah negara kuna di tepan sungai Serayu "Purwacarita" bermakna "permulaan" dan "Kerta" yang diambil dari nama ibukota kadipaten "Pasir" yaitu "Pasirkertawibawa"  yang dalam bahasa Jawa-Kawi bermakna "kesejahteraan" atau lengkapnya menjadi "Permulaan kesejahetraan".

Purwakerta merupakan kota kecil yang berawal dari sebuah desa di sebelah timur kadipaten Pasir yang berpusat di pasar Wage. Pada tahun 1830 kota Purwakerta lebih kecil dibandingkan dengan Sokaraja, Ajibarang dan Banyumas, bahkan ketika pada tahun 1831 saat pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem pemerintahan dengan membagi-bagi daerah kota Purwakerta hanya dijadikan ibukota Distrik dibawah Kabupaten Ajibarang. Walaupun kemudian pada tahun 1836 kota Ajibarang terkena musibah angin puting beliung selama 40 hari 40 malam yang akhirnya atas persetujuan Residen Banyumas pusat kota kabupaten Ajibarang di pindah ke desa Paguwan (Paguhan) yaitu desa sebelah barat ibukota distrik Purwakerta oleh bupati Raden Tumenggung Bartadimeja yang bergelar Raden Adipati Mertadireja II dan Asisten Residen Werkevisser. Seperti kota-kota lain yang direncanakan dan dibangun  oleh Belanda, kota baru didirikan di lahan yang baru dengan perencanaan yang baru. 

Desa Paguwan berada di sebelah barat sungai kranji dan kota Purwakerta, di sebelah timur sungai Banjaran di sebelah utara Pereng (tebing) sungai Kranji. Alun-alun dan pendopo kabupaten dibangun di selatan hamparan sendang yang sangat jernih airnya (sekarang sudah dibangun sebuah mall) yang dulu merupakan tempat mandi para santri di pondok pesantren Pekih di Paguwan. Sedangkan rumah Asisten Residen Purwakerta berada di Bantarsoka (Tebing sungai Banjaran) dan kantor landkas berada di sebelah timurnya.

Banjoemas Heritage
Peta Purwakerta yang diadaptasi dari peta Belanda tahun 1940



Banjoemas Heritage
Pendopo Kabupaten di Purwakerta yang di bangun pertama kali



Banjoemas Heritage
Bupati, Pegawai propinsi dan Kabupaten


Banjoemas Heritage
Pendopo tempat tinggal Asisten Residen


Rekaman visual Purwakerta setelah dijadikan sebagai ibukota kabupaten memperlihatkan adanya pembangunan dimana layaknya sebuah kota yang baru saja di buka. Kota baru masih terlihat sangat sepi hingga akhirnya pada tahun 1993 kota Purwakerta dibangun sebuah pabrik gula Purwokerto (Suikerfabriek Poerwakorto) di perbatasan antara kota baru dan kota lama dan juga dibangunnya jalur kereta api Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) pada tahun 1896 dan stasiunnya di bangun di wilayah kota baru bersama dengan kantor, hotel dan rumah-rumah untuk pegawai kereta apinya. Jalur kereta Staats Spoorwagon (SS) kemudian di bangun pada tahun 1917 dengan membangun stasiunnya berada di barat pendopo kabupaten. 

Setelah dibangunnya dua jalur kereta api ini pembangunan kota mulai menggeliat bangunan-bangunan sangat megah dan besar mulai di bangun seperti Stasiun, Sociteit Slamet (Sekarang gedung RRI), gedung Porka, beberapa sekolah, bank rakyat dan lainnya. Sungguh membuktikan bahwa sarana transportasi yang cepat akan merubah sebuah kota kecil menjadi kota besar dengan cepat. Awal abad 19 merupakan era keemasan hasil eksploitasi di Hindia Belanda akan Gula dan Tembakau, kota-kota di Jawa pun mengalami kejayaan termasuk kota Purwakerta


Banjoemas Heritage
Suikerfabriek Purwakerta

Di sektor transportasi juga mengalami peningkatan yang cukup drastis dimana barang-barang bisa di distribusikan lebih cepat dan lebih luas lagi. Dua buah stasiun Besar dari dua perusahaan yang berbeda pun di bangun di Purwakerta. Yaitu Stasiun Timur Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) berada di timur bendungan Kradji (Kranji) yang di bangun pada tahun 1893 dan stasiun Besar Staats Spoorwegen (SS) di barat sungai Bandjaran. Namun kedua Stasiun tersebut terhubung satu sama lain.


Banjoemas Heritage
Stasiun Timur SDS


Banjoemas Heritage
Stasiun Timur SDS


Banjoemas Heritage
Stasiun SS di Bantarsoka



Banjoemas Heritage
Stasiun SS di Bantarsoka foto di dalam setasiun


Banjoemas Heritage
Kantor Electric Maatscappij Banjoemas (EMB)
Sekolah sekolah juga di bangun di sebelah utara kota diantaranya adalah MULO, Hollands-Javaanse school , Hollands-Chinese school, Volksbibliotheek (Perpustakaan Nasional) dan Vervolgschool voor meisjes (Sekolah lanjutan untuk perempuan)

Banjoemas Heritage
sekolah MULO dan AMS


Banjoemas Heritage
Sekolah Tionghoa - Belanda


Banjoemas Heritage
Sekolah Jawa Belanda


Banjoemas Heritage
Volksbibliotheek dan Vervolgschool


Gedung pertemuan Sociëteit Slamat, Tram hotel, Volksbank, Kantor Kepolisian serta barak-baraknya, kantor Lands Kas (tempat bekerja Asisten Residen), Gedung Setan, Klinik Pabrik Gula, Pasar, Masjid dan lainnya.
Banjoemas Heritage
Gedung Sociëteit Slamat


Banjoemas Heritage
Tram Hotel


Banjoemas Heritage
gedung Volksbank


Banjoemas Heritage
Barak untuk kepolisian


Banjoemas Heritage
Gedung landskas


Banjoemas Heritage
Asisten Residen dan pegawai di gedung Landskas


Banjoemas Heritage
Klinik Pabrik Gula


Banjoemas Heritage
Pasar Wage


Banjoemas Heritage
Masjid Purwakerta

Banjoemas Heritage


Sangat kompleks dan memadai sebagai syarat untuk sebuah kota besar, Hingga setelah Kabupaten Ajibarang di gabung dengan Kabupaten Banjoemas pada 31 Desember 1935, Ibukota Kabupaten pun di pindah dari kota Banjoemas ke Purwakerta pada tahun 1937 dengan dipindahkannya juga Pendopo Sipanji yang telah berusia 194 tahun dan pendopo yang asli milik kabupaten Purwakerta dirobohkan.

Ditulis pertama kali pada 17 Desember 2011 dan di update pada 24 Juli 2015

Foto Dokumentasi diambil dari :
Spesial thanks buat cak Priambodo Prayitno (Olivier Johannes) untuk foto-foto dalam kartupos.
Tropenmuseum Royal Tropical Institute
www.indiegenggers.nl
www.delcampe.net
Creative Commons LicenseThis work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.

Saturday, April 11, 2015

Satelit Post 11 April 2015

Satelit Post 11 April 2015
Perlindungan BCB Tunggu Perbub
Aktivitas Pemugaran Dihentikan



Radar Banyumas 11 April 2015

Radar Banyumas 11 April 2015
Tanpa Perbub, Perda Mandul



Friday, April 10, 2015

Banyumas Ekspres 10 April 2015

Banyumas Ekspres 
10 April 2015 

Banyumas Tak Terapkan Regulasi Cagar Busdaya




Thursday, April 9, 2015

Satelit Post 09 April 2015

Satelit Post 09 April 2015

Pemilik PG Kalibagor Terancam Sanksi
Siduga Langgar Perda Cagar Budaya
Pemkab Perlu Bertindak



Radar Banyumas 09 April 2015

Radar Banyumas 09 April 2015
Pemilik PG Kalibagor Terancam Sanks


i

Wednesday, April 8, 2015

Radar Banyumas 08 April 2015

 Radar Banyumas 08 April 2015
Pembongkaran Diminta Dihentikan





Sunday, March 8, 2015

Suikerfabriek Kaliredjo


Pabrik Gula Kaliredjo  masih dibawah N. V. Cultuur - Maatschappij der Vorstenlanden Semarang. Pabrik gula Kaliredjo (Kalirejo) yang di bangun dibangun oleh O. L. J. E. Lohmann adalah pabrik gula paling terakhir di wilayah karsidenan Banyumas. Dilihat dari peta Belanda tahun 1906 yang belum merilis peta wilayah bagian barat Soempioeh (Sumpyuh) namun pada peta tahun 1920 kumpulan garis merah yang mempresentasikan bangunan permanen pada peta sudah diterbitkan. Menurut data mengenai laporan keuangan catatan tertua mengenai pabrik gula ini adalah tahun 1910.

banjoemas.com
Peta Sumpiuh (kit.nl)

Pabrik ini seakan dibangun berbeda dengan pabrik gula lainnya yang terlebih dahulu dibangun di Banyumas, karena dari segi tata ruang dan tehnologi yang lebih modern. Bangunan pabrik dan perumahan karyawan yang tertata rapi. Gedung bangunan pabrik sudah menggunakan rangka baja. Bahkan cerobong asap yang merupakan elemen penting pebuangan sisa pembakaranpun sudah tidak menggunakan cerobong gemuk (bata) tapi sudah menggunakan cerobong baja cor yang lebih ramping.

banjoemas heritage
Pembuatan jalur rel Sf. Kaliredjo - Sta. Sumpiuh tahun 1912

banjoemas heritage
Persiapan pondasi untuk bangunan pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Pekerja Pribumi mempersiapkan pondasi tahun 1912

banjoemas heritage
Tiang rangka baja sedang di persiapkan tahun 1912

banjoemas heritage
Pembangunan pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Pembangunan pabrik dengan alat sederhana  tahun 1912

banjoemas heritage
Peralatan pabrik baru saja di turunkan dari kereta tahun 1912

banjoemas heritage
Jalur rel SS yang berada di kompleks Pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Pemasangan rangka baja untuk pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Merangkai Crane untuk bongkar muat tebu tahun 1912

banjoemas heritage
Bagian lain dari pabrik tahun 1912

Pembangunannya pabrik ini menggunakan Pelabuhan Cilacap untuk mendatangkan peralatan giling dan peralatan lainnya dari Batavia maupun dari Eropa. Dari Pelabuhan Cilacap peralatan dan bahan lainnya diangkut menggunakan kereta milik SS ke setasiun Sumpiuh yang dibangun 15 tahun sebelumnya. Konon jalur rel yang menghubungkan pabrik dan stasiun lebih dahulu di bangun dari pada pabriknya sendiri. Ini bisa di benarkan karena di lihat dari dokumentasi foto bahan2 yang di gunakan dalam pembangunan sangat tergantung dari pasokan pabrik di luar daerah.

banjoemas heritage
Bagian lain dalam pabrik gula tahun 1912

banjoemas heritage
Instalasi mesin pabrik tahun 1910

banjoemas heritage
Seorang anak bermain di antara lori tahun 1911

banjoemas heritage
Instalasi mesin di dalam pabrik tahun 1911

banjoemas heritage
Pemasangan peralatan pabrik tahun 1910

Rel lori yang merupakan sarana transportasi olahan pabrik juga terlihat sangat tertata rapi. Posisi pabrik dan rel lori yang berada lebih rendah dari rel SS menyebabkan dibuatkanya terowongan di bawah rel SS untuk menjangkau perkebunan tebu di daerah selatan rel SS.

Residen Banyumas membuat berdasarkan ayat 1, Lampiran No 2. 5132 mengumumkan bahwa mereka telah menerima permintaan dari Mr J. A. Pietermaat, Administrator gula kalibagor, izin untuk membawanya berlaku dan mengemudi sebuah perusahaan gula, sebagaimana dimaksud dalam Pasal I Nomor 1889. 263, di Soempioeh desa, Kaliredjo kabupaten, Banyumas departemen dengan penanaman chen bruto tahunan tahun 2000 bangunan. Banyumas, 24 Januari 1907. Residen Banyumas, L. N. Dari Meeverden.

Archief voor de Java-suikerindustrie : orgaan van het Algemeen syndicaat van suikerfabrikanten op Java, Volume 15, Number 3, 1 December 1907 

Perusahaan pabrik ini berbentuk perusahaan terbatas (naamlooze vennootschappen) dimana merupakan saham gabungan. Administratur pabrik Gula ini adalah O. L. J. E. Lohmann (1915) dia pada tahun 1906 menuliskan sebuah buku berjudul "sugar industry sugar cane agricultural engineering quality control Java Indonesia.

Pada tanggal 23 Juli 1926 Kantor Residen di Banyumas mendapat petisi yang di sahkan di Semarang pada tanggal 20 Juli 1920 oleh A. Fernhout en Mr. H. A. A. C. Reyners tentang perluasan wilayah perkebunan tebu di daerah Tjindaga (Cindaga) distrik Adiredja Afdeling Tjilatjap (Kabupaten Cilacap). Perluasan ini diharapkan agar produksi Tebu dan Gula pabrik gula Kaliredjo (Kalirejo) mencapai maksimalnya. Perluasan yang diminta sebanyak 2000 bouws (bau). Tanah yang diminta berada di timur kali Serjoe (Serayu) selatan pegunungan Djampang (Jampang) utara rel SS Kroja (Kroya) - Maos, dan wilayah timur dengan areal perkebunan yang sudah ada sebelumnya. Perluasan ini akan dilakukan dengan menyewa tanah dari penduduk hingga tercapai angka 2000 bouws (bau).

Javasche Courant, 30 Juli 1926 No 60

Aplikasi untuk penambahan areal perkebunan tebu Sf. Kaliredjo

Gubernur Jawa Tengah pada 28 Agustus 1929 telah menerima petisi, Semarang tanggal 26 Agustus 1929, dari A. Fernhout dan Mr. H. A. A. C. Reyners, agen Semarang dari  Amsterdam mendirikan perusahaan saham gabungan "Masyarakat Budaya Kepangeranan", saat ini perwakilan perusahaan tanpa nama di KUALITAS yang didelegasikan di Hindia Belanda juga ke Amsterdam berbasis saham gabungan perusahaan gula Kaliredjo, pemilik perusahaan gula "Kaliredjo", yang terletak di Selatan dan Utara tinggal Banyumas, yang berisi permintaan untuk otorisasi untuk memperluas daerah untuk budidaya tebu untuk gula disebut perusahaan dengan 3035 bouws, yang 1.388 bouws terletak di distrik Banyumas off deeling utara Banjoemas bouws dan 1647 di distrik Kroya departemen Selatan Banyumas.

Keberatan Gubernur di Semarang diutarakan sebelum 15 November 1929.

Java Courant, 3 September 1929, No. 71

banjoemas heritage
Foto perumahan pegawai dengan latar belakang pabrik tahun 1911

banjoemas heritage
Foto perumahan pegawai dengan latar belakang pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Jalan raya Sumpiuh - Buntu dengan rangkaian rel lorie

banjoemas heritage
Pegawai pabrik gula berpose di lapangan tenis tahun 1911

banjoemas heritage
Pegawai Belanda dan pegawai Pribumi tahun 1912

banjoemas heritage
Mesin-mesin dengan teknologi paling baru di Pabrik gula Kaliredjo tahun 1912

banjoemas heritage
Mesin pembangkit untuk pabrik gula tahun 1912

banjoemas heritage
Crane melakukan pekerjaannya membongkar muatan tebu tahun 1912

banjoemas heritage
Mesin mengeluarkan ampas tebu tahun 1912

banjoemas heritage
Pegawai pabrik gula berpose didalam pabrik tahun 1912

banjoemas heritage
Acara pembukaan pabrik gula Kaliredjo

banjoemas heritage
Pembukaan pebrik gula Kaliredjo tahun 1912

banjoemas heritage
Pesta pembukaan pabrik Gula Kaliredjo tahun 1912

banjoemas heritage
Acara pembukaan pabrik gula Kaliredjo tahun 1912

banjoemas heritage
Pabrik di lihat dari udara tahun 1930

banjoemas heritage
Perumahan pegawai pabrik gula tahun 1930

banjoemas heritage
Jalur kereta SS dan lorie

Pemberhentian Produksi

Pada tahun 1934 dimana masa krisis dunia sedang berlangsung, beberapa Pabrik Gula tidak bisa lagi untuk terus berproduksi, dikarenakan sulitnya menjual komoditas di Eropa dan beberapa negara pengekspor Gula. Keputusan ini dilakukan bersamaan dengan laporan tahunan tahun 1934. Likuidasi dilakukan bersam dengan 21 Pabrik yang lain di Jawa, dan khususnya di Banyumas bersama dengan Sf. Klampok dan Sf. Bodjong.

Verslag van het Algemeen syndicaat van suikerfabrikanten in Nederlandsch-Indië, Number 1, 1 January 1933
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License

Sumber lain.
Archief voor de Java-suikerindustrie : orgaan van het Algemeen syndicaat van suikerfabrikanten op Java, Volume 15, Number 3, 1 December 1907 

Javasche Courant, 30 Juli 1926 No 60 
Java Courant, 3 September 1929, No. 71
Verslag van het Algemeen syndicaat van suikerfabrikanten in Nederlandsch-Indië, Number 1, 1 January 1933