Proyek ini dibangun oleh N. V. A.N.I.E.M (Algemeene
Nederlandsen-Indische Electriciteit Maatschappij) wilayah kerja
Karsidenan Banyumas tahun 1940. Pembangkit ini mengaliri listrik di Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Trenggiling (Rumahsakit Zending),
Banyumas, Maos, Cilacap, Kroya, Sumpyuh hingga Gombong, Kebumen dan
Kutowinangun.(Baca selengkapnya disini)
Pada masa pendudukan Jepang atas Jawa dan Purwokerto pembangkit ini sempat dikuasai oleh Jepang. Namun pada arsip Belanda tahun 1946 - 1949 dimana agresi militer I maupun II dinyatakan bahwa pembangkit listrik Ketenger di fungsikan kembali. Dan berikut beberapa foto yang di ambil dari beeldbank.nationaalarchief.nl dimana tentara (NICA) sedang berada di lokasi pembangkit Ketenger untuk menggembalikan fungsi dan melakukan perbaikan. Kemudian pembangkit ini di jaga oleh militer sebagai komponen penting militer.
Pada masa pendudukan Jepang atas Jawa dan Purwokerto pembangkit ini sempat dikuasai oleh Jepang. Namun pada arsip Belanda tahun 1946 - 1949 dimana agresi militer I maupun II dinyatakan bahwa pembangkit listrik Ketenger di fungsikan kembali. Dan berikut beberapa foto yang di ambil dari beeldbank.nationaalarchief.nl dimana tentara (NICA) sedang berada di lokasi pembangkit Ketenger untuk menggembalikan fungsi dan melakukan perbaikan. Kemudian pembangkit ini di jaga oleh militer sebagai komponen penting militer.
Foto pekerja pusat ANIEM di Ketenger (1949)
Membedakan foto belanda sebelum kedatangan Jepang adalah bahwa foto dibuat secara serius dan muatan foto lebih kepada keberhasilan pembangunan atau sebuah bangunan sedang di bangun oleh pribumi, namun foto pada kedatangan Belanda pada agresi militer I dan II sangat terlihat bahwa obyek foto lebih jurnalism, obyek lebih banyak menyorot pada tentara Belanda.
Data diambil dari
beeldbank.nationaalarchief.nl
terjawab sudah penasaran saya , kenapa ada rel KA disana :) ...
BalasHapusdulu sering trekking disekitaran sini, nembus ke Pancuran pitu gak bayar tiket hehehhehe...
Hampir semigu sekali ke camp ke Arga Cendana dari karang mangu tembus ke rel rel itu.. ternyata banyak juga orng bule belanda di situ
BalasHapusEko + dedi Ari Nugroho terimakasih untuk kunjungannya, semoga bermanfaat hehehe ... memang itu jalur tracking bule buat ke pancuran 7 atau sebaliknya.
BalasHapusakhirnya ane tau juga sejarah PLTA pancuran 7, dlu waktu kecil sering joging disitu.
BalasHapuswah itu desaku'''''
BalasHapusayo come come ke desa wisata ketenger////
iya ayo datang ke desa tercintakuuu
BalasHapusameth : ouh ternyata Rel yang itu tuh buat sarana PLTA, ternyata Purwokerto bernilai sejarah tinggi
BalasHapusmas,menurut situs PLTA Ketenger, pembangunannya thn 1935-1939,..bukan taun 1946-1950
BalasHapusTerimakasih masukannya, tahun 1935-1939 adalah pembangunannya pertamanya, karena menurut data saya PLTA ini pernah di kuasai Jepang mulai tahun 1943 hingga 1945an, Sedangkan artikel diatas adalah pembangunan pada masa Agresi militer I dan II dimana pekerjaan tidak lagi menggunakan tenaga orang pribumi melainkan tentara KNIL/NICA/Anjing NICA (Lihat foto). Dalam waktu dekat akan kami refisi.
BalasHapussaya baru paham gantungan diatas rel itu utk membantu pengngkatan barang dari jalur darat jalan raya ke jalur darat kereta. wah gantungan itu msh ada pass saya msih SMA. luar biasa artikel ini bener2 membawa saya pembaca melihat masa lalu
BalasHapusSaya pikir dulunya itu gantungan baju buat jemur pakaian ternyata buat katrol peralatan PLTA Ketenger hehe trims tulisannya mencerahkan..
BalasHapusAdmin bisa minta kontaknya ga. Saya ingin sharing untuk kebutuhan skripsi saya.
BalasHapus